• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Aktifitas Enzim Transaminase

Pemeriksaan enzim transaminase pada dasarnya adalah pemeriksaan untuk mengetahui perubahan koenzim NADH melalui perubahan absorbansinya pada spektrofotometer. Hal ini dilakukan mengingat tidak mungkin dilakukan pemeriksaan kadar enzim secara langsung karena kadarnya yang terlampau sedikit di dalam plasma. Pengukuran enzim berdasarkan penurunan atau peningkatan kofaktor dari enzim merupakan pengukuran yang disebut aktivitas enzim.(Panil, 2008)

Pengaruh proteksi vitamin C dan pemberian Pb asetat terhadap kadar enzim transaminase baik enzim Aspartat Aminotranferase (AST) dan Alanin Aminotransferase (ALT) dari penelitian ini adalah sebagai berikut (tabel 1).

Tabel 1. Aktivitas Enzim Transaminase Pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan

Keterangan:

No Kelompok Rata-rata Aktivitas

AST (U/l) Rata-rata Aktivitas ALT (U/l) 1 Kontrol Negatif 117,6 51,5 2 Kontrol Positif 620,37 132,7 3 Vitamin C 200 mg 172,4 74,2 4 Vitamin C 500 mg 160,8 69,8 5 Vitamin C 1000 mg 241,18 118,1

Kontrol Negatif :Kelompok yang hanya diberi aquadest

Kontrol Positif :Kelompok yang diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

Vitamin C 200mg :Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 200 mg/kgBB/hari selama tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

Vitamin C 500mg :Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 500 mg/kgBB/hari selama tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

Vitamin C 1000mg :Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 1000 mg/kgBB/hari selama tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

Dari hasil pemeriksaan enzim transaminase tersebut maka dapat dibuat suatu grafik yang menggambarkan tingkat perubahan enzim transaminase baik Aspartat Aminotransverase (AST) maupun Alanin Aminotransverase (ALT) dari setiap kelompok percobaan. Adapun tingkat perubahan enzim transaminase dari setiap kelompok percobaan adalah sebagai berikut

117,6 620,37 172,4 160,8 241,18 0 100 200 300 400 500 600 700 800 KN KP C200 C500 C1000 Perlakuan A k ti v ita s A S T (U /l )

Gambar 2. Perbandingan Aktivitas AST pada Seluruh Kelompok Percobaan Keterangan:

KN : Kelompok yang hanya diberi aquadest

KP : Kelompok yang diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara

intraperitoneal

C200 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 200 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

C500 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 500 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

C1000 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 1000 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

51,5 132,7 74,2 69,8 118,1 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 KN KP C200 C500 C1000 Perlakuan A k ti vi ta s A L T (U /l )

Gambar 3. Perbandingan Aktivitas ALT pada Seluruh Kelompok Percobaan Keterangan:

KN : Kelompok yang hanya diberi aquadest

KP : Kelompok yang diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara

intraperitoneal

C200 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 200 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

C500 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 500 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

C1000 : Kelompok yang diberikan preventif vitamin C 1000 mg/kgBB/hari selama

tujuh hari sebelum diberikan Pb asetat dosis tunggal 20 mg/kgBB secara intraperitoneal

Dari hasil tersebut terlihat bahwa pemberian Pb dosis tunggal 20 mg/kgBB secara signifikan dapat meningkatkan kadar enzim transaminase di dalam darah mencit (p < 0,05). Untuk kelompok enzim AST terjadi kenaikan kadar enzim sebanyak lima kali lipat dibandingkan kelompok kontrol negatif yang hanya diberi aquadest. Sedangkan untuk kelompok enzim ALT terjadi kenaikan kadar enzim lebih

dari dua kali lipat dibandingkan kelompok kontrol negatif yang hanya diberi aquadest.

Hal ini dikarenakan Pb dapat menyebabkan peningkatan produksi ROS dan secara langsung menekan sistem antioksidan tubuh dan menimbulkan peroksidasi lipid. ROS dapat bereaksi dan menyebabkan kerusakan pada banyak molekul di dalam sel. Fosfolipid yang menjadi unsur utama dalam membran plasma dan membran organela sel seringkali menjadi subjek dari peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid adalah suatu reaksi rantai radikal bebas yang diawali dengan terbebasnya hidrogen dari suatu asam lemak tak jenuh oleh radikal bebas. Konsekwensi penting dari peroksidasi lipid adalah meningkatnya permeabilitas membran dan mengganggu distribusi ion-ion yang mengakibatkan kerusakan sel dan organela. (Devlin, 2002: Mudipali, 2007; Yin et al, 1995). Enzim transaminase merupakan enzim yang terdapat di dalam sel dan akan keluar ke dalam plasma apabila sel mengalami kerusakan, sehingga kadarnya di dalam plasma akan meningkat. (Widman, 1992; Goldberg, 2000)

Adanya peningkatan kadar AST lebih tinggi dibandingkan peningkatan ALT membuktikan bahwa stres oksidatif yang disebabkan oleh Pb dapat mencapai organela. Seperti yang telah kita ketahui bahwa AST terkonsentrasi di di dalam organela sedangkan ALT pada sitoplasma((Widman, 1992; Goldberg, 2000), sehingga apabila kerusakan mencapai organela maka kenaikan AST akan lebih tinggi dibandingkan ALT.

Pemberian vitamin C secara signifikan (p<0,05) dapat menurunkan kadar enzim transaminase bila dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan Pb, bahkan pada kelompok yang diberikan vitamin C 500 mg/kgBB/hari menunjukkan situasi yang tak jauh berbeda bila dibandingkan dengan kelompok yang diberikan aquadest (p = 0,107). Hal ini membuktikan bahwa vitamin C merupakan scavenger kuat yang dapat memecahkan proses autokatalitik dari proses lipid peroksidasi membran sel sehingga dapat memelihara integritas sel. Selain itu pemberian vitamin C juga telah dibuktikan dapat memperbaiki sistem antioksidan tubuh yaitu dengan meningkatkan kadar glutathion tereduksi. Adanya penurunan kadar glutathion diperkirakan merupakan penyebab utama untuk terjadinya hepatoksisitas pada hati (Gajawat et al, 2006)

Untuk kelompok AST penurunan kadar enzim ini secara signifikan didapati pada semua dosis vitamin C, sedangkan untuk kelompok ALT penurunan kadar enzim secara bermakna didapati pada pemberian vitamin C dosis 200 mg/kgBB/hari dan 500 mg/kgBB/hari. Tidak ada perbedaan bermakna antara pemberian vitamin C dosis 200 mg/kgBB/hari dengan 500 mg/kgBB/hari dalam menurunkan kadar kedua enzim tersebut. Namun disisi lain secara statistik pemberian vitamin C dosis 500 mg/kgBB/hari dapat menyebabkan situasi yang tidak berbeda bermakna dengan kontrol negatif pada pemeriksaan enzim ALT (p = 0,107), yang artinya pemberian vitamin C dosis 500 mg/kgBB/hari dapat melindungi hati dalam tingkat yang paling tinggi bila dibandingkan dengan dua dosis vitamin C lainnya. Hal ini membuktikan

bahwa vitamin C 500 mg merupakan dosis optimal sebagai dosis preventif terhadap terjadinya paparan Pb apabila ditinjau dari kadar enzim transaminase.

Terdapat suatu fenomena menarik yaitu pemberian vitamin C dosis 1000 mg/kgBB/hari ternyata menyebabkan penurunan kadar enzim yang lebih rendah bila dibandingkan dengan dua dosis vitamin C lainnya, bahkan untuk kelompok pemeriksaan enzim ALT, meskipun vitamin C 1000 mg/kgBB/hari dapat menurunkan kadar enzim ALT, namun bila dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan Pb, maka secara statistik tidak dijumpai perbedaan yang bermakna diantara keduanya (p = 1,000). Hal ini menunjukkan bahwa tidak diperlukan pemberian vitamin C dosis tinggi sebagai langkah preventif untuk melindungi hati terhadap paparan Pb bila hanya ditinjau dari kadar enzim AST dan ALT .

Dokumen terkait