• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV AKIBAT HUKUM PENYERAHAN DOKUMEN

C. Akibat Hukum Penyerahan Dokumen-dokumen yang

Untuk mengetahui adanya tindak pemalsuan/penipuan, maka beberapa hal yang ada relevansi dengan tindak pidana tersebut pertama kali hendaknya

49

Clive M. Schmitthoff, Export Trade-The Law And Practice Of International Trade, Stevens & Sons, London, 1990, hal. 442.

diketahui prosedur pembukaan L/C-nya, utamanya tentang adanya Issuing Bank pada saat Applicant membuka L/C dan koresponden bank yang berada di luar negeri. Karena dapat juga terjadi koresponden bank yang ada di luar negeri, pemiliknya adalah si Applicant sendiri atau mungkin dari sindikat daripada si Applicant dalam usaha untuk menipu atau mengelabui pihak Issuing Bank, dengan maksud agar memenuhi persyaratan formal dalam pembukaan L/C-nya.

Selain itu, pemalsuan atau penipuan dalam kaitannya dengan L/C sebagai sarana ekspor impor bisa juga terjadi apabila sekiranya supplier atau beneficiary di luar negeri adalah milik si Applicant atau sindikatnya yang dengan sendirinya apabila keadaan demikian terjadi, maka barang yang diimpor kemungkinannya adalah barang si applicant itu yang jumlah nilainya sebenarnya tidak sesuai, atau lebih rendah dari apa yang tercantum dalam ”Sales Contract” L/C tersebut. Bahkan dapat juga terjadi barang-barang yang impor oleh applicant/pemohon tersebutnya tidak ada, atau tidak dikirim, atau yang dikirim barang lain yang jenisnya lebih murah.

Salah satu dokumen yang penting dalam L/C adalah Bill Of Lading (B/L). B/L merupakan salah satu dokumen yang menyertai keluar masuknya barang dari luar ke dalam negeri. B/L ini biasanya memuat jumlah barang, jenis barang yang dimuat atau diangkut dalam container atau peti kemas. B/L ini dikeluarkan oleh pihak perusahaan pelayaran dimana barang tersebut dimuat. B/L inilah yang sering dipalsukan dalam pelaksanaan L/C.

Jadi, pada dasarnya untuk mengetahui bahwa B/L itu palsu atau tidaknya, agak sulit sejauh para pihak supplier dan perusahaan tidak ada kerja sama. Namun apabila pihak supplier dengan perusahaan pelayaran sebelumnya telah ada kerja

sama ke arah demikian, bukan mustahil terjadinya B/L yang palsu. Sehingga banyak kesulitan untuk mengetahui adanya B/L yang palsu atau yang tidak, sejauh belum mengetahui sampai sejauh mana kerja sama antara pemilik barang dengan perusahaan pelayaran yang menangani pengiriman barang tersebut ke luar daerah pabean.

Mengapa dikatakan demikian, karena secara prosedural, pihak perusahaan pelayaran yang membuat B/L atas dasar packing list yang dibuat oleh pihak supplier, sehingga dapat saja terjadi, pihak pelayaran tidak mengetahui kenyataan barang-barang yang dikirim oleh pihak supplier. Apalagi dalam bisnis, pihak perusahaan pelayaran tidak ikut stuffing barang ke dalam container, atau dengan sistem CY (Container Yard).

Jika terjadi suatu penyerahan dokumen yang dipalsukan dan pihak issuing bank dan koresponden bank mengetahui adanya pemalsuan tersebut, maka pihak bank dengan tegas akan menolak dokumen tersebut dan secara otomatis menolak pembayaran terhadap penyerahan dokumen tersebut. Kasus demikian menurut praktisi L/C digolongkan dalam ”Unpaid Bills” yaitu wesel- wesel ekspor yang dinyatakan tidak dapat dibayar oleh opening bank/paying bank oleh karena dokumen/wesel yang diterimanya tidak sesuai dengan persyaratan- persyaratan yang tercantum dalam L/C yang dibuka. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kerugian bagi pihak importir yang telah beritikad baik.

Meskipun dalam pelaksanaan L/C dikenal adanya prinsip independensi, jika terjadi pemalsuan/penipuan, maka hal ini merupakan perkecualian dari prinsip tersebut. Dalam prinsip independensi tersebut dijelaskan bahwa L/C secara hukum merupakan kontrak yang independen atau terpisah dari kontrak dasarnya

yaitu kontrak penjualan dan permintaan penerbitan L/C. Prinsip independensi tersebut dapat dijumpai dalam artikel 3 dan 4 UCP 500. Dalam artikel tersebut dikemukakan bahwa pembayaran L/C dapat ditentukan oleh pemenuhan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan L/C, tidak oleh pemenuhan barang atau jasa atau pelaksanaannya. Secara hukum L/C, hambatan pelaksanaan kontrak penjualan tidak boleh menghalangi pelaksanaan L/C sepanjang semua dokumen dipenuhi, L/C wajib dibayar terlepas dari kenyataan bahwa barang impor tidak sesuai dengan kontrak penjualan. Selanjutnya dalam artikel 14 huruf a UCP 500 menegaskan bahwa pembayaran L/C didasarkan pada kesesuaian antara persyaratan L/C dan dokumen-dokumen yang diajukan yang dilihat berdasarkan tampak muka (on their face).

Akan tetapi dalam hal terjadi pemalsuan/penipuan dalam transaksi L/C terutama yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang mewakili barang, maka ketiga artikel tersebut menjadi tidak dapat diterapkan. Secara teori, prinsip atau ketentuan tersebut dapat dipisahkan, tetapi dalam kenyataan sangat erat terkait dan tidak dapat diperlakukan secara terpisah. Issuing Bank atau Advising Bank yang telah bertindak dengan itikad baik berhak bahkan berkewajiban menolak pembayaran L/C jika mengetahui adanya pemalsuan/penipuan dalam transaksi L/C meskipun semua dokumen yang diajukan penerima sesuai dengan persyaratan L/C.

Berkenaan dengan akibat hukum terhadap pemalsuan/penipuan tersebut, Sutan Remy Sjahdeni mengatakan bahwa pengadilan-pengadilan yang telah mengikuti teori penipuan (fraud theory) memberikan kemungkinan kepada pihak yang dirugikan untuk tidak mengakui adanya suatu kontrak atau untuk menuntut

bahwa kontrak tersebut agar tetap berlaku sesuai persyaratan semula yang telah disepakati para pihak.50

Tindak pemalsuan/penipuan tersebut menurut pendapat beliau termasuk dalam kriteria uncorrectablemajor discrepancies yaitu penyimpangan- penyimpangan yang substansial yang tidak bisa mendapatkan pembetulan atau amandemen, sehingga akan mengakibatkan penolakan pembayaran. Seperti

Sementara, Mariam Darus Badrulzaman mengatakan bahwa kontrak yang diadakan dengan pemalsuan/penipuan dapat dibatalkan.

Walaupun kedua Guru Besar Hukum ini mendasarkan pendapatnya pada pelaksanaan suatu kontrak pada umumnya, namun pendapat kedua beliau tersebut dapat juga diterapkan terhadap L/C mengingat L/C juga merupakan suatu kontrak. Dengan demikian dalam hal terjadi pemalsuan/penipuan dalam transaksi L/C, maka L/C yang bersangkutan dapat dimintakan pembatalannya atau tidak dilaksanakan dalam arti bank penerbit tidak melakukan pembayaran L/C meskipun dokumen-dokumen yang diajukan sesuai dengan persyaratan L/C tersebut.

Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh Staf Humas Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Kisaran. Pihak bank tersebut akan menolak pembayaran kepada eksportir meskipun dokumen tersebut sesuai dengan pembayaran L/C. Kemudian pihak Advising Bank/Nominated Bank yang melakukan penelitian terhadap dokumen yang diserahkan penjual, akan memberitahukan kepada Issuing Bank dan kepada Importir mengenai adanya tindak pemalsuan tersebut dan memintakan pembatalan L/C tersebut.

50

Sutan Remi Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, IBI, Jakarta, 1993, hal. 2.

diketahui bahwa penyimpangan-penyimpangan dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu :

a. Major Discrepansies dimana akan ditolak pembayaran ;

b. Minor Discrepansies dimana pembayarannya akan ditunda dan pembayaran baru akan dilaksanakan bila sudah mendapat amandemen dari penjual/eksportir dan mendapatkan rekomendasi dari bank penerbit.

Selanjutnya, jika pembeli sudah mengetahui adanya pemalsuan tersebut, maka pembeli/importir akan membatalkan kontrak jual beli dengan penjual nakal tersebut dan secara otomatis L/C atas transaksi tersebut batal. Dan keadaan dikembalikan seperti semula sebelum terjadinya kontrak.

Dalam penelitian yang telah dilaksanakan di PT. INALUM Kabupaten Batubara, sampai saat ini PT. INALUM belum mengalami permasalahan mengenai pemalsuan dokumen tersebut. Hanya saja pernah mengalami permasalahan mengenai barang yang dipesan, dimana barang yang diterima dari penjual tidak sama dengan yang dipesan. Hal ini mungkin terjadi karena faktor- faktor lain diluar pemalsuan/penipuan dokumen, misalnya karena adanya kesalahan dalam pengiriman barang yang dipesan, pengepakan-pengepakan yang tidak sempurna, kejahilan awak kapal pada saat pengangkutan (barraty), pencurian kecil-kecilan (filferage) dan sebagainya. Jadi, ketidaksesuaian barang tersebut lebih disebabkan karena tindakan pihak ketiga diluar penjual/eksportir yang telah beritikad baik.

Tindakan yang diambil PT. INALUM pada kasus-kasus tersebut adalah dengan mengkonfirmasi kepada pihak penjual mengenai barang yang diterimanya disertai dengan foto barang yang diterimanya. Ia meminta kepada penjual untuk

melengkapi kekurangan barang agar sesuai yang diminta oleh pembeli. Tetapi ada juga yang tidak mau melengkapi barang yang kurang. Terhadap hal ini, PT. INALUM melihat pada kasus posisinya. Jika kekurangan barang tersebut masih dalam batas toleransi yaitu 0,5% dari jumlah barang dan tidak mengganggu untuk proses produksi perusahaannya, maka ia tidak akan menuntut pembeli. Hal ini dianggap sebagai kerugian dalam ongkos produksi. Tetapi bila kekurangan tersebut melebihi batas toleransi sehingga mengganggu proses produksinya, maka ia akan menuntut penjual ke Badan Arbitrase Internasional dalam hal ini adalah International Chamber Of Commerce di Paris yang berwenang menangani masalah perdagangan internasional.

Menurut pendapat staf PT. INALUM yang diwawancarai, tindakan bank dengan menolak pembayaran tersebut adalah tepat. Penjual tersebut telah beritikad buruk bermaksud untuk mendapatkan keuntunngan yang lebih dengan cara yang tidak benar. Bahkan bila pihak bank mau, ia bisa menyelesaikan masalah melalui jalur pidana dengan tuntutan pemalsuan surat seperti yang telah diuraikan di atas, hal ini tergantung pihak bank itu sendiri, apakah pihak bank telah mempunyai bukti-bukti yang cukup atau belum mengenai unsur pemalsuan tersebut.

b. Apabila Telah Diakseptasi Oleh Pihak Bank

Dalam transaksi perdagangan internasional yang menggunakan L/C sebagai cara pembayarannya, hubungan hukum antara penjual dan bank diakhiri pada saat sepucuk surat berharga (draft) yang diserahkan oleh penjual beserta dokumen-dokumen lainnya diterima dan disetujui oleh bank dan diikuti pembayaran. Advising Bank ini kemudian akan menagih kembali kepada Issuing

Bank terhadap apa yang telah dibayarkannya kepada penjual. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana jika ternyata dokumen-dokumen yang diserhakan penjual tersebut palsu sedangkan Issuing Bank dan Advising Bank telah melakukan pembayaran kepada penjual, sehingga barang yang diterima pembeli tidak sesuai dengan yang dipesan bahkan mungkin tidak pernah diterima oleh pembeli tersebut.

Jika terjadi kasus seperti ini, maka berlakulah ”Hak Regres” dari bank yaitu hak menggugat kembali dari bank terhadap penjual terhadap apa yang telah dibayarkannya. Menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak, dalam hal ini jika bank menuntut pembayaran kembali dari penjual, maka dia melakukan hal tersebut untuk melindungi si pembeli walaupun sebenarnya dia dapat langsung menuntut pembayaran kembali dari pihak pembeli sendiri. Tetapi hal itu tidak dilakukannya karena menjaga nama baik dan good will pihak bank itu sendiri terhadap nasabahnya (pembeli).51

1) Perjanjian itu adalah perjanjian pemberian kuasa ;

Pendapat beliau tersebut didasarkan atas hubungan hukum antara bank dan pembeli dimana hubungan hukum antara bank dan pembeli lebih dahulu terjadi daripada hubungan hukum antara bank dan penjual. Ada beberapa pendapat dari ahli-ahli hukum yang timbul dalam mencari dasar hukum dari hubungan hukum antara bank dan pembeli yang semuanya mempunyai persamaan dalam hal bahwa hubungan hukum itu adalah berdasarkan suatu perjanjian. Yang berbeda adalah mengenai pandangan tentang jenis khusus perjanjian itu. Sehingga terdapat beberapa pendapat :

51

Emmy Pengaribuan Simanjuntak, Hubungan Hukum Bank Dan Penjual Dalam Pembukaan L/C, Bahan Penataran Dosen Hukum Dagang, UGM, Yogyakarta, 1992, hal. 9.

2) Perjanjian itu adalah perjanjian untuk melakukan beberapa pekerjaan ;

3) Perjanjian itu adalah perjanjian yang mengandung campuran unsur perjanjian kedua perjanjian di atas.

Jadi wajarlah jika bank yang terlanjur menerima dokumen-dokumen yang terbukti palsu dan telah melakukan pembayaran atas dokumen tersebut, kemudian menuntut pembayaran itu kembali dari pihak penjual dan bukan menuntut pihak pembeli yang menjadi prinsipalnya atau pemberi kuasa atau berdasarkan salah satu dasar hukum dari hubungan hukum antara bank dan pembeli seperti disebut di atas yang justru timbul sebelum ada hubungan hukum dengan penjual. Dengan perkataan lain, logislah kalau bank mengutamakan kepentingan hubungan hukumnya dengan pihak pembeli daripada dengan pihak penjual, sehingga dia menuntut pemenuhan pembayaran kembali dari pihak penjual.

Dalam hal ini bank sekaligus melindungi pihak pembeli dari kerugian yang timbul dari kontrak L/C tersebut. Sebab di dalam kasus penyerahan dokumen-dokumen yang dipalsukan yang sumbernya datang dari penjual, maka penjual yang demikian itupun telah dapat diklasifikasikan sebagai penjual yang menipu (fraud). Oleh karena itu dalam hal ada unsur pemalsuan dokumen, pihak bank mempunyai alasan baik dan kuat untuk menggugat/menuntut pihak penjual. Tetapi sebaliknya adalah tidak wajar bilamana masih dapat menerima bahwa pihak penjual yang menipu tersebut mempunyai alasan membela dirinya dengan mengemukakan bahwa pihak bank dapat menuntut pembayaran itu dari pihak pembeli.

Demikian juga menurut Staf Humas BRI cabang Kisaran, dimana dia akan menuntut kepada penjual atau eksportir terhadap apa yang telah dibayarkannya dalam hal terjadi pemalsuan dokumen. Penjual tersebut dari semula telah beritikad buruk untuk tidak melaksanakan perjanjian sebagaimana mestinya. Penjual tersebut telah melakukan wanprestasi. Hal ini dilakukan untuk melindungi pembeli yang telah menjadi nasabahnya dimana sudah terjalin kepercayaan yang mahal harganya.

Jadi meskipun dalam Pasal 15 UCP 500 menyatakan bahwa bank tidak bertanggung jawab terhadap adanya pemalsuan/penipuan tetapi dalam praktik pelaksanaan L/C, bank akhirnya ikut bertanggung jawab pula terhadap adanya pemalsuan tersebut. Tanggung jawab bank ini diwujudkan dengan menuntut kembali uang yang telah dibayarkannya kepada penjual, yang telah menyerahkan dokumen-dokumen palsu.

Dokumen terkait