• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP

C. Akibat Hukum Putusan Pailit Terhadap Perseroan Terbatas

Akibat yang terpenting dari pernyataan pailit adalah bahwa organ PT demi hukum kehilangan haknya untuk berbuat bebas terhadap harta kekayaannya, begitu pula hak untuk mengurusnya. Ia tidak boleh lagi melakukan kepengurusan PT dengan sekehendaknya sendiri dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan itikad buruk untuk merugikan para Kreditur, ia dapat dituntut pidana. Jadi dapat ditarik kesimpulan, bahwa PT hanya kehilangan haknya untuk berbuat bebas terhadap kekayaannya dan haknya untuk mengurusnya, tidak kehilangan hak-hak dan kecakapannya untuk mengadakan persetujuan-persetujuan, namun demikian perbuatan-perbuatannya tidak mempunyai akibat hukum atas kekayaannya yang tercakup dalam kepailitan.

Apabila PT melanggar ketentuan tersebut, maka perbuatannya tidak mengikat kekayaannya tersebut, kecuali perikatan yang bersangkutan mendatangkan keuntungan bagi budel pailit. Sejak putusan pernyataan pailit diucapkan oleh

Pengadilan Niaga, pengurusan dan pemberesan budel pailit ditugaskan kepada kurator.

1. Akibat Hukum Putusan Pailit Terhadap Harta Kekayaan PT

Jika suatu perusahaan sebagai kreditur mempailitkan perusahaan atau ikut sebagai kreditur dalam suatu kepailitan debiturnya, maka oleh hukum hal ini dianggap hanya sebagai salah satu cara menagih hutang dari debiturnya. Sehingga tidak banyak berpengaruh dari segi hukum kepada kreditur yang nota bene suatu perusahaan terbuka.74

Akan tetapi jika yang dipailitkan suatu perusahaan terbuka, maka beberapa akibat hukum yang akan terjadi adalah ssebagai berikut:

1. Terkena kewajiban pelaporan kepada Bapepam dan mengumumkan kepada publik tentang adanya permohonan pailit tersebut.

2. Sebelum pelaporan dilakukan, pihak yang mengetahui adanya informasi tentang kepailitan terkena peraturan-peraturan ketentuan tentang insider trading

3. Terkena ketentuan tentantang suspensi dan delisting dari bursa efek dimana saham diperjualbelikan sesuai dengan ketentuan bursa yang bersangkutan.

Kepailitan mengakibatkan seluruh benda berada dalam sitaan umum sejak saat putusan pernyataan pailit diucapkan kecuali :

a. Benda yang sehubungan dengan pekerjaan, perlengkapan di dalam PT yang digunakan.

74Munir Fuady, Hukum Kepailitan 1998 Dalam Teori Dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 90

b. Segala sesuatu yang diperoleh debitur dari pekerjaannnya sendiri sebagai penggajian dari sesuatu jasa, gaji ataupun dana pensiun, sejauh yang ditentukan oleh hakim pengawas.

c. Uang yang diberikan kepada debitur untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut UU.

Didalam Pasal 1 ayat (1) UUPT menegaskan bahwa perseroan terbatas adalah badan hukum. Dengan statusnya sebagai badan hukum maka berarti perseroan berkedudukan sebagai subyek hukum yang mampu mendukung hak dan

kewajibannya sebagaimana halnya dengan orang dan mempunyai harta kekayaan tersendiri terpisah dari harta kekayaan para pendirinya, pemegang saham, dan para pengurusnya.

Sebagaimana ditetapkan Pasal 21 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, kepailitan meliputi seluruh kekayaan PT pada saat putusan pailit ditetapkan dan juga mencakup semua kekayaan yang diperoleh PT selama berlangsungnya kepailitan. Dari konsekuensi Pasal tersebut maka setiap dan seluruh peserikatan antara debitur (PT) yang dinyatakan pailit oleh pihak ketiga yang dilakukan sesudah pernyataan pailit tidak akan dan tidak dapat dibayar dari harta pailit kecuali bila perikatan-perikatan tersebut mendatangkan keuntungan bagi harta kekayaan itu.

Oleh karena itu maka gugatan-gugatan yang diajukan dengan tujuan untuk memperoleh pemenuhan perikatan dari harta pailit. Dalam hal debitur pailit hanya dapat diajukan dalam bentuk laporan untuk pencocokan. Apabila pencocokan tidak

disetujui, maka pihak yang tidak setuju pencocokan tersebut dapat mengambil alih kedudukan debitur pailit dalam gugatan yang sedang berlangsung ersebut. Meskipun gugatan tersebut hanya memberikan akibat hukum dari pencocokan tersebut, namun hal itu sudah cukup dapat dijadikan sebagai salah satu bukti yang dapat mecegah berlakunya daluwarsa atas hak dalam gugatan tersebut.

Pernyataan pailit tidak dapat dibayar dari harta pailit, kecuali perikatan tersebut menguntungkan harta PT yang sudah pailit (Pasal 25 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU). Tuntutan mengenai hak atau kewajiban yang menyangkut harta pailit harus diajukan kepada kurator. Maka apabila tuntutan tersebut diajukan atau diteruskan oleh atau terhadap PT pailit, penghukuman tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap harta pailit (Pasal 26 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU).

Perseroan Terbatas yang dinyatakan pailit kehilangan segala hak perdata untuk menguasai dan mengurus harta kekayaan yang telah dimasukan ke dalam harta pailit.Hal ini menunjukan bahwa debitur tidaklah dibawah pengampuan dan tidak kehilangan kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum menyangkut dirinya, kecuali apabila perbuatan hukum itu menyangkut perusahaan dan pengalihan harta benda yang telah ada.

2. Akibat Hukum Putusan Pailit Terhadap Kepengurusan PT

Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik

sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.

Ada beberapa perbedaan PT yang sudah pailit dalam melaksanakan kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan PT tidak dalam keadaan pailit, yakni organ-organ pengurus dalam melakukan kegiatan untuk dan atas nama PT adalah kurator.75

Kurator inilah yang menjalankan tindakan pengurusan PT tersebut. Namun demikian tidak menutup kemungkinan kurator masih tetap memanfaatkan organ direksi dalam pengurusan PT selama masih dalam kepailitan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dengan pailitnya PT, maka kewenangan Direksi saja yang beralih kepada kurator. Proposisi ini misalnya kewenangan kurator untuk Melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan tanpa persetujuan komisaris. Hal ini berarti didalam kewenangan kurator tercakup semua kewenangan organ PT.

Dengan beralihnya kewenangan dari direksi kepada kurator untuk mengelola perseroan maka konsekuensi dari hal itu adalah bahwa kurator adalah juga bertindak sebagai direksi sehingga tugas dan kewajiban serta tanggung jawab direksi perseroan menjadi tugas dan tanggung jawab kurator.76 Setelah kurator menentukan pilihannya di dalam memaksimalkan nilai harta pailit, baik dengan cara menjualnya maupun dengan cara melanjutkan usaha debitur pailit, maka hal yang selanjutnya dilakukan adalah pembagian aset.

75Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi Atas Kepailitan Perseroan, Rajawali Pers, Jakarta, hal. 65

76 Agus Budiarto, Kedudukan Hukum & Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 6

Pada prinsipnya, aset baru akan dibagi-bagi kepada kreditur setelah seluruh aset debitur terjual dan menjadi cash, yaitu apabila cash (uang tunai) sudah cukup tersedia untuk membayar utang-utangnya. Undang-Undang Kepailitan menetukan bahwa setelah melakukan pencocokan utang, maka dibayarkan jumah utang mereka atau segera setelah daftar pembagian penutup memperoleh hukum tetap, maka berakhirlah kepailitan.

Badan hukum itu bukan makhluk hidup sebagaimana halnya manusia. Badan hukum tidak mempunyai daya pikir dan kehendak. Oleh karena itu PT tidak dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum sendiri. PT harus bertindak dengan perantaraan orang-orang biasa, akan tetapi orang yang bertindak itu tidak bertindak untuk dirinya melainkan untuk dan atas pertanggungan gugat badan hukum.77

Pertanggung jawaban PT merupakan pertanggung jawaban secara timbal balik, maka yang dijatuhi putusan kepailitan adalah perseroannya, bukan pengurusnya, sepanjang direksi atau pegawai lainnya bertindak atas pertanggungan secara badan hukum. Menurut Pasal 90 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan, dalam hal kepailitan PT terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi,78 dan kekayaan perseroan tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, maka setiap anggota direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian itu.

77 Ali Rido, Badan Hukum Dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan Koperasi, Yayasan Wakap, Alumni, Bandung, 2010, hal. 17

78Ibid, hal. 35

Dalam hal kepailitan terhadap Perseroan Terbatas yang menjadi permasalahan yang esensial adalah apakah Perseroan Terbatas tersebut tetap dapat beroperasi atau demi hukum akan bubar. Dalam kepailitan badan hukum Perseroan Terbatas, beroperasi atau tidaknya perseroan setelah putusan pailit dibacakan tergantung pada cara pandang kurator terhadap prospek usaha perseroan pada waktu yang akan datang. Hal ini dimungkinkan karena berdasar ketentuan di dalam Pasal 104 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Berdasarkan Pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kepailitan Badan Hukum Perseroan Terbatas di Indonesia tidak secara otomatis membuat perseroan kehilangan haknya untuk mengurus dan menguasai harta kekayaan perseroan tersebut karena kepailitan PT menurut hukum Indonesia tidak menyebabkan terhentinya operasional PT. Akan tetapi dalam hal perusahaan yang dilanjutkan ternyata tidak berprospek dengan baik, maka hakim pengawas akan memutuskan untuk menghentikan beroperasinya PT dalam permohonan seorang Kreditur. Setelah perseroan tersebut dihentikan, maka Kurator mulai menjual aktiva boedel pailit tanpa memerlukan bantuan/persetujuan PT yang pailit.

Akan tetapi Pasal tersebut di atas tidak berlaku apabila di dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan perdamaian atau jika rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima atau pengesahan perdamaian ditolak sehingga demi hukum harga pailit berada dalam keadaan insolvensi. Dengan demikian eksistensi PT yang dipailitkan segera berakhir dengan percepatan pemberesan proses likuidasi tersebut.

Eksistensi yuridis dari PT yang telah dipailitkan adalah masih tetap ada eksistensi

badan hukummnya. Dengan dinyatakan pailit tidak mutatis mutandis badan hukum PT menjadi tidak ada. Suatu argumentasi yuridis mengenai roposisi ini setidaknya ada dua landasan, yang pertama kepailitan terhadap PT tidak mesti berakhir dengan likuidasi dan pembubaran badan PT. kedua adalah proses kepailitan PT, maka PT tersebut masih dapat melakukan transaksi hukum terhadap pihak kedua, di mana tentunya yang melakukan perbuatan hukum perseroan tersebut adalah kurator sehingga tidak mungkin jika badan hukum perseroan telah tiada.

Didalam PT yang dalam status insolvensi masih eksis badan hukumnya, hanya saja PT dalam likuidasi tidak boleh menjalankan bisnis baru melainkan hanya menjalankan dalam penyelesaian tugas-tugasnya dalam rangka proses pemberesan dan likuidasi tersebut dan tidak bisa melakukan kegiatan diluar tugasnya. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 119 ayat (1) UUPT yang menyatakan bahwa dalam hal perseroan bubar, maka PT tidak dapat melakukan melakukan perbuatan hukum kecuali diperlukan dalam proses insolvensi.

Kepailitan Perseroan Terbatas (PT) sebagai suatu lembaga apabila terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi, maka setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian tersebut (Direksi bertanggung jawab yang sesuai dengan Pasal 92 UUPT.

Adapun kewenangan Direksi PT demi hukum berakhir dengan dipailitkannnya PT tersebut, dimana kewenangan direksi beralih kepada kurator sepanjang kewenangan direksi berkaitan dengan kepengurusan dan perbuatan pemilikan harta kekayaan PT yang pailit. Mengenai peran direksi dalam PT pailit,

Fred B.G Tumbuan mengatakan bahwa dalam mencermati tugas antara direksi PT pailit mempunyai tugas mengusahkan tercapainnya maksud dan tujuan PT pailit.

Kriteria tanggung jawab direksi :

a. Tanggung jawab itu hanya timbul jika perusahaan itu melalui prosedur kepailitan;

b. Harus ada kesalahan/kelalaian;

c. Tanggung jawab itu bersifat residual, artinya tanggung jawab itu timbul jika nanti ternyata aset perusahaan yang diambil itu tidak cukup;

d. Tanggung jawab itu secara renteng artinya walaupun hanya seorang direktur yang bersalah, direktur lain dianggap turut bertanggung jawab;

e. Presumsi bersalah dengan beban pembuktian terbalik.

Jadi Jadi dalam hal badan usaha yang berbentuk badan hukum sebagai pelaku usaha jatuh pailit, maka seluruh kekayaan badan usaha tersebut yang menjadi tanggungan utang-utangnya. Kecuali apabila dapat dibuktikan bahwa kepailitan tersebut akibat kesalahan atau kelalaian direksi, maka secara tanggung renteng setiap anggota direksi ikut bertanggung jawab secara pribadi terhadap kerugian badan usaha jika nanti aset perusahaan tidak cukup untuk membayar tagihan-tagihan Kreditur.

Rapat Umum Pemegang Saham mempunyai kekuasaan tertinggi dalam perseroan yang diserahkan kepada direksi dan komisaris dalam menjalankan tugasnya dan wewenangnya. Meskipun dikatakan sebagai organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi, tidak berarti ia lebih tinggi dari organ lainnya. Untuk bisa mengukur tanggung jawab dari pemegang saham, harus dilihat apa kewenangan yang

dimiliki oleh pemegang saham. UUPT memberikan wewenang kepada pemegang saham menggunakan konsep residu (teori sisa) yakni bahwa wewenang pemegang saham adalah RUPS mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada direksi dan komisaris dalam batasan UU dan anggaran dasar.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mempunyai tanggung jawab :

a. Pemegang saham hanya bertanggung jawab pada saham yang dimiliki dan tidak bertanggung jawab terhadap secara pribadi.

b. Pemegang saham akan dituntut bila, karena itikad buruk baik langsug maupun tidak langsung memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadi.

c. Pemegang saham terlibat dalam perbuatan melawan hukum oleh perseroan.

d. Pemegang saham baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan tidak cukup untuk melawan hutang perseroan.

Organ PT yang cukup penting lainnya adalah komisaris. UUPT menentukan keberadaan komisaris merupakan keharusan dalam sebuah PT tersebut. Berbeda dengan ketentuan sebelum UUPT, yakni dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang tidak mengharuskan adanya lembaga komisaris ini, walaupun dalam prakteknya kebanyakan PT yang didirikan berdasarkan ketentuan-ketentuan KUHD tersebut pada waktu itu terdapat lembaga komisaris.

Lembaga komisaris menurut UUPT merupakan lembaga PT yang independen dari pengaruh kepentingan pemegang saham. Komisaris bertugas demi kepentingan PT itu sendiri. Hal ini berbeda dengan konsep yang lama yang terdapat dalam KUHD dimana komisaris adalah mewakili kepentingan pemegang saham. Didalam Pasal 98

ayat (1) UUPT secara tegas menyebutkan bahwa komisaris wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan untuk kepentingan usaha PT.

Fungsi komisaris sebagaimana diatur dalam UUPT mempunyai tugas mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan PT serta memberikan nasihat kepada direksi. Dalam anggaran dasar PT juga sering menyatakan hal yang sama mengenai tugas komisaris. UUPT tidak mengatur lebih lanjut bagaimana cara melaksanakan pengawasan tersebut. Didalam keputusan dikatakan bahwa pengawasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh atasan untuk melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan bawahan yang harus seuai dengan yang ditetapkan sebelumnya.

Apabila terjadi sutu penyimpangan, perlu dilakukan tindakan untuk memperbaikinya. Penilaian terhadap bawahan hanya dapat dilakukan apabila tersedia informasi yang diperlukan. Yang jelas selama komisaris bertindak sebagaimana layaknya direksi PT, maka seluruh hubungan hukum direksi perseroan berlaku juga bagi diri komisaris tersebut, termasuk pula pertanggung jawaban secara pribadi.79 3. Akibat Hukum Putusan Pailit perseroan terbatas (PT) Terhadap Pihak

Ketiga

Kepailitan mempunyai peranan untuk menyelesaikan bermacam-macam tagihan yang diajukan oleh kreditur yang masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Proses kepailitan mempunyai sasaran utama untuk mengatur

79Moenaf. H. Regar, Dewan Komisaris Peranannya Sebagai Organ Perseroan, Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hal. 64

pertentangan-pertentangan yang saling berkaitan diantara kelompok yang berbeda yang masing-masing mempunyai klaim atas asset-aset dan penghasilan debitur pailit.

Sehingga upaya penyelesaian kewajiban pembayaran utang, hukum kepailitan dianggap sebagai ketentuan yang lebih mengutamakan kepentingan kreditur.

Bagi para kreditur yang tidak memegang jaminan, adanya kepailitan dapat memberikan manfaat berupa pengurangan biaya bagi para kreditur pada umumnya dalam mengajukan tagihan kepada debitur. Penagihan secara kolektif diharapkan dapat mengurangi biaya yang mungkin timbul seandainya penagihan diadakan secara individu oleh masing-masing kreditur. Kreditur preferen juga dapat merasakan manfaat yang timbul dari kepailitan. Bagi kreditur preferen, kepailitan dapat meningkatkan pengumpulan asset debitur pailit.

Disamping itu kepailitan juga mempunyai dampak menguntungkan bagi kreditur terutama bagi kreditur lain yang mempunyai tagihan besar khususnya kreditur konkuren, mempunyai kekhawatiran bahwa dengan adanya kepailitan maka utang debitur pada mereka tidak dapat ditagih karena asset debitur tidak seimbang dengan jumlahnya. Berbeda dengan perbuatan hukum yang dilakukan debitur dengan pihak ketiga dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun sebelum putusan pailit , dimana kurator pailit, maka yang wajib membuktikannya adalah kurator.

Adapun akibat-akibat hukum dari putusan pailit terhadap harta kekayaan debitur maupun harta kekayaan kreditur adalah sebagai berikut :80

1. Putusan Pailit Dapat Dijalankan Terlebih Dahulu

80M. Hadi Subhan, Op.Cit

Putusan pengadilan merupakan serta merta dan dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun terhadap putusan pailit dan dilakukan suatu upaya hukum lebih lanjut. Apabila putusan paiit dibatalkan sebagai akibat adanya upaya hukum tersebut, segala perbuatan yang telah dilakukan oleh kurator sebelum atau pada tanggal kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan, maka tetap ah dan mengikat bagi debitur.

2. Sitaan Umum

Harta kekayaan debitur yang masuk harta pailit merupakan sitaan umum (public attachement, gerechtelijk beslag) beserta apa yang diperoleh selama kepailitan. Dalam Pasal 21 UUK-PKPU dijelaskan bahwa kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitur pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan.

Sita umum terhadap harta kepailitan tidak memerlukan suatu tindakan khusus untuk melakukan sitaan tersebut. Dengan adanya sitaan umum tersebut, maka harta pailit dalam status dihentikan dari segala transaksi dan perbuatan hukum lainnya sampai harta pailit tersebut diurus oleh kurator. Dalam sitaan hukum perdata yang secara khusus dilakukan dengan suatu tindakan hukum tertentu. Dengan demikian sitaan umum terhadap harta pailit adalah terjadi demi hukum.

3. Kehilangan Wewenang Dalam Harta Pailit

Debitur pailit demi hukum kehilangan haknya untuk mengurus dan melakukan perbuatan kepemiikan terhadap harta kekayaan yang termasuk dalam pailit.

Kehilangan hak bebasnya tersebut hanya terbatas pada harta kekayaan dan tidak

terhadap status pribadinya. Debitur yang dalam status pailit, tidak hilang hak-hak keperdataannya serta hak-hak selaku warga negara seperti hak politik dan hak privat lainnya.

4. Perikatan Setelah Pailit

Segala perikatan debitur yang telah mendapatkan putusan pailit tidak dapat dibayar dari harta pailit. Apabila dilanggar oleh yang pailit, maka perbuatan tidak mengikat kekayaannya tersebut, kecuali perikatan tersebut mendatangkan keuntungan terhadap harta pailit.

Ketentuan ini sering sekali diselundupi dengan membuat perikatan yang di-antedateer (ditanggali mundur ke belakang) dan bahkan sering terjadi adanya kreditur fiktif untuk kepentingan si debitur pailit.

5. Penetapan Putusan Pengadilan Sebelumnya

Pernyataan pailit juga berakibat bahwa segala penetapan pelaksanaan pengadilan terhadap setiap bagian dari kekayaan debitur yang telah dimulai sebelum kepailitan, harus diberhentikan seketika dan sejak itu tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan termasuk juga dengan menyandera debitur.

Semua penyitaan yang telah dilakukan menjadi hapus dan jika diperlukan hakim pengawas harus memerintahkan pencoretannya. Akibat putusan pailit ini merupakan konsekuensi dari adanya akibat sitaan umum. Dengan adanya sitaan umum tersebut maka segala sesuatu yang berhubungan dengan harta kekayaan/harta pailit harus dihentikan sementara demi hukum dari semua transaksi yang ada.

6. Hubungan Kerja Dengan Para Pekerja Perusahaan Pailit.

Pekerja yang bekerja pada debitur dapat memutuskan hubungan bekerja dan sebaliknya kurator dapat memberhentikan dengan mengindahkan jangka waktu menurut persetujuan atau ketentuan perundang-undangan yang berakun, dengan pengertian bahwa hubungan kerja tersebut dapat diputuskan dengan pemberitahuan paling singkat 45 (empat puluh lima) hari sebelumnnya.

Ketentuan ini tidak sejalan dengan ketentuan hukum perburuhan yang ada. Ini tidak memiliki konsep pemutusan hubungan kerja (PHK) yang komperhensif. Ketidak komperhensif konsep PHK dalam UU ini adalah tidak membedakan PHK demi hukum, PHK daro pengusaha dan PHK oleh buruh.

BAB III

KEPAILITAN DIREKSI SECARA PRIBADI SETELAH TERJADINYA KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

A. Prosedur dan Tata Cara Pengajuan Permohonan Kepailitan

Proses permohonan dan putusan pernyataan pailit diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 UUK-PKPU. Permohonan pernyataan pailit kepada ketua Pengadilan Niaga dan Panitera wajib mendaftarkan permohonan tersebut. Menurut Pasal 6 ayat (3) UUK mewajibkan panitera untuk menolak pendafataran permohonan pernyataan pailit bagi instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5).

1. Menurut Pasal 2 UUK-PKPU permohonan pailit dapat diajukan oleh :

Debitur adalah perusahaan bukan bank yang bukan perusahaan efek, yang dapat mengajukan permohonan pailit adalah :

a. Debitur

b. Seorang atau lebih dari kreditur c. Kejaksaan

2. Dalam perusahaan bank, yang dapat mengajukan kepailitan adalah Bank Indonesia.

3. Dalam perusahaan efek, yang dapat mengajukan permohonan kepailitan adalah BAPEPAM

73

4. Dalam PT yang dapat mengajukan permohonan kepailitan adalah Direksi PT, namun berdasarkan keputusan RUPS. Menurut Pasal 5 UUK permohonan itu harus diajukan oleh seorang penasehat hukum yang memiliki izin praktek.

Dalam jangka waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, sidang pemeriksaan atas permohonan pailit diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan pailit didaftarkan. Dalam hal permohonan pemohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh debitur sendiri yang berbentuk hukum, PT terdapat dalam ketentuan Pasal 104 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Menurut ketentuan tersebut direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada pengadilan niaga sebelum mendapat persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Pengadilan Niaga wajib meminta kepada Advokat yang memiliki perseroan

Pengadilan Niaga wajib meminta kepada Advokat yang memiliki perseroan