Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, beliau bergelar Hujjat al-Islam dan Zain al-Din al-Syarif, Thusiy dan dipanggil dengan Abu Hamid, beliau lahir di Thus tahun 450 H. Beliau hidup dalam
18Naskahnya terdapat di perpustakaan Ashifiyah di Haidarabad dalam kategori artikel nomor 1720. Lihat Al-Kafiyah fi Al-Jidal, h. 14.
19Kitab ini dicetak dalam banyak versi dan judul beserta dengan komentar, penjelasan dan syarah beberapa ulama. Seperti contohnya cetakan Percetakan Musthafa Bab Al-Halabi, Mesir dengan judul Al-Waraqat fi Ushul Al-Fiqh, yang didalamnya memuat penjelasan Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli Asy-Syafi’i.
keluarga yang sangat sederhana tapi teguh dalam prinsip-prinsip Islam,20 Dari seorang ayah penenun wool (ghazzal) sehinga dijuluki Al-Ghazali. 21
Al-Ghazali sejak kecilnya dikenal sebagai seorang anak pecinta ilmu pengetahuan dan pengandrug mencari kebenaran yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita, dilanda aneka rupa duka nestapa dan sengsara. Untaian kata-kata berikut ini melukiskan keadaan pribadinya:22
“kehausan untuk mencari hakikat kebenaran sesuatu sebagai habit dan favorit saya dari sejak kecil dan masa mudaku merupakan isnting dan bakat yang dicampakkan Allah swt. Pada tempramen saya, bukan merupakan usaha atau rekaan saja.”
Pada usia 19 sembilan belas tahun ia pergi ke Nisabur (sekitar 50 mil ke arah barat Tus) dan belajar di perguruan Nizamiyyah pimpinan al-Juwaini. Meskipun studi utamanya tentang hukum al-Juwaini juga mengenalkannya dengan teologi al-Asy-ari dan [mungkin] filsafat al- Farabi dan Ibn Sina.Ia juga belajar lebih lanjut tentang teori dan praktek pada seorang sahabat ahayhnya yang menerima wasiat untuk mendidiknya bersama saudaranya, Ahmad al-Ghazali.23 Sang sufi itu memegang kuat wasiat yang diamanatkan kepadanya. Dia begitu serius 20nama aslinya hanya Muhammad. Nama Abu Hamid diberikan kemudian setelah ia mempunyai putra bernama Hamid yang meninggal ketika masih bayi. Ali Issa Othman, manusia menurut al-Ghazali, terj.john smith (Bandung:pustaka, 1987) hal.20
21Khudori Soleh, Filsafat Islam (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media,cet.I, 2013) hal.134
22Abudiin Nata, Pemikiran para tokoh pendidikan islam (Jakarta:PT.RajaGrafindo persada, Cet.I, 2000) Hal.82
23 Ahmad Badawi Thabanah, “muqaddimah Al-Ghazali wa ihya Ulum Din” dalam ihya’Ulum Ad-Din, juz I, (Jakarta:Maktabah Daru Ihya’I Al-Kutub Al-Arabiyyah) hal.8
memperhatikan kepentingan pendidikan dan moralitas kedua anak temannya ini, sampai peninggalan harta benda dari ayahnya habis. Ketika sang sufi merasa tidak mampu lagi membiayai kehidupan kedua anak itu ia berkata kepada Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad “ketahuilah bahwa saya telah membiayai kalian sesuai dengan harta kalian berdua yang dititipkan kepada saya.24
Dari Thus beliau mulai belajar dari salah seorang ulama besar Thus yaitu al-Iman Ahmad bin Muhammad al-Razkani, kemudian beliau merantau ke Jurjan, di sini beliau belajar dari Nashr al-Ismaili. Kemudian beliau kembali ke Thus dan menetap selama tiga tahun, merenung, berpikir, dan menghafal apa yang telah diperolehnya dari Thus. Di Thus, ia mendirikan madrasah dan sebuah khanaqah bagi para sufi25. Kemudian beliau ke Naisabur dan berguru pada Imam al-Haramain. Sepeninggal al-Imam al-Haramain, al-Ghazali berangkat ke Askar menemui al-wazir Nizham al-Mulk. Wazir ini sangat menghormatinya lalu memberikan kepercayaan pada beliau untuk mengajar di sekolahnya di Baghdad pada tahun 484 H. beliau mengajar sampai tahun 488 H. Mulai bulan Rajab tahun 488 H kehidupan rohani beliau mulai bergejolak, dan ini berlangsung selama enam bulan atau sampai pada awal tahun 489 H. Dari sinilah kehidupan sufi mulai dijalaninya dengan beribadah, kehidupan sufi ini beliau jalani dengan alasan yang sangat logis, sebagaimana yang dikatakan dalam kitabnya al-Munqiz min al-Dhalal.
24 Dedi Supriyadi, pengantar filsafat islam, (Bandung:CV.Pustaka Setia, cet.I 2009) hal.143 25Khudori Soleh,Op.Cit. hal.135
Al-Ghazali wafat di Thus pada hari Senin 14 Jumadil akhir 505 H26. dan dimakamkan di Zhahir al-Thabaran salah satu tempat di Thus berdampingan dengan makam Harun al-Rasyid.
B. Karya-Karya
Al-Ghazali adalah salah seorang ulama dan pemikir dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis. Dalam masa hidupnya, baik ketika menjadi pembesar Negara di Mu’askar maupun ketika sebagai professor di Baghdad, baik sewaktu skeptis di Naisabur27maupun setelah berada dalam perjalanannya mencari kebenaran dari apa yang dimiliknya, dan sampai akhir hayatnya, Al-Ghazali berusaha menulis dan mengarang.28
Karya al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah, diantaranya adalah:29
a. Maqashid al-Falsafah (Tujuan-tujuan Para Filsuf), sebagai karangannya yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafat
b. Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pikiran Para Filsuf), buku ini dikarang sewaktu Beliau berada di Baghdad tatkala jiwanya dilanda keragu-raguan. Dalam buku ini, Al-Ghazali mengecam filsafat dan para filsuf dengan keras.
c. Mi’yar al-‘Ilm (Kriteria Ilmu-ilmu)
26Abuddin Nata, Op.cit hal.85
27 Sebagai diketahui Al-Ghazali pernah mengalami masa skeptis di tempat ini, ketika ia sangat meragukan semua ilmu pengetahuan yang diterimanya, tetapi masa ini hanya berjalan sekitar dua bulan saja.
28Dedi Supriyadi, Op.Cit, hal.151
d. Ihya’ ‘Ulum al-Din (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), buku ini merupakan karyanya yang terbesar yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Damaskus, Yerussalem, Hijaz, dan Thus yang berisi paduan antara fikih, tasawuf, dan filsafat;
e. Al-Munqids min al-Dhalal (Penyelamat Dari Kesesatan), buku ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al-Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan;
f. Al-Ma’arif al-‘Aqliah (Pengetahuan Yang Rasional);
g. Misykat al-Anwar (Lampu Yang Bersinar Banyak), buku ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf;
h. Minhaj al-‘Abidin (Jalan Mengabdikan Diri Kepada Tuhan); i. Al-Iqtishad fi al-‘Itiqad (Moderasi Dalam Akidah);
j. Ayyuha al-Walad; k. Al-Mustashfa;
l. Iljam al-‘Awwam ‘an ‘Ilm al-Kalam; m. Mizan al-‘Amal.
n. Mahakk al-Nazhar.
C. Pemikiran
1. Filsafat di mata Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali adalah seorang tokoh yang juga banyak menulis mengenai filsafat, sebagaimana yang beliau tulis dalam bukunya Tahafut Falsafah sebagai salah satu buku yang mengkritik keras terhadap pemikiran para filsuf yang di
anggap menggoyahkan sendi-sendi keimanan. Namun disisi lain beliau menulis buku Maqashid Al-Falsafah, yang mana beliau mengemukakan kaidah filsafat untuk menguraikan persoalan yang berkaitan dengan logika, teologi, dan metafisika. Seiring orang memahami filsafat Al-Ghazali dengan kaca mata kuda bahwa Al-Ghazali tabu dengan filsafat, bahkan menentang filsafat. Tudingan ini perlu dikaji secara mendetail apa yang sebenarnya dimaksud filsafat oleh Al-Ghazali dan filsafat apa yang boleh dan tidak boleh. Kajian ini perlu diungkap supaya mudah memetakan Al-Ghazali sebagai filsuf dan sufi juga sebagai fuqaha.
Kerangka berfikir memandang Al-Ghazali perlu ditelusuri secara komprehensif. Pertama-tama, karena berfilsafat itu menggunakan logika dengan kajian analisisnya maka apa yang dimaksud dengan akal dan bagaimana posisi akal. Inilah titik tolak Al-Ghazali dalam memandang filsafat dan ilmu-ilmu lainnya.
Pada prinsipnya, Al-Ghazali tidaklah bertujuan menghancurkan filsafat dalam pengertian yang sebenarnya, bukan dalam pengertian awam. Bahkan, beliau adalah seorang yang mendalaminya dan berfilsafat. Kritik terhadap para filsuf yang dilakukan oleh Al-Ghazali di dasarkan pada alasan berikut:
Pertama. Al-Ghazali tidak memulai serangannya terhadap filsafat, kecuali setelah mempelajari dan memahaminya dengan baik, sampai-sampai ia layak disebut sebagai salah satu filsuf itu sendiri. Hal ini konsisten dengan pernyatannya dalam Al-Munqids, “Orang yang tidak menguasai suatu ilmu secara penuh, tidak
akan bisa membongkar kebobrokan ilmu tersebut.” Sebagai bukti penguasaan Al-Ghazali terhadap filsafat adalah buku Maqashid Al-Falsafah (Maksud-maksud Para Filsuf) yang oleh Al-Ghazali dimaksudkan sebagai pengantar terhadap Tahafut, di samping buku-buku yang lain.
Kedua, beliau mengetahui benar medan yang dihadapinya. Beliau tidak menyerang filsafat sebagai satu kesatuan utuh, tetapi hanya metafisika yang menurutnya (bisa) membahayakan Islam. Musuh Al-Ghazali yang lain adalah aliran kebatinan. Untuk menghadapi mereka, Al-Ghazali menulis lebih dari satu kitab di antaranya adalah Fadhaih Al-Bathiniyah (Keburukan-keburukan Aliran Kebatinan), dan
Mawahim Al-Bathiniyah (Prasangka-prasangka Kebathinan). Aliran ini lebih berbahaya daripada filsafat karena mereka –sebagaimana disitir Al-Ghazali dan Ibnul Jauzi— menggunakan Islam sebagai.
2. Kalam
Sebagai salah satu tokoh Al-Asy’ariyah pada generasi kelima, Al-Ghazali berpendapat bahwa Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan. Daya untuk berbuat yang terdapat dalam diri manusia lebih dekat menyerupai impotensi.30
Qadim alam yang dikemukakan oleh para filosof merupakan salah satu masalah yang sangat ditentang oleh Al-Ghazali, bahkan beliau mengkafirkan para filosof karena menganggap alam qadim. Menurut Al-Ghazali, kalau alam qadim berarti tidak ada arti 30M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam (Teologi – Ilmu Kalam), Amzah : Jakarta, 2012, hal 129.
Tuhan mencipta karena Tuhan dan alam semesta sama qadim. Lagi pula, kalau alam hanya dipahami lewat sebab akibat, Tuhan sebagai pencipta tidak dapat dibuktikan. Teori emanasi, demikian Al-Ghazali memberi kesan bahwa alam terus berproses tanpa henti-hentinya. Hal ini akan mengakibatkan bahwa materi itu sudah ada sejak qadim. Padahal, menurut Al-Ghazali, alam diciptakan Tuhan dari tidak ada pada waktu yang lalu secara terbatas, baik dalam bentuk maupun materi.31
Al-Ghazali juga berpendapat bahwa akal tidak dapat membawah kewajiban-kewajiban bagi manusia, kewajiban-kewajiban-kewajiban-kewajiban bagi manusia ditentukan oleh wahyu. Demikian juga halnya dengan masalah mana yang baik dan mana yang buruk menurut Al-Ghazali akal tidak dapat 32 mengetahuinya. Selanjutnya dikatakan bahwa suatu perbuatan baik kalau perbuatan itu sesuai dengan maksud pembuat, dan disebut buruk kalau tidak sesuai dengan tujuan pembuat. Yang dimaksud tujuan di sini adalah akhirat yang hanya diketahui dengan wahyu. Oleh karena itu, perbuatan buruk hanya diketahui melalui wahyu.32
3. Moral / Akhlak
Al-Ghazali memberikan sebuah definisi terhadap akhlak / moral sebagaimana berikut, “Akhlak adalah suatu sikap (hay’ah) yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang 31Ibid., hal 214
baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan ika yang lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.” Dalam satu karya masa awalnya, Mizan al-‘Amal, akhlak merupakan bahan pemikiran utama.33
Al-Ghazali berpendapat, bahwa pendidikan moral yang utama adalah dengan cara berperilaku baik. Artinya, membawah manusia pada tindakan-tindakan yang baik. Al-Ghazali menetapkan bahwa mencari moral dengan perantaraan bertingkah laku moral merupakan korelasi yang menakjubkan antara kalbu dengan anggota tubuh. Untuk itu al-Ghazali menyusun argumentasi sebagai berikut:34
“Setiap sifat yang nampak pada kalbu akan memancarkan pengaruhnya ke dalam semua anggota tubuh, Sehingga anggota tubuh tidak bisa bergerak”.
kecuali harus sesuai dengan pengaruh tersebut. Dan setiap aksi harus berjalan pada anggota tubuh yang daripadanya suatu pengaruh naik ke kalbu. Sebagai bukti, ialah bahwa orang yang hendak menjadikan kecerdikan menulis sebagai sifat psikologis bagi dirinya maka dia harus membimbing tangan seperti yang dilakukan oleh seorang penulis yang genius dan mengkontinyukannya dalam waktu yang lama, menirukan tulisan yang baik hingga menjadi sifat yang mesti bagi dirinya, setelah pada mulanya dia rasakan sulit.”
Penggerak utama dalam sebuah tindakan dalam pandangan Imam Al-Ghazali memang nampak pada sebuah hati terlebih dahulu, yang artinya apabila 33Hasyimsyah Nasution, Op.Cit. hal.87
segumpal daging itu baik maka baiklah semuanya. Sebagaimana seorang remaja saat ini yang seharusnya mendapatkan bimbingan hati mulai dari kecil tampaknya tidaklah didapatkan dalam dirinya.
Al-Ghazali membagai dalam sebuah tiga teori penting mengenai tujuan mempelajari akhlak, yaitu:35
a. Mempelajari akhlak sekedar sebagai studi murni teoritis, yang berusaha memahami cirri kesusilaan (moralitas), tetapi tanpa maksud mempengaruhi prilaku orang yang mempelajarinya.
b. Mempelajari akhlak sehingga akan meningkatkan sikap dan prilaku sehari-hari.
c. Karena akhlak terutama merupakan subyek teoritis yang berkenaan dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam penyelidikan akhlak harus terdapat kritik yang terus-menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi subyek praktis, seakan-akan tanpa maunya sendiri.
Moralitas yang jelek, menurut Al-Ghazali adalah penyakit kalbu. Jika ignorasi diobati dengan cara belajar, sakit bakhil diobati dengan cara berlapang dada, maka moral yang jelek harus diobati dengan kesungguhan.25 Itulah atensi yang mengagumkan dari Al-Ghazali. Sebab, setiap jiwa punya kondisi dan tempramen khusus. Jika dalam mendidik jiwa tidak menjaga situasi, tempramen dan kesiapan psikologis, maka sang pendidik tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Demikian pula para propagandis moral tidak akan berhasil mencapai cita-citanya.
Dewasa ini pengertian kenakalan remaja berkembang lebih luas lagi, yakni meliputi pengertian yuridis, sosiologis, moral, dan susila. Perbuatan-perbuatan tersebut menyalahi undang-undang yang berlaku sebagai
4. Jiwa
Manusia menurut Al-Ghazali diciptakan oleh Allah swt sebaai makhluk yang terdiri dari jiwa dan jasad. Jiwa, yang menjadi inti hakikat manusia adalah makhluk spritual rabbani yang sangat halus (lathifa rabbaniyah ruhaniyyah). Jiwa bagi Al-Ghazali adalah suatu zat (jauhar) dan bukan suatu keadaan atau aksiden (‘ardh), sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Jasadlah yang adanya bergantung pada jiwa, dan bukan sebaliknya. Jiwa berada di alam spiritual sedangkan jasad di alam materi.36
Jiwa merupakan inti hakikat manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal dan kesempurnaan, karena jasad sangat diperlukan oleh jiwa maka ia harus dirawat baik-baik.
“Jiwa itulah yang mengetahui Allah, mendekati-Nya, berbuat untuk-Nya, berjalan menuju-Nya dan menyingkapkan apa yang ada pada dan dihadapan-Nya, dan sesungguhnya anggota tubuh merupakan pengikut, pelayan dan alat yang dipekerjakan dan digunakan oleh jiwa bagaikan seorang tuan menggunakan sahayanya, seumpama gembala memakai dombanya dan seorang tukang dengan alatnya. Jiwa itulah yang diterima oleh Allah., ia yang terselubung dari-Nya., jiwa itu yang dicari, ia yang tegas dan digugat. Jiwa itu yang merasa gembira..dan berhasil..jiwalah yang memperoleh kecewa dan sengsara.”
Semua yang ada pada jasad merupakan pembantu jiwa. Sebagian dari pembantu itu terlihat nyata, seperti tangan, kaki, dan bagian-bagian tubuh luar dan dalam yang lain. Meskipun jiwa dan jasad merupakan wujud yang berbeda, 36Ibid.hal.89
keduanya saling memperngaruhi dan menentukan jalannya masing-masing, karena itu bagi Al-Ghazali setiap perbuatan akan menimbulkan pengaruh pada jiwa, yakni membentuk kualitas jiwa, asalkan perbuatan itu dilakukan secara memberi pegaruh yang baik pada jiwa.37
BAB III PENUTUP Kesimpulan
Dinasti Ghaznawi yang didirikan Sabuktigin yang berpusat di Ghazna (Afganistan) telah mencapai kemajuan sewaktu putranya memegang tampuk pemerintahan, yaitu Sultan Mahmûd ibn Sabuktigin. Dinasti ini mencapai kemajuan dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Implikasi
Kelemahan utama dinasti Ghaznawi sebenarnya terletak pada ambisi kekuasaan para pengganti Sultan Mahmûd, tetapi tidak diiringi dengan kecakapan dalam memerintah. Kondisi ini mempengaruhi kebijakan politik dan kesatuan
wilayah, yang pada akhirnya mereka tidak mampu menahan serangan musuh, seperti serangan dinasti Saljuk, suku Ghuzz dan suku Ghûr.