• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

Dalam dokumen Urusan Pangan. Urusan Kelautan Perikanan (Halaman 21-45)

valuasi kinerja aparatur diukur dengan membandingkan antara penetapan indikator kinerja dan capaian indikator kinerja, sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program/kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Kabupaten Bandung sebagaimana tertuang dalam RPJMD yang teknis pelaksanaan sasaran tersebut diturunkan dalam Renstra PD.

A. Capaian Kinerja Organisasi Tahun 2016 BKPPP (Urusan Ketahanan Pangan)

Dalam Perjanjian Kinerja BKPP 2016, terdapat 3 indikator kinerja untuk Urusan Ketahanan Pangan, dengan kelompok sasaran program/kegiatan: keluarga miskin dan perempuan kepala rumah tangga miskin, ibu Rumah Tangga/Tim Penggerak PKK, dan pengrajin/pengolahan pangan lokal.

Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Urusan Pangan tahun 2016

TARGET PUSAT REALISASI 2015 % REALISASI 2016 TARGET KINERJA 2016 INDIKATOR KINERJA SASARAN 90 78,9 100,51 78,9 78,5 Persentase jumlah

ketersediaan Pangan Utama (skor PPH) (%)

Tercapainya kondisi ketahanan

pangan Persentase jumlah konsumsi 74,3 78,9 106,19 74,4 90 Pangan Utama (skor PPH) (%)

60 74,5 140 84 60 Terlaksananya cadangan

pangan pemerintah daerah (ton)

12 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

IKU: Persentase jumlah ketersediaan pangan utama (skor PPH) (%)

Berdasarkan Peraturan Presiden No 22 tahun 2009, skor PPH dijadikan indikator strategis untuk melihat kinerja Ketahanan Pangan. Standar Minimal Pelayanan (SPM) Urusan Ketahanan Pangan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65 tahun 2010 ditunjukkan oleh skor PPH sebesar 90, jumlah ketersediaan energi 2.400 kkal/kapita/hari dan jumlah ketersediaan protein 63 gram/kapita/hari. Adapun kriteria ketersediaan pangan menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah sebagai berikut:

a) Kurang dari 70% : defisit berat

b) 70-79% : defisit sedang

c) 80-89% : defisit ringan

d) 90-119% : normal

e) 120% ke atas : kelebihan/diatas AKE

Tabel 3.2 menunjukkan skor PPH Ketersediaan Kabupaten Bandung mencapai target kinerja yang telah ditetapkan yakni sebesar 78,9% (100,51%). Capaian skor PPh tersebut mengindikasikan bahwa:

- Energi dari padi-padian sudah mencapai skor maksimum (25,0) yang disertai dengan makin menurunnya skor umbi-umbian di bawah norma PPH (2,5); - Energi dari pangan hewani, sayur dan buah rendah dan di bawah norma PPH

(24,0);

- Energi dari minyak, kacang-kacangan dan gula relatif sudah memenuhi norma PPH.

Tabel 3. 2Realisasi Skor PPH Tiap Kelompok Pangan Kabupaten Bandung

No Kelompok Pangan Skor

Ideal Skor PPH KETERSEDIAAN PANGAN 2012 2013 2014 2015 2016 1 Padi-padian 25,0 25 25 25 25 25 2 Umbi-umbian 2,5 2,5 2,5 1,9 1,5 1,5

13 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

No Kelompok Pangan Skor

Ideal

Skor PPH KETERSEDIAAN PANGAN

2012 2013 2014 2015 2016

3 Pangan Hewani 24,0 24 24 15,1 14,8 14,8

4 Minyak dan Lemak 5,0 4,1 3,5 5 5 5

5 Buah/Biji Berminyak 1,0 0,3 0 0,04 0,1 0,1

6 Kacang-kacangan 10,0 10 10 8,3 10 10

7 Gula 2,5 0,9 0,9 1,2 1,7 1,7

8 Sayur dan Buah 30,0 30 30 30 20,9 20,9

9 Lain-lain 0 0 0 0 0 0

Total 100,0 96,8 95,9 86,6 78,9 78,9

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, situasi ketersediaan energi tahun 2012-2016 relatif fluktuatif (gambar 3.1). Total energi untuk dikonsumsi penduduk Kabupaten Bandung pada tahun 2016 sebesar 2.149 kkal/kap/hr atau 89,54% dari Angka Kecukupan Energi (AKE) 2400 kkal/kap/hr. Capaian kenaikan AKE 2016 merupakan yang terendah, capaian tertinggi selama kurun waktu 2012-2016 yaitu pada tahun 2013 sebesar 2.944 kkal/kap/hr. Adapun total protein untuk dikonsumsi penduduk Kabupaten Bandung tahun 2016 sebesar 66,7 gram/kap/hari atau 105,87% dari Angka Kecukupan Protein (AKP) 63 gram/kap/hr. Persen kenaikan AKP pada tahun ini juga tercatat paling rendah selama kurun waktu 2012-2016. Capaian AKP tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan protein sudah cukup baik, atau berada di atas standar AKP (gambar 3.2). Namun demikian secara umum, situasi ketersediaan pangan Kabupaten Bandung pada tahun 2016 masih terkategori defisit sedang atau baru mencapai 87,67% dari level normal (90%).

14 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

Gambar 3. 1 Situasi Ketersediaan Energi 2012-2016

Gambar 3. 2 Situasi Ketersediaan Protein 2012-2016

Mengacu pada Renstra Dinas Pangan dan Perikanan (tabel 1.1), target skor PPH untuk tahun 2016 adalah sebesar 83,6%. Target Renstra tersebut kemudian berubah/direvisi menjadi 78,5% berdasarkan hasil evaluasi/pengukuran kinerja tahun 2015, dimana capaian skor PPH menurun menjadi berada dikisaran 70%. Penyebab kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jumlah penduduk Kabupaten Bandung terus bertambah dengan laju 1,84% per tahun, dibandingkan dengan laju pertumbuhan produksi pangan 0,60% (SIPD Kabupaten Bandung, 2016). Produktivitas padi sawah untuk Kabupaten Bandung 5,99 ton/ha, padi

15 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 ladang 3,57 ton/ha (Jawa Barat dalam Angka, 2016). Tercatat, laju pertumbuhan ekonomi pertanian dari semula mampu tumbuh 2,24% di tahun 2014 melambat menjadi 0,67% di tahun 2015 (APE Kabupaten Bandung, 2015). Produksi tanaman bahan makanan memang sangat dipengaruhi pola musim tanam dan cuaca. Musim kemarau/kekeringan yang panjang terjadi pada tahun 2015 terutama berdampak terhadap produksi padi, palawija, sayuran, termasuk perikanan. Kondisi tersebut mengakibatkan terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan penyediaan domestik. Keberlanjutan ketersediaan pangan dihadapkan pada potensi pengembangan pangan dan sumberdaya air.

Tabel 3. 3 Situasi Ketersedian Pangan Kabupaten Bandung 2012-2016

No Kelompok Pangan Ketersediaan Energi (kkal/kap/hari) Ketersediaan Protein (Gr/Kap/Hari) 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 1 Padi-padian 1.419 1.363 1.373 1.234 1.234 35,5 34,1 34,5 30,6 30,5 2 Umbi-umbian 200 272 91 71 71 1,5 3,3 2 0,4 0,4 3 Pangan Hewani 295 289 182 178 178 26,5 23,1 16,4 16 16 4 Minyak dan Lemak 181 154 303 341 3410 0 0,1 0,1 0,1 0,1 5 Buah/Biji Berminyak 14 2 2 5 5 0 0 0 0 0 6 Kacang-kacangan 159 185 100 141 141 14,7 17,4 9 13,2 13,2 7 Gula 40 39 59 79 79 0 0 0,1 0,1 0,1

8 Sayur dan Buah 387 640 440 100 100 29,6 49,8 37,8 6,4 6,4

9 Lain-lain 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Total 2.685 2.944 2.551 2.149 2.149 107,9 127,8 99,9 66,7 66,7

16 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

IKU: Persentase jumlah konsumsi pangan utama (skor PPH) (%)

Selain skor PPH Ketersediaan, PPH konsumsi juga berfungsi sebagai instrumen sederhana untuk menilai situasi konsumsi pangan. Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin beragam dan seimbang.

Pada tahun 2016, skor PPH konsumsi pangan pun mencapai target kinerja yang ditetapkan sebesar 78,9% (106,19%). Namun demikian, hasil analisis

konsumsi tahun 2012 – 2016 menunjukkan skor PPH konsumsi Kabupaten

Bandung juga belum mencapai nilai optimal; masih berada dibawah nilai PPH Ideal yaitu sebesar 90%, yaitu berada dikisaran 70% atau kurang 20 poin dari PPH ideal. Dibandingkan tahun 2015, capaian skor PPH konsumsi tahun 2016 meningkat sebesar 6,05%. Capaian kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2013, yakni sebesar 10,56% dalam kurun waktu 2012-2016.

Tabel 3. 4 Situasi Konsumsi Pangan Kabupaten Bandung 2012-2016

No Kelompok Pangan

Konsumsi energi (kkal/kap/hari) Konsumsi Protein (gram/kap/hari) Skor PPH KONSUMSI PANGAN 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 1 Padi-padian 1.322 1.167 1.289 1.280 1.234 30,4 27,05 29,7 29,7 30,5 25 25 25 25 25 2 Umbi-umbian 45 31 43 44 71 0,5 0,34 0,5 0,5 0,4 1,1 0,8 1,1 1 1,5 3 Pangan Hewani 193 133 176 192 178 17,4 12,35 15,1 16,4 16 19,3 13,3 17,6 17,9 14,8 4 Minyak dan Lemak 301 231 291 300 341 0,1 0,07 0,1 0,1 0,1 5 5 5 5 5 5 Buah/Biji Berminyak 12 9 14 15 5 0,3 0,25 0,3 0,3 0 0,3 0,2 0,4 0,3 0,1 6 Kacang-kacangan 56 43 56 56 139 5,7 4,47 5,8 5,7 13,1 5,6 4,3 5,6 5,2 10 7 Gula 65 66 75 73 79 0,2 0,16 0,2 0,2 0,1 1,6 1,7 1,9 1,7 1,7 8 Sayur dan Buah 78 67 71 79 100 2,5 2,43 2,3 2,5 6,4 19,5 16,9 17,8 18,3 20,9 9 Lain-lain 36 19 40 36 0 1,5 1,11 1,7 1,6 0 0 0 0 0 0 Total 2.109 1.768 2.055 2.075 2.145 58,6 48,2 55,8 56,9 67 77,4 67,2 74,3 74,4 78,9

Perbandingan situasi ketersedian pangan dan konsumsi pangan di Kabupaten Bandung tersaji pada gambar 3.3. Secara umum skor PPH

17 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 konsumsi pangan di bawah skor ketersediaan pangan, namun memiliki tren positif/naik. Sebaliknya, skor PPH ketersedian mengalami tren negatif/menurun. Semakin tingginya skor konsumsi tersebut menunjukkan semakin beragam dan seimbangnya konsumsi pangan di Kabupaten Bandung. Indikasi lainnya adalah meningkatnya pengetahuan gizi dan daya beli masyarakat Kabupaten Bandung. Namun demikian, masih diperlukan upaya untuk meningkatkan kembali ketersediaan pangan dan menganekaragamkan konsumsi pangan masyarakat menuju skor PPH yang ideal agar hidup sehat, aktif, dan produktif.

Gambar 3. 3 Perbandingan Skor PPH Ketersediaan dan PPH Konsumsi Pangan di Kab. Bandung 2012-2016 Disimpulkan, permasalahan umum yang masih dijumpai untuk pola konsumsi pangan masyarakat kabupaten Bandung pada tahun 2016 antara lain:

Masih tingginya konsumsi padi-padian terutama beras dan rendahnya konsumsi pangan hewani, umbi-umbian, serta sayur dan buah;

Pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal seperti umbi, jagung, dan sagu pun masih rendah.

IKU: Terlaksananya cadangan pangan pemerintah daerah (ton)

Berdasarkan Renstra Dinas Pangan dan Perikanan 2016-2021, salah satu kebijakan ketahanan pangan diarahkan untuk mendorong pembentukan cadangan pangan pokok pemerintah daerah. Dalam upaya implementasi kebijakan tersebut,

18 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 Kabupaten Bandung bekerjasama dengan bulog sub divre Bandung memiliki cadangan pangan sebanyak 84 ton atau 140% dari target (60 ton) di tahun 2016.

Selanjutnya, cadangan pangan tersebut berfungsi untuk menjamin penyediaan pangan bagi penduduk rawan pangan dan bantuan pangan pada kondisi darurat (bencana alam dan kerusuhan sosial). Berdasarkan kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimum (SPM) Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/kota, mengamanatkan bahwa pemerintah kabupaten/kota memiliki cadangan pangan di tingkat kabupaten/kota minimal sebesar 100 ton ekuivalen beras. Namun demikian, perkiraan besaran cadangan pangan pemerintah dapat ditentukan sesuai dengan kesepakatan daerah. Target pemerintah pusat untuk cadangan pangan sama dengan target pemerintah Kabupaten Bandung yaitu sebesar 60 ton.

Dalam rangka mendukung peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan dan untuk mengantisipasi kondisi terjadinya daerah rawan pangan, upaya yang telah dilakukan oleh Perangkat Dinas Ketahanan Pangan pada tahun 2016 antara lain:

✓ Penyaluran Raskin untuk 280 desa/kelurahan (data terlampir);

✓ Penyaluran cadangan pangan pemerintah Kabupaten Bandung (data terlampir);

✓ Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat untuk 1 kelompok di desa pinggirsari Kec. Arjasari berupa bantuan fisik lumbung dan gabah sebanyak 4.000 kg;

✓ Terlaksananya bimbingan teknis dan sosialisasi pengolahan sumber pangan alternatif untuk 100 KK miskin dan Kader Wanita Tani (KWT);

✓ Terlaksananya pembangunan Kawasan Rumah Pangan Lestari raksa desa dan tersedianya sumber pangan dan gizi keluarga untuk 2 KWT, 31 KRPL (data terlampir);

✓ Sosialisasi produk-produk olahan pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis sumber daya lokal di 31 kecamatan;

✓ Fasilitasi terhadap pengembangan usaha pangan olahan berbasis sumberdaya lokal. Terlaksananya Pemantauan dan Sosialisasi Terhadap

19 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 Kelompok Penerima LDPM, Usaha Ekonomi Produktif dan Kelompok Alat Pengolah Pupuk Organik untuk 18 gapoktan (data terlampir);

✓ Pengawasan mutu dan keamanan terhadap 8 komoditi pangan segar (sayuran dan buah-buahan), diantaranya: wortel, tomat, mentimun, cabe keriting, jeruk, sawo, strawberi, dan papaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua komoditi tersebut tidak mengandung residu berbahaya (hasil terlampir). Selain itu, dilakukan juga rapid test uji pestisida, boraks, rodamin B, formalin dan chlorine terhadap 13 jenis makanan/olahan: tomat, mentimun, sirup, saos, terasi, bakso, mie kuning, sosis, basreng, beras, bayam, kangkung, dan sosin. Hasil pengujian menunjukkan mie kuning positif mengandung formalin dan kangkung positif mengandung pestisida (hasil terlampir).

Tabel 3. 5 Capaian Kinerja Program/Kegiatan Urusan Pangan Tahun 2016

Kode

Rek. PROGRAM/ KEGIATAN KELUARAN/OUTPUT

KINERJA

CAPAIAN TARGET REALISASI

V. Program Ketahanan Pangan 479 479 100,00% 02 Kajian Rantai Pasokan dan

Pemasaran Pangan

Terpenuhinya Kajian Rantai Pasokan dan Pemasaran Pangan di Kabupaten Bandung, Terlaksananya Sosialisasi Kajian Rantai Pasokan dan Pemasaran Pangan (dokumen)

1 1 100,00%

06 Pematauan dan Analisis Harga Pangan Pokok

Pematauan Harga Pangan Sinergitas (pasar) 10 10 100,00% 07 Koordinasi Kebijakan Perberasan Terlaksananya Penyaluran Raskin sesuai Pagu

dan Indikator di setiap RTS-PM (desa/kel)

280 280 100,00% 11 Pengembangan Cadangan Pangan

Daerah (Rice Centre) - (*)

Tersosialisasinya Pedoman Penyaluran Cadangan Pokok Daerah Kabupaten Bandung dan Terlaksananya Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah Kabupaten Bandung (kec, HPS)

31 31 100,00%

12 Pengembangan Lumbung Pangan Kelurahan (*)

- Tersedianya Lumbung Pangan Masyarakat (Kelurahan)

- Terlaksanaya monitoring, evaluasi dan rapat evaluasi pengawas LPM dan pendamping (LDPM) 1 56 1 56 100,00%

13 Pengembangan Model Distribusi Pangan yang Effisien (*)

Terlaksananya Pemantauan dan Sosialisasi Terhadap Kelompok Penerima LDPM, Usaha Ekonomi Produktif dan Kelompok Alat Pengolah Pupuk Organik (Gapoktan)

20 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

Kode

Rek. PROGRAM/ KEGIATAN KELUARAN/OUTPUT

KINERJA

CAPAIAN TARGET REALISASI

14 Penyuluhan sumber Pangan Alternatif (*)

Terlaksananya Bintek dan Sosialisasi Pengolahan Sumber Pangan Alternatif (kk miskin dan KWT)

100 100 100,00%

VI. Program Peningkatan Ketahanan

Pangan pertanian/ perkebunan 398 398 100,00%

01 Penanganan Daerah Rawan Pangan

Terlaksananya Operasional Pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) (kec.)

31 31 100,00% 02 Penyusunan Data Base Potensi

Produksi Pangan

Terlaksananya Penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM-PPH) di Kabupaten Bandung, Tersosialisasikannya Produk-produk Olahan Pangan Lokal yang B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman) (kec.)

31 31 100,00%

03 Analisis dan Penyusunan Pola konsumsi dan suplai pangan

Terlaksananya Penyusunan Analisis Neraca Bahan Makanan (NBM-PPH) di Kabupaten Bandung (orang)

31 31 100,00%

09 Pemanfaatan Pekarangan untuk Pengembangan Pangan

Terlaksananya Pembangunan Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kabupaten Bandung dalam Mendukung Raksa Desa, Tersedianya Sumber Pangan & Gizi Keluarga yang diperoleh dari Pemanfaatan Pangan (KWT)

33 2 KWT, 31 KRPL

100,00%

14 Pengembangan desa mandiri pangan

Terlaksananya Bimbingan Teknis, Pematauan dan Pembinaan di Desa Mandiri Pangan (kel/desa)

13 13 100,00%

22 Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan

Terlaksananya Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan Segar sesuai dengan Standar Ketentuan (jenis)

8 8 100,00%

38 Pengajuan Lumbung Desa Ds. Mekarsaluyu Kec.Cimenyan (BANGUB)

Tersedianya Lumbung Pangan Masyarakat (kelompok)

1 0 0,00%

39 Pengajuan Lumbung Desa Ds. Ciburial No.98 Kec.Cimenyan Kab. Bandung (BANGUB)

Tersedianya Lumbung Pangan Masyarakat di Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan (kelompok)

21 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 Nilai efisiensi penggunaan sumber daya urusan ketahanan pangan dinilai efisien, yaitu 1,21.

Dinas Peternakan dan Perikanan (Urusan Kelautan dan Perikanan)

Terdapat 2 indikator kinerja dalam Perjanjian Kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2016 untuk Urusan Kelautan dan Perikanan, dengan kelompok sasaran Program/Kegiatan antara lain: pembenih/UPR, pembudidaya/pembesar ikan dan pengolah ikan.

Tabel 3. 6 Target dan realisasi IKU Urusan Kelautan dan Perikanan Tahun 2016

REALISASI 2015 % REALISASI 2016 TARGET KINERJA 2016 INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SASARAN 7 (12.970 ton) 99,35 3,97 ( 13.485,82 ton) 4 (13.218,02 ton) Persentase Peningkatan

Produksi Ikan Konsumsi (%)

Berkembangnya usaha agrobisnis berbasis ekonomi lokal dan mampu berdaya saing 11,89 (15.368 ton) 129,89 11,83 ( 17.186 ton) 5.9 (16.291 ton) Persentase peningkatan

produksi olahan ikan (%)

IKU: Persentase Peningkatan Produksi Ikan Konsumsi (%)

Untuk periode 2016-2020, produksi ikan total ditargetkan sebanyak 2.493 ton. Persen target produksi ikan tersebut dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya (2010-2015) mengalami penurunan dari semula 7% menjadi 4%. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor kompetisi pemanfaatan lahan (isu alih fungsi lahan).

Berdasarkan tabel 3.6 dan 3.7, produksi ikan konsumsi pada tahun 2016 sebesar 13.485,82 ton atau 102,03% dibandingkan dengan target produksi, yaitu 13.218,02 ton. Dibandingkan dengan capaian produksi tahun 2015, persentase peningkatan produksi ikan konsumsi mengalami penurunan. Peningkatan produksi tahun 2016 hanya sebesar 515 ton atau 3,97%. Namun demikian, dibandingkan dengan rata-rata capaian produksi yang hendak dicapai per tahun, yaitu 498,6 ton/tahun, capaian produksi ikan konsumsi tahun 2016 masih di atas rata-rata kenaikan yang diharapkan. Adapun uraian target dan capaian produksi ikan konsumsi berdasarkan jenis usaha pada tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 3.9.

22 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

Tabel 3. 7 Perbandingan Rata-Rata Target dan Capaian Produksi Ikan per Tahun

Kondisi Awal (2015) 2016 2017 2018 2019 2020 Ket. (satuan)

12.970 13.218 13.747 14.297 14.868 15.463 Ton

Rata-Rata Capaian/Tahun 498,6 Ton

Realisasi Capaian Produksi 515 Ton

23 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

Tabel 3. 8 Realisasi dan Target Produksi Ikan Konsumsi Menurut Kecamatan Tahun 2016

LUAS (Ha)

Luas terpal (unit)

Mas Nila Lele (terpal) Lele Gurame Aneka Ikan

LUAS

(Ha) Mas Nila Luas (Ha) Aneka Ikan 1 Majalaya 76 114 192,33 244,11 206,92 195,38 6,29 38,85 994 29,33 26,08 1 - 939,29 1.060,93 2 Ciparay 81 97 236,18 308,28 176,06 214,04 6,64 33,05 714 21,05 18,72 - - 1.014,02 915,68 3 Pacet 72 138 210,52 274,79 250,48 193,08 5,92 47,03 603 17,79 15,82 3 14,43 1.029,86 979,59 4 Ibun 68 50 171,55 174,18 83,61 159,75 - 17,04 193 5,68 5,06 4 - 616,88 720,22 5 Banjaran 34 45 98,93 129,14 81,68 89,66 2,78 15,34 104 3,06 2,72 3 - 423,30 427,27 6 Bojongsoang 479 55 1.207,32 1.409,78 99,83 1.226,47 - 18,74 22 1,25 1,09 - - 3.964,48 3.827,28 7 Paseh 58 65 135,51 172,01 94,71 124,70 - 22,15 423 12,48 11,10 1 - 572,67 608,81 8 Kutawaringin 15 74 35,22 44,71 134,31 38,89 - 25,22 88 2,60 2,31 2 - 283,25 251,93 9 Soreang 29 50 57,93 73,54 72,84 61,30 - 17,04 121 3,58 3,19 - 289,42 495,45 10 Cangkuang 16 20 37,57 47,68 33,45 38,03 - 6,81 71 1,67 1,24 2 - 166,45 224,95 11 Ciwidey 22 11 50,16 63,67 18,39 50,78 - 3,75 37 0,96 0,74 1 - 188,46 177,66 12 Pasirjambu 16 125 37,66 47,80 209,03 38,12 1,34 42,60 45 1,16 0,90 1 - 378,61 347,69 13 Cileunyi 24 56 49,32 79,36 93,65 57,42 2,02 19,08 53 1,38 1,07 5 - 303,31 281,10 14 Cimaung 20 61 55,94 70,71 80,65 46,43 1,63 20,79 198 5,12 3,98 5 - 285,24 369,63 15 Katapang 8 1 18,35 23,30 1,68 18,59 - 0,34 66 1,70 1,32 1 - 65,28 62,58 16 Pameungpeuk 11 1 26,49 33,61 1,67 26,82 - 0,34 142 3,67 2,85 1 - 95,45 99,28 17 Rancaekek 11 80 21,16 30,87 133,77 24,63 - 27,26 49 1,27 0,99 4 19,52 259,48 222,81 18 Dayeuhkolot 37 15 86,55 109,86 25,08 87,60 - 5,11 30 0,76 0,59 3 - 315,56 293,31 19 Baleendah 23 70 53,46 67,84 117,05 54,12 - 23,86 153 3,60 2,67 8 31,11 353,71 322,11 20 Arjasari 9 30 20,03 25,42 50,16 20,27 - 10,22 5 18,00 15,31 1 - 159,41 113,19 21 Rancabali 9 - 19,81 25,15 - 20,06 - - 7 0,15 0,11 138 28,95 94,24 94,95 22 Pangalengan 14 10 27,52 40,17 14,57 29,13 - 3,41 15 0,33 0,24 180 33,86 149,23 169,71 23 Solokanjeruk 9 11 21,39 27,15 16,02 19,68 - 3,75 184 10,44 3,21 2 - 101,65 98,65 24 Cikancung 13 38 29,16 37,00 68,97 33,41 - 12,95 65 118,18 100,38 - - 400,05 154,88 25 Margahayu 39 25 89,52 98,80 41,81 90,60 - 8,52 - - - - - 329,24 286,31 26 Margaasih 5 25 10,43 11,50 41,81 10,57 - 8,52 6 0,19 0,17 3 - 83,18 73,63 27 Cicalengka 12 35 26,65 33,83 58,53 26,96 - 11,93 34 0,81 0,60 1 - 159,31 126,39 28 Nagrek 8 84 16,42 20,83 140,46 19,11 - 28,62 19 0,45 0,34 1 - 226,24 204,40 29 Cilengkrang 5 24 12,17 15,44 40,14 12,30 - 8,18 30 0,70 0,52 - - 89,45 78,52 30 Cimenyan 5 25 10,96 13,91 41,81 11,09 - 8,52 9 0,21 0,15 - - 86,65 74,19 31 Kertasari 4 10,79 11,23 - 8,95 - - - - 5 31,50 62,48 54,91 Jumlah 1.230 1.435 3.077,01 3.765,68 2.429,12 3.047,93 26,62 489,03 4.481 267,57 223,48 376 159,37 13.485,82 13.218,01 TOTAL REALISASI PRODUKSI (TON) TARGET PRODUKSI (TON) NO KECAMATAN

KOLAM AIR TENANG (Ton) MINA PADI (Ton) PERAIRAN

24 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 Capaian produksi ikan konsumsi pada tahun 2016 tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

➢ Pelaksanaan UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah khususnya dalam pasal 298 ayat (5) yang mensyaratkan penerima Hibah adalah badan, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan yang berbadan Hukum Indonesia. Hal tersebut berdampak pada tidak adanya pemberian stimulan bantuan kepada kelompok masyarakat;

➢ Penurunan target dan realisasi produksi minapadi karena adanya faktor kompetisi pemanfaatan lahan (isu alih fungsi lahan);

➢ Penurunan daya dukung sumberdaya alam (kuantitas dan kualitas sumber air) di beberapa daerah tertentu dan waktu tertentu berpengaruh terhadap budidaya ikan mas dan nila sebagai komoditas unggulan;

➢ Masih perlu ditingkatkannya pengetahuan, sikap dan ketrampilan pembudidaya ikan dalam hal penanganan penyakit ikan dan pembuatan pakan dan manajemen usaha;

➢ Terbatasnya sarana dan prasarana pemantauan kualitas air dan penyakit di tingkat pembudidaya;

➢ Harga berfluktuasi tergantung musim dan suplai dari daerah lain (luar Kabupaten Bandung); Daya saing produk perikanan (ikan untuk konsumsi) masih perlu ditingkatkan.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Peternakan dan Perikanan pada tahun 2016 diantaranya melalui:

✓ Pembangunan/rehabilitasi sarana prasarana instalasi pembenihan ikan di UPTD Pembenihan Ikan. Tercatat pada tahun 2016, capaian produksi benih ikan di UPTD meningkat sebesar target, yakni 4,04%, dari 19,8 juta ekor pada tahun 2015 menjadi 20,6 juta ekor pada tahun 2016. Selain itu, capaian produksi benih ikan di tingkat UPR/masyarakat juga mengalami peningkatan sebesar 4,92%, yaitu dari 1.615,05 juta ekor pada tahun 2015 menjadi 1.694,52 juta ekor pada tahun 2016;

25 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016

Gambar 3. 5 Realisasi Produksi Benih Ikan 2012-2016 dan Target Produksi Benih Ikan 2016-2020 (ribu ekor) UPR/Pembenih Ikan

Gambar 3. 6 Realisasi Produksi Benih Ikan 2012-2016 dan Target Produksi Benih Ikan 2016-2020 (ribu ekor) UPT Pembenihan Ikan

✓ Semakin banyaknya pelaku usaha budidaya perikanan yang teraudit untuk sertifikasi CBIB, yakni dari usulan yang hanya 19 kelompok menjadi 43 unit usaha dan yang berhasil mendapatkan sertifikat CBIB sebanyak 31 unit usaha. Dengan demikian jumlah total pembudidaya/unit usaha ikan yang sudah memiliki sertifikasi CBIB sampai dengan tahun 2016 sebanyak 167 orang. Selain sertifikasi CBIB, pada tahun 2016 juga dilaksanakan fasilitasi sertifikasi CPIB untuk 5 UPR dan yang berhasil mendapatkan sertifikat CPIB sebanyak 4 UPR (data terlampir). Fasilitasi CPIB baru dilaksanakan tahun 2015; sampai dengan

26 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 tahun 2016 jumlah pembenih/UPR tersertifikasi CPIB sebanyak 10 orang. Fasilitasi CBIB dan CPIB dilakukan sebagai upaya meningkatkan daya saing produk benih dan ikan konsumsi;

✓ Fasilitasi peningkatan kapasitas usaha UPR melalui pengembangan sarana prasarana/bangunan serta peralatan budidaya untuk UPR di 6 lokasi (DAK 2016). Selain itu, juga terlaksananya upaya fasilitasi pengembangan budidaya ikan hias di 1 lokasi berupa pembangunan kolam dan peralatan budidaya ikan hias (data terlampir);

✓ Terlaksananya kegiatan pelatihan dan forum perikanan, dimana tahun 2016 merupakan “tahun orientasi lapang” ke balai/sentra perikanan di luar Kabupaten Bandung guna peningkatan kapasitas pelaku usaha pembenihan dan pembesaran ikan.

No Forum/Pelatihan/Bimtek Lokasi Waktu Pelaksanaan Jumlah Peserta 1 Pelatihan budidaya ikan lele

terpal BPPSILP Cijengkol-Subang 21-23 Maret 2016 30 orang 2 Peningkatan SDM mengenai CBIB Tulungagung – Malang 24-27 Mei 2016 30 orang

3 Pelatihan budidaya ikan nila dan ma

BPINM Wanayasa-Purwakarta

27 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 4 Pelatihan pembuatan pakan

ikan

BBPBAT Sukabumi 15-17 November 2016 30 orang

5 Bimtek pembenihan ikan lele BPPSILP Cijengkol-Subang Mei 2016 40 orang 6 Pelatihan diagnosa penyakit ikan

BBPBAT Sukabumi 15-17 November 2016 30 orang

✓ Fasilitasi kegiatan restocking dan pengendalian penyakit ikan yang termuat pada kegiatan kesehatan ikan dan lingkungan perikanan seperti:

1. Restocking/penebaran ikan di 4 lokasi Perairan Umum di Kecamatan Pacet, Kertasari, Pangalengan dan Banjaran sebanyak 110 liter benih ikan nila, 8.000 ekor nilem, 8.000 ekor tawes, 8.000 ekor grasscarp, 8.000 ekor lalawak dan 8.120 ekor beuruem panon;

Tabel 3. 9 Restocking/Penebaran Ikan di Perairan Umum Tahun 2010-2016

Tahun Volume Lokasi Jenis Ikan 2010 81.400 ekor Situ Patengan – Rancabali,

Situ Cileueur - Pangalengan

Sodetan Citarum Ds. Bj.Mekar-Kutawaringin Situ Banda – Cangkuang

Situ Cipanas - Rancaekek

Aneka Jenis Ikan

2011 1.250 Liter Embung-embung-Pasirjambu, Cekdam Cangkuang,

Ciwidey, Cileunyi, Cimaung, Rancabali Ikan Nila

2012 1.455 Liter Situ Patengan, Situ Cileunca, Situ Cisanti, Situ

Cimeuhmeul Ikan Nila

2013 871,6 Liter Kecamatan Pangalengan, Banjaran, Rancabali,

Baleendah, dan Rancaekek Ikan Nila, Mas, Nilem, Tawes dan Grasscarp

2014 1.800 Liter Kecamatan Pangalengan, cangkuang, Kertasari, Baleendah, Rancabali, Rancaekek, Kutawaringin dan Cicalengka

Ikan Nila, Mas, Nilem, Tawes, Baung

2015 910 Liter Situ Geni – Pangalengan, Situ Cangkuang –

Rancabali, Situ Nyonya – Rancabali, Situ Euleul – Rancabali, Sodetan citarum – Kutawaringin, Situ Jombang – Baleendah, Situ Rahong – Arjasari, Situ Sipatahunan - Baleendah

Ikan Nila, Tawes, Nilem, Grasscarp 2016 110 liter 8.000 ekor 8.000 ekor 8.000 ekor 8.000 ekor 8.120 ekor

Ds. Pangauban Kec. Pacet, Ds. Santosa Kec. Kertasari, Ds. Margamulya Kec. Pangalengan, Ds. Banjaran Wetan Kec. Banjaran

Nila Nilem Tawes Grasscarp Lalawak Beureum panon

28 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 2. Pengukuran kualitas air di 9 lokasi yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Ciparay,

Soreang, Pacet, Nagreg, Bojongsoang, Cangkuang, Baleendah dan Cicalengka. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air kolam di lokasi sentra budidaya perikanan diketahui bahwa lokasi budidaya perikanan di Kabupaten Bandung masih memenuhi persyaratan baku mutu untuk budidaya ikan mas, nila dan lele (hasil terlampir).

3. Pematauan penyakit ikan di 7 lokasi yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Ciparay, Pacet, Bojongsoang, Baleendah, Nagreg, dan Cicalengka (hasil terlampir). Jenis penyakit yang sering menyerang ikan lele, nila dan mas baik pembesaran maupun pembenihan, diantaranya:

- Aeromonas hydrophila - Edwardsiella ictaluri - KHV

- Ichthyphthiriasis/white spot - Motil aeromonas septicemia - Streptococciasis agalactiae

Faktor penyebabnya terutama karena kualitas air yang menurun, fluktuasi suhu yang tinggi, atau kontaminasi dari pakan yang diberikan. Kasus penyakit dengan level diagnose berat terjadi di: 1) Kecamatan Dayeuhkolot karena Edwardsiella Ictaluri pada benih ikan lele. Benih ikan yang mati mencapai 80% dengan kerugian ekonomis sekitar Rp1.700.000,00, serta 2) Kecamatan Bojongsoang karena Ichthyphthiriasis/white spot yang mengakibatkan telur ikan tidak menetas/berwarna putih atau berjamur, selain juga menyebabkan 80% benih ukuran 1-2 cm mati dengan kerugian ekonomis sekitar Rp600.000,00.

4. Fasilitasi kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) perairan umum dan Culture Base Fisheries (CBF) 5 kelompok.

IKU: Persentase peningkatan produksi olahan ikan (%)

Berdasarkan tabel 3.6 dan 3.11, untuk periode 2016-2020, produksi olahan ikan ditargetkan sebanyak 5.198 ton (kenaikan 6% per tahun). Produksi olahan ikan

29 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 pada tahun 2016 sebesar 17.186,55 ton atau 105,50% dibandingkan dengan target produksi (16.291 ton). Dibandingkan dengan tahun 2015, produksi olahan ikan melebihi target rata-rata capaian per tahun yaitu 1.818,08 ton atau 11,83%.

Tabel 3. 80 Perbandingan Rata-Rata Target dan Capaian Produksi Olahan Ikan per Tahun

Kondisi Awal (2015) 2016 2017 2018 2019 2020 Ket.

(Satuan)

15.368 16.291 17.268 18.304 19.402 20.566 Ton

Rata-Rata Capaian/Tahun 1.039,6 Ton

Realisasi Capaian Produksi 1818 Ton

Tabel 3. 11 Target dan Realisasi Produksi Olahan Ikan Tahun 2016

NO. KECAMATAN RTP Volume (Kg) Target Realisasi 1 CIWIDEY 42 827.332,44 872.835,72 2 RANCABALI 0 - - 3 PASIRJAMBU 40 787.935,65 831.272,12 4 CIMAUNG 14 275.777,48 290.945,24 5 PANGALENGAN 26 512.158,18 540.326,87 6 KERTASARI 11 216.682,30 228.599,83 7 PACET 29 571.253,35 602.672,28 8 IBUN 4 78.793,57 83.127,21 9 PASEH 7 137.888,74 145.472,62 10 CIKANCUNG 14 275.777,48 290.945,24 11 CICALENGKA 22 433.364,61 457.199,66 12 NAGREG 25 492.459,78 519.545,07 13 RANCAEKEK 38 748.538,87 789.708,51 14 MAJALAYA 41 807.634,05 852.053,92 15 SOLOKAN JERUK 5 98.491,96 103.909,01 16 CIPARAY 43 847.030,83 893.617,52 17 BALEENDAH 41 807.634,05 852.053,92

30 |Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2016 NO. KECAMATAN RTP Volume (Kg) Target Realisasi 18 ARJASARI 12 236.380,70 249.381,63 19 BANJARAN 38 748.538,87 789.708,51 20 CANGKUANG 17 334.872,65 353.290,65 21 PAMEUNGPEUK 19 374.269,44 394.854,25 22 KATAPANG 3 59.095,17 62.345,41 23 SOREANG 30 590.951,74 623.454,09 24 KUTAWARINGIN 6 118.190,35 124.690,82 25 MARGAASIH 11 216.682,30 228.599,83 26 MARGAHAYU 13 256.079,09 270.163,44 27 DAYEUHKOLOT 8 157.587,13 166.254,42 28 BOJONGSOANG 220 4.333.646,10 4.571.996,63 29 CILEUNYI 37 728.840,48 768.926,71 30 CILENGKRANG 10 196.983,91 207.818,03 31 CIMENYAN 1 19.698,39 20.781,80 J u m l a h 16.290.569,65 17.186.550,98

Beberapa hal yang mendorong pencapaian pada tahun 2016 antara lain: ✓ Banyaknya kegiatan promosi produk olahan ikan yang dilaksanakan pada tahun

2016, dimana Kabupaten bandung menjadi salah satu tuan rumah kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX.

✓ Tercatat akumulasi jumlah pelaku pengolahan hasil olahan perikanan mencapai 964 RTP (65 kelompok) dan 215 RTP penjual ikan di pasar pada tahun 2016 (data terlampir). Selain juga, didukung dengan semakin meluasnya segmen pasar olahan hasil perikanan ke pasar modern seperti Carefour, Yogya Dept store dan lainnya.

✓ Semakin bertambahnya produk-produk olahan hasil diversifikasi seperti kerupuk,

Dalam dokumen Urusan Pangan. Urusan Kelautan Perikanan (Halaman 21-45)

Dokumen terkait