BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Aktivitas melihat dekat
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan visual yang dilakukan pada jarak dekat atau ketika seseorang harus fokus untuk melihat objek benda secara rinci. Contoh aktivitas melihat dekat adalah membaca, menulis, menggunakan komputer, menonton televisi, menggambar/melukis,
menjahit, melakukan pekerjaan kerajinan dengan benda kecil dan berman game.24
Orang yang melakukan aktivitas melihat dekat berlebihan mungkin mengalami miopia palsu atau pseudomiopia. Penglihatan jauh mereka kabur disebabkan oleh lebih menggunakan mata untuk fokus secara berlebihan.
Setelah lama melakukan akktivitas melihat dekat, mata mereka tidak dapat lembali fokus untuk melihat jelas di kejauhan. Gejala-gejala biasanya sementara dan penglihatan dapat kembali jelas setelah mata beristirehat.
Namun, penggunaan mata untuk melihat dekat yang lama dan konstan dapat menyebabkan penurunan penglihatan jauh permanen. 24
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Telah diketahu bahwa jenis kelamin, faktor genetik dan aktivitas melihat jarak dekat seperti membaca buku, menonton televisi, menggunakan komputer dan bermain video game dapat mengakibatkan miopia. Aktivitas melihat dekat jangka panjang menyebabkan miopia melalui efek fisik langsung akibat akomodasi terus-menerus sehingga tonus otot siliaris menjadi tinggi dan lensa menjadi cembung.
Berdasarkan hal inilah, maka penelitian akan menjelaskan hubungan antara jenis kelamin, faktor genetik dan aktivitas melihat jarak dekat dengan kejadian miopia.
3.2 Kerangka Konseptual 3.2.1 Variabel Independen
Variabel independen dari penelitian ini adalah jenis kelamin, faktor genetik dan aktivitas melihat jarak dekat pada pelajar
3.2.2 Variabel Dependen
Variabel dependen pada penelitian ini ialah miopia.
Ket: Variabel independen Variabel dependen Aktivitas melihat jarak dekat:
Membaca buku
Menonton televisi
Menggunakan komputer
Bermain video game/playstation
Faktor genetik
MIOPIA
Jenis Kelamin
3.3 Definisi Operasional 3.3.1 Miopia
a. Definisi : Miopia dideskripsikan sebagai gangguan untuk melihat jauh dengan visus di bawah 6/6
b. Alat ukur : Kartu Snellen
c. Cara ukur : Pengukuran dilakukan di ruang kelas yang pencahayaanya cukup, dengan cara siswa duduk di bangku dangan jarak 6 meter dari kartu Snellen. Kemudian tajam penglihatan kedua mata diperiksa satu persatu. Pada saat memeriksa mata kanan, mata kiri ditutup, demikian pula sebaliknya.
d. Hasil ukur :
Miopia
Bukan miopia
3.3.2 Jenis Kelamin
a. Definisi : Yaitu identitas gender pelajar b. Alat ukur : Kuisioner
c. Cara ukur : Melalui pencatatan variabel sesuai yang diperoleh dari kuisioner
d. Hasil ukur :
Laki-laki
Perempuan
3.3.3 Faktor genetik
e. Definisi : Pelajar yang mempunyai salah satu atau kedua orang tua, kakek atau nenek, atau saudara yang menderita miopia.
f. Alat ukur : Kuisioner
g. Cara ukur : Melalui pencatatan variabel sesuai yang diperoleh dari kuisioner
h. Hasil ukur :
Ada: tidak memiliki anggota keluarga berkacamata miopia
Tidak ada : memiliki anggota keluarga berkacamata miopia
3.3.4 Kebiasaan membaca
a. Definisi : Kebiasaan subjek dalam menelaah buku bedasarkan dengan jarak mata terhadap buku adalah lebih dari 30 cm, dan durasi kurang dari 2 jam sehari tanpa henti.
b. Alat ukur : Kuisioner
c. Cara ukur : Melalui pencacatan kebiasaan membaca pelajar pada kuisioner
d. Hasil ukur :
Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat
3.3.5 Menonton TV
a. Definisi : Kebiasaan subjek dalam aktivitas menonton tayangan d televisi bedasarkan dengan jarak antara mata dengan layar televisi adalah lebih dari 2 m, dan durasi kurang dari 2 jam sehari tanpa henti.
b. Alat ukur : Kuisioner
c. Cara ukur : Melalui pencatatan kebiasaan menonton TV pelajar pada kuisioner
d. Hasil ukur:
Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat
3.3.6 Menggunakan komputer
a. Definisi : Kebiasaan subjek dalam aktivitas menaip, mengetik, membaca atau browsing berdasarkan dengan jarak mata dengan layar komputer adalah lebih dari 60 cm, dan durasi kurang dari 2 jam sehari tanpa henti.
b. Alat ukur : Kuisioner
c. Cara ukur : Melalui pencatatan kebiasaan pelajar menggunakan komputer pada kuisioner
d. Hasil ukur :
Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat
3.3.7 Kebiasaan bermain video game
a. Definisi : Kebiasaan subjek dalam aktivitas permainan elektronik berdasarkan dengan jarak mata terhadap layar televisi adalah lebih dari 2 m, dan durasi kurang dari 2 jam sehari tanpa henti
b. Alat ukur : Kuisioner
c. Cara ukur : Melalui pencatatan kebiasaan pelajar bermain video game pada kuisioner
d. Hasil ukur :
Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat
3.4 Hipotesis Penelitian 3.4.1 Hipotesis Nol (H0)
1. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian miopia
2. Tidak terdapat hubungan antara faktor genetik dengan kejadian miopia.
3. Tidak terdapat hubungan antara antara kebiasaan membaca dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
4. Tidak terdapat hubungan antara menonton televisi dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
5. Tidak terdapat hubungan antara menggunakan komputer dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
6. Tidak terdapat hubungan antara kebiasaan bermain video game dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
3.4.2 Hipotesis alternatif (Ha)
1. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian miopia.
2. Terdapat hubungan antara faktor genetik dengan kejadian miopia.
3. Terdapat hubungan antara kebiasaan membaca dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
4. Terdapat hubungan antara menonton televisi dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
5. Terdapat hubungan antara menggunakan komputer dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
6. Terdapat hubungan antara kebiasaan bermain video game dalam jarak dekat dengan kejadian miopia.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain penelitian potong lintang/ cross-sectional, yang mana pengukuran variabel dilakukan pada saat tertentu secara bersamaaan untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin, faktor genetik dan lamanya waktu yang digunakan pada aktivitas jarak dekat dengan kejadian miopia pada pelajar SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia.
4.2 Lokasi dan waktu penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia
4.2.2 Waktu penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu waktu kepaniteraan antara tanggal 11 Maret - 22 Maret 2013
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua pelajar SMK. ST Patrick di Sabah, Malayia tahun 2013.
4.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah pelajar yang memenuhi kriteria seleksi.
4.4 Kriteria Sampel 4.4.1 Kriteria Inklusi
Pelajar Kelas 5 SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia dan bersedia mengikuti penelitian.
4.4.2 Kriteria Eksklusi
a. Pelajar yang tidak hadir di kelas pada saat pengambilan data, misalnya sedang sakit atau izin
b. Pelajar yang menderita sakit/ kelainan pada mata saat pengambilan data selain miopia.
c. Pelajar yang tidak mengisi kuisioner secara lengkap.
4.5 Cara Pengambilan Sampel
Sampel yang diambil dengan menggunakan teknik ‘total sampling’ yaitu diambil sejumlah mahasiswa kelas 5 SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia.
4.6 Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan data primer yang diperoleh dengan menggunakan questionaire, serta pemeriksaan ketajaman penglihatan menggunakan kartu Snellen.
4.7 Pengolahan Data
Setelah dilakukan pengumpulan dan pencatatan data primer, data yang diperoleh diorganisasikan dan diolah dengan menggunakan program komputer SPSS 17.0, Microsoft Excel dan Microsoft Word.
4.8 Penyajian Data
Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel dan uraian untuk menggambarkan hubungan antara jenis kelamin, faktor genetik dan aktivitas melihat jarak dekat dengan kejadian miopia.
4.9 Analisis Data
Data dianalisa menggunakan metode Chi-square, yaitu metode statistik yang digunakan untuk melihat kemaknaan dan hubungan antara variabel kategorik tidak berpasangan tabel 2x2. Syarat untuk uji Chi Square adalah sel yang mempunyai nilai expected kurang dari 5 maksimal 20% dari jumlah sel.
Jika syarat uji Chi Square tidak terpenuhi maka ujia alternatifnya adalah uji
Fisher. Untuk melihat kejelasan tentang dinamika hubungan antara faktor risiko dan faktor efek dilihat melalui nilai prevalensi rasio odds (POR). Untuk interpretasi hasil menggunakan derajat kemaknaan α (P alpha) sebesar 5%
dengan catatan jika p <0,05 (p value ≤ p alpha) maka H0 di tolak (ada hubungan antara variabel bebas dengan terikat), sedangkan bila p>0,05 maka H0 diterima (tidak ada hubungan antara variabel bebas dengan terikat).
Sedangkan untuk mengetahui prevalens penyakit maka digunakan analisis Prevalence Odds Ratio (POR).
Chi-square: menguji apakah ada hubungan antara baris dengan kolom pada sebuah tabel kontigensi. Data yang digunakan merupakan data kualitatif.
Rumus Chi-square:
X2= ⅀ (O-E)2 E
O= skor yang diobservasi (Observed) E= Skor yang diharapkan (Expected)
Tabel 4.1 Tabel silang dilihat dari faktor risiko
Efek Jumlah
Faktor risiko (+) a b a+b
Faktor risiko (-) c d c+d
Jumlah a+c b+d a+b+c+d (N)
POR= a/ (a+b): c/ (c+d)
a/ (a+b)= proporsi subyek yang mempunyai faktor risiko yang mengalami efek
c/ (c+d)= proporsi subyek tanpa mempunyai faktor risiko yang mengalami efek
Interpretasi hasil:
a. Bila POR =1, variabel yang diduga sebagai faktor risiko tidak ada pengaruhnya dalam terjadinya efek, atau dengan kata lain ia bersifat netral,
b. Bila POR > 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti variabel tersebut merupakan faktor risiko terjadinya efek.
c. Bila POR <1, dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti faktor yang diteliti dapat mengurangi terjadinya efek (faktor protektif), bukan faktor risiko.
d. Bila nilai interval kepercayaan rasio prevalens mencakup angka 1, maka berarti populasi yang diwakilioleh sampel tersebut masih mungkin nilai prevalensnya= 1. Ini berarti dari data yang ada belum dapat disimpulkan bawa faktor yang dikaji benar-benar merupakan faktor risiko atau faktor protektif.
4.10 Aspek Etika Penelitian
1. Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan perizinan kepada pihak SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia sebagai tempat penelitian.
2. Peneliti akan menjaga kerahsiaan identitas subjek sehingga informasi tetap terjaga kerahsiaannya.
4.11 Alur Penelitian
Rumusan masalah
Identifikasi variabel dependen (tergantung) dan variabel independent (bebas)
Penentuan subjek penelitian (populasi dan sampel)
Pengumpulan data rekam medik pasien Kriteria eksklusi
Pengolahan dan analisis data
Hasil penelitian
Kriteria inklusi
Kesimpulan
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan mulai tanggal 11-22 Maret 2013 terhadap para pelajar kelas 5 SMK. ST Patrick di Sabah, Malaysia. Sampel diambil dengan cara total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 49 orang (setelah kriteria eklusi) yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 30 orang perempuan.
Penilaian miopia dilakukan dengan menggunakan Kartu Snellen dimana pengukuran dilakukan di ruang kelas yang pencahayaanya cukup, dengan cara siswa duduk di bangku dangan jarak 6 meter dari kartu Snellen. Kemudian tajam penglihatan kedua mata diperiksa satu persatu. Pada saat memeriksa mata kanan, mata kiri ditutup, demikian pula sebaliknya. Kuesioner didistribusikan kepada pelajar di ruang kuliah dan dijawab dalam jangka waktu 15 menit.
Data yang dikumpul diolah dengan menggunakan metode komputerisasi yaitu dengan menggunakan program SPSS 17.0, Microsoft Excel dan Microsoft Words serta disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan tujuan penelitian. Analisa data dilakukan menggunakan metode Chi-square.
5.1 Analisa Univariat
Tabel 5.1.1: Gambaran Tajam Penglihatan Pelajar Tajam penglihatan Jumlah pelajar, n %
Miopia 21 42.86
Bukan miopia 28 57.14
Dari tabel 5.1.1 diatas, berdasarkan hasil pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan kartu Snellen, didapatkan dari 49 pelajar, sebanyak 42.86%
pelajar mengalami miopia (visus kurang dari 6/6).
Tabel 5.1.2: Distribusi Subyek Menurut Jenis Kelamin dan Faktor Genetik
Karakteristik Jumlah (n=49) Persentase (%)
Jenis Kelamin Laki pelajar adalah pelajar perempuan, dan moyoritas pelajar memiliki anggota keluarga (ayah/ibu/kakek/nenek/om/tante/saudara) yang memakai kacamata rabun jauh.
Tabel 5.1.3: Distribusi Subyek Menurut Aktivitas Melihat Jarak Dekat
Karakteristik Jumlah (n=49) Persentase (%)
Membaca buku Mengikut syarat Tidak mengikut syarat
20 29
40.82 59.18 Menonton TV Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat Bermain video game Mengikut syarat
Tidak mengikut syarat
17 32
34.69 65.31
Dari tabel 5.1.3 diatas memperlihatkan bahwa distribusi pelajar menurut aktivitas melihat jarak dekat dimana pelajar lebih banyak tidak mengikut syarat dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti membaca buku, menonton TV, menggunakan komputer, dan bermain video game. Dari hasil kuisioner, didapatkan pelajar sering melakukan aktivitas ini lebih dari 2 jam tanpa rehat dan dengan jarak mata terhadap buku, layar televisi atau komputer yang terlalu dekat.
5.2 Analisa Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mempelajari hubungan antara dua variabel dalam penelitian ini, yaitu jenis kelamin dengan kejadian miopia, faktor genetik dengan kejadian miopia, dan aktivitas melihat jarak dekat seperti membaca buku, menonton TV, menggunakan komputer dan bermain video game dengan kejadian miopia. Analisis bivariat dilakukan untuk mencari asosiasi antara kedua variabel yang diteliti. Uji yang dilakukan dalam mencari asosiasi antara kedua variabel adalah dengan menggunakan uji statistik chi-square kemudian ditentukan kekuatan asosiasinya dengan mencari Prevalence Odds Ratio (POR).
Tabel 5.2 Hubungan antara Jenis Kelamin, Faktor Genetik dan Aktivitas Melihat Dekat dengan Kejadian Miopia pada pelajar SMK. ST. Patrick di
Sabah, Malaysia
Tabel diatas menunjukkan hubungan dari hasil uji variabel independen dan variabel dependen. Nilai yang dipakai adalah nilai Pearson Chi-Square bila nilai expected kurang dari 5, maksimal 20% dari jumlah sel. Dari hasil tabulasi silang didapatkan nilai expected yang kurang dari 5 pada variabel faktor genetik sehingga digunakan uji alternatif lainnya, yaitu Uji Fisher.
Interpretasi hasil adalah hipotesis nol (Ho) diterima apabila perhitungan nilai probabilitas (p) ≥ 0.05, sedangkan hipotesis alternatif (Ha) diterima apabila perhitungan nilai probabilitas (p) < 0.05. Dari perhitungan nilai p didapatkan hanya aktivitas membaca buku dan menonton TV yang memiliki nilai p < 0,05 yaitu 0,001 (POR= 9.27, 95% CI 2,20-39.07) dan 0,001 (POR=10.96, 95%CI 2,13-56.24) sehingga hipotesis alternatif untuk aktivitas membaca buku dan menonton TV diterima. Keduanya juga merupakan faktor risiko terjadinya efek sebab POR > 1. Jika POR < 1 maka exposure yang diteliti dapat mengurangi terjadinya efek. Sedangkan nilai p > 0,05 terdapat pada jenis kelamin yaitu 0,612 (POR=1,35, 95%CI 0,42-4,30), faktor genetik yaitu 0,214 (POR=5,45, 95%CI 0,60-49.32), aktivitas menggunakan komputer yaitu 0.565 (POR=0,68, 95%CI 0,18-2,52) dan aktivitas bermain video game yaitu 0.862 (POR= 1,11, 95% CI 0,33-3,65) sehingga hipotesis nol yang diterima yaitu tidak ada hubungan antara jenis kelamin, faktor genetik, aktivitas menggunakan komputer dan bermain video game dengan kejadian miopia.
5.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan software statistik serta disesuaikan dengan tujuan penelitian, maka pembahasan hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
5.3.1 Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Kejadian Miopia
Dari 21 pelajar dengan yang menderita miopia, didapatkan bahwa proporsi kejadian miopia lebih banyak pada perempuan dibandingkan dengan
laki-laki. Melalui hasil analisa data dengan menggunakan uji statistik Chi square didapatkan p value 0.612 (p>0.05), dapat diartikan bahwa H0 diterima atau dapat dikatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian miopia.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Supartolo bahwa penderita miopia pada pelajar perempuan lebih besar dari laki-laki dengan angka perbandingan 1,4:1.25 Pada penelitian yang dilakukan oleh Al-Rowaily M.A tahun 2009 melaporkan dari 1319 anak, didapatkan 60 (4,5%) anak dengan kelainan miopia (4,2% anak laki-laki dan 4,9% perempuan) dan tidak ada perbedaan yang bermakna. Sebaliknya, oleh Lee DJ dkk tahun 2000 melaporkan adanya perbedaan prevalensi antara anak laki-laki dan perempuan, dimana perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. 26 Penelitian Khader et al. (2006) yang menyatakan bahwa pelajar perempuan lebih banyak ditemui menderita miopia. Hal ini dikarenakan wanita memiliki aktifitas di luar ruangan yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki, sehingga perempuan memiliki risiko miopia lebih besar daripada laki-laki. Aktivitas yang dilakukan diluar ruangan seperti olahraga dapat memberikan intensitas cahaya yang lebih banyak sehingga mengurang daya akomodasi dan mengurang pelepasan dopamin oleh retina untuk mengurangi elongasi mata, sehingga dapat menurunkan risiko miopia. 27
5.3.2 Hubungan Antara Faktor Genetik Dengan Kejadian Miopia
Melalui hasil analisa data dengan menggunakan uji statistik Fisher didapatkan p value 0,214 (p>0.05), dapat diartikan bahwa H0 diterima atau dapat dikatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor genetik dengan kejadian miopia. Proporsi kejadian miopia pada kelompok yang memiliki anggota keluarga yang berkacamata rabun jauh dibandingkan yang tidak memiliki keluarga berkacamata rabun jauh, walaupun secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna. Menurut Lyhne et al, faktor genetik tidak berpengaruh terhadap kelainan miopia.25 Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Donald O. Mutti, yang menyatakan bahwa keturunan merupakan faktor terpenting yang berhubungan dengan miopia.28 Beberapa individu yang
menderita miopia, kemungkinan besar terkait dengan genetik jika terpajan oleh faktor lingkungan tertentu. Dengan kata lain, bukan miopia yang diturunkan, namun kelemahan dari individu terhadap kondisi lingkungan tertentu seperti aktivitas melihat dekat yang berlebihan. Menurut Saw, prevalensi miopia yang tinggi pada beberapa kelompok etnik tertentu (Cina dan Jepang) menunjukkan bahwa genetik memainkan peranan yang penting, namun perubahan prevalensi pada beberapa generasi terakhir menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga merupakan faktor yang penting.25
5.3.3 Hubungan Antara Aktivitas Melihat Jarak Dekat Dengan Kejadian Miopia
Dari tabel 6.2 didapatkan bahwa jumlah pelajar yang memiliki pola membaca buku berisiko dan menderita miopia adalah 18 orang (85,7%), sedangkan pelajar yang memiliki pola membaca buku berisiko tetapi tidak mengalami miopia berjumlah 11 orang (39,3%). Dari perhitungan nilai p didapatkan aktivitas membaca buku memiliki nilai p < 0,05 yaitu 0,001 (POR= 9.27, 95% CI 2,20-39.07) sehingga didapatkan hubungan yang bermakna antara membaca buku dengan kejadian miopia. Nilai POR yang didapatkan adalah lebih dari 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, hal ini berarti bahwa membaca buku dengan jarak dekat dan lama merupakan faktor risiko untuk terjadinya miopia. Penemuan ini sesuai dengan dengan yang ditemukan oleh Paras Parekh yaitu prevalensi miopia lebih tinggi pada pelajar yang membaca buku selama berjam-jam lebih lama dibandingkan dengan pelajar yang membaca sangat kurang.
Kebiasaan membaca buku dalam waktu lama dapat menyebabkan tonus siliaris menjadi tinggi sehingga lensa menjadi cembung yang mengakibatkan bayangan obyek jatuh di depan retina dan menimbulkan miopia.29
Hasil analisis hubungan antara aktivitas menonton TV dengan kejadian miopia diperoleh bahwa sebanyak 19 orang (90,5%) pelajar berisiko menderita miopia, sedangkan untuk subyek tidak berisiko sebanyak 13 orang (46,4%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,001 (POR= 10.96, 95% CI
2,13-56.24) maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara aktivitas menonton TV dengan kejadian miopia. Faktor gaya hidup ini didukung tingginya akses terhadap media aktivitas visual. Tingginya akses terhadap media visual ini apabia tidak diimbangi dengan pengawasan waktu dan jarak oleh orang tua dapat meningkatkan kejadian miopia. Menurut sebuah penelitian, menonton TV lebih dari 2 jam sehari dengan jarak lebih dari 2 meter dapat meningkatkan resiko terjadinya kelainan tajam penglihatan. 25
Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas menggunakan komputer dan bermain video game dengan miopia. Hasil ditunjukkan dari hasil uji statistik Chi-square diperoleh aktivitas menggunakan komputer p=0.565 (p> 0,05) dan bermain video game p=0,862 (p>0,05). Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Fantika yang memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara menggunakan komputer dengan miopia.
30 Ilmuan Jepang mengatakan bahwa penggunaan komputer yang lama dapat menyebabkan miopia, peneliti menganalisis hasil studi terhadap 100 pelajar, menemukan bahwa pelajar yang menggunakan komputer terus menerus selama beberapa jam akan meningkatkan risiko mereka menderita miopia.31 Namun, hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Bei Lu dkk yang menyatakan bahwa menggunakan komputer dan bermain video game tidak ada beda antara anak yang miopia dengan bukan miopia.30 Saw melalui penelitiannya terhadap anak usia sekolah di Singapore menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas melihat jarak dekat dengan kejadian miopia. 32 Alasan adanya perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh karena pengambilan sampel yang terlalu sedikit sehingga tidak dapat digeneralisasikan ke populasi terjangkau secara statistika.
Terdapat teori yang menyatakan bahwa faktor gaya hidup yaitu aktivitas melihat dekat yang terlalu banyak, seperti membaca buku, menonton TV, melihat layar komputer, bermain video game, dapat menyebabkan melemahnya otot siliaris mata sehingga mengakibatkan
gangguan otot untuk melihat jauh. Daerah perkotaan yang padat juga mengakibatkan sempitnya ruang bermain sehingga anak cenderung melakukan aktivitas bermain di dalam ruangan yang jarang menggunakan penglihatan jauh. 25
Oleh Rose KA dkk tahun 2008 melalui penelitiannya tentang hubungan kebiasaan atau aktivitas luar rumah dalam menurunkan kelainan miopia pada pelajar melaporkan aktivitas luar rumah yang tinggi (olahraga dan bermain di luar) risiko yang lebih rendah menderita miopia dibandingkan dengan anak yang melakukan kegiatan aktivitas dekat dan kurang aktivitas luar rumah. 26
Dengan demikian faktor gaya hidup dapat menyebabkan miopia yang bertentangan dengan keyakinan beberapa ilmuan bahwa miopia adalah murni genetik. Salah satu alasan tentang hubungan aktivitas melihat jarak dekat dengan miopia adalah akomodasi. Selama proses akomodasi terjadi peningkatan tekanan di bagian posterior bola mata yang ditentang oleh sklera, yang lama kelamaan dapat menyebabkan peningkatan panjang aksial bola mata. Jadi sinar yang datang dari tak terhingga difokuskan di depan retina dan menghasilkan miopia.30
.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Didapatkan hubungan yang bermakna antara aktivitas melihat jarak dekat yaitu membaca buku dan menonton TV dengan kejadian miopia pada pelajar SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia.
2. Secara stastistik tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, faktor genetik, menggunakan komputer dan bermain video game) dengan kejadian miopia pada pelajar SMK. ST. Patrick di Sabah, Malaysia pada penelitian ini.
6.2 Saran
1. Skrining kelainan tajam penglihatan terutama miopia dianjurkan untuk dilakukan di tiap-tiap sekolah atau secara berkala pada anak usia sekolah.
2. Mengingat bahwa miopia berhubungan dengan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas melihat jarak dekat, sebaiknya orang tua yang mempunyai anak usia sekolah mulai mengkombinasikan kegiatan anak-anaknya dengan kegiatan aktivitas fisik di luar ruangan.
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut dalam jumlah sampel yang jauh lebih besar dengan mengevaluasi kelainan miopia pada anak usia sekolah
4. Faktor genetik cenderung tidak dapat dihindari.walaupun demikian, hal
4. Faktor genetik cenderung tidak dapat dihindari.walaupun demikian, hal