BAB II SODOMI DALAM HUKUM PIDANA ISLAM
C. Sebab dan Akibat Terjadinya Sodomi
Terjadinya tindak pidana sodomi tentu
dilatarbelakangi oleh suatu sebab dan menimbulkan akibat yang buruk bagi kehidupan, baik kehidupan individu si pelaku maupun akibat yang akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Sebab-sebab ini bisa saja berasal dari diri pelaku sendiri yang mengalami kelainan jiwa dan cara
46
Muhammad Nasiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud, Pustaka Azzam, h. 81
47
berpikir yang tidak logis. Namun tidak menutup kemungkinan dapat disebabkan dari eksternal si pelaku, gaya kehidupan buruk masyarakat yang sudah menjadi tradisi bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan yang dilarang oleh hukum pidana Islam dan hukum pidana positif.
Penyebab utama terjadinya tindak pidana sodomi adalah kurangnya perhatian akan pendidikan dan agama. Kurangnya faktor ini dalam diri anak akan membuat akhlaknya buruk. Sebab segala kebaikan yang ada di bumi ini diajarkan melalui pendidikan dan agama tersebut. Buruknya akhlak dapat menjadi stimulan bagi seseoarang untuk berlaku tindakan zalim, termasuk salah satunya adalah melakukan tindak pidana sodomi. Apabila seseorang sudah terjerumus ke ranah maksiat ini, maka akhlaknya akan semakin tidak menentu. Sodomi merupakan suatu perbuatan tercela yang merusak akhlak dan merupakan suatu penyakit jiwa yang berbahaya. Pelaku sodomi pasti bertingkah laku jelek, tabiatnya bejat, serta hampir-hampir tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu, orang yang melakukan tindak pidana sodomi pada umumnya lemah dan tak punya nafsu kekuatan batin , serta
tidak memiliki unsur batin yang mengendalikan
perbuatnnya.48 Orang-orang yang melakukan penyimpangan
seksual sodomi ini akan menenggelamkan dirinya dalam kelezatan syahwat, akan pudar perasaan agamanya, dan semakin jauh. Dinyatakan oleh Al-Quran, bila hati manusia telah bergelimang dengan dosa, maka iman yang berada dalam kalbunya akan memudar, dan tidak akan menerima hidayah Tuhan. Sebagaimana yang tertuang dalam Al-Quran (
نوق ا ما
:6
َ
48Artinya: Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk-Nya
kepada orang-orang fasik”. (QS. Al-Munaafiqun : 6).49
Sebab terjadinya tindak pidana sodomi adalah unsur tidak pernah memperhatikan lawan jenisnya. Hal ini kadang- kadang menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk memandang lawan jenisanya. Oleh karena itu, orang tersebut melampiaskan nafsu seksualnya dengan jalan homoseks. Apabila lelaki homoseks ini berstatus kawin, maka istrinya akan menjadi korban karena tidak mendapatkan kebahagiaan berumah tangga dan tidak mendapat kasih sayang. Dengan demikian, istrinya menjadi sepi dan tersiksa, seolah-olah tidak bersuami. Dalam Islam, perkawinan merupakan cara yang manusiawi dan terpuji untuk menyalurkan nafsu seks bagi setiap orang, dan tidak menimbulkan bagi masyarakat. Perkawinan merupakan proses alami, tempat bertemunya pria dan wanita dalam usaha mencari ketenangan jasmani dan rohani. Di samping itu ia memberikan jalan bagi naluri seks untuk memperoleh keturunan yang baik.
Melakukan perbuatan sodomi dapat dilakukan terhadap sesama lelaki baik yang dewasa maupun masih anak-anak. Anak-anak memiliki peluang yang tinggi sebagai korban tindak kejahatan ini, karena pelaku dapat dengan mudah membohongi anak-anak untuk dijadikan iming-iming dalam melakukan perbuatan sodomi. Sodomi terhadap anak merupakan penistaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan. Akan tetapi ada diantara manusia yang menganggap itu sebagai konsekuensi logis dari kehidupan
ini, yakni anak pantas untuk dikorbankan untuk
diperlakukan dengan kasar dan tidak senonoh. Pencabulan sodomi merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap anak, yakni kekerasan seksual. Apapun bentuk kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu bentuk kejahatan kemanusiaan yang kejam dan penghancuran
49
generasi bangsa (lost generation). Anak juga sebagai wadah di mana semua harapan orang tuanya kelak kemudian hari wajib ditumpahkan, pula dipandang sebagai pelindung orang tuanya kelak bila orang tua itu sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk mencari nafkah. Masa anak-anak merupakan masa-masa potensial anak untuk mendidiknya kearah yang lebih baik. Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, anak merupakan pribadi yang unik, suka berfantasi dan berimajinasi serta menunjukkan sikap egosentri. Usia anak merupakan masa emas, masa ketika seseorang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada usia ini anak paling peka dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu anak sangat besar. Anak merupakan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap kelangsungan hidup, tumbuh dan kembangnya berhak mendapat perlindungan dari tindakan yang bersifat amoral. Jika dalam masa anak-anak sudah mendapat perlakuan tidak senonoh, maka masa depan anak akan sulit menjadi yang diharapkan.
Selain itu, tindak pidana sodomi juga dapat membahayakan masyarakat. Jika individu enggan menikah, dan melampiaskan nafsu seksnya secara ilegal, dengan sendirinya merusak sistem keadilan dan merapuhkan
landasan kemasyarakatan. Selanjutnya menimbulkan
kehancuran akhlak dan merenggangkan ikatan nilai-nilai dan norma agama yang akhirnya membawa kebebasan tanpa batas, seperti yang kita saksikan dalam masyarakat dewasa
ini.50 Orang yang berbuat maksiat akan sulit dilarang, baik
dalam teguran maupun dalam bentuk sanksi hukum. Berbagai negara telah berusaha untuk memberantas penyimpangan seksual, namun usaha ini tidak memberi hasil sebagaimana yang diharapkan, bahkan semakin berkembang dalam masyarakat. Meskipun akibat dari penyimpangan seksual telah disaksikan oleh umat manusia, namun perbuatan maksiat ini tetap saja dilakukan dengan berbagai cara menurut kemauan pelakunya.
50
Untuk menghindari akibat negatif sodomi, memerlukan pembinaan akhlak yang sesuai norma dan nilai- nilai agama. Pembentukan akhlak yang benar merupakan utopia selama prinsip dan sistem yang berlaku bersifat materialistis dan bertentangan dengan prinsip dan sistem agama. Hilangnya rasa keagamaan dalam kehidupan masyarakat dan berjayanya hukum-hukum dari teori
materialisme merupakan faktor yang menyebabkan
penyimpangan seks. Kesadaran akan kekuasaan Tuhan akan membawa kehidupan manusia terhindar dari perilaku seks menyimpang.