KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA,
1. AKP.AHMAD SANUSI ,S.H 2 AKP.M SUMARNO,SH.
3. PEMBINA TUTI WARDANI ,SH.M.Hum. 4. PENDA TK.I.V.HARYO DHANENDRO,S.H. 5. PENDA TK.I.HERU NURCAHYA,S.H.
Sebagaimana Surat Kuasa tertanggal 6 September 2007 dan Surat Perintah Nomor : Pol. Sprint/606/IX/2007 tertanggal 7 September 2007.
Menimbang, bahwa selanjutnya permohonan Praperadilan Pemohon dibacakan dan atas pertanyaan hakim, menyatakan tetap pada permohonannya.
Menimbang bahwa atas permohonan tersebut, pihak Termohon telah mengajukan jawabannya tertanggal 12 September 2007 pada pokoknya sebagai berikut :
1. Bahwa Penggugat dalam Surat Gugatan Praperadilan tanggal 5 September 2007 menyebut subyek hukum TERGUGAT sebagai : Kapolres Gunungkidul di Gunungkidul qq. Kapolda Daerah Istimewa Jogjakarta di Jogjakarta qq. Kapolri di Jakarta ( tertulis dan terbaca pada lembar pertama Surat Gugatan Praperadilan yang diajukan Penggugat).
2. Bahwa penyebutan subjek TERGUGAT oleh PENGGUGAT sebagaimana yang diuraikan oleh PENGGUGAT pada point 1 diatas apabila yang dimaksud PENGGUGAT adalah untuk menyebut struktur/hirarki kelembagaan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagimana dimakud dalam UU. No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka hal tersebut sangat membingungkan, tidak tepat dan tidak jelas mengingat apa yang disebut dan dimaksud oleh PENGGUGAT tersebut tidak memenuhi
azas kelaziman dalam dalam hirarki/struktur Kelembagaan Kepolisian Negara Republik Indonesia serta tata pemerintahan Negara Republik Indonesia, sehingga apabila PENGGUGAT memepraperadilankan TERGUGAT dengan pola qq melalui surat gugatan ini maka seharusnya PENGGUGAT juga mencantumkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai muara pertanggungjawaban atas tugas-tugas yang diemban oleh Kepolisian Negra Reoublik Indonesia. Kesalahan dan/atau kekurangan penyebutan subyek TERGUGAT sebagaimana dilakukan PENGGUGAT tersebut mengakibatkan terjadinya absurdditas gugatan PENGGUGAT, sehingga oleh karena itu surat gugatan PENGGUGAT adalah tidak jelas, obscuur liebel.
3. Bahwa didalam Praperadilan tidak dikenel istilah gugatan. Sebab gugatan hanya dikenal dalam wilayah hukum perdata, sedangkan perkara praperadilan secara substantive yuridis bukanlah perkara perdata. Surat Gugatan Praperdailan PENGGUGAT ini menjadi sangat kabur dan tidak jelas mengenai maksudnya, apakah sebagai gugatan atau permohonan?. Hal tersebut dapatb terbaca pada kalimat : Dengan ini mengajukan gugatan kepada…………..dst, dan PENGGUGAT mempertegas lagi kata gugatan pada penutup suratnya tersebut halaman 2 (dua), sedangkan pada petitum nomer 1. PENGUGAT yaitu agar menerima dalil-dalil gugatan praperdailan untuk seluruhnya. Pengertian yang digunakan oleh PEMOHON mengenai hal ini sangat rancu dan menimbulkan makna hukum yang berbeda sehinnga implikasi hukumnya berbeda pula. Sehingga dengan demikian sudah seharusnya menurut hukum, praperadilan yang diajukan oleh PENGGUGAT inim ditolak untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima.
Bahwa berdasarkan Eksepsi TERMOHON/TERGUGAT (versi surat gugatan penggugat )tersebut diatas, maka dengan segala hormat kepada
Hakim pemeriksa dan yang mengadili perkara ini, kami mohon untuk dapat memberikan dan menjatuhkan putusan sebagai berikut :
DALAM EKSEPSI : PRIMAIR :
1. Menerima Eksepsi TERMOHON/TERGUGAT (versi gugatan Praperadilan Penggugat) untuk seluruhnya,
2. Menyatakan dan menetapkan menurut hukum bahwa gugatan Praperadilan (versi Gugatan Praperadilan Penggugat ) yang dimohonkan oleh PENGGUGAT tidak jelas dan obscuur liebel 3. Menyatakan dan menetapkan menurut hukum bahwa
permohonan/Gugatan Praperadilan (versi Gugatan praperadilan penggugat) yang dimohonkan Penggugat DITOLAK UNTUK SELURUHNYA atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima,
4. Membebankan biaya perkara kepada PEMOHON/PENGGUGAT (versi Gugatan Praperadilan Penggugat )
SUBSIDAIR :
Mohon putusan yang seadil-adilnya.
Menimbang, bahwa pada persidangan pada hari Kamis tanggal 13 September 2007 Pemohon telah mengajukan replik disertai bukti-bukti surat berupa foto copy surat yaitu :
1. Surat tertanggal 7-9-2007 tentang Surat Keterangan Nikah diberi tanda P.1 2. Surat tertanggal 6 Agustus 2006 tentang Surat pernyataan diberi tanda P.2
Menimbang, bahwa atas Replik Pemohon tersebut, pihak Termohon telah mengajukan Dupliknya secara lisan dalam persidangan yang pada pokoknya menyatakan bahwa Permohonan Praperadilan Pemohon haruslah dinyatakan GUGUR berdasarkan Bab X Bagian Kesatu Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP
Menimbang, bahwa untuk mempersingkat uraian putusan ini segala sesuatu yang terjadi selama dipersidangan dan terdapat dalam Berita Acara dianggap telah tercakup pula dalam putusan ini,
Menimbang, bahwa yang menjadi pokok permasalahan dalam perkara Praperadilan ini adalah keberatan Pemohon terhadap Penahanan dirinya yaitu (SUPRIHATIN ARGO SANTOSO) yang dilakukan oleh Termohon tidak sah menurut hukum ;
Menimbang, bahwa sebelum mempertimbangkan lebih jauh tentang keberatan-keberatan yang diajukan oleh Pemohon dalam perkara ini,Pengadilan terlebih dahulu mempertimbangkan tentang Bab X Bagian Kesatu Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) yang menyatakan bahwa “Dalam hal suatu perkara mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri ,sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada Praperadilan belum selesai,maka permintaan tersebut gugur”,
Menimbang, bahwa ternyata perkara pidana atas nama Suprihatin Argo Santoso dengan Register Nomor : 80/Pid.B/2007/PN.Wns.telah disidangkan pada hari Kamis,tanggal 13 September 2007,maka berdasarkan pada ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP dan tidak perlu mempertimbangkan lebih lanjut bukti-bukti surat yang diajukan oleh Pemohon dan bukti saksi yang akan diajukan oleh Pemohon maupun Termohon,maka permohonan Praperadilan dari Pemohon ini haruslah dinyatakan “GUGUR”
Menimbang bahwa karena perkara permohonan Praperadilan ini dinyatakan Gugur, maka biaya perkara yang timbul dalam perkara ini haruslah dibebankan kepada Pemohon;
Mengingat Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP serta peraturan lain yang berkaitan dengan perkara ini;
Mengingat Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP serta peraturan lain yang berkaitan dengan perkara ini;
MENGADILI
1. Menetapkan bahwa Permohonana praperadilan dari Pemohon dinyatakan GUGUR
2. Membebani pemohon untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp.1000( seribu rupiah )
Pembahasan :
Kasus permohonan praperadilan yang diperiksa oleh Pengadilan Negeri Wonosari dengan Nomor Perkara : 01/Pid.Pra/2007/PN.Wns tersebut secara normative sudah sesuai dengan aturan yang tercantum dalam ketentuan Pasal 77 huruf a KUHAP yang berbunyi :
“Pengadilan berwenang untuk memeriksa dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini tentang :
a.Sah tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan, atau penghentian penuntutan.
Berdasarkan bunyi ketentuan pasal tersebut diatas, maka dapat diartikan bahwa apabila ditinjau dari segi permohonan praperadilan yang diajukan maka sudah sesuai dengan ketentuan yuridis yang mengaturnya.
Proses pemeriksaan praperadilan yang dilakukan pun juga sudah sesuai dengan ketentuan Pasal 78 ayat (2) KUHAP yang menyatakan sebagai berikut:
“Praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Negeri dan dibantu oleh seorang panitera.”
Dalam proses pemeriksaan praperadilan dengan No. perkara: 01/Pid.Pra/2007/PN.Wns tersebut dipimpin oleh seorang hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua pengadilan Negeri Wonosari yaitu Hakim Iwan Irawan,
S.H dengan dibantu oleh seorang panitera pengganti yang bernama FX. Subroto, S.H.
Setelah membaca secara keseluruhan isi dari putusan hakim dimuka, maka kasus Praperadilan dengan Nomor Perkara : 01/Pid.Pra/2007/PN.Wns adalah mengenai sah tidaknya penahanan. Permohonan praperadilan yang diajukan oleh Suprihatin Argo santoso tersebut ditujukan kepada Kapolres Gunungkidul.
Adapun yang menjadi pokok tuntutan dalam permohonan praperadilan tersebut adalah berkaitan dengan penahanan terhadap tersangka Suprihatin Argo Santoso berdasarkan Surat Perintah Penahanan tanggal tanggal 3 September 2007 No.Pol.Sp.Han/101/IX/2007/Reskrim dianggapnya tidak sah menurut hukum sehingga pemohon menuntut agar dikeluarkan dari tahanan Polres Gunungkidul serta dibebaskan dari segala sangkaan, dakwaan, dan tuntutan hukum. Alasan yang dikemukakan oleh pemohon dalam permohonananya adalah bahwa pemohon menganggap kalau kasus perkosaan yang disangkakan terhadap dirinya telah kadaluwarsa. Hal ini dikarenakan perkara pokok dengan Lap.Pol: Nopol K/03/VII/2006/Sek.Grb.yang diadukan sebagai tindak pidana di Polsek Girisubo tempus delicti/waktu peristiwa yang disangkakan dianggap telah lampau 6 bulan karena peristiwa perkosaan menurutnya terjadi pada bulan Juli 2005, sedangkan aduan baru dilakukan tgl. 27 Juli 2006. Hal ini didasarkan pada ketentuan Pasal 74 (1) KUHP yang selengkapnya berbunyi :
“Pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adnya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia atau dalam waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia.”
Selain itu, alasan lain yang dikemukakan oleh pemohon adalah bahwa Penyidik Polsek Girisubo juga telah mengusahakan perdamaian antara saksi korban dan tersangka pada saat aduan diajukan di Polsek Girisubo
Gunungkidul pada tanggal 27 Juli 2006, dan saksi korban juga telah menikah dengan orang lain.
Berkaitan dengan tanggapan ( eksepsi ) yang diajukan oleh termohon, yang mempersoalkan bahwa didalam Praperadilan tidak dikenal istilah gugatan. Sebab gugatan hanya dikenal dalam wilayah hukum perdata, sedangkan perkara praperadilan secara substantive yuridis bukanlah perkara perdata.
Menurut hasil wawancara penulis, mengenai istilah gugatan yang dipakai oleh Pemohon tersebut memang sebenarnya kurang tepat dalam penggunaannya karena seperti yang telah diketahui bahwa praperadilan merupakan suatu bentuk permohonan untuk memeriksa sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan yang pengaturannya telah diatur oleh KUHAP. Namun, dalam praktek Hakim dapat secara bebas menafsirkan pasal-pasal praperadilan termasuk mengenai acara sidang itu sendiri, ada yang yang mengikuti acara pidana dan ada pula yang mengikuti kebiasaan sidang menggunakan acara perdata. Semuanya tergantung kepada hakim pada masing-masing Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara praperadilan. Hakim Iwan Irawan, S.H dalam memeriksa permohonan praperadilan ini menggunakan hukum acara “semi” perdata karena dalam pemeriksaan ada istilah replik, duplik padahal dalam hukum acara pidana sebenarnya tidak mengenal istilah replik dan duplik tersebut.
Dalam pemeriksaan praperadilan tersebut hakim menetapkan bahwa permohonan praperadilan tersebut dinyatakan gugur. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan hakim bahwa bahwa ternyata perkara pidana atas nama Suprihatin Argo Santoso dengan Register Nomor : 80/Pid.B/2007/PN.Wns.telah disidangkan pada hari Kamis, tanggal 13 September 2007,maka berdasarkan pada ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP dan tidak perlu mempertimbangkan lebih lanjut bukti-bukti surat yang diajukan oleh Pemohon dan bukti saksi yang akan diajukan oleh
Pemohon maupun Termohon,maka permohonan Praperadilan dari Pemohon ini haruslah dinyatakan gugur.
Terkait dengan adanya aturan hukum yang mengatur mengenai gugurnya praperadilan tersebut telah diatur dalam ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf d yang selengkapnya berbunyi :
“Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedang pemeriksaan mengenai permintaan kepada Praperadilan belum selesai maka permintaan gugur “
Berdasarkan ketentuan tersebut diatas maka dapat diartikan bahwa pemeriksaan praperadilan dinyatakan gugur apabila :
- Apabila perkaranya telah diperiksa oleh Pengadilan Negeri, dan/atau - Pada saat pokok perkaranya diperiksa Pengadilan Negeri, sedangkan
pemeriksaan praperadilan belum selesai.
Oleh karena itu, dengan adanya penetapan hakim Iwan Irawan, S.H yang menyatakan bahwa permohonan Praperadilan Suprihatin Argo Santoso dinyatakan gugur sudah merupakan keputusan yang tepat. Hal ini dikarenakan pada tanggal 13 September 2007 masih dilakukan sidang pemeriksaan praperadilan yaitu pihak pemohon sedang mengajukan replik disertai bukti- bukti surat dan pihak termohon juga mengajukan Dupliknya secara lisan dalam persidangan yang pada pokoknya menyatakan bahwa Permohonan Praperadilan Pemohon haruslah dinyatakan GUGUR berdasarkan Bab X Bagian Kesatu Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP. Sedangkan pada hari yang bersamaan juga (13 Sepetember 2007), ternyata pemeriksaan mengenai perkara pokoknya atas nama Suprihatin Argo Santoso dengan Register Nomor : 80/Pid.B/2007/PN.Wns juga telah disidangkan.
Namun, menurut sudut pandang penulis dengan adanya Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP tersebut malah bersifat membatasi wewenang dari praperadilan itu sendiri karena pemeriksaan proses praperadilan harus dihentikan dan perkaranya yang sedang diperiksa dianggap gugur pada saat
perkara pokoknya mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri sehingga seringkali menjadi kendala bagi para pencari keadilan yang memperjuangkan haknya melalui proses praperadilan. Oleh karena itu, bagi para pencari keadilan yang berharap sengketanya dapat diputus oleh Hakim, ketentuan tersebut dirasakan tidak adil.
Apabila proses praperadilan yang belum selesai lalu dihentikan dan perkaranya yang sedang diperiksa dianggap gugur atas dasar alasan teknis, karena perkara pidana pokoknya sudah mulai disidangkan, maka tujuan dari praperadilan menjadi kabur dan hilang karena tujuan dari praperadilan itu sendiri adalah memberikan keputusan penilaian hukum tentang pemeriksaan pendahuluan terhadap tersangka/terdakwa, yang mana keputusan hakim tersebut menjadi dasar untuk membebaskan tersangka dari penahanan yang tidak sah..
Dalam praktek, sering terjadi bahwa pengajuan tuntutan praperadilan oleh tersangka atau keluarganya mengenai tidak sahnya penangkapan dan atau penahanan atas diri tersangka, sebelum pemeriksaan praperadilan selesai, perkaranya menjadi gugur karena perkara pidana pokok sudah mulai disidangkan sehingga berakibat tersangka tetap dalam tahanan sedangkan mungkin praperadilan akan memberi keputusan tidak sahnya penangkapan dan atau penahanan.
Praperadilan dalam pelaksanaan dan penerapannya memang harus sesuai dengan hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetapi justru terkadang hukum dan peraturan yang mengikat tersebut menyebabkan kewenangan praperadilan menjadi terbatas dalam pelaksanaan tugasnya untuk melindungi hak-hak tersangka. Hal ini dapat terlihat jelas pada Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP yang mempunyai hukum yang lemah karena dalam substansi yang sangat penting seperti halnya dalam peradilan pada umumnya, yang seharusnya menciptakan kepastian hukum dan keadilan bagi para pencari keadilan, tetapi hal tersebut tidak dapat dicapai oleh lembaga praperadilan karena hukumnya lemah. Sehingga jelas terjadi suatu
penyimpangan fungsi hukum, karena dengan digugurkannya persidangan Praperadilan hanya karena alasan teknis belaka, maka dapat menyekat hak-hak tersangka untuk mendapat perlindungan hukum dan kepastian hukum. Penerapan yang mungkin tidak adil bagi pencari keadilan.
Namun, apapun keputusan yang telah dijatuhkan oleh Hakim dalam pemeriksaan praperadilan yang diajukan oleh Suprihatin Argo Santoso tersebut, secara keseluruhan proses Pelaksanaan pemeriksaan Praperadilan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Wonosari secara normative telah sesuai dan tidak menyimpang dari ketentuan Perundang-undangan yang berlaku, khususnya sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 82 KUHAP. Begitu pula ketentuan mengenai syarat batas maksimal waktu tujuh hari pemeriksaan praperadilan, hakim berusaha memutus perkara sebelum batas waktu maksimal habis. Seperti dalam permohonan dengan No perkara 01/ Pid.Pra/ 2007/ PN.Wns terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Negeri Wonosari tanggal 5 September 2007 dan ditetapkan pada tanggal 14 September 2007.