• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II AKIBAT HUKUM KEPAILITAN DEBITOR TERHADAP

B. Akibat Hukum pada putusan pailit PT. Jasamarine Enginerring

Putusan Pailit terhadap PT. Jasa Marine Engneering mempunyai akibat hukum baik terhadap PT. Jasa Marine Engneering sendiri maupun terhadap Pemohon PKPU sebagai Kreditor (PT. Kundur Prima Jaya, CV.Cipta Karya Mandiri) yang mempunyai hubungan hukum dengan PT. Jasa Marine Engneering, baik hubungan hukum atau perikatan karena perjanjian maupun karena undang-undang. Berdasarkan Pasal 24 Ayat (1) UU Kepailitan, “Debitor demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan”45. Dengan demikian, maka setiap pengurusan yang berhubungan dengan harta pailit tersebut akan dialihkan kepada Kurator yang telah ditujuk oleh pengadilan.

Zainal Asikin menyatakan akibat hukum dari putusan pailit yang utama adalah dengan telah dijatuhkannya putusan Kepailitan, Debitor Pailit akan kehilangan haknya untuk melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta bendanya46. Pengurusan dan penguasaan harta benda tersebut beralih ke tangan Kurator/Balai Harta Peninggalan.

Prisipnya, sebagai konsekuensi dari ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, maka setiap dan seluruh perikatan antara Deditor Pailit dengan pihak ketiga yang dilakukan sesudah pernyataan pailit, tidak akan dan tidak dapat dibayar dari harta pailit, kecuali perikatan-perikatan tersebut mendatangkan keuntungan bagi harta kakayaan itu sesuai dengan ketentuan Pasal

45 Pasal 24 UU Kepailitan

46 Op Cit Zainal Askin. Hlm.172

25 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU47. Degan demikian untuk memenuhi perikatan tersebut hanya dapat dilakukan melalui pengajuan laporan pencocokan sesuai dengan Pasal 27 UU Kepailitan dan PKPU.

Dalam hal Debitor telah melakukan perikatan atau sedang melangsungkan perikatan dengan pihak lain, sedangkan putusan pernyataan pailit telah diucapkan dan Kurator meyatakan bahwa tidak sanggup untuk memenuhi perjanjian tesebut, maka perjanjian tersebut batal demi hukum dan pihak lawan dalam perjanjian menjadi Kreditor Konkuren.

Apabila Kurator berpendapat masih dapat dipenuhi dari harta pailit namun apabila Kurator menyatakan kesanggupannya, maka Kurator wajib memberikan jaminan atas kesanggupan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 36 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Sedangkan, bila dalam perjanjian yang dilakukan oleh Debitor terdapat kewajiban untuk menyerakan benda yang biasa diperdagangkan dengan suatu jangka waktu, maka apabila benda tersebut belum diserahkan oleh pihak yang harus menyerahkan pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan, perjanjian tersebut batal demi hukum48.

Batalnya perjanjian tersebut bila pihak yang melakukan perjanjian mengalami kerugian, maka ia dapat mengajukan diri sebagai Kreditor Konkuren sesuai dengan ketentuan Pasal 37 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

Dalam hal Debitor melakukan perjanjian sewa menyewa, maka berdasarkan ketentuan Pasal 38 Ayat (1) maka Kurator ataupun pihak yang menyewakan dapat menghentikan perjanjian sewa dengan syarat pemberitahuan pemberhentian

47 Op Cit. Kartono. Hlm. 94

48 Adrian Sutedi. Op Cit. Hlm. 217

tersebut dilakukan sebelum berakhirnya perjanjian sesuai dengan adat istiadat setempat. Namun berdasarkan ketentuan Pasal 38 Ayat (3) “apabila uang sewa telah dibayar di muka maka perjanjian sewa tersebut tidak dapat dihentikan sebelum jangka waktu sewa yang telah dibayar tersebut berakhir”49.

Diucapkannya pernyataan pailit juka memberikan hak kepada karyawan yang bekerja pada Debitor Pailit dan/atau Kurator untuk memninta pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan mengindahkan jangka waktu menurut ketentuan undang-undang yang berlaku sesuai dengan Ketentuan Pasal 39 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Apabila setelah putusan pailit diucapkan masih terdapat upah karyawan yang belum dibayarkan maka upah tersebut dimasukan dalam utang harta pailit dan karyawan yang belum dibayarkan gajinya dimasukkan kedalam Kreditor Preference.

Apabila Debitor melakukan hibah, apabila Kurator dapat membuktikan bahwa saat hibah tersebut dilakukan Debitor mengetahui bahwa perbuatan tersebut dapat merugikan Kreditor, maka dapat dimintakan pembatalannya sesuai dengan ketentuan Pasal 43 Undang Kepailitan dan PKPU. Undang-Undang Kepailitan dan PKPU memberikan ketentuan khusus atas segala warisan yang jatuh kepada Debitor Pailit selama Kepailitan berlangsung.

Berdasarkan ketentuan Pasal 40 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU warisan yang selama Kepailitan jatuh kepada Debitor Pailit tidak boleh diterima oleh Kurator kecuali apabila hal tersebut menguntungkan harta pailit.

Sedangkan pada Ayat (2) mengatakan bahwa Kurator dalam hal tidak menerima

49 Pasal 38 UU Kepailitan

warisan harus memerlukan izin dari Hakim Pengawas. Sedangkan Pasal 41 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU mengatakan bahwa untuk kepentingan harta pailit, kepada Pengadilan dapat dimintakan pembatalan segala perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan Kreditor, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan50.

Diucapkannya putusan pailit tidak semua harta Debitor Pailit akan berada dalam penguasaan Kurator/Balai Harta Peninggalan. Pasal 22 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU menyetakan bahwa terdapat beberapa jenis harta yang menjadi pengecualian:51

1. Benda, termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan oleh Debitor sehubungan dengan pekerjaannya, perlengkapannya, alat-alat medis yang dipergunakan untuk kesehatan, tempat tidur dan perlengkapannya yang dipergunakan oleh Debitor dan keluarganya, dan bahan makanan untuk 30 (tiga puluh) hari bagi Debitor dan keluarganya, yang terdapat di tempat itu;

2. Segala sesuatu yang diperoleh Debitor dari pekerjaannya sendiri sebagai penggajian dari suatu jabatan atau jasa, sebagai upah, pensiun, uang tunggu atau uang tunjangan, sejauh yang ditentukan oleh Hakim Pengawas;

3. Uang yang diberikan kepada Debitor untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-undang. Dengan diucapkannya pernyataan pailit tidak menutup kemungkinan untuk diajukannya perdamaian. Berdasarkan ketentuan Pasal 144 “Debitor Pailit berhak untuk menawarkan rencana

50 Pasal 40 dan 41 UU Kepailitan

51 Lilik Mulyadi, Perkara Kepalitan dan PKPU Teori dan Praktik, (Bandung: Alumni, 2010), hlm. 195

perdamaian kepada para Kreditor”52. Apabila rencana perdamaian diterima dan disahkan oleh majelis Hakim maka Kepailitan tersebut berakhir. Namun, apabila rencana perdamaian tersebut tidak diterima atau ditolak pengesahannya maka Kepailitan tetap berjalan. Berdasarkan Pasal 163 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU apabila perdamaian tidak diterima atau ditolak pengesahannya, maka Debitor Pailit tidak dapat lagi menawarkan perdamaian dalam Kepailitan tersebut. Sedangkan untuk para Kreditor, dengan diucapkannya putusan pailit maka mempunyai hak yang sama atas hasil eksekusi boedel pailit sesuai dengan besarnya tagihan mereka masing-masing.

Khusus bagi Kreditor yang memiliki hak jaminan, dengan di ucapkannya putusan pailit tidak menghalangi Kreditor tersebut untuk mengekseusi haknya seolah-olah tidak terjadi Kepailitan sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU53. Namun apabila hak atas penagihan yang mereka miliki adalah suatu piutang yang merupakan piutang yang wajib dicocokkan, maka eksekusinya hanya dapat dijalankan jika tagihan atau piutang telah dicocokkan dan eksekusi tersebut hanya dapat digunakan untuk mengambil pelunasan dari jumlah yang diakui atas penagihan atau piutang tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

Kreditor yang memilik hak untuk menahan barang (hak retensi) tidak kehilangan haknya dengan adanya putusan pernyataan pailit sesuai dengan ketentuan Pasal 61 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU54. Hak tersebut, menurut penjelasan Pasal 61 berlangsung sampai utangnya dilunasi. Menurut

52 Pasal 144 UU Kepailitan

53 Op Cit. Munir Fuady. Hlm. 142

54 Op Cit. Victor Situmorang. Hlm . 97

Pasal 29 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, suatu tuntutan hukum yang diajukan terhadap Debitor di pengadilan dengan tujuan untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan, gugr demi hokum dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit terhadap Debitor.

Ketentuan tersebut, merupakan konsekuensi berlakunya asas bahwa dengan Kepailitan Debitor maka harta Debitor berada dibawah sita umum dan harta Debitor harus dibagi bagi kepentingan semua para Kreditornya. Dengan demikian, penggugat harus mengajukan tagihannya untuk dicocokkan dalam rapat pencocokan piutang.55

Akibat pernyataan pailit bagi kreditor adalah kedudukan para kreditor sama (paritas creditorium) dan karenanya mereka mempunyai hak yang sama atas hasil eksekusi boedel pailit sesuai dengan besarnya tagihan mereka masing-masing (pari passa pro rata parte)56. Namun demikian asas tersebut mengenal pengecualian, yaitu golongan kreditor yang haknya didahulukan berdasarkan UU Kepailitan dan peraturan perundang-undangan lainnya (Pasal 1139 dan Pasal 1149 KUH Perdata). Dengan demikian, asas paritas creditorium berlaku bagi para kreditor konkuren saja.

Adanya putusan pernyataan pailit tersebut kreditor separatis tidak dapat mengeksekusi boedel pailit karena dalam hal ini ada jangka waktu 90 hari yang disebut dengan masa stay, baru setelah tenggat waktu 90 hari tersebut lewat, kreditur separatis baru dapat mengeksekusi boedel pailit. Adanya lembaga penangguhan pelaksanaan hak eksekusinya dalam tenggang waktu 90 hari

55Ibid., hlm. 203

56 Bernadette Waluyo, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Mandar Maju, Bandung, 1999, hal. 34.

terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan, dalam pelaksanaan hak eksekusinya harus mendapat persetujuan dari kurator atau Hakim Pengawas.

Kreditor PT. Kundur Prima Karya dan CV. Cipta Karya Mandiri dalam putusan No. 8. Sus. Pailit/2015/Pn. Medan dijelaskan bahwa terkait dengan hubungan hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam hal pembelian barang dengan pembayaran berjangka tidak disebutkan adanya jaminan yang diserahkan kepada msing-msing kreditor, oleh sebab hal tersebut kedua kreditor dinilai atau dikategorikan sebagai kreditor konkuren yang mana pengembalian hutang debitor terhadapnya dilakukan secara setara antar kreditor. Akibat hukum yang dinilai penulis dengan mendasarkan jenis kreditor sebagai kreditor konkuren, terhadap PT. Kundur Prima Karya dan CV. Cipta Karya Mandiri memperoleh pengembalian hutang dengan cara membagi rata harta PT. Jasa Manire Enginerring.

BAB III

PROSES HUKUM KEPAILITAN PT. JASA MARINE ENGINERRING

Pengadilan niaga memeriksa dan memutus perkara pada tingkat pertama dengan Majelis Hakim, dalam menjalankan tugasnya hakim pengadilan niaga dibantu oleh seorang panitera atau seorang panitera pengganti dan juru sita.

Adapun apabila perkara-perkara lain telah dapat diperiksa dan diputuskan pula oleh Pengadilan Niaga. Ketua Mahkamah Agung dapat menetapkan jenis dan nilai perkara yang pada tingkat pertama diperiksa dan diputus oleh hakim tunggal (bukan Majelis Hakim).57

Undang-undang Kepailitan tidak hanya mengatur masalah pernyataan pailit dan PKPU. Undang-undang Kepailitan juga mengatur banyak hal yang tidak terkait langsung dengan pernyataan Kepailitan dan PKPU.58

Kompetensi Pengadilan a) Kompetensi absolut

Masalah permintaan pailit adalah menjadi kompetensi absolut untuk memeriksanya. Jadi tidak ada Badan Peradilan lain di luar Peradilan umum yang berkompeten untuk memeriksanya.

b) Kompetensi Relatif

Kompetensi relatif Pengadilan Negeri untuk memeriksa permintaan pailit adalah sebagai berikut:

57 Sutan Remy Sjahdeny, Hukum Kepailitan, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 2002), hlm. 64

58 Aria Suyudi dkk, Kepailitan di Negeri Pailit, (Jakarta : Pusat Studi Hukum &

Kebijakan Indonesia, 2000), hlm.49

1) Tempat kediaman Debitur

Permintaan pailit dimintakan kepada Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya meliputi tempat kediaman Debitur/ si berhutang.

2) Tempat kediaman terakhir Debitur

Permintaan pailit dapat dimintakan kepada Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya meliputi tempat terakhir dari Debitur.

3) Tempat Kantor Firma

Permohonan Pailit terhadap persero-persero Firma diajukan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya terletak kantor perseroan.

4) Tempat Kantor Termohon Pailit

Dalam hal termohon pailit tidak mempunyai tempat tinggal di wilayah Indonesia, tetapi mempunyai pekerjaan maka permohonan pailit dapat dimohonkan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya daebitur tersebut mempunyai kantor.

5) Tempat kedudukan Badan Hukum

Permohonan pailit terhadap perseroan terbatas, perseroan pertanggungan timbal balik, perkumpulan koperasi atau lain-lain perkumpulan yang berbadan hukum dan yayasan-yayasan dilakukan kepada Pengailan Negeri tempat kediaman, tempat dimana perseroan-perseroan itu atau perkumpulan-perkumpulan itu berdomisili.

6) Tempat perempuan melakukan pekerjaan/perusahaan

Sehubungan dengan permintaan pailit ini dapat terjadi dilakukan oleh beberapa Pengadilan Negeri.59

D. Dasar Penentuan Kepailitan PT. Jasa Marine Enginerring Terhadap PT.

Kundur Prima Karya dan CV. Cipta Karya Mandiri

Penyelesaian perkara Kepailitan dapat dilakukan dengan adanya permohonan pernyataan pailit oleh Kreditor maupun Debitor sendiri secara sukarela, atau oleh pihak-pihak lain yang telah ditentukan oleh UU Kepailitan untuk kemudian mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga. Pengadilan Niaga memeriksa dan memutus perkara pada tingkat pertama dengan hakim majelis, walau demikian hal-hal yang menyangkut perkara lainnya dibidang perniagaan. Prosedur permohonan dan putusan pernyataan pailit pada Pengadilan Niaga diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 UU Kepailitan. Adapun prosesnya yaitu sebagai berikut:60

1. Tahap Pendaftaran Permohonan

Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 6 ayat (1) UU Kepailitan, Pemohon mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada Pengadilan Niaga61. Panitera Pengadilan Niaga wajib mendaftarkan permohonan tersebut pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada Pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh

59 Ibid. hl. 51

60 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2000), hlm. 43

61 Hadi Subhan. op cit. hlm. 171

pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran (Pasal 6 ayat (2) UU Kepailitan).

2. Tahap Pemanggilan Para Pihak

Sebelum persidangan dimulai, pengadilan melalui Juru Sita melakukan pemanggilan para pihak, antara lain:

a. Wajib memanggil Debitur, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Bapepam, atau Menteri Keuangan (Pasal 8 ayat (1) huruf a UU Kepailitan);

b. Dapat memanggil Kreditor, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Debitur (voluntary petition) dan terdapat keraguan bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan telah terpenuhi.

3. Tahap Persidangan atas Permohonan Pernyataan Pailit

Dalam jangka waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan sidang (Pasal 6 ayat (5) UU Kepailitan)62. Sidang pemeriksaan atas permohonan tersebut diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (Pasal 6 ayat (6) UU Kepailitan). Atas permohonan Debitor dan berdasarkan alasan yang cukup seperti adanya surat keterangan sakit dari dokter, “pengadilan dapat menunda penyelenggaraan sidang pemeriksaan sampai dengan paling lambat 25 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (Pasal 6 ayat (7) UU Kepailitan)”.

62 Indonesia UU Kepailitan, op. cit.Pasal 6

4. Tahap Putusan atas Permohonan Pernyataan Pailit

Putusan Pengadilan Niaga atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan (Pasal 8 ayat (5) UU Kepailitan)63. Putusan atas permohonan pernyataan pailit wajib diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan wajib memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut.

Salinan putusan pengadilan atas permohonan pernyataan pailit disampaikan oleh Juru Sita dengan surat kilat tercatat kepada Debitor, pihak yang mengajukan permohonan pernyataan pailit, Kurator, dan Hakim Pengawas paling lambat 3 (tiga) hari setelah putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan (Pasal 8 ayat (6) UU Kepailitan).

Berbicara tentang dasar penentuan Kepailitan suatu organisasi, di wujudkan dengan keterpenuhan syarat pengajuan Kepailitan. Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit ke pengadilan niaga merupakan hal yang sangat penting karena apabila permohonan pernyataan pailit tidak memenuhi syarat-syarat yang terdapat dalam UU Kepailitan maka pengadilan niaga tidak akan mengabulkan permohonan pernyataan pailit tersebut.

Berdasarkan Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan yang menyebutkan bahwa Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun

63 Indonesia UU Kepailitan, op. cit.Pasal 8

atas permohonan satu atau lebih kreditornya. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat 1 UU Kepailitan di atas maka syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap debitor adalah sebagai berikut:64

1. Debitor memiliki dua kreditor atau lebih

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan “seorang debitor dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga apabila mempunyai dua kreditor atau lebih (concursus creditorum)”65. Syarat ini merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa “harta kekayaan debitor merupakan jaminan bersama bagi para kreditor dan hasil penjualan harta debitor harus dibagikan kepada kreditor sesuai dengan jumlah piutangnya, kecuali jika diantara kreditor itu berdasarkan undang-undang harus didahulukan dalam pembagiannya”66. Putusan No. 8. Sus. Pailit/2015/Pn. Medan yang menetapkan bahwa PT.

Jasa Marine Enginerring dinyatakan pailit atas permohonan PT. Kundur Prima Karya dan CV. Cipta Karya Mandiri. Terdapatnya 2 (dua instansi atau badan usaha yang mengajukan permohonan pailit dalam putusan selaras dengan aturan hukum pada Pasal 2 Ayat(1) UU Kepailitan.

Penentuan terdapatnya kreditor lebih dari satu tidak mencakup tentang besarnya nilai hutang, hanya sebatas jumlah kreditor yang mengajukan permohonan pailit.

64Kartini Muljadi, Kreditor Preferen dan Kreditor Separatis dalam Kepailitan, (Jakarta:

Pusat Pengkajian Hukum, 2005), hlm. 164-165

65 Indonesia UU Kepailitan, op. cit.Pasal 2

66 Indonesia KUHPerdata, op. cit.Pasal 1132

Ada 3 macam kreditor yang dikenal dalam KUH Perdata yaitu67:

a. Kreditor konkuren adalah para kreditor yang memperoleh pelunasan berdasarkan pada besarnya piutang masing-masing. Para kreditor konkuren mempunyai kedudukan yang sama atas pelunasan utang dari harta debitor tanpa ada yang didahulukan.

b. Kreditor preferen adalah kreditor yang oleh undang-undang diberikan hak istimewa untuk mendapatkan pelunasan piutang terlebih dahulu dibandingkan kreditor lainnya. Hak istimewa ini diberikan berdasarkan sifat piutangnya yang harus didahulukan.

c. Kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yaitu hipotek, gadai, hak tanggungan dan fidusia. Kreditor separatis ini dipisahkandan tidak termasuk dalam pembagian harta debitor pailit.

Kreditor ini dapat mengeksekusi sendiri haknya seolah-olah tidak terjadi Kepailitan. Akan tetapi, hak eksekusi jaminan utang tersebut tidak dapat dilakukan oleh kreditorseparatis setiap waktu, kreditor harus menunggu dengan jangka waktu penangguhan paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan.

Memperhatikan kriteria kreditor dalam kasus dimana dalam menjalankan hubungan hukumnya sebagai penyumplai barang dengan pembayaran di waktu berikutnya dan tidak meletakkan jaminan atas hubungan hukum tersebut maka penulis dapat mengambil keputusan bahwa jenis kreditor dalam putusan yaitu kreditor konkuren.

67Munir Fuady, Op.Cit., hlm. 10

2. Syarat adanya utang

Pihak yang mengajukan permohonan pernyataan pailit harus dapat membuktikan bahwa debitor itu mempunyai utang kepadanya. UU Kepailitan mendefinisikan utang dalam Pasal 1 angka 6 yaitu sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib terpenuhi oleh debitor, bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor68. Syarat terpenuhinya keterdapatan hutang Putusan No. 8. Sus. Pailit/2015/Pn debitor yang dinyatakan pailit dijelaskan memiliki hutang yaitu berdasarkan dalil masing-masing kreditor. PT. Jasa Marine Enginerring memiliki hutang jatuh tempo terhadap PT. Kundur Prima Jaya (Kreditor I) dalam 2 (dua) mata uang, yakni Rp. 18.490.000,-(delapan belas juta empat ratus sembilan puluh ribu) sertaS$ 7,993.39 (tujuh ribu sembilan ratus sembilan puluh tiga dollar tiga puluh sen Singapura) yang timbul dari hubungan bisnis berupa perjanjian jual-beli material dan sewa menyewa alat industry.

PT. Jasa Marine Enginerring memiliki hutang jatuh tempo terhadap CV. Cipta Karya Mandiri dalam dua mata uang, yakni Rp. 4.000.000,00 (empat juta rupiah) dan S$20,365.20(dua puluh ribu tiga ratus enam puluh lima dollar dua puluh sen Singapura) yang timbul dari hubungan bisnis

68 Mohammad Chaidir Ali, et al, Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, Mandar Maju, Bandung, 1995, hal. 10.

berupa suplai material dan alat-alat industri, dimana PEMOHON II bertindak sebagai penjual sedangkan termohon sebagai pembeli.

3. Salahsatu utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih

Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan menyebutkan bahwa “syarat utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”69. Dalam Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU Kepailitan yaitu kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase. Suatu permohonan pernyataan pailit haruslah dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit telah dipenuhi70. Oleh karena itu, apabila dalam sidang pengadilan terbukti bahwa ada satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih serta tidak dapat dibayar oleh debitor maka pengadilan menyatakan bahwa debitor dalam keadaan pailit.71

Permohonan pailit oleh PT. Kundur Prima Karya dan CV. Cipta Karya Mandiri didasarkan pada jatuh temponya pembayaran tagihan atau hutang PT. Jasa Marine Enginerring yang masing masing nilainya tertera diatas.

Penetapan jatuh tempo dalam putusan dijelaskan bahwa hutang pada PT.

Kundur Prima Karya berupa jual beli material dan penyewaan peralatan harusnya diselesaikan tunai dan seketika akan tetapi termohon tidak melaksanakan kewajibanya. Sedangkan penetapan jatuh tempo hutang pada

69 Indonesia UU Kepailitan, op. cit.Pasal 2

70 Munir Fuady, op cit. Hlm. 132

71Zainal Asikin, Op.Cit., hlm. 26.

CV. Cipta Karya Mandiri yaitu pada pembelian material yang pada ketetapan harus dibayarkan paling lambat 60 hari setelah pembelian, akan tetapi termohon sampai permohonan pailit diajukan tidak melaksanakan kewajibanya.

E. Pembuktian Kepailitan PT. Jasamarine Enginerring Terhadap PT.

Kundur Prima Karya Dan CV. Cipta Karya Mandiri

Kewenangan pengadilan untuk menjatuhkan putusan Kepailitan itu telah ditentukan secara tegas di dalam UU Kepailitan yaitu Pasal 2 ayat (1) UU

Kewenangan pengadilan untuk menjatuhkan putusan Kepailitan itu telah ditentukan secara tegas di dalam UU Kepailitan yaitu Pasal 2 ayat (1) UU

Dokumen terkait