• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN 1. Cakupan Rawat Jalan dan Rawat Inap

SITUASI UPAYA KESEHATAN

C. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN 1. Cakupan Rawat Jalan dan Rawat Inap

Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Sarana kesehatan yang dimaksud meliputi rumah sakit pemerintah dan swasta, puskesmas, balai pengobatan, praktek bersama dan perorangan. Sedangkan cakupan total kunjungan rawat jalan dihitung berdasarkan jumlah seluruh kunjungan baik lama maupun baru di wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Cakupan total kunjungan rawat jalan di Kabupaten Boyolali sepanjang tahun 2014 tercatat sebanyak 753.179 kunjungan atau sebesar 78,1 % dari jumlah penduduk, mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya dimana jumlah kunjungan rawat jalan sebanyak 522.961 kunjungan (54,5 %). Kenaikan ini kemungkinan disebabkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan meningkat dengan memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang ada baik pemerintah ataupun swasta. Di samping itu data yang berasal dari sarana kesehatan swasta sudah bisa diolah dan direkapitulasi di Dinas Kesehatan. Dalam satu tahun jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, jumlah kunjungan pasien perempuan (83,7%) lebih banyak dibandingkan kunjungan pasien laki-laki (72,4%).

Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014 64 Cakupan kunjungan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Sedangkan cakupan total kunjungan rawat inap dihitung berdasarkan jumlah seluruh kunjungan baik lama maupun baru di wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pada tahun 2014 jumlah total kunjungan rawat inap di wilayah Kabupaten Boyolali tercatat sebanyak 86,239 kunjungan (8,9%).

2. Kunjungan Kesehatan Jiwa

Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, yang meliputi gangguan pada perasaan, proses pikir dan perilaku, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya.

Cakupan kunjungan kasus gangguan jiwa tahun 2014 di Kabupaten Boyolali sebesar 0,18%. Cakupan ini lebih rendah dari tahun 2013 yang dilaporkan sebesar

0,54% .

3. Indikator Pelayanan Rumah sakit

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan efisisensi pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate / BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length

0,66% 0,44% 0,54% 0,18% 0,00% 0,50% 1,00% 2011 2012 2013 2014 Gambar 4.21

CAKUPAN KUNJUNGAN KASUS GANGGUAN JIWA KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2011-2014

Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014 65

of Stay / LOS), rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over / BTO),

rata-rata selang waktu pemakain tempat tidur (Turn of Interval / TOR), persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate / GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam (Net Death Rate /

NDR).

Pada tahun 2014 di Kabupaten Boyolali diketahui indikator pelayanan kesehatan di rumah sakit menunjukkan angka BOR rata-rata sebesar 64,97% sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya (65,95%) tetapi masih berada dalam kategori angka ideal yang diharapkan (60 – 85%). Angka LOS sebesar 3,52 hari meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2,13 hari). Untuk angka TOI sebesar 2,06 hari sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2 hari) tetapi masih berada dalam kategori ideal (1 – 3 hari). Untuk angka GDR dan NDR masing-masing sebesar 2,1 dan 1,0 orang relatif hampr sama dengan tahun sebelumnya sebesar 1,7 dan 0,99 orang.

4. Pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat

Jaminan Pemeliharaan adalah upaya pembiayaan kesehatan baik keanggotaannya secara sukarela maupun wajib yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah dan diselenggarakan dengan kendali biaya dan kendali mutu. Jaminan pemeliharaan kesehatan di Kabupaten Boyolali sesuai dengan adanya Program JKN dengan melalui kepesertaan BPJS Kesehatan terdiri dari beberapa unsur yaitu PBI APBN, PBI APBD, POLRI, Pemerintah Non PNS, Swasta, Pejabat Negara, Mandiri/ PBPU, Pensiunan PNS/ TNI/POLRI/Pejabat, Veteran dan Perintis Kemerdekaan, PNS, TNI, WNA.

Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014 66 Peserta BPJS di Kabupaten Boyolali adalah 462.349 jiwa, angka ini berdasarkan sumber data dari BPJS Kesehatan Cab. Boyolali namun tidak diperoleh data secara pilah gender di karenakan tidak ada pemilahan data secara pilah gender.

PBI APBN adalah Program Jaminan Kesehatan yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah dengan maksud membantu masyarakat miskin yang digunakan berobat ke fasilitas kesehatan pemerintah tanpa dipungut biaya, berdasarkan pendistribusian kartu Tahun 2012 peserta Jamkesmas ( PBI APBN ) di Kabupaten Boyolali adalah 339.138 jiwa. Swasta adalah Program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi resiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial, untuk angka peserta swata adalah 29.262 jiwa. Asuransi swasta diluar kepesertaan BPJS Kesehatan tidak dapat di peroleh data karena sulitnya memperoleh data secara riil berapa banyak yang menjadi peserta Asuransi Swasta. Sedangkan peserta PBI APBD di Kabupaten Boyolali sebanyak 9.523 jiwa, peserta PBI APBD adalah penduduk miskin yang merupakan penduduk Kabupaten Boyolali yang tidak mendapatkan kepesertaan Jamkesmas dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali. POLRI sebanyak 2.983 jiwa, Pemerintah Non PNS sebanyak 95 jiwa, Pejabat Negara sebanyak 4 jiwa. Peserta Mandiri adalah masyarakat yang membayarkan iuran kepesertaan BPJS Kesehatan secara mandiri karena untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatannya. Peserta Mandiri di Kabupaten Boyolali sebanyak 14.930 jiwa. PNS sebanyak 38.185 jiwa,dan TNI sebanyak 2.179 jiwa.

Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014 67

5. Ketersediaan Obat

Ketersediaan obat di Puskesmas untuk pelayanan primer, baik yang dibeayai oleh anggaran pusat (vaksin dan obat kesehatan ibu dan anak), maupun yang dibiayai oleh anggaran dinas kesehatan di tingkat kabupaten, kota dan propinsi dijamin oleh sistem supplai publik. Dengan sistem monitoring terpadu (LPLPO) ditingkat kabupaten dan propinsi, ketersediaan obat di Puskesmas diupayakan selalu di atas 90 % setiap waktu. Secara garis besar, ketersediaan, keterjangkauan dan supplai obat ditentukan oleh pemilihan rasional (rational selection), harga terjangkau (affordable pricing), pembiayaan yang cukup (adequate financing) dan sistem supplai yang handal (reliable supply system). Tidak semua obat yang beredar harus disediakan dalam sistem pelayanan. Penyediaan obat di unit pelayanan didasarkan pada jenis obat yang memenuhi kebutuhan pasien , yang memberikan manfaat klinik paling optimal, dengan efek samping paling minimal serta paling “cost effective”.

PBI APBN; 35,19%

PBI APBD; 0,99% PPU; 7,54%

JAMKESDA, 33.70%

MANDIRI; 1,55% BUKAN PEKERJA;

2,70% Gambar 4.22 PROPORSI KEPESERTAAN

JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2014

Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali 2014 68 Indikator yang digunakan dalam lingkup ketersediaan obat adalah ketersediaan obat itu sendiri ( stok obat), pemakaian rata-rata obat per bulan, tingkat kecukupan obat dan persentase tingkat kecukupan obat. Tingkat kecukupan obat didefinisikan sebagai jumlah satuan waktu (bulan) dimana jenis obat tertentu tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai pemakaian untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah tertentu.

Ketersediaan obat di Puskesmas Kabupaten Boyolali tahun 2014 di tunjukkan pada lampiran Tabel 69.

D. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

Dokumen terkait