• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktivitas Antioksidan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Aktivitas Antioksidan

Antioksidan merupakan senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya dengan cuma-cuma kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya sama sekali dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas (Kumalaningsih, 2006). Uji aktivitas antioksidan dapat dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Metode ini dipilih karena sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sampel sedikit (Hanani et al., 2005).

Larutan yang telah diencerkan dengan berbagai konsentrasi ditambahkan larutan DPPH. Aktivitas antioksidan dapat terlihat dari perubahan warna DPPH yaitu dari warna ungu berubah menjadi warna kuning pucat (Lampiran 6). Menurut Blois (1985) dalam Hanani et al. (2005) menyatakan bahwa senyawa antioksidan akan bereaksi dengan radikal DPPH melalui mekanisme donasi atom hidrogen dan menyebabkan terjadinya perubahan warna DPPH dari ungu menjadi ke kuning pucat yang telah diukur dengan panjang gelombang 517 nm.

Larutan yang telah diencerkan dengan berbagai konsentrasi menghasilkan nilai absorbansi yang berbeda sehingga menghasilkan persen inhibisi

(penghambatan ) yang berbeda pula. Persen (%) inhibisi merupakan kemampuan suatu bahan untuk meredam radikal yang berhubungan dengan konsentrasi suatu bahan. Perbandingan hasil persen inhibisi rata-rata dari masing-masing larutan disajikan pada Gambar 13 serta perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 5.

(a)

(b)

(c)

Gambar 13. Hubungan Antara Konsentrasi (ppm) dengan Persen (%) Inhibisi a)Pelarut Heksana p.a, b) Pelarut Etil Asetat p.a, dan

c) Pelarut Metanol p.a

R² = 0,959 0 5 10 15 20 0 500 1000 (%) inhi bi si Konsentrasi (ppm) R² = 0,992 0 10 20 30 40 50 60 0 5000 10000 (%) inhi bi si Konsentrasi R² = 0,962 0 5 10 15 0 500 1000 (%) inhi bi si Konsentrasi

38

Gambar 13 menunjukkan hubungan antara konsentrasi dengan persen (%) inhibisi yang dihasilkan. Gambar tersebut menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi maka akan semakin besar pula persen (%) inhibisi rata-rata yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanani et al. (2005) yang menyatakan bahwa persen (%) inhibisi akan meningkat seiring dengan konsentrasi. Larutan ekstrak heksana p.a yang diencerkan dengan berbagai konsentrasi yaitu 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, serta 125 ppm. Persen (%) inhibisi rata-rata tertinggi terdapat pada larutan dengan konsentrasi 1000 ppm yaitu sebesar 14,55% dan terendah terdapat pada larutan yang berkonsentrasi 125 ppm yaitu sebesar 4,16%.

Pelarut etil asetat p.a dan metanol p.a menunjukkan hal yang serupa, yaitu persen (%) inhibisi rata-rata pelarut etil asetat p.a tertinggi terdapat pada larutan yang memiliki konsentrasi 10000 ppm yaitu sebesar 49,22% dan terendah pada larutan dengan konsentrasi 1250 ppm sebesar 13,76%. Pelarut metanol p.a larutan yang memiliki persen (%) inhibisi rata-rata tertinggi terdapat pada konsentrasi 1000 ppm yaitu sebesar 13,05% dan terendah pada larutan dengan konsentrasi 125 ppm yaitu sebesar 1,33 %.

Pembanding yang digunakan adalah vitamin C. Vitamin C telah diketahui berperan sebagai antioksidan yang kuat yang dapat melindungi sel dari agen penyebab kanker, dan secara khusus mempu meningkatkan daya setiap tubuh atas kalsium (mineral untuk pertumbuhan gigi dan tulang) serta zat besi dari bahan makanan (Godam, 2006 dalam Rachmawati et al., 2009). Vitamin C dibuat dengan stok 80 ppm yang kemudian diencerkan menjadi berbagai konsentrasi yaitu 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm. Persen inhibisi vitamin C disajikan pada

Gambar 14 dan perhitungan persen (%) inhibisi dapat dilihat pada Lampiran 5. Gambar 14 menunjukkan bahwa persentase inhibisi tertinggi terdapat pada konsentrasi pada 6 ppm sebesar 86,67% dan persen inhibisi terendah terdapat pada konsentrasi 2 ppm sebesar 42,22%.

Gambar 14. Konsentrasi Larutan Vitamin C dengan Persen (%) Inhibisi

Aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH dapat

diinterpretasikan dengan nilai IC50. Nilai IC50 (Inhibition Concentration 50 value) menurut Molyneux (2004) adalah konsentrasi ekstrak yang dapat menyebabkan berkurangnya 50% aktivitas DPPH. Nilai IC50 dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan regresi linear y = a + bx. Nilai IC50 dari pelarut heksana p.a, etil asetat p.a, dan metanol p.a berbeda-beda. Perbandingan nilai IC50

disajikan pada Gambar 15 dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 5. R² = 0,800 0 20 40 60 80 100 0 5 ((%) Inhi basi Konsentrasi (ppm)

40

Gambar 15. Perbandingan Nilai IC50 dari Pelarut Heksana p.a, Etil Asetat p.a, dan Metanol p.a

Gambar 15 menunjukkan perbandingan nilai IC50 dari masing-masing jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda. Pelarut metanol p.a

memberikan ekstrak dengan nilai IC50 yang paling kecil dibandingkan dengan hasil dari pelarut lainnya yaitu sebesar 3351,60 ppm. Ekstrak dari pelarut heksana p.a mempunyai nilai IC50 sebesar 4199,54 ppm dan pelarut etil asetat p.a

mempunyai nilai IC50 yang terbesar yaitu 13153,33 ppm. Menurut Molyneux (2004) nilai IC50 yang rendah mengindikasikan aktivitas antioksidan yang tinggi. Perbandingan nilai IC50 pada ketiga jenis pelarut yang berbeda-beda menurut tingkat kepolarannya menunjukkan bahwa pelarut metanol p.a memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan pelarut heksana p.a serta etil asetat p.a. Hal ini diduga karena radikal bebas DPPH dapat larut dan memberikan aborbansi maksimum pada pelarut polar yaitu metanol.

Blois (1985) dalam Molyneux (2004) menyatakan bahwa aktivitas antioksidan dapat dibagi menjadi beberapa kategori yaitu sangat kuat, kuat, sedang dan lemah. Antioksidan sangat kuat memiliki nilai IC50 kurang dari 0,05

4199,54 13153,33 3351,60 1,94 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000

Heksana Etil asetat Metanol vit C

IC50

ppm

mg/ml ( <50 ppm ), antioksdian kuat memiliki nilai IC50 berada pada kisaran 0,05 – 0.1 mg/ml (50 ppm – 100 ppm) , antioksidan sedang memiliki nilai IC50 berkisar antara 0,1 – 0,15 mg/ml (100 ppm – 150 ppm) dan antioksidan lemah memiliki kisaran 0,15 ppm hingga 0,2 ppm (150 ppm – 200 ppm). Aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh rumput laut segar jenis Euchema spinosum tergolong sangat lemah karena memiliki nilai IC50 lebih dari 0,2 ppm ( >200 ppm). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Maulida (2007) dengan melakukan uji aktivitas antioksidan dari rumput laut jenis Caulerpa lentilifera, didapat nilai IC50 sebesar 5090,39 ppm. Penelitian yang dilakukan oleh Suryaningrum et al., (2006) mendapatkan hasil yang sama yaitu aktivitas antioksidan pada rumput laut jenis Euchema cotonii dan Halymenia harveyana tergolong lemah. Berbeda jauh dengan nilai IC50 yang dimiliki vitamin C yaitu sebesar 1,94 ppm. Nilai IC50 tersebut dalam kategori Blois (1985) dalam Molyneux (2004) termasuk dalam kategori sangat kuat karena nilai IC50 < 0,05 mg/ml (<50 ppm).

Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan dengan larutan lainnya. Hal ini diduga karena dalam melakukan pengujian aktivitas antioksidan masih menggunakan ekstrak kasar. Ekstrak kasar yang digunakan masih mengandung senyawa-senyawa lain yang bukan merupakan senyawa antioksidan. Senyawa lain ikut terekstrak dalam pelarut selama proses maserasi. Senyawa-senyawa yang larut dalam pelarut dapat meningkatkan persentase rendemen ekstrak, namun hal tersebut tidak dapat meningkatkan aktivitas antioksidan. Vitamin C merupakan senyawa murni yang diduga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi (Safitri, 2010). Vitamin C merupakan fresh food yang terdapat pada tumbuhan dan buah. Vitamin C merupakan metabolit sekunder

42

karena terbentuk dari glukosa (Sarfayani, 2007). Selain menggunakan vitamin C sebagai pembanding, perbandingan nilai IC50 biota uji lainnya dengan rumput laut Euchema spinosum disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai IC50 Biota Uji Lainnya

Biota Jenis Pelarut Sumber

Heksana p.a Etil asetat p.a Metanol p.a

Caulerpa lentilifera 91700 1015,92 356,12 Santoso (2010)

Cymodocea rotundata 5589,27 357,73 203,32 Anwariyah (2011) Comaster sp. - 2016,78 419,21 Safitri (2010) Discodoris sp. - - 1527 Andriyanti (2009) Sarcophyton 4172 3952,88 2926,43 Romansyah (2010) Euchema spinosum 4199,54 13153,33 3351,60

Tabel 2 menunjukkan bahwa masing-masing biota uji memiliki aktivitas antioksidan tertinggi pada pelarut metanol p.a. Namun, rumput laut jenis Euchema

spinosum memiliki nilai IC50 pada pelarut metanol p.a lebih tinggi dibandingkan

dengan biota uji lainnya. Hal ini membuktikan aktivitas antioksidan rumput laut Euchema spinosum sangat lemah dibandingkan dengan biota uji lainnya. Nilai IC50 pada pelarut heksana p.a rumput laut Euchema spinosum relatif rendah dibandingkan dengan biota uji lainnya, sehingga pelarut heksana p.a memiliki aktivitas antioksidan relatif kuat. Namun, pada pelarut etil asetat p.a nilai IC50 rumput laut Euchema spinosum sangat tinggi. Aktivitas antioksidan rumput laut Euchema spinosum pada pelarut etil asetat p.a tergolong sangat lemah jika dibandingkan dengan biota uji lainnya. Hal ini diduga kandungan senyawa alamiah dari masing-masing biota uji berbeda-beda.

Nilai IC50 terkecil serta persentase rendemen yang tertinggi rumput laut Euchema spinosum terdapat pada pelarut metanol p.a, maka komponen bioaktif

yang terdapat di rumput laut Euchema spinosum diduga bersifat polar. Hal ini sesuai dengan Harborne (1987) dalam Anwariyah (2011) yang menyatakan bahwa tumbuhan mngandung banyak fenol dan senyawa ini memiliki sifat yang

44

Dokumen terkait