BAB XIII:PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PADA AHLI
B. Al-Ghazali (450-505 H)
Abu Hanid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali yang selanjutnya lebih dikenal dengan Imam Al-Ghazali lahir pada tahun 450/1058 di Thus wilayah Khurasan.
Al Ghazasli mulai menuntut ilmu agama di desa kelahirannya Gazalah pada seorang sufi sehabat ayahnya. Umaruddin (1996) menulis, Al-Ghazali sebenarnya secara alami bersama ayahnya dan ajaran ayahnya sangat berpengaruh positif terhadap pola pikirrnya di masa kecil, guru pertama pendidikannya adalah ayahnya yang dikenal sebagai sufi.
Pada tahun 479 H Al-Ghazali melanjutkan pelajarannya ke Jurhan sebuah kota yang terletak tidak jauh dari Khurasan, di sana ia berguru dengan Abu Nashar Al-Ismaili. Kemudian ia kembali ke Thus dan dari sana ia melanjutkan ke Nasyabur dan masuk sekolah tinggi Nizamiyah. Ilmu-ilmu yang variatif diperolehnya dari Abu Al-Ma’li Dhiauddin Al-Juwaini. Kemudian ia bermukim di Bagdad dan menjadi guru besar di Universitas yang didirikan oleh Nizal Al-Mulk, seorang Perdana Manteri Bani Saljuk.
Dr. H. Ahmad Syar’i, M.Pd | 171
Al-Ghazali banyak sekali menyusun buku, di antara karyanya, Fatihat Al-Kitab, Ayyuha Al-Walad, Ikya Ulumuddin, yang sangat terkenal dan banyak menjadi rujukan bagi ulama dan cendekia muslim di Indonesia, Maqasid Al-Falasifah, Tahafut Al-Falasifah dan sebagainya.
Al-Ghazali termasuk filosofis pendidikan Islam
berpaham emperis, yang menekankan pentingnya pendidikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Seorang anak hatinya bersih, murni laksana permata yang amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apa pun. Jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka ia akan baik, sebaliknya jika anak dibiasakan perbuatan buruk dan jahat, maka ia akan berakhlak jelek.
Tujuan pendidikan (jangka pendek) menurut Al-Ghazali ialah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Syarat untuk mencapai tujuan itu, manusia harus memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai bakatnya. Sehubungan dengan tujuan jangka pendek yaitu terwujudnya kemampuan manusia untuk melaksanakan tugas-tugas keduniaan dengan baik, Al-Ghazali menyinggung masalah pangkat, kedudukan, kemegahan, popularitas dan kemuliaan dunia secara naluri, yang kesemuanya itu bukan tujuan dasar seorang yang melibatkan diri dalam dunia pendidikan.
Tujuan pendidikan (jangka panjang) menurut Al-Ghazali, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Jika tujuan pendidikan bukan diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.
Untuk mencapai tujuan pendidikan di atas, maka pendidikan harus dilaksanakan oleh guru yang memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
a. Guru harus mencintai murid seperti mencintai anak kandungannya sendiri.
b. Guru tidak mengharapkan upah sebagai tujuan utama, sebab mendidik tugas yang diwariskan Rasulullah SAW sedangkan gaji atau upah terletak pada tebentuknya anak didik yang mengamalkan ilmunya.
c. Guru harus mengingatkan murid agar tujuan menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mancari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. d. Guru harus mendorong muridnya mencari ilmu yang
bermanfaat/ membawa kebahagiaan dunia akhirat.
e. Guru harus memberikan contoh/ taudalan seperi berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji.
f. Guru harus mengajarkan pelajaran sesuai dengan tingkat
Dr. H. Ahmad Syar’i, M.Pd | 173
g. Guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena ia sebagai idola di mata anak didiknya.
h. Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya.
i. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi
anak didik, sehingga pikiran mereka dijiwai dengan keimanan itu.
Murid atau anak didik yang mengikuti pendidikan menurut Al-Ghazali harus memenuhi kriteria:
a) Memuliakan guru dan bersikap rrendah hati/ tidak takabur. b) Mereka satu bangunan dengan murid lain sehingga
merupakan satu bangunan yang saling menyayangi, menolong dan berkasih sayang.
c) Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai mazhab yang dapat menimbulkan kekacuan dalam pikiran.
d) Tidak hanya memperlajari satu jenis ilmu bermanfaat saja, melainkan berbagai ilmu dengan berupaya sungguh-sungguh guna mencapainya.
Adapun pandangan Al-Ghazali tentang kurikulum pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari pandangannya tentang ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan menjadi pengetahuan yang terlarang dan ilmu pengetahaun yang wajib dipelajari anak didik.
a. Ilmu yang tercela, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu sihir, nujum dan ilmu
perdukunan. Bila dipelajari akan membawa mudharat dan meragukan kebenaran adanya Tuhan.
b. Ilmu yang terpuji, yaitu ilmu tauhid dan ilmu agama. Ilmu ini akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dan mendekatkan diri kepada Allah; ilmu yang terpuji pada tarap tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena dapat membawa keguncangan iman dan ilhad (meniadakan Tuhan) seperti ilmu filsafat.
Akhirnya Al-Ghazali mengelompokkan ilmu menjadi dua kelompok, yaitu: a) ilmu yang wajib (fardhu) yang harus diketahui semua orang seperti ilmu agama, ilmu yang bersumber pada kitab Allah, dan b) ilmu fardhu kifayah, yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan dunia seperti ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Adapun metode pendidikan diklasifikasikan Al-Ghazali menjadi dua bagian:
Pertama, metode khusus pendidikan agama, metode
khusus pendidikan agama ini memiliki orientasi kepada pengetahuan aqidah karena pendidikan agama pada realitasnya lebih sukar dibandingkan dengan pendidikan umum lainnya, karena pendidikan agama menyangkut problematika intuitif dan lebih menitikberatkan kepada pembentukan personality peserta didik. Sebagaimana diuangkapkan oleh Zakiah Daradjat (1986) bahwa pendidikan agama dalam arti pembinaan kepribadian
Dr. H. Ahmad Syar’i, M.Pd | 175
sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Dengan demikian pendidikan akal yang kohesif pada diri peserta didik selama dalam proses pendidikan akan dapat dikendalikan, sehingga bukan hanya mementingkan aspek rasio, rasa dan berpikir sebenar-benarnya tanpa dzikir split
personalitry. Tetapi peserta didik yang memiliki kepribadian
yang kamil. Dengan semikian agama bagi peserta didik menjadi pembimbing akal. Dari sinilah kemudian letak kesempurnaan hidup manusia dalam keseimbangan.
Kedua, metode khusus pendidikan akhlak, Al-Ghazali
mengungkapkan “sebagaimana dokter, jikalau memberikan pasiennya dengan satu macam obat saja, niscaya akan membunuh kebanyakan orang sakit, begitupun guru, jikalau menunjukkan jalan kepada murid dengan satu macam saja dari latihan, niscaya membinasakan hati mereka. Akan tetapi seyogyanyalah memperhatikan tentang penyakit murid, tentang keadaan umurnya, sifat tubuhnya dan latihan apa yang disanggupinya. Berdasarkan yang demikian itu, dibina latihan. Berikutnya kalau guru melihat murid keras kepala, sombong dan congkak, maka suruhlah ia ke pasar untuk meminta-minta. Sesungguhnya sifat bangga diri dan egois tidak akan hancur, selain dengan sifat mandiri. Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak tercela anak
sebaliknya. Layaknya bila badan sakit obatnya ialah dengan cara menurunkan panas atau obatnya ialah membuang penyakit itu.