GAMBARAN UMUM SEKOLAH
2.7 Aktivitas Sekolah
Aktivitas Sekolah Dasar Siti Hajar dimulai pada pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB pada hari Senin hingga Jumat. Kegiatan yang dilakukan pada hari Senin diawali dengan upacara, dan pada hari Selasa diawali dengan
Gymnastic sedangkan untuk hari Rabu hingga Jumat diawali dengan kegiatan
Greeting (Asmaul Husna, Tahfidz, Tahsin Alquran/Iqra).
Sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai setiap kelas akan melakukan solat Dhuha terlebih dahulu. Kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 09.25 WIB sampai dengan pukul 11.20 WIB dan dilanjutkan dengan kegiatan solat Dzuhur, makan siang, sikat gigi dan istirahat. Setelah istirahat kegiatan belajar
dilanjutkan kembali pada pukul 13.45 WIB sampai dengan pukul 14.45 WIB diselingi dengan kegiatan juice time selama 15 menit dan dilanjutkan dengan kegiatan belajar kembali. Kegiatan akhir sekolah ditutup dengan solat Ashar. Rincian aktivitas yang dilakukan pada Sekolah Dasar Siti Hajar ditampilkan pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Rincian Aktivitas pada Sekolah Dasar Siti Hajar
Pukul Hari
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
07.30 - 08.00 Ceremony Gymnastic
08.00 - 08.30 Greeting (Asmaul Husna, Tahfidz, Tahsin Alqur’an/ Iqra’) 08.30 - 09.25 Dhuha/ Snack Time / Break
09.25 - 12.20 Kegiatan Belajar Mengajar
12.20 - 13.45 Dzuhur/ Lunch Time / Brushing Teeth / Break Time
13.45 -14.45 Kegiatan Belajar Mengajar
14.45 -15.00 Juice Time
15.00 - 16.00 Kegiatan Belajar Mengajar Assembly/Scout
16.00 - 16.30 Ashar andGoing Home Sumber: Tata Usaha Sekolah Dasar Siti Hajar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam beraktifitas sering kali membutuhkan suatu alat yang dirancang atau didesain khusus untuk membantu pekerjaan manusia agar menjadi lebih mudah. Desain yang tepat membuat pekerjaan akan terasa lebih ringan, nyaman dan cepat yang dapat diperoleh dengan penerapan data antropometri.
Anthropometry menurut Stevenson (1989) adalah kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut digunakan untuk penanganan masalah desain. Hasil pengukuran ini berguna untuk merancang tempat kerja ataupun produk yang sesuai dengan ukuran tubuh operator atau pengguna, karena tidak memungkinkan untuk merancang tempat kerja yang mampu mengakomodasi semua ukuran dimensi tubuh pekerja (yang terbesar dan terkecil), maka sangat dipentingkan untuk merancang tempat kerja yang mencakup kebutuhan mayoritas pengguna.
Sekolah adalah rumah kedua bagi siswa yang bertujuan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa. Siswa menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka sehari-hari yaitu antara 5 sampai 8 jam perhari disekolah. Siswa menghabiskan sekitar 80% dari waktu disekolah dengan berada didalam kelas untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti membaca, menulis, menggambar dan aktivitas lain yang membuat siswa duduk secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Faktor yang menunjang proses belajar mengajar
salah satu diantaranya adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang baik antara lain meja dan kursi. Perancangan meja dan kursi yang baik perlu mempertimbangkan faktor-faktor ergonomi dan antropometri sehingga keberadaan meja dan kursi tersebut benar-benar membantu anak dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Adekunle Ibrahim Musa (2011) yang berjudul Kajian dan Evaluasi Antropometri Terhadap Rancangan Furniture Sekolah di Nigeria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan furniture
untuk anak-anak pada usia 12 tahun sangat tidak sesuai dengan anak-anak yang berusia 17 tahun. Apabila furniture dirancang berdasarkan dimensi dari anak-anak mulai dari 12 tahun hingga 17 tahun maka tidak akan sesuai untuk semua kelompok umur. Oleh karena itu, dalam penelitian ini semua siswa dibagi kedalam tiga kelompok umur yaitu 12-13 tahun, 14-15 tahun, dan 16-17 tahun. Perancangan furniture berdasarkan tiga kelompok umur tersebut dilakukan dengan menerapkan nilai persentil 5th, 50th, dan 95th.
Ketidaksesuaian antara dimensi antropometri siswa terhadap fasilitas sekolah merupakan penyebab dari banyak keluhan yang dihadapi oleh siswa-siswi didalam dan diluar sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Raja Ariffin (2010) di Malaysia mengenai ketidaksesuaian antara furniture kelas terhadap dimensi tubuh siswa Sekolah Menengah di Malaysia. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data antropometri dari 300 pelajar yang berumur 13-17 tahun disekolah Kuantan, Pahang. Data menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan yang besar antara dimensi tubuh pelajar dengan furniture
kelas. Berdasarkan pengolahan data diketahui bahwa kursi dan meja terlalu tinggi bagi sebagian besar pelajar. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa furniture
kelas yang digunakan dapat menimbulkan resiko masalah punggung di masa yang akan datang bagi para pelajar. Meja dan kursi sekolah yang ergonomis akan membuat anak merasa aman, nyaman dan sehat. Sebaliknya, jika meja dan kursi tidak ergonomis, pemakainya akan cepat merasakan lelah dan mengalami keluhan
musculoskeletal (Putri Hapsari, 2011).
Berdasarkan pengamatan di Sekolah Dasar Siti Hajar, meja dan kursi yang digunakan memiliki ukuran yang sama mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI, sedangkan dimensi tubuh anak kelas 1 sangat jauh berbeda dengan tubuh anak yang duduk dikelas 6. Gambaran sikap duduk anak saat belajar dengan menggunakan kursi dan meja ditampilkan pada Tabel 1.1.
Berdasarkan paparan pada Tabel 1.1 tampak bahwa meja dan kursi terlalu tinggi bagi siswa sehingga membuat 99,6 % posisi kaki siswa mulai dari kelas satu hingga kelas enam berada dalam keadaan menggantung (tidak menyentuh lantai) saat menggunakan kursi dan meja. Tinggi meja membuat 100 % lengan siswa terangkat hampir sejajar bahkan melebihi tinggi bahu saat menulis. Lebar kursi juga terlalu besar sehingga posisi duduk siswa maju kedepan dan tidak bersandar. Posisi kaki yang menggantung menyebabkan paha tertekan, peredaran darah terhambat dan mengakibatkan melemahnya stabilitas tubuh. Landasan tempat duduk yang terlalu lebar akan membuat bagian ujung dari landasan akan menekan daerah tepat dibelakang lutut yang dapat menimbulkan ketidaknyaman dan gangguan pada peredaran darah. Posisi duduk yang tidak bersandar
menyebabkan kelelahan, ketidaknyamanan dan sakit dibagian punggung (Panero Zelnik, 2003).
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan Standard Nordict Questionaire, posisi tubuh yang tidak normal mengakibatkan siswa sering mengalami keluhan musculoskeletal dengan kategori agak sakit, sakit dan sangat sakit. Lima keluhan yang paling sering dialami siswa saat belajar dengan menggunakan kursi dan meja adalah keluhan kaku dileher bagian atas sebesar 80%, keluhan pada bagian pinggang sebesar 73%, keluhan pada tangan kanan sebesar 73%, keluhan pada lengan bawah kanan sebesar 70%, dan keluhan lengan atas kanan sebesar 70%.
Ketidaksesuaian dimensi meja dan kursi mengakibatkan postur tubuh siswa Sekolah Dasar Siti Hajar berada pada posisi tubuh yang tidak normal saat menggunakannya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk meminimalisasi ketidaksesuaian meja dan kursi sekolah terhadap siswa sehingga dapat mengurangi keluhan musculoskeletal dengan membuat perancangan meja dan kursi berdasarkan antropometri dan tingkatan kelas siswa.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dihadapi adalah adanya keluhan musculoskeletal disorders pada leher bagian atas, pinggang, tangan kanan, lengan bawah kanan dan lengan atas yang dialami anak ketika menggunakan meja dan kursi sekolah. Hal ini disebabkan karena meja dan kursi sekolah yang digunakan tidak ergonomis dan tidak sesuai terhadap dimensi antropometri tubuh siswa.
Tabel 1.1 Gambaran Sikap Duduk Siswa Kelas I Hingga Kelas VI Saat Menggunakan Meja dan Kursi Sekolah
KELAS I KELAS II KELAS III
1.3 Tujuan Penelitian