• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengukuran kinerja yang diperjanjikan dalam Penetapan Kinerja (PK), evaluasi dan analisis capaian kinerja termasuk didalamnya keberhasilan dan kegagalan pencapaian target serta hambatan/kendala yang dihadapi dan langkah antisipatif yang akan diambil untuk perbaikan di tahun sebelumnya. Disajikan pula akuntabilitas keuangan yang mencakup alokasi dan realisasi anggaran dengan pencapaian sasaran termasuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu dijelaskan tentang capaian teknologi yang diperoleh dan adanya perjanjian kerja sama dengan instansi lain.

Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan tinjauan secara umum tentang keberhasilan,

kegagalan, permasalahan dan kendala serta upaya tindak lanjut untuk perbaikan tahun mendatang.

Lampiran, pada bab ini berisi data dukung yang diperlukan dalam

BAB II. PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) III Tahun 2015 – 2019, telah mengamanatkan untuk terus melakukan pembangunan perikanan budidaya secara berkelanjutan, karena diyakini dengan potensi dan kekuatan yang ada, perikanan budidaya mampu memberi kontribusi pada 9 (sembilan) agenda pembangunan nasional pemerintah (NAWACITA), diantaranya mewujudkan kemandirian ekonomi (termasuk pembudidaya ikan), dan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi budidaya yang memiliki daya saing, serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya. Penjabaran pelaksanaan pembangunan perikanan budidaya, lebih lanjut dituangkan dalam buku Rencana Strategi (RENSTRA) Perikanan Budidaya 2015 - 2019.

Kebijakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2015 – 2019 adalah mengembangkan program dan kegiatan untuk tercapainya sasaran strategis perikanan budidaya. Arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya tahun 2015-2019 adalah : (i) Meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya; (ii) Meningkatkan daya saing dan potensi ekonomi sumberdaya perikanan budidaya; dan (iii) Meningkatkan kelestarian dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya.

Oleh karena itu, guna mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih terarah, terukur, konsisten dan akuntabel diperlukan visi dan misi yang dapat menggambarkan harapan dan kenyataan yang akan diperoleh melalui kebijakan dan program serta kegiatannya, maka Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon menetapkan visi, misi dan tujuan pengembangan perikanan budidaya sebagai berikut :

2.1. Visi Misi Pembangunan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2015 – 2019 adalah :

“Mewujudkan sector kelautan dan perikanan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasis kepentingan nasional”. Sedangkan misi yang akan dilaksanakan KKP guna mewujudkan visi

tersebut adalah :

1. Kedaulatan (sovereignty), yakni mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berdaulat guna menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Keberlanjutan (Sustainability) yakni mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

3. Kesejahteraan (Prosperity) yakni mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri, serta berkepribadian dalam kebudayaan.

2.2. Visi Misi Pembangunan Perikanan Budidaya

Visi pembangunan perikanan budidaya adalah “Mewujudkan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, berbasiskan kepentingan nasional”. Sementara misi pembangunan budidaya dalam mewujudkan visinya adalah :

1. Mewujudkan kemandirian perikanan pembudidaya melalui pemanfaatan sumberdaya berbasis pemberdayaan masyarakat.

2. Mewujudkan produk perikanan budidaya berdaya saing melalui peningkatan teknologi inovatif.

3. Memanfaatkan sumberdaya perikanan budidaya secara berkelanjutan.

2.3. Visi Misi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon

Sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon bertanggung jawab untuk membantu dalam penyelenggaraan pembangunan perikanan budidaya laut di lingkup wilayah kerjanya adapun visi dan misi yang ingin diwujudkan oleh BPBL Ambon dalam periode 2015 – 2019 adalah sebagai berikut :

Visi BPBL Ambon tahun 2015 – 2019 yakni“Mewujudkan Balai Perikanan Budidaya

Laut Ambon sebagai institusi pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan system budidaya laut yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.” Sedangkan misi yang diemban oleh BPBL Ambon guna mewujudkan visi

tersebut adalah :

1. Mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha.

2. Meningkatkan kapasitas kelembagaan.

3. Memfasilistasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan.

gamababa ga

Gambar 2. Partisipasi dalam forum akuakultur kawasan regional (asia-pasific Aquaculture 2016)

2.4. Tujuan BPBL Ambon

Rumusan rencana strategis ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi BPBL Ambon. Penetapan tujuan adalah hal yang penting sebagai dasar penentuan arah strategis dan perubahan serta perbaikan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang, yaitu mewujudkan misi BPBL Ambon yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka tujuan BPBL Ambon ditetapkan sebagai berikut : 1. Tersedianya paket teknologi budidaya laut yang adaptif;

2. Terwujudnya BPBL Ambon sebagai institusi yang produktif;

3. Terselenggaranya kegiatan pengendalian hama dan penyakit ikan dalam menunjang pengembangan kawasan budidaya laut yang menerapkan system usaha yang berdaya saing berkelanjutan dan berkeadilan.

2.5. Sasaran Strategis BPBL Ambon

Mengacu pada sasaran strategis pembangunan perikanan budidaya 2015 – 2019 sebagai penjabaran visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan ditetapkan melalui tahapan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dana rah kebijakan yang terbagi menjadi empat perspektif dalam bentuk peta sasaran strategis BPBL Ambon.

Tabel 1. Sasaran strategis BPBL Ambon

PERSPECTIVE SASARAN STRATEGIS

STAKEHOLDER PERSPECTIVE  Terwujudnya kesejahteraan

masyarakat perikanan budidaya.

COSTUMER PERSPECTIVE  Terwujudnya pengelolaan sumberdaya

perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan.

INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE  Terselenggaranya tata kelola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan.

 Terselenggaranya pengendalian dan

pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan yang professional dan partisipatif.

LEARN & GROWTH PERSPECTIVE  Terwujudnya aparatur sipil negara

(ASN) BPBL Ambon yang kompeten, professional dan berkepribadian.

 Tersedianya manajemen pengetahuan

yang handal dan mudah diakses.  Terwujudnya birokrasi yang efektif,

efisien dan berorientasi pada layanan prima.

 Terkelolanya anggaran pembangunan

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

STAKEHOLDER PERSPEKTIVE

1. Terwujudnya kesejahteraan masyarakatPerikanan Budidaya

1. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 102,5 2. Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 8 3. Rata-rata Pendapatan Pembudidaya (Rp) 3.050.000

CUSTOMER PERSPEKTIVE

2. Terwujudnya pengelolaan sumberperikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan

4. Jumlah produksi benih (ekor) 460.000 5. Jumlah Produksi Induk unggul diUPT/UPTD (ekor) 2.000 6. Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) 750.350.000

7.

Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dapat dikendalikan

melalui surveilance (kawasan) 8

8.

Jumlah kawasan budidaya yang mendapat penanganan mutu lingkungannya (kab/kota)

8

INTERNAL PROCESS PERSPEKTIVE

3.

Terselenggaranya tata kelola

pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan

9. Jumlah unit pembenihan yang siapdisertifikasi CPIB (unit) 1 10. Jumlah unit pembudidaya yang siapdisertifikasi CBIB (unit) 2 11. Jumlah bantuan benih ikan (ekor) 248.000 12.

Jumlah Laboratorium penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang

memenuhi standar teknis (unit) 1 13. Jumlah hasil perekayasaan teknologiterapan bidang perikanan budidaya

(paket) 5

14 Jumlah lokasi restocking (lokasi) 1

4.

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif

15. Pelayanan laboratorium kesehatan ikandan lingkungan (sampel) 990

LEARNING AND GROWTH PERSPEKTIVE

5. Terwujudnya ASN BPBL Ambon yangkompeten, profesional dan berintegritas 16. Indeks kompetensi dan integritas BPBLAmbon 80

6. Tersedianya manajemen pengetahuanBPBL Ambon yang handal dan mudah

diakses 17.

Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang

terstandar (%) 65

7. Terwujudnya birokrasi BPBL Ambon yangefektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

18. Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi DJPB A (80) 19. Tingkat Maturitas SPIP (level) 2 20. Persentase tindak lanjut direktif pimpinan(%) 100 21. Nilai AKIP Lingkup DJPB 85

8. Terkelolanya anggaran pembangunansecara efisien dan akuntabel

22. Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon (%) 85 23. Persentase Kepatuhan terhadap SAPlingkup BPBL Ambon (%) 100

2.6. Pengukuran Kinerja

Dalam rangka mengukur capaian indikator kinerja tahun 2015, BPBL Ambonmenerapkan pengelolaan kinerja berbasis Balanced Scorecard (BSC). Pengukuran capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

1. Data yang dimasukkan sebagai pencapaian kinerja merupakan data yang telah diverifikasi oleh tim Strategic Management Office (Tim Pengelola Kinerja BPBL Ambon) sebagai data mutakhir yang diambil dari sumber data yang tepat;

2. Status capaian IKU yang ditunjukkan dengan warna merah/kuning/hijau, ditentukan oleh Indeks Capaian IKU.

3. Angka maksimum indeks capaian setiap IKU ditetapkan sebesar 120%.

Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung persentase pencapaian target indikator kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:

1. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Maximize.

Indeks Capaian = realisasitarget x 100%

IKU yang memiliki polarisasi maximize merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja lebih tinggi dari nilai target yang ditetapkan. 2. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Minimize.

Indeks Capaian = 1 + 1 - realisasitarget x 100%

IKU yang memiliki polarisasi minimize merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja lebih rendah dari nilai target yang ditetapkan. 3. Perhitungan untuk IKU yang memiliki polarisasi Stabilize.

I = In+ (C(In+1- In)

n+1- Cn) (C - Cn)

Keterangan :

I = indeks capaian C = capaian, dengan ketentuan:

In = indeks capaian di bawahnya apabila realisasi > target, maka:

Cn+1 = capaian di atasnya

IKU yang memiliki polarisasi stabilize, merupakan indikator kinerja yang menunjukkan ekspektasi arah pencapaian indikator kinerja diharapkan berada dalam suatu rentangtarget tertentu.Apabila hasil perhitungan nilai capaian IKU melampaui target, akan menghasilkan nilai maksimal 110%. Karena IKU stabilize mengharapkan capaian dalam rentang tertentu di sekitar target, maka capaian yang dianggap paling baik adalah capaian yang tepat sesuai dengan target.

BAB. III AKUNTABILITAS DAN KEUANGAN

3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

Pengukuran capaian IKU, bab ini menguraikan tentang indikator kinerja kegiatan, penjelasan tentang capaiannya, kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian indikator kinerja kegiatan dan permasalahan yang dihadapi serta upaya penyelesaiannya termasuk langkah antisipasi yang dilakukan pada tahun berjalan.

Tabel 2.Capaian IKU dalam Penetapan Kinerja Berbasis BSC (Balance Score Card) Tahun 2017

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJAURAIAN

TARGET

TAHUN 2017 TRIWULAN IREALISASI 2017 REALISASI TRIWULAN I 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN Stakeholder Perspective 1 Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya

1 Nilai Tukar Pembudidaya

Ikan (NTPi) 102,25 - - - NonKumulatif,dihitung bulanan. 2 Pertumbuhan PDB

Perikanan (persen) 8 - - - NonKumulatif,dihitung triwulanan.

3. Rata-rata PendapatanPembudidaya (Rp) 3.050.000 - - - NonKumulatif,dihitung triwulanan. Customer Perspective 2 Terwujudnya pengelolaan sumber perikanan budidaya yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan

4 Jumlah Produksi benih yang dihasilkan di UPT/UPTD (Ekor)

460.000 54.528 82.500 11.85 Non Kumulatif, dihitung triwulanan 5 Jumlah Produksi induk

unggul yang dihasilkan UPT/UPTD (Ekor)

2.000 0 375 0 Kumulatif, dihitung

triwulanan. 6 Persentase peningkatan

PNBP BPBL Ambon (%) 750.350.000 111.360.950 238.879.300 14.84 Kumulatif, dihitungtriwulanan. 7 Jumlah kawasan budidaya

yang disurvailan dan atau dimonitoring penyakit ikannya (Kab/kota)

8 1 1 12.50 Kumulatif, dihitung

triwulanan. 8 Jumlah kawasan budidaya

yang mendapat penanganan mutu lingkungannya (kab/kota)

8 0 0 0 Kumulatif, dihitung

triwulanan. Internal Process Perspective

3 Terselenggaranyatata kelola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkeadilan, berdaya saing dan berkelanjutan

11 Jumlah Bantuan Benih

Ikan (Ekor) 248.000 31.300 0 12.62 Non Kumulatif,dihitung triwulanan. 12 Jumlah Laboratorium

penyakit ikan, kualitas air, pakan dan residu yang memenuhi standar teknis (unit) 1 0 0 0 Kumulatif, dihitung di akhir tahun 13 Jumlah hasil perekayasaan teknologi terapan bidang perikanan budidaya 5 0 0 0 Non Kumulatif, dihitung triwulanan.

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJAURAIAN

TARGET

TAHUN 2017 TRIWULAN IREALISASI 2017 REALISASI TRIWULAN I 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN - Bidang Pembesaran

ikan 1 - 0 - Non Kumulatif,dihitung triwulanan.

14 Jumlah lokasi restocking

1 2 0 200 Non Kumulatif,dihitung triwulanan. 4 Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang profesional dan partisipatif.

15 Jumlah Sampel yang diuji dalam rangka pelayanan leboratorium kesehatan ikan dan lingkungan

(Sampel) 990 384 442 38.79

Non Kumulatif, dihitung triwulanan.

Learning and Growth Perspective

5 Terwujudnya ASN BPBL Ambon yang kompeten, profesional dan berintegritas

16 Indeks Kompetensi dan integritas BPBL Ambon 80 - - -Non Kumulatif, dihitung di akhir tahun. 6 Tersedianya manajemen pengetahuan BPBL Ambon yang handal dan mudah diakses

17 Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan

terstandar (%) 65 - -

-7 Terwujudnya birokrasi BPBL Ambon yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

18 Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BPBL Ambon

A (80) - -

-19 Tingkat Maturitas SPIP (level)

2 - -

-20 Persentase tindak lanjut direktif pimpinan (%)

100 - -

-21 Nilai AKIP lingkup DJPB

85 - - -9 Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel

22 Nilai kinerja anggaran BPBL Ambon (%)

85 - -

-23 Persentase kepatuhan terhadap SAP lingkup

BPBL Ambon (%) 100 - -

-3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja

Bagian berikut menguraikan tentang evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan dan analisis capaian kinerja dari sasaran strategis.

SASARAN STRATEGIS 1: TERWUJUDNYA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELAUTAN DAN PERIKANAN

Pencapaian sasaran strategis tersebut dilakukan dengan IKU (1) Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) dan (2) Pertumbuhan PDB Perikanan, dan (3) Rata-rata pendapatan pembudidaya (Tabel 3).

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJAURAIAN

TARGET TAHUN 2017 TRIWULAN IREALISASI 2017 REALISASI TRIWULAN I 2016 % CAPAIAN TERHADAP TARGET TAHUN 2017 KETERANGAN Stakeholder Perspective 1 Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya 1 Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 102,25 - - -Non Kumulatif, dihitung bulanan. 2 Pertumbuhan PDB

Perikanan (persen) 8 - - - Non dihitungKumulatif,

triwulanan. 3. Rata-rataPendapatan Pembudidaya (Rp) 3.050.000 - - -Non Kumulatif, dihitung triwulanan.

IKU 1 : Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)

Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan (It) terhadap indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan (Ib). NTPi merupakan indikator tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya ikan, sehingga dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan/daya keluarga pembudidaya ikan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya. Semakin tinggi NTPi, maka akan semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli pembudidaya. Beberapa kendala dalam pencapaian target NTPi diantaranya adalah biaya pakan yang tinggi dan fluktuatif. Pakan merupakan komponen paling besar dalam suatu kegiatan budidaya ikan (40 – 70%), hal ini menunjukan bahwa pakan mempengaruhi tinggi rendahnya produksi ikan. Sebagian besar bahan baku pakan pada saat ini masih mengandalkan impor, trend permintaan bahan baku pakan akan mengalami kenaikan seiring dengan peningkatan aktivitas atau kebutuhan budidaya ikan. Hal ini lambat laun akan berpengaruh dalam kegiatan produksi, dimana akan terjadi competitor harga di pasaran. Diperlukan alternative cara guna menekan biaya produksi pakan dalam kegiatan budidaya, saat ini pemanfaatan pakan berbahan baku local terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan budidaya dengan harga yang relative lebih murah sehingga pembudidaya dapat

IKU 2 : Pertumbuhan PDB Perikanan (persen)

PDB perikanan diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa perikanan yang diproduksi dalam jangka waktu tertentu (per tahun). Angka persentase pertumbuhan PDB Perikanan diperoleh dengan membandingkan nilai PDB Perikanan (berdasarkan harga konstan) tahun berjalan dibandingkan dengan nilai PDB Perikanan tahun sebelumnya. Pertumbuhan PDB merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan termasuk di dalamnya perikanan budidaya. Capaian konstribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional, diantaranya berasal dari kegiatan perikanan budidaya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan turut memegang peranan untuk mendorong pertumbuhan PDB nasional.Untuk meningkatkan PDB perikanan ini salah satu langkah yang dilakukan adalah peningkatan produksi perikanan budidaya melalui industrialisasi perikanan budidaya, pengembangan kawasan minapolitan perikanan budidaya dan penerapan blue economy perikanan budidaya.

IKU 3 : Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp)

Pendapatan (Stice, Skousen, 2004, 230), didefinisikan sebagai berikut : “Pendapatan adalah sebagai arus masuk atau kenaikan-kenaikan lainnya dari nilai harta suatu satuan usaha atau penghentian hutang- hutangnya atau kombinasi dari keduanya dalam suatu periode akibat dari penyerahan atau produksi barang-barang, penyerahan jasa-jasa, atau pelaksanaan aktivitas-aktivitas lainnya yang membentuk operasi utama atau sentral yang berlanjut terus dari satuan usaha tersebut.”

Pendapatan masyarakat nelayan pembudidaya bergantung terhadap pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang terdapat di lautan. Pendapatan masyarakat nelayan secara langsung maupun tidak akan sangat mempengaruhi kualitas hidup mereka, karena pendapatan dari hasil berlayar merupakan sumber pemasukan utama atau bahkan satu-satunya bagi mereka, sehingga besar kecilnya pendapatan akan sangat memberikan pengaruh terhadap kehidupan mereka, terutama terhadap kemampuan mereka dalam mengelola lingkungan tempat hidup mereka.

Menurut Sitorus (1994) pendapatan adalah jumlah kegunaan yang dapat dihasilkan melalui suatu usaha. Pada hakikatnya jumlah uang yang diterima oleh seseorang produsen (nelayan/petani ikan) untuk produksi yang dijualnya tergantung dari:

1. Jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen 2. Jumlah produk yang dipasarkan

Tabel 4. Capaian IKU “Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp) Triwulan I tahun 2017”.

IKU 2017 IKU 2016 Ket

Rata-Rata Pendapatan pembudidaya (Rp) Nilai Adopsi

- Target Tahunan 3.050.0000

- Realisasi Triwulan I 0

- Persentase capaian tahunan (%)

0

SASARAN STRATEGIS 2 : TERWUJUDNYA PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BUDIDAYA YANG PARTISIPATIF, BERTANGGUNG JAWAB DAN BERKELANJUTAN

IKU 4 : Jumlah Benih dengan Mutu Terjamin (ekor)

Target jumlah benih yang harus diproduksi oleh BPBL Ambon tahun 2017 sebesar 460.000 ekor. Capaian dari indikator pada triwulan I ini adalah sebesar 54.528 ekor atau 11,85% dari target yang telah ditetapkan. Benih yang dihasilkan terdiri atas benih ikan konsumsi sebanyak 41.650 ekor dan benih ikan hias laut 12.878 ekor.

Tabel5. Capaian IKU “Produksi Benih dengan Mutu Terjamin Triwulan I tahun 2017”.

Produksi Benih dengan Mutu Terjamin (Ekor) Keterangan

IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif, dihitung di triwulanan.

- Target Tahunan 460.000 415.000

- Target Triwulan I 77.500 82.500

- Realisasi Triwulan I 54.528 42.200

- Persentase capaian tahunan (%) 11,85 10,7

Penganggaran kegiatan produksi benih pada tahun 2017 ini dipaparkan menjadi beberapa point kegiatan yakni :

 Operasional Pengelolaan Induk, senilai Rp. 374.020.000,- Operasional produksi benih ikan laut, senilai Rp. 342.000.000,- Operasional produksi benih ikan hias laut, senilai Rp. 422.500.000,- Operasional produksi pakan alami, senilai Rp.

193.700.000,- Pengadaan peralatan dan mesin produksi benih, senilai Rp.

pembenihan yang tepat disesuaikan dengan kebiasaan setiap species ikan, karena setiap ikan memiliki toleransi yang berbeda dalam tingkat stressnya. Kedua tingkat serangan penyakit yang tinggi pada stadia larva dan benih. Pada ikan konsumsi, serangan penyakit virus VNN (viral

nervous necrocis) banyak menyerang ikan konsumsi pada stadia ini. Gejala klinis berupa

kehilangan keseimbangan karena virus ini menyerang bagian otak dan mata. Infeksi VNN dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam kegiatan pemeliharaan. Ketiga adalah penanganan parameter kualitas media pemeliharaan, hal yang mungkin dilakukan adalah dengan menjaga suhu media hidup tetap optimal, yakni dengan penggunaan heater atau pemanas sehingga suhu dapat selalu terjaga, benih memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap fluktuasi perubahan parameter lingkungan.

Rencana aksi yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan produksi dan penjaminan kualitas benih yang dihasilkan antara lain melalui penerapan biosecurity di lingkungan hatchery secara ketat dan mengimplementasikan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Gambar 4. Kegiatan Distribusi Benih KJA BPBL Ambon

IKU 5 : Jumlah Produksi Induk dengan Mutu Terjamin (ekor)

Target jumlah produksi induk/calon induk unggul pada tahun 2017 yaitu 2000 ekor. Sampai akhir Triwulan I capaian produksi calon induk unggul masih nol (0) ekor, karena kegiatan distribusi broodstock belum dilakukan, ukuran bobot tubuh ikan belum mencapai standar calon induk dan sampai saat ini masih dilakukan pemeliharan. Komoditas induk yang diproduksi oleh BPBL Ambon meliputi jenis ikan konsumsi dan ikan hias. Produksi induk unggul ikan konsumsi yaitu kerapu macan, kakap putih dan bubara. Sedangkan produksi induk unggul ikan hias yaitu ikan hias clownfish dengan berbagai varian.

Penganggaran kegiatan produksi induk unggul pada tahun 2017 ini dipaparkan menjadi beberapa point kegiatan yakni :

 Operasional Pengelolaan produksi calon induk, senilai Rp. 750.000.000,- Operasional produksi benih ikan hias di KJA, senilai Rp.

61.280.000,-Kendala yang terjadi dalam produksi induk unggul, terutama penyediaan induk unggul ikan konsumsi adalah lamanya waktu / proses pemeliharaan yang bisa mencapai 2 tahun serta tingginya tingkat serangan penyakit iridovirus pada ukuran pembesaran. Sedangkan kendala pemenuhan calon induk ikan hias adalah dalam upayanya menghasilkan induk varian unggul seperti picasso, black photon, frostbite.

Rekomendasi terhadap terhadap kegiatan produksi induk unggul adalah meningkatkan laju pertumbuhan dengan menggunakan pakan ikan berkualitas yang didukung dengan menjaga kualitas media pemeliharaan, sarana dan prasarana pendukung budidaya agar tetap

Tabel6. Capaian IKU “Produksi Induk dengan Mutu Terjamin Triwulan I tahun 2017”.

Produksi Induk dengan Mutu Terjamin (Ekor) Keterangan

IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif, dihitung di triwulanan.

- Target Tahunan 2.000 1.500

- Target Triwulan I 324 375

- Realisasi Triwulan I 0 306

- Persentase capaian tahunan (%) 0 20,40

Gambar 5. Kegiatan Produksi Induk Ikan Konsumsi BPBL Ambon

Gambar 6. Kegiatan Produksi Induk Ikan Hias BPBL Ambon

IKU 6 : Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp)

Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BPBL Ambon Tahun 2017 adalah sebesar Rp 750.350.000. Sedangkan realisasi PNBP hingga akhir Triwulan I tahun 2017 adalah sebesar Rp 111.360.950 atau 14,84%. Capaian PNBP tersebut diperoleh dari penjualan hasil perikanan, pendapatan jasa lainnya.

Tabel7. Capaian IKU “Nilai PNBP BPBL Ambon Triwulan I Tahun 2017”.

Nilai PNBP BPBL Ambon (Rp) Keterangan

IKU 2017 IKU 2016 Kumulatif, dihitung di triwulanan.

- Target Tahunan 750.350.000 750.350.000

- Target Triwulan I 187.587.000

-- Realisasi Triwulan I 111.360.950 238.879.300

- Persentase capaian tahunan (%) 14,84 44,17

IKU 7 : Jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dilakukan survaillance dan atau monitoring (kawasan)

Timbulnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah akibat berbagai stressor, patogen yang virulen dan kualitas lingkungan yang memburuk. Ilustrasi ketiga komponen tersebut dalam bentuk lingkaran yang akan saling berinteraksi satu sama lain Penyakit ikan merupakan kendala utama dan penyebab kegagalan dalam kegiatan industri akuakultur. Tingkat serangan penyakit dari intesitas rendah hingga tinggi menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi pembudidaya.

IKU jumlah kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya dapat dikendalikan melalui survailan mulai ditetapkan pada tahun 2017, dimana indikator ini didefinisikan sebagai banyaknya kawasan budidaya yang penyakit ikan pentingnya disurveillance pada kurun waktu tertentu yang disertai tindakan pengendalian guna menekan tingkat prevalensi terhadap kejadian suatu serangan penyakit ikan. Keberhasilan atas indikator kinerja ini ditunjukkan

Dokumen terkait