BAB II KAJIAN PUSTAKA
12. Akibat yang Ditimbulkan Pelaku Silariang
ataupun penganiayaan dengan alasan apapun, termasuk alasan Siri’. Kalau itu
terjadi, pasti si pembunuh akan akan dihadapkan pada proses hukum.
Jadi disini, terdapat dua aspek hukum yang saling bertentangan. Di satu
sisi, hokum adat mewajibkan orang yang dipermalukan untuk melakukan
pembunuhan terhadap pelaku Silariang. Disisi lain, hokum pidana melarang
sama sekali melakukan pembunuhan dengan alasan Siri’.
12. Akibat yang Ditimbulkan Pelaku Silariang a. Aspek Hukum Adat
Melakukan kawin Silariang berarti melakukan suatu perbuatan
Siri’. Bilamana perbuatan tersebut dicap melanggar Siri’ maka pihak
keluarga perempuan yang disebut Tau Siri’ oleh hukum adat punya hak
untuk mengambil tindakan terhadap pelaku Silariang yang disebut
Tumannyala.
Dari segi kacamata hukum adat, wanita adalah mahkota dalam
suatu rumah tangga. Manakala mahkota rumah tangga dirusak oleh orang
lain, maka pihak keluarga yang merasa dipermalukan berhak mununtut
balas.
Tindakan pembalasan dari pihak Tau Siri’ ini sering berakibat
fatal bagi Tumannyala, yakni biasa terbunuh atau luka berat. Bahkan
sebaliknya, pihak Tau Siri’ terbunuh atau luka parah. Sebab kalau sudah
terjadi penyerangan tiba-tiba, pihak Tumannyala juga selalu siap dengan
juga akan terhunus keluar dan bisa mengenai siapa saja, termasuk Tau
Siri’nya.
Bila keluarga perempuan juga sudah memutus hubungan
silaturrahmi (Nipappatompangan Tanah), maka Tumannyala juga akan
tersiksa batinnya, karena ia tidak lagi diakui oleh orang tuanya sebagai
anak. Demikian halnya masalah harta warisan sudah terputus.
b. Aspek Hukum Pidana
Tindakan penyerangan yang berakibat luka berat atau matinya
Tullariang ini, bisa berakibat hukum, yakni para pelaku penikamann bisa
dikenakan pasal-pasal bembunuhan atau panganiayaan dalam KUHP.
Bilamana Tau siri’ saat diserang juga terbunuh, maka Tullariang
juga dikanakan sanksi pidana. Walaupun tindakannya menurut hukum
pidana diperbolehkan melakukan pembelaan terpaksa dan kemungkinan
hakim bisa membebaskan dari hukuman. Namun polisi atau hakim,
banyak akal untuk menjeratnya dari hukuman, antara lain dengan
menerapkan pasal tentang pembawaan senjata tajam atau badik tanpa
izin.
Bilamana perbuatan itu dilakukan dengan cara menculik
(Nilariang), maka laki-laki itu bisa dikenakan tindak pidana penculikan.
Sebaliknyya bila perempuan itu melakukan erang kale dan menunjuk
salah seorang laki-laki untuk bertanggung jawab. Bila betul laki-laki yang
dikenakan tindak pidana, tetapi bila tidak, maka laki-laki itu bisa
menuntut tindakan pidana pencemaran nama baik.
c. Aspek Agama
Bila pelaku Silariang melakukan hubungan seks tanpa nikah, itu
dikategorikan dengan zinah. Apa lagi kalau sampai berakibat lain,
misalnya terjadi pembunuhan, baik terhadap Tullariang maupun Tau
Siri’. Sanksi agama ini kalau tidak bisa didapatkan di dunia nanti di
akhirat.
d. Aspek Sosial
Bila ada anak yang melakukan Silariang, maka masyarakat
sekitarnya mencap keluarga terutama orang tuanya tidak mampu
membina keluarganya.
Sebagai orang tua yang punya rasa malu, bila ada anaknya
melakukan Silariang, mereka malu pada masyarakat sekitarnya. Apalagi
kalau ia keluarga terhormat, misalnya dari kalangan Karaeng. Inilah yang
menyebabkan orang tua tidak mengakui anak sebagai keluarga dan
mereka tidak berhak mendapatkan harta warisan dari orang tuanya
(Dipappatompangan Tanah), kepada pelaku Silariang karena dianggap
telah menghancurkan kehormatan keluarga.
Rasa malu ini lebih banyak diderita oleh pihak keluarga, baik
adat istiadat, ternyata dia kawin Silariang. Bagi Tullariang, malu seperti
ini mungkin sudah berkurang, karena dilakukan dengan nekat.
e. Aspek Psyikologi
Akibat psyikologi ini lebih banyak diderita oleh para pelaku
Silariang. Mereka selalu was-was dan merasa takut terhadap keluarga,
kalau sampai mereka ketemu di tengah jalan kemudian diserang hingga
terjadi pertumpahan darah.
Apalagi kalau keluarga perempuan itu masih patuh pada adat
istiadat. Ini bisa menyebabkan para Tusilariang takut berkeliaran
kemana-mana. Ketakutannya itu akan berpengaruh pada mata
pencahariannya yakni tidak bebas mencari nafkah di berbagai tempat.
13. Pengertian Nilai dan Norma Sosial a. Nilai Sosial
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nilai didefinisikan sebagai
kadar, mutu, atau sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan.
Sementara itu, nilai budaya dan nilai sosial didefinisikan sebagai konsep
abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Dari definiksi ini dapat kita simpulkan bahwa nilai merujuk
kepada sesuatu yang sangat penting dan berguna bagi kamanusiaan.
Lantas, bagaiman sosiologi mendifinisikan nilai ?
Dalam sosiologi, nilai didefinisikan sebagai konsepsi (pemikiran)
yang dianggap buruk. Bagaimana pendapat para ahli tentang pengertian
nilai sosial ini ?
Soerjono Soekanto (1994) mendifinisikan nilai sebagai konsepsi
abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa
yang dianggap buruk. Dengan demikian, nilai sosial adalah nilai yang
dianut oleh suatu kelompok masyarakat.
Robert M. Z. Lawang nilai adalah gambaran mengenai apa yang
diinginkan, pantas, berharga, dan memengaruhi perilaku sosial
orang-orang yang memiliki nilai tersebut.
Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan nilai itu berfungsi
sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan
perbuatan seseorang. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan
kualitas pandangan hidup seseorang atau masyarakat.
b. Norma Sosial
Sebelumnya telah dikemukakan, bahwa nilai dan norma tidak
dapat dipisahkan; nilai dan norna selalu berkaitan. Bedanya secara umum,
norma yang mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap pelanggarnya.
Norma lebih banyak penekanannya sebagai peraturan-peraturan yang
selalu disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi
individu maupun kelompok masyarakat untuk mencapai ukuran nilai-nilai
Alvil L. Bertrand mendefinisikan norma sebagai suatu
standar-standar tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Ia
mengatakan bahwa norma sebagai suatu bagian dari kebudayaan
non-materi, norma-norma tersebut menyatakan konsepsi-konsepsi teridealisasi
dari tingkah laku. Norma-norma tersebut biasanya oleh masyarakat
dinyatakan dalam bentuk-bentuk kebiasaan, tata kelakuan dan adat
istiadat atau hukum adat.
Norma sosial menurut pandangan sosiologis, banyak
dititikberatkan pada kekuatan dari serangkaian peraturan umum, baik
tertulis maupun tidak tertulis, mengenai tingkah laku atau perbuatan
manusia yang menurut penilaian annggota kelompok masyarakatnya
sebagai suatu yang baik atau yang buruk, pantas atau tidak pantas. Norma
sosial ini dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dianggap sebagai alat
kendali atau batasan-batasan tindakan anggota masyarakat untuk memilih
peraturan yang diterima atau tidak dalam suatu pergaulan. Pilihan
tersebut diwujudkan dalam bentuk perintah dan larangan. Perintah
menunjukkan norma atau kaidah yang akan membawa mamfaat jika
dilakukan. Sedangkan larangan menunjukkan norma atau kaidah yang
akan membawa bahaya atau kerugian jika dilakukan. Setiap anggota
masyarakat menerima atauran-aturan itu sebagai patokan tingkah laku
yang benar dan yang salah. Seseorang yang dikendalikan oleh
aturan perilaku, tetapi juga karena dapat membuat perasaan bersalah jika
melanggar norma-norma tersebut. Unsur kendali dari norma-norma itu
merupakan cerminan dari desakan sosial yang didasarkan pada
kepentingan bersama.
14. Hubungan Antara Nilai, Norma, dan Sanksi
Sacara singkat nilai dapat dikatakan sebagai hasil penilaian/pertimbangan “baik atau tidak baik” terhadap suatu yang kemudian dipergunakan sebagai suatu dasar alasan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. dikatakan memiliki nilai,
apabilah sesuatu itu berguna benar (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), dan
nilai relegius (nilai agama).
Jadi, sesuatu yang mempuyai nilai itu tidak hanya sesuatu yang berwujud
benda material saja, tetapi sesuatu yang berwujud benda abstrak. Bahkan
sesutuatu yang abstrak itu dapat mempunyai nilai yang sangat tinggi dan mutlak
bagi manusia.
Bagi manusia nilai dijadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam segala
perbuatan. Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai ini dijabarkan dalam bentuk kaidah
atau ukuran, sehingga merupakan suatu perintah atau keharusan, anjuran, atau
merupakan larangan yang tidak diinginkan atau celaan.
Nilai terbentuk atas dasar pertimbangan cipta, rasa, karsa, dan keyakinan
seseorang atau sekolompok masyarakat. Secara teoritis terbentuknya suatu nilai
melalui suatu proses tertentu dan atas dasar kesadaran dan keyakinan, jadi tidak
Norma (kaidah) adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan dan
yang tidak boleh dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan
tertentu yang disertai sanksi. Sanksi adalah ancaman atau akibat yang akan
diterima apabila norma tidak dilakukan.