• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Kajian Teoritis-Normatif

H. Al-Dzari’ah: Antara Mashlahah al-Khashshah dan

Mashlahah al-‘Ammah

Secara harfiah dzari’ah adalah jalan menuju sesuatu yang membawa kepada yang dilarang dan mengandung kerusakan (mafsadah).42 Ibnu Qayim membedakannya ke dalam dua macam, yakni saad al-dzira’ah dan fath al-dzira’ah. Saad dzira’ah adalah sesuatu yang dilarang, sedangkan fath al-dzira’ah sesuatu yang dianjurkan.43

Saad al-dzira’ah adalah melakukan suatu perbuatan yang

mengandung kemaslahatan untuk menuju kepada suatu kerusakan. Maksudnya, seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang semula dibolehkan karena mengandung kemaslahatan, namun tujuan yang akan dicapai berakhir pada suatu kerusakan. Karena itu dilarang untuk dilakukan. Sedangkan fath al-dzari’ah adalah merupakan perbuatan yang dapat membawa kepada suatu yang dianjurkan, bahkan diwajibkan syara’, seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.44

Menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, saad al-dzari’ah dapat dijadikan hujjah dengan menyandarkannya kepada firman Allah

41 Lihat Yusuf Qardhawi, Dawr al-Qiyam wa al-Akhlaq fi al-Iqtishad al-Islami (Kairo-Mesir: Maktabah Wahbah, 1995)

42 H. Nazar Bakry, Fiqh &Ushul Fiqh (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2003), 243

43 Ibid

surat al-An’am, 108 yang artinya’” Janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah karena nanti mereka akan memaki Allah dengan tanpa batas tanpa pengetahuan.”. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Syafiiyah dapat dijadikan hujjah hanya saja dalam hal-hal tertentu saja. Adapun untuk fath al-dzari’ah, para ulama sepakat dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum.45

Selanjutnya Ibnu Qayim memetakannya dzari’ah atas dua macam. Pertama, suatu pekerjaan, di mana kemaslahatannya lebih kuat dari kemafsadahannya, sedangkan yang kedua kemafsadahannya lebih kuat dari kemaslahatan yang ditimbulkan.46 Khusus untuk yang kedua ini dapat dipetakan lagi ke dalam empat kemungkinan, yakni, a) secara sengaja pekerjaan ditujukan untuk kemafsadatan, seperti meminum minuman keras, b) pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan, namun ditujukan untuk melakukan suatu kemafsadatan, c) pekerjaan yang hukumnya boleh dan pelakunya tidak bertujuan untuk melalkukan kemafsadatan, namun biasanya akan berakibat pada suatu kemafsadatan, d) suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan, ada kalanya perbuatan itu membawa kepada suatu kemafsadatan47

Lebih lanjut dalam kaitan dengan dzari’ah ini Ibnu ‘Asyur menyatakan bahwa membuka dzari’ah yang mengakibatkan kemaslahatan hukumnya wajib, walau asalnya dilarang atau mubah.48 Karena itu dalam kaitan dengan membangun destinasi industri wisata halal baru yang membawa dampak kemaslahatan terhadap umat, maka bisa jadi hukumnya wajib, kendati hukum asalnya dilarang atau mubah. Dengan pertimbangan, karena secara global, industri pariwisata terus mengalami perkembangan secara signifikan dengan jumlah pengunjung yang semakin bertambah.

Namun perkembangan wisata yang saat ini banyak diminati tidak sedikit yang teralienasi dari nilai-niai kebajikan sebagaimana

45 Ibid., 246

46 Ibid., 245

47 Ibid.

yang diajarkan di dalam syariat Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dunia wisata seakan-akan lepas sama sekali dari nilai-nilai ajaran spiritual sehingga mengakibatkan munculnya kerusakan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kerusakan itu telah banyak cukup lama menggerogoti eksistensi nilai-nilai kemanusiaan, karena telah sedemikian lama dialamai sehingga tanpa disadari prakrtik itu dianggap benar secara syar’i.

Sebab itu jika muncul inisiasi secara personal, terlebih jika ada good will (program) dari pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk mengembangkan destinasi wisata halal seperti saat ini, kiranya merupakan sebuah karya yang patut diapresiasi dan didukung oleh semua pihak. Membangun destinasi wisata halal secara langsung maupun tidak langsung samahalnya dengan telah turut menyelamatkan agama (akidah) para wisatawan Muslim sebagaimana yang diajarkan di dalam maqashid al-syariah.

Membangun destinasi wisata halal yang selama ini masih dalam fase perjuangan, niscaya akan memberi banyak dampak kemaslahatan, baik secara individual (mashlahah al-khashshah) maupun secara umum (mashlahah al-‘ammah). Baik yang berupa materi maupun spiritual dengan panduan nilai-nilai syariah. Inilah sejatinya tujuan mulia dalam membangun wisata halal yang bernafaskan ajaran syar’i, yang semula hukumnya mubah atau bahkan terlarang, namun karena untuk mencegah terjadinya kerusakah umat yang semakin parah, pada akhirnya bisa menjadi wajib. Terlebih lagi jika destinasi itu banyak membawa manfaat (mashlahah) secara lahir maupun batin, baik bagi individu, masyarakat, maupun bagi bangsa dan Negara.

Dengan demiikian dzari’ah dalam Islam dapat dijadikan landasan pertimbangan (terutama fath dzari’ah) untuk membangun destinasi wisata halal guna mengendalikan dampak negatif perkembangan wisata yang selama ini dianggap kurang memenuhi ketentuan syariah. Sekaligus untuk memenuhi tuntutan masyarakat global yang mulai menaruh minat terhadap wisata yang berbasis syariah.

Terlebih lagi jika kehadiran destinasi wisata baru itu akan banyak mendatangkan mashlahah, baik bagi individu maupun masyarakat luas di mana destinasi itu dikembangkan.

I. Sumber Daya Manusia: Pengawal Maqashid

al-Syariah dalam Pariwisata

Sebagaimkana kita ketahui bahwasanya saat ini sektor pariwisata merupakan sebuah industri yang harus dikelola secara profesional sehingga dibutuhkan kehadiran sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.49 Khusus untuk industri pariwisata halal, keberadaan SDM sangat dibutuhkan untuk mengawal segala aktivitas programnya agar bersesuaian dengan semangat ajaran maqashid

al-syariah dalam Islam. Semakin kapabel SDM yang tersedia, maka

berkecenderungan akan semakin cepat perkembangan pariwisata yang dikelolanya.

Adapun yang dimaksud SDM pariwisata di sini adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi alam untuk mencapai kesejahteraan yang seimbang dan berkelanjutan di bidang kepariwisataan.50 Atau dengan kata lain, yakni “semua orang yang berkecimpung dan atau menyumbangkan tenaga dan fikirannya pada seluruh potensi yang terkandung di dalam usaha pariwisata demi tercapainya kesejahteraan dalam tatanan yang berkeseimbangan dan berkelanjutan.”51

49 Beberapa pakar seperti Wall, Murphy, Smith, Inskeep, Kadt, dan yang lain, hampir semuanya sepakat bahwa kepariwistaan adalah sebagai suatu industri, baik industri jasa perjalanan (travel industry) ataupun industri jasa yang menjual keramahtamahan (hospitaly industry). yang menghasilkan produk yang bersifat spesifik dan tidak nyata (intangible). Tentu pula dengan karakter-karakter positif yang bersifat spesifik untuk membedakannya dengan jenis-jenis industri yang lain. Kiranya hal ini berlaku pula bagi pariwisata halal yang juga memiliki karakteristiknya yang berbeda pula jika dibandingkan dengan pariwisata yang konvensional. Untuk selanjutnya, lihat, Bambang Sunaryo, Kebijakan Pembangunan Destinasi

Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia (Yogyakarta:Penerbit Gava Media, 2013),

32-33

50 Lihat, Ibid., 200-201

Seloanjutnya, menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, SDM Pariwisata jika dikategorikan berdasarkan lembaganya dapat dipetakan sebagai berikut, yakni, 1). Institusi Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah; 2). Institusi Swasta/Industri; dan 3). Masyarakat.52

Tentu saja ketiganya memiliki SDM dan kompetensinya sendiri-sendiri sesuai kapasitas masing-masing. SDM Pemerintah dari kalangan perguruasn tinggi negeri misalnya, memiliki kompetensi sebagai akademisi atau peneliti.53 Sedangkan dari kalangan institusi swasta/industri seperti dari masyarakat perguruan tinggi negeri atau lembaga swasta dan lembaga swadaya masyarakat memiliki kompetensi sebagai akademisi atau peneliti dan teknokrat.54

Adapun dari kalangan masyarakat, seperti pengusaha pariwisata, pengelola dari top hingga low management dan craft level selain juga harus professional, juga sejatinya juga harus memiliki kompetensi berupa skill untuk melaksanakan tugas-tugas yang bersifat teknis dalam pariwisata.55

Khusus untuk SDM industri pariwisata halal, selain memiliki kompetensi tersebut, juga diharapkan memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip syariah Islam.56 Untuk selanjutnya agar mereka mampu mengimplementasikan ajaran maqashid al-syariah ke dalam dunia pariwisata. Karena itu dari kalangan mereka dituntut agar memilki komitmen dan integritas dalam turut mengawal pembumian

maqashid al-syariah di kancah pariwisata sehingga pariwisata halal

benar-benar mampu mengekspresikan ajaran syariah kapan pun dan di mana pun saja.

52 Ibid. Lihat pula Undang-Undang Repubik Indonesia No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

53 Sunaryo, Kebijakan pembangunan, 201

54 Ibid.

55 Ibid., 202

56 Lihat kembali Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No, 108/DSN-MUI/X/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Prinsip Syariah

Dokumen terkait