• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN PINJAM PAKAI

D. Akibat dan Batalnya Perjanjian dalam Hukum Keperdataan

Undang-undang menentukan bahwa perjanjian yang sah berkekuatan sebagai undang-undang.Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.Persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali, selain kesepakatan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.Persetujuan-persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.

Dengan istilah semua pembentuk undang-undang menunjukkan bahwa perjanjianyang dimaksud bukanlah semata-mata perjanjian bersama, tetapi juga meliputi perjanjian yang tidak bernama.Di dalam istilah semua itu terkandung suatu asas yang dikenal dengan asas partij autonomie.Dengan istilah sesecara sah pembentuk undang-undang hendak menunjukkan bahwa pembuatan perjanjian

harus menurut hukum.Semua persetujuan yang dibuat menurut hukum atau secara sah adalah mengikat. Yang dimaksud dengan secara sah disini ialah bahwa perbuatan perjanjian harus mengikuti apa yangditentukan oleh Pasal 1320 KUH Perdata. Akibat dari apa yang diuraikan pada ayat 1 tadimelahirkan apa yang disebut pada ayat (2), yaitu perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali secara sepihak kecuali kesepakatan antara keduanya. Dalam ayat 1 dan ayat 3 terdapat asas kedudukan yang seimbang diantara kedua belah pihak.Undang-undang mengaturtentang isi perjanjian dalam Pasal 1329 KUH perdata. Dari dua ketentuan ini, disimpulkan bahwa isi perjanjian terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut :

1. Isi perjanjian, 2. Kepatuhan 3. Kebiasaan.

Isi perjanjian ialah apa yang dinyatakan secara tegas oleh kedua belah pihak didalam perjanjian itu. Kepatuhan adalah ulangan dari kepatuhan yang terdapat dalam Pasal 1338 KUH Perdata.Kebiasaan adalah yang diatur dalam Pasal 1339 KUH Perdata berlainan dengan yang terdapat dalam Pasal 1347 KUH Perdata.

Kebiasaan yang tersebut dalam Pasal 1339 KUH Perdata bersifat umum, sedangkan yang disebut Pasal 1327 KUH perdata ialah kebiasan yang hidup di tengah masyarakat khusus (bestending gebruikelijk beding), misalnya pedagang.

Yang dimaksud dengan undang-undang di atas adalah undang-undang pelengkap, undang-undang yang bersifat memaksa tidak dapat dilanggar oleh para pihak. Urutan isi perjanjian yang terdapat dalam Pasal 1339 KUH Perdata,

mengenai keputusan peradilan mengalami perubahan sehingga urutan dari elemen isi perjanjian menjadi sebagai berikut :

1. Isi perjanjian 2. Undang-undang 3. Kebiasaan 4. Kepatuhan

Pembatalan perjanjian tidak mungkin dilaksanakan sebab dasar-dasar perjanjian adalah kesepakatan kedua belahpihak yang terikat dalam perjanjian tersebut. Namun pembatalan perjanjian dapat terjadi apabila :18

1. Jangka waktu perjanjian telah berakhir.

Lazimnya suatu perjanjian selalu didasari pada jangka waktu tertentu, apabila telah sampai kepada waktu yang diperjanjikan secaraotomatis batal lah perjanjian yang telah diadakan oleh kedua belah pihak.

2. Salah satu pihak menyimpang dari perjanjian

Apabila salah satu pihak yang telah melakukan perbuatan yangmenyimpan dari apa yang telah diperjanjikan, maka pihak lain dapatmembatalkan perjanjian tersebut.

3. Jika ada kelancangan dari bukti penghianatan (penipuan).

Apabila salah satu pihak melakukan sesuatu kelancangan dan telah ada bukti-bukti bahwa salah satu pihak mengadakan penghianatanterhadap apa yang telah diperjanjikan tersebut dapat dibatalkan oleh pihaklainnya.

18 H.Chairuman Pasaribu, Hukum Perjanjian Dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika,1994), hal 32.

BAB III

PERJANJIAN PINJAM PAKAI ASET MILIK DAERAH BERKAITAN DENGAN PERISTIWA FORCE MJEURE A. Tinjauan Perjanjian Pinjam Pakai Aset Milik Daerah Kabupaten Asahan

Pada saat sekarang pemerintah daerah mengalami pergeseran fundamental baik secara politis dan administratif, semenjak diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun2014 tentang Pemerintah Daerah. Untuk menghadapi perubahan pengelolaan pemerintah daerah tersebut maka penataan manajemen pemerintahan yang dapat bekerja secara lebih efisien, efektif dan ekonomis, sangat diperlukan.

Manajemen pemerintahan yang efektif sangat dibutuhkan agar berbagai urusan pemerintahan dilimpahkan kewenangannya kepada daerah dapat terselenggara secara maksimal sertadapat dipertaggungjawabkan secara baik kepada publik.

Kewenangan yang dimilikipemerintah daerah diantaranya mengelola sendiri aset

daerah yang dimilikinya.19

Barang milik daerah merupakan bagian dari aset pemerintah daerah yang digunakan atau dimanfaatkan untuk menunjang berjalannya tugas dan fungsi dari masing-masing instansi pemerintah. Menteri dalam negeri telah mengeluarkan ketentuan yang mengatur secara khusus tentang tata cara pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah khususnya sewa menyewa barang milik daerah, yang dilakukan sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 59 ayat (3), Pasal 90 ayat (3) dan Pasal 98 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Menteri dalam negeri menetapkan

19 Yuyun Yuliani, Analisis Pemanfaatan Sewa Barang Milik Daerah Pada Kabupaten Boyolali, http://eprints.ums.ac.id/51805/11/NASKAH%20PUBLIKASI% 20REV. pdf. Diakses pada tanggal 29 Mei 2018, pukul 15:58 Wib.

kebijakan pengelolaan barang milik daerah yang diatur dalam ketentuan Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan

Barang Milik Daerah, selanjutnya dalam penulisan skripsi ini disebut dengan

Permen No. 19 Tahun 2016. Dalam Permen No 19 inilah pengaturan tentang pinjam pakai diatur secara khusus dan rinci.

Pelaksanaan pengelolalaan barang milik daerah berdasarkan pada azas

sebagai berikut :

1. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang pengelolaan BMD yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan kepala daerah sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing;

2. Azas kepastian hukum, yaitu pengelolaan BMD harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan;

3. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan BMD harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar;

4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan BMD diarahkan agar BMD digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal;

5. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan BMD harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat;

6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan BMD harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan BMD serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah20

Barang milik daerah berdasarkan Pasal 1 angka 16 Permen No. 19 Tahun 2016 adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD21 atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Barang milik daerah berdasarkan Pasal 3 Permen No. 19 tahun 2016 meliputi:

1. Barang milik daerah yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; atau 2. Barang milik daerah yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Barang milik daerah sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 16 Jo. Pasal 3 tersebut dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan yang dimaksud adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak digunakan atau diamanfaatkan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD22 dan/atau optimalisasi barang milik daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan,23Objek pemanfaatan barang milik daerah meliputi :

20 Hasil Wawancara dengan Nawardi S.H, Kepala Bidang Aset Daerah Dinas Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tanggal 03 Juli 2018 pukul 10.00 wib.

21APBD adalah rencana keuangan tahunan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Permendagri No.13 Tahun 2006). Dengan demikian APBD merupakan alat/wadah untuk menampung berbagai kepentingan publik yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan dan program dimana pada saat tertentu manfaatnya benar-benar akan dirasakan oleh masyarakat.Muchlisin Riadi, Pengertian dan Fungsi APBD, http://www.kajianpustaka.com/2015/02/pengertian-dan-fungsi-apbd.html.Diakses pada tanggal 29 Mei 2018, Pukul 15:11 WIB

22 SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah yang merupakan Perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang (Permendagri 64 Tahun 2013 (Penerapan SAP Berbasis Akrual). http://kamuskeuangandaerah.com/index.php/Satuan_ Kerja_

Perangkat_ Daerah_(SKPD). Diakses pada tanggal 29 Mei 2018, Pukul 15:19 WIB.

23Pasal 1 angka 32 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 Tahun 2016

1. Tanah dan/atau bangunan

2. Selain tanah dan/atau bangunan.24

Kemudian di dalam Pasal 81 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 Tahun 2016 menyebutkan bahwa bentuk pemanfaatan barang milik daerah salah satunya dapat berupa pinjam pakai. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan Barang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada Gubernur/Bupati/Walikota.

Adapun prinsip umum, cara pembuatan perjanjian pinjam pakai, serta pihak yang dapat melakukan pinjam pakai barang milik daerah yaitu:

1. Prinsip Umum Perjanjian Pinjam Pakai Barang Milik Daerah

Perjanjian pinjam pakai barang milik daerah harus mematuhi prinsip umum yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 tahun 2016, adapun prinsip umum pinjam pakai barang milik daerah yaitu:

a. Pinjam pakai dilaksanakan dengan pertimbangan:

1) mengoptimalkan barang milik daerah yang belum atau tidak dilakukan penggunaan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Pengguna Barang; dan

2) menunjang pelaksanaan penyelenggaraanpemerintahan daerah.

b. Peminjam pakai dilarang untuk melakukan pemanfaatan atas objek pinjam pakai.

2. Cara Pembuatan Perjanjianm Pinjam Pakai Barang Milik Daerah

24pasal 84 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 tahun 2016

Berdasarkan Ketentuan Pasal 157 Peraturan Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 cara pembuatan perjanjian pinjam pakai barang milik daerah, yaitu sebagai berikut :

(1) Pelaksanaan Pinjam Pakai dituangkan dalam perjanjian serta ditandatangani oleh:

a. Peminjam pakai dan Gubernur/Bupati/Walikota, untuk barang milik daerahyang berada pada Pengelola Barang; dan

b. Peminjam pakai dan Pengelola Barang, untuk barang milik daerahyang berada pada Pengguna Barang.

(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. para pihak yang terikat dalam perjanjian;

b. dasar perjanjian;

c. identitas para pihak yang terkait dalam perjanjian;

d. jenis, luas atau jumlah barang yang dipinjamkan, dan jangka waktu;

e. tanggung jawab peminjam atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu peminjaman;

f. hak dan kewajiban para pihak; dan g. persyaratan lain yang dianggap perlu.

(3) Salinan perjanjian pinjam pakai disampaikan kepada Pengguna Barang.

3. Pihak yang dapat melakukan perjanjian pinjam pakai

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 pihak yang dapat meminjam barang milik daerah, meliputi: 25

a. Badan Usaha Milik Negara;

b. Badan Usaha Milik Daerah;

c. Swasta; dan

25 Hasil Wawancara dengan Nawardi S.H, Kepala Bidang Aset Daerah Dinas Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tanggal 03 Juli 2018 pukul 10.00 wib.

d. Badan hukum lainnya.

Kemudian pada ayat (5) dijelaskan bahwa swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c, antara lain:

a. Perorangan;

b. Persekutuan perdata;

c. Persekutuan firma;

d. Persekutuan komanditer;

e. Perseroan terbatas;

f. Lembaga/organisasi internasional/asing;

g. Yayasan; atau h. Koperasi.

B. Jangka Waktu Pinjam Pakai Aset Milik Daerah Kabupaten Asahan

Pengaturan jangka waktu pinjam pakai asdet milik daerah kabupaten Asahan diatur dalam pasal 155 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 yang menyatakan bahwa :

(1) Jangka waktu pinjam pakai barang milik daerahpaling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali.

(2) Perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 ayat (1).

(3) Apabila jangka waktu pinjam pakai akan diperpanjang, permohonan perpanjangan jangka waktu pinjam pakai disampaikan kepada Pengelola Barang/Pengguna Barang paling lambat 2 (dua) bulan sebelum jangka waktu pinjam pakai berakhir.

(4) Dalam hal permohonan perpanjangan jangka waktu pinjam pakai disampaikan kepada Pengelola Barang/ Pengguna Barang melewati batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), proses pinjam pakai dilakukan dengan mengikuti tata cara permohonan pinjam pakai baru.

Selain jangka waktu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 tahun 2016 juga mengatur tentang lingkup pemanfaatan barang milik daerah yang menyatakan bahwa lingkup pemanfaatan barang milik daerah dalam rangka kerja sama infrastruktur dapat dilaksanakan melalui pinjam pakai mempedomani ketentuan perundang-undangan.

C. Objek Pinjam Pakai Aset Milik Daerah Kabupaten Asahan

Dalam melakukan suatu perjanjian seyogyanyalah ada suatu objek yang akan diperjanjikan, demikian juga dalam perjanjian pinjam pakai barang milik daerah, sebagaimana diatur dalam Pasal 113 ayat (1) Permen No. 19 Tanu 2016 menyatakan bahwa objek perjanjian pinjam pakai barang milik daerah yaitu:

(1) Objek pinjam pakai meliputi barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan yang berada pada Pengelola Barang/ Pengguna Barang.

(2) Objek pinjam pakai barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan untuk sebagian atau keseluruhannya.

Kemudian dalam pasal 153 ayat (3) menyatakan pinjam pakai barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilaksanakan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota.26

D. Berakhirnya Perjanjian Pinjam Pakai Aset Milik Daerah Kabupaten Asahan

Bedasarkan Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 perjanjian pinjam pakai dapat berakhir apabila :

1. Jangka waktu perjanjian telah berakhir

2. Berlakunya syarat batal sesuai perjanjian yang ditindaklanjuti dengan persetujuan sewa oleh Gubernur/Bupati/Walikota atau Pengelola Barang;

3. Gubernur/Bupati/Walikota atau Pengelola Barang mencabut persetujuan sewa dalam rangka pengawasan dan pengendalian; dan

4. Ketentuan lain sesuai peraturan perundang-undangan.

Sebelum atau sesudah Jangka Waktu Pinjam Pakai berakhir dapat di perpanjang, Jangka waktu pinjam pakai barang milik daerah paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali. Perpanjangan sebagaimana dimaksud dilakukan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud. Apabila jangka waktu pinjam pakai akan diperpanjang, permohonan perpanjangan jangka waktu pinjam pakai disampaikan kepada Pengelola Barang/Pengguna Barang paling lambat 2 (dua) bulan sebelum jangka waktu pinjam pakai berakhir. Dalam hal permohonan

26 Hasil Wawancara dengan Nawardi S.H, Kepala Bidang Aset Daerah Dinas Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tanggal 03 Juli 2018 pukul 10.00 wib.

perpanjangan jangka waktu pinjam pakai disampaikan kepada Pengelola Barang/

Pengguna Barang melewati batas waktu sebagaimana dimaksud, proses pinjam pakai dilakukan dengan mengikuti tata cara permohonan pinjam pakai baru.

Perubahan Bentuk Barang Milik Daerah Selama jangka waktu pinjam pakai, peminjam pakai dapat mengubah bentuk barang milik daerah, sepanjang tidak mengakibatkan perubahan fungsi dan/atau penurunan nilai barang milik daerah. Perubahan bentuk barang milik daerah sebagaimana dimaksud:

a. tanpa disertai dengan perubahan bentuk dan/atau konstruksi dasar barang milik daerah; atau

b. disertai dengan perubahan bentuk dan/atau konstruksi dasar barang milik daerah.27

Usulan perubahan bentuk barang milik daerah sebagaimana dimaksud, dilakukan dengan mengajukan permohonan perubahan bentuk oleh peminjam pakai kepada:

a. Gubernur/Bupati/Walikota, untuk barang milik daerah yang berada pada Pengelola Barang; dan

b. Pengelola Barang, untuk barang milik daerah yang berada pada Pengguna Barang.

Perubahan bentuk barang milik daerah sebagaimana dimaksud, dilakukan setelah mendapat persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota. Kewajiban pihak pemakai setelah perjanjian berakhir diatur pada ayat (1) yang menyatakan bahwa ketika perjanjian sewa menyewa berakhir maka pemakai wajib menyerahkan barang milik daerah pada saat berakhirnya sewa dalam keadaan baik dan layak

27 Hasil Wawancara dengan Nawardi S.H, Kepala Bidang Aset Daerah Dinas Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tanggal 03 Juli 2018 pukul 10.00 wib.

yang dapat digunakan secara optimal sesuai fungsi dan peruntukannya. Kemudian pada ayat (2) menyatakan penyerahan barang milik daerah harus dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST).Pada ayat (3) mengharuskan kepada pengelola barang atau pengguna barang untuk melakukan pengecekan barang milik daerah yang disewakan sebelum ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima (BAST) guna memastikan kelayakan kondisi barang milik daerah bersangkutan.Penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) dilakukan setelah semua kewajiban pemakai dipenuhi.28

Adapun apabila pihak pemakaimelakukan kerugian daerah maka ganti rugi

dalam hal barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang disewakan

hilang selama jangka waktu sewa, pemakaiwajib melakukan ganti rugi sesuai

ketentuan peraturan perundang-undangan.29

E. Tinjauan Force Majeure Dalam Hukum Keperdataan 1. Pengertian Force Majeure

Secara etimologi Force majeure berasal dari bahasa Perancis yang berarti

“kekuatan yang lebih besar”, sedangkan secara terminologi adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan tidak dapat dihindarkan sehingga suatu kegiatan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinnya.30 Force majuere merupakan keadaan tidak dipenuhinnya prestasi oleh debitor karena terjadi suatu

28 Hasil Wawancara dengan Nawardi S.H, Kepala Bidang Aset Daerah Dinas Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Utara tanggal 03 Juli 2018 pukul 10.00 wib.

29 Ibid.

30 “Keadaan Kahar”, Wikipedia the Free Encyclopedia. https://id.wikipedia.org, diakses tanggal 26 Oktober 2018, Pukul 18.00 WIB.

peristiwa yang tidak dikehendaki dan tidak dapat diduga sebelumnya. Dalam hal ini debitor tidak dapat dinyatakan bersalah karena kejadian yang terjadi di luar kemauan dan kemampuannya.

Dalam ketentuan Pasal 1244 BW berbunyi:

“ Debitor harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian, dan bunga bila tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan intu disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga, yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, walaupun tidak ada iktikad buruk padanya.”

Selanjutnya Pasal 1245 BW berbunyi:

“ Tidak ada penggantian biaya, kerugian, dan bunga, bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang terjadi secara kebetulan, debitor terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan sesutau perbuatan yang terlarang olehnya.”

Dari rumusan yang diberikan oleh kedua pasal diatas menurut Kartini Muljadi dapat ditarik kesimpulan mengenai adanya alasan pembenar dan pemaaf sebagai berikut:

a. Yang dimaksud dengan alasan pembenar dan alasan pemaaf adalah alasan yang mengakibatkan debitur yang tidak melaksanakan kewajibannya sesuai perikatan pokok/asal, tidak diwajibkan untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga.

b. Yang dimaksud dengan alasan pembenar, adalah alasan yang berhubungan dengan ketidak mampuan obyektif untuk memenuhi perikatan yang ada. Sedangkan alasan pemaaf adalah alasan yang berhubugan dengan ketidak mampuan subyektif dalam memenuhi perikatan.

c. Alasan pembenar dan pemaaf yang diperbolehkan tersebut bersifat limitatif, dengan pengertian bahwa selain yang disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak dimungkinkan bagi debitur untuk mengajukan alasan lain yang dapat membebaskannya dari kewajiban untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga dalam hal debitur telah cidera janji. Hal ini harus dibedakan dari suatu keadaan di mana kreditur tidak menuntut pelaksanaan penggantian biaya, kerugian dan bunga dari debitur yang telah cidera janji.

d. Alasan pembenar yang diperbolehkan adalah suatu keadaan memaksa atau yang kejadian tidak disengaja yang mengakibatkan debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkannyaatau melakukan suatu perbuatan yang terlarang baginya.

Yang dimaksud dengan keadaan memaksa atau kejadian yang tidak disengaja ini adalah suatu alasan yang bersifat obyektif, yang dalam pandangan setiap orang, tidak hanya semata-mata debitur pribadi, dengan terjadinya peristiwa memaksa atau tidak terduga tersebut, tidak mungkin dapat melaksanakan perikatan yang telah ditetapkan.

e. Alasan pemaaf yang dapat dijadikan alasan adalah terjjadinyan suatu hal yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, selama tidak ada itikad buruk kepadanya. Dalam konteks alasan pemaaf ini, unsur tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur memegang peranan yang sangat penting, oleh karen alasan ini semata-mata bergantung pada kemampuan subyektivitas dari debitur tersebut. Jadi jika debitur masih dapat dipertanggungjawabkan atas

tidak dapat dipenuhinya kewajiban atau prestasi yang wajib dipenuhi olehnya tersebut, maka debitur berkewajiban untuk membayar ganti rugi, biaya dan bunga.31

Riduan Syahrani membedakan daya paksa atau overmacht ke dalam dua jenis dilihat dari segi sifatnya, yaitu:

a. Daya paksa atau overmacht yang bersifat mutlak (absolute) atau objektif, yaitu suatu keadaan memaksa yang menyebabkan suatu perikatan bagaimanapun tidak mungkin bisa dilaksanakan.

Dikatakanovermacht objektif karena benda yang menjadi objek perikatantidak mungkin dapat diserahkan oleh siapapun. Artinya objek prikatan musnah di luar kesalahan debitur, misalnya pengangkut tidak dapat mengangkut barang sampai ke tujuan dengan selamat dan utuh disebabkan karena kapalnya karam diterpa ombak. Dengan daya paksa demikian itu berakibat perjanjian menjadi batal atau berakhir dengan sendirinya.

b. Daya paksa atau overmacht yang bersifat relatif (nisbi) atau subjektif, yaitu suatu keadaan memaksa yang menyebabkan suatu perikatan hanya dapat dilaksanakan oleh debitur dengan pengorbanan yang sangat besar sehingga tidak lagi sepantasnya pihak kreditur menuntut pelaksanaan perikatan tersebut.32

31 Kartini Muljadi, Perikatan pada Umumnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003, hal 89.

32 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Bandung: Alumni, 1992, hal 247; dikutip dalam Marilang, Hukum Periktan: Perikatan yang lahir dari perjanjian, Makassar:

Alauddin University Press, 2013, hal 319.

Menurut hukum Anglo Saxon di Inggris, keadaan memaksa dideskripsikan dengan istilah frustation artinya halangan, yaitu suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi di luar kemampuan dan tanggung jawab pihak-pihak, yang membuat perikatan itu tidak dapat dilaksanakan sama sekali.33Menurut ajaran ini, dasar tidak berprestasi itu adalah Physical impossibility, artinya ketidakmungkinan yang nyata. Setiap orang sama sekali tidak mungkin dapat memenuhi prestasi berupa benda objek perikatan. Dalam keadaan demikian, perikatan tidak mungkin dapatdipenuhi karena halangan bersifat tetap, secara otomatis keadaan memaksa itu mengakhiri perikatan (the agreement would be void from the outset).34

2. Syarat – Syarat Force majeure

Untuk memperjelas batasan keadaan memaksa sebagai faktor penyebab sehingga debitur dapat dibebaskan dari tanggung jawab membayar ganti rugi akibat wanprestasinya, maka dikemukakan unsur-unsur atau syarat-syaratnya sebagai berikut:

a. Tidak dipenuhinya prestasi karena suatu peristiwa yang membinasakan atau memusnahkan benda yang menjadi objek perikatan, ini selalu bersifat tetap;

b. Tidak dapat dipenuhinya prestasi karena suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi, ini dapat bersifat tetap atau sementara;

33 2Marsh and Soulsby, Business Law (Revised) , London: McGraw-Hill Book Company

33 2Marsh and Soulsby, Business Law (Revised) , London: McGraw-Hill Book Company

Dokumen terkait