• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Tentang Pembatalan Sepihak

1. Alasan dan faktor yang mendorong terjadinya gaduh

Alasan paling utama masyarakat Desa Tanjung Qencono melakukan perjajanjian gaduh hewan ternak adalah dengan adanya kegiatan ini membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan selain dari pendapatan hasil bertani. Faktor yang mendorong terjadinya perjanjian gaduh hewan ternak ini karena pada dasarnya kebanyakan masyarakat desa ini hasil dari panen dipakai untuk modal dalam menanam setelah panen dengan hal itu kurangnya pemenuhan kebutuhan.65 Sehingga dengan adanya kegiatan perjanjian gaduh hewan ternak memberikan keuntungan kepada masyarakat lain yang masih membutuhkan dalam pemenuhan sehari- hari.

Dalam prakteknya perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono ini sangat membantu dalam meningkatkan pendapatan ekonomi dan menjadi salah satu sumber penghasilan yang saling menguntungkan antara pihak penggaduh dan pihak yang memiliki hewan ternak.66 Sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dalam kegiatan ini. kegiatan bagi hasil hewan ternak sangat melekat pada masyarakat desa ini karna kebanyakan masyarakat melakukan nya dengan tujuan saling

65Eko Hartanto, Pemelihara Hewan Ternak (Penggaduh), Wawancara, 5 Juni 2021.

66Kuwat, Pemelihara Hewan Ternak Berupa Sapi, Wawancara, 6 Juni 2021.

42

membantu sesama dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan cara bagi hasil. Dengan adanya sistem gaduh ini, menambah pendapatan selain dari hasil bertani. karena kegiatan bagi hasil merupakan suatu kegiatan yang menguntungkan kedua belah pihak. penggaduh merasa sangat senang dipercaya menggaduh sapi. tidak hanya bagi hasil berupa uang yang dirasakan. melainkan dari bagi hasil anak sehingga yang awalnya tidak mempunyai seekor hewan sapipun setelah melakukan perjanjian gaduh hewan ternak dapat memiliki hewan ternak sendiri berupa anak sapi yang dibesarkan.67Alasan pemilih hewan menggaduhkan hewan ternaknya kepada orang lain dengan tujuan bekerja sama untuk membagi keuntungan kepada orang lain yang masih membutuhkan68

Faktor lain yang mendorong terjadinya praktek gaduh hewan ternak adalah dengan adanya gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono tidak hanya hasil pendapatan dari gaduh hewan ternak melainkan bisa mempererat tali silaturahim antara sesama masyarakat desa.69 Tidak hanya mempererat persaudaraan namun dengan adanya gaduh hewan ternak memberikan kesempatan semua orang memiliki hewan ternak sehingga pendapatan tidak hanya hasil bertani melainkan dari hasil memelihara sapi maupun kambing .

67Kuwat, Selaku Pemelihara Hewan Ternak Berupa Sapi Dengan Sistem Bagi Anak, Wawancara, 6 Juni 2021.

68Tari, Pemilik Hewan Ternak Berupa Sapi, Wawancara, 6 Juni 2021.

69Manto, Selaku Penggaduh Hewan Ternak Berupa Kambing, Wawancara, 6 Juni 2021.

2. Kontrak Gaduh Hewan Hewan Di Desa Tanjung Qencono

Masyarakat yang ada di Desa Tanjung Qencono dalam melakukan praktek gaduh menggunakan sistem bagi hasil. Dimana masing-masing pihak (penggaduh dan pemilik hewan ternak) mendapatkan bagian anak sesuai dengan kesepakatan awal. apabila hewan yang digaduh tersebut sama sekali belum pernah beranak maka anak pertama yang akan lahir bagian untuk penggaduh dan ketika melahirkan berikutnya maka anak tersebut bagian dari pemilik hewan ternak tersebut.70Kebalikanya, apabila hewan tersebut sudah pernak beranak, maka anak yang lahir pertama menjadi bagian dari pemilik hewan ternak kemudian baru ketika hewan ternak tersebut melahirkan kembali bagian untuk penggaduh. tidak hanya sistem bagi hasil anak yang ada di Desa Tanjung Qencono melainkan bagi hasil anak, dimana ketika anak tersebut lahir kemudian anak tersebut sudah bisa menghasilkan uang maka anak hewan tersebut dijual dan hasil dari penjualan tersebut hasilnya dibagi menjadi dua.

Sistem yang dijalankan dalam gaduh hewan ternak sapi dengan cara bagi hasil dari penjualan anak sapi yang digaduhkan sebesar 50%

masing-masing pihak, baik dari pihak pemilik hewan maupun dari pihak penggaduh. sehingga hasil dari anak sapi dibagi rata diantara keduanya.71kebanyakan yang terjadi atau secara prakteknya pihak pemilik hewan ternaklah yang menawarkan hewan berupa sapi maupun kambing untuk digaduh dengan sistem bagi hasil, sesuai dengan kesepakatan

70Tari, Pemilik Hewan Ternak Berupa Sapi.

71Tari.

44

bersama dan tentunya saling menguntungkan para pihak yang melakukan akad perjanjian gaduh hewan ternak.

a) Sifat Kontrak

Dalam Kontrak atau dalam melakukan perjanjian gaduh hewan ternak masyarakat cenderung melakukanya sesuai dengan adat kebiasaan yang terdahulu.72 Itu artinya masyarakat melakukan perjanjian hanya berlandaskan kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan kegiatan tersebut. Perjanjian tersebut tidak tertulis dan tidak ada saksi yang menyaksikan kesepakatan tersebut sehingga tidak membutuhkan suatu materai dalam melakukan kegiatan gaduh hewan ternak tersebut. karena pada dasarnya mereka (masyarakat) melakukan sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dalam masyarakat tersebut.

Dalam melakukan perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono pihak pemilik hewan ternak meminta kepada orang lain untuk menggaduh hewan tersebut dengan sistem bagi hasil. apabila pihak tersebut sepakat maka terjadilah kontrak atau perjanjian gaduh tersebut.Sehingga kesepakatan yang terjadi antara penggaduh dan pemilik hewan ternak menjadi sah menurut pandangan masyarakat jika sudah ada kata sepakat antara keduanya terjadilah kegiatan gaduh hewan ternak tanpa dihadiri saksi maupun perjanjian yang tertulis.

72Tari.

b). Isi Kontrak

Dalam sebuah perjanjian terdapat isi atau tujuan yang ingin dicapai dari kedua belah pihak serta kesepakatan-kesepakatan yang disetujui dan dibuat dari kedua belah pihak sehingga akan menemui kesepakatan dalam sebuah perjanjian. namun dalam perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencno tidak tertulis apa yang menjadi kewenangan pemilik hewan ternak dan apa yang menjadi kewajiban dan hak dari penggaduh. proses terjadinya suatu akad perjanjian gaduh hewan ternak yang melekat dalam melakukan kegiatan gaduh hewan ternak seperti dulu-dulu kebiasaan yang berlaku pada masyarakat sekitar.

Dalam hal ini kewajiban dan hak para pihak-pihak yang melakukan perjanjian gaduh hewan ternak diantaranya:

1) Hak Dan Kewajiban Pemilik Hewan Ternak

- pemilik hewan ternak berkewajiban menyerahkan hewan ternak tersebut (sapi maupun kambing)

- pemilik hewan ternak berkewajiban menjalankan isi perjanjian mulai dari pembagian hasil begitu juga dengan resiko maupun perawatan hewan ternak

- pemilik berhak mengambil keuntungan atas bagi hasil hewan ternak tersebut sesuai dengan kesepakatan

- pemilik berhak mengambil kembali sapi apabila waktu sudah habis

46

2) Hak Dan Kewajiban Penggaduh

- Penggaduh berkewajiban merawat hewan ternak sapi dengan baik

- Penggaduh berkewajiban menanggung resiko apabila terjadi kelalaian terhadap hewan ternak

- Penggaduh berhak menerima keuntungan gaduh hewan ternak Dalam sebuah kesepakatan disebutkan bahwa fasilitas yang berhubungan dengan suntik vitamin atau suntik kawin biaya tersebut dimintakan kepada pemilik hewan ternak tersebut dan penggaduh tidak mengeluarkan sepeserpun dana untuk perawatan dan kesehatan hewan ternak.73Demikian isi perjanjian dalam gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono yang disampaikan secara langsung pihak pemilik hewan ternak dan kesepakatan antara pihak penggaduh maupun pihak pemilik hewan ternak. sehingga isi di dalam perjanjian tidak dituliskan dalam sebuah kertas yang dibubuhi materai dan tidak menghadirkan saksi.

3. Pembatalan Sepihak Dalam Kontrak Gaduh Hewan Ternak Di Desa Tanjung Qencono

Dalam kasus pembatalan sepihak perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono para pihak yang melakukan kegiatan gaduh hewan ternak sebagaimana mestinya perjanjian yang disepakati pada awal kesepakatan. dimana adanya objek dan adanya waktu

73Put, Pemilik Hewan Ternak Yang Digaduh Kan (Wawancara),5 Juni 2021.

berahirnya perjanjian gaduh tersebut, sehingga para pihak sepakat untuk melakukan perjanjian gaduh hewan ternak. Dengan hal ini pembatalan yang terjadi yaitu

Kasus yang pertama yakni hewan ternak berupa kambing dimana adanya pebatalan secara sepihak dari pihak pemilik hewan. pada awalnya pihak pemilik hewan meminta 3 ekor kambingnya untuk dipelihara untuk tambahan modal jalan (blantik kambing) dan akan diminta kembali setelah cucunya kelas 6 MI/SD untuk digunakan Aqiqah. ahirnya pihak penggaduh sepakat dan menyetujui sesuai dengan kesepakatan namun setelah setelah cucunya kelas 5 MI/SD kambing tersebut diminta lagi dan belum saatnya diminta sesuai waktu yang telah disepakati. secara tidak langusng pihak penggaduh dirugikan dalam hal ini karena pihak pemilik hewan meminta kambing ukuran yang siap untuk aqiqah dalam waktu 5 hari.sehingga adanya pembatalan sepihak atas perjanjian gaduh hewan ternak yang terdapat pada waktu yang sudah disepakati tidak sesuai dengan awal kesepakatan.

Kasus yang kedua hewan sapi. dimana pihak pemilik sapi meminta penggaduh untuk memelihara sapinya dengan sistem bagi hasil anak yang akan diminta setelah 2 turunan anak dan kedua belah pihak sepakat untuk melakukan kerja sama tersebut namun, terjadi pmbatalan sepihak setelah berlangsung dua kali turunan anak, Dimana masing-masing pihak sudah mendapatkan anak sapi baik pihak penggaduh maupun pemilik hewan sapi. pihak penggaduh mengembalikan induk sapi tersebut yang tidak

48

sesuai dengan kesepakatan waktu yang sudah kedua belah pihak sepakati.

dari kejadian tersebut pihak pemilik hewan merasa mengembalikan terlalu terburu- buru apalagi pemilik hewan belum menyiapkan kandang untuk tempat sapi tersebut.

Kasus pembatalan sepihak perjanjian gaduh yang sudah berlangsung yang terjadi di Desa Tanjung Qencono Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur kasus gaduh hewan ternak berupa kambing dan kasus hewan ternak berupa sapi.

a. Sebab Dan Alasan Pembatalan

Pembatalan yang dilakukan secara sepihak oleh penggaduh hewan ternak berupa sapi ada beberapa sebab yang melatar belakanginya diantaranya pihak penggaduh kesal karena beberapa kali suntik kawin namun hasilnya nihil dalam artian sapi terus minta disuntik sampai 3x belum menemukan hasil sehingga membuat penggaduh sapi sedikit kesal tidak hanya itu melainkan mencari rumput mulai susah waktu itu karena tidak hanya merawat sapi gaduhan melainkan sapi miliknya maka dari itu pihak penggaduh merasa kualahan dalam mencari makan hewan ternak tersebut sehingga sapi dikembalikan kepada pemiliknya sebelum waktu sapi tersebut diambil oleh pihak pemilik hewan ternak.74

Berbeda halnya dengan gaduh hewan ternak berupa 3 ekor kambing jantan yang ditarik kembali pihak pemilik hewan dimana

74Jono, Selaku Pemelihara Dan Merawat Hewan Ternak (Penggaduh),(Wawancara, 5 Juni 2021).

sebab terjadinya pembatalan sepihak, 3 ekor kambing diminta pemilik hewan dengan alasan cucunya ingin segera di khitan (sunat) karena sering di desak teman-temanya untuk berkhitan dan kakeknya menarik kambing tersebut untuk aqiqah sehingga aqiqah dan khitan (sunat) dilaksanakan dalam satu waktu. sedangkan perjanjian awal kambing tersebut akan dikembalikan kepaada pihak pemilik setelah anak tersebut kelas 6 Mi Muhammadiyah Tanjung Qencono namun masih kelas 5 sudah diminta 3 kambing tersebut untuk dijadikan Aqiqah.75 Berdasarkan hal tersebut pihak penggaduh kebingunan karena kambing diminta dengan batas waktu 5 hari setelah pembicaraan kambing tersebut. yang pada mulanya kambing tersebut boleh digunakan/diperdagangkan namun saat meminta sudah harus ada dan siap untuk dijadikan hewan aqiqah.76 tutur dari pihak pemilik hewan ternak kepada penggaduh. karena pemilik hewan tersebut tau bahwa penggaduh merupakan salah satu balntik kambing yang ada di Desa Tanjung Qencono Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur. sehingga pemilik hewan ternak memberikan perjanjian gaduh hewan ternak dengan boleh dipelihara atau boleh diperdagangkan asal ketika diminta kambingnya sudah siap untuk dijadikan aqiqah yang akan dilangsungkan ketika cucunya kelas 6 MI/SD

75Manto, Pihak Penggaduh Hewan Ternak Berupa 3 Ekor Kambing, Wawancara, 6 Juni 2021.

76Parman, Pihak Pemilik Hewan Ternak Berupa Kambing, Wawancara, 6 Juni 2021.

50

b. Prosedur Pembatalan

Dalam prosesnya pembatalan sepihak perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono membatalkan dengan cara mengembalikan hewan ternak tersebut kepada pemiliknya. sebelum dikembalikan pihak penggaduh mendatangi rumah pemilik hewan ternak lantas membicarakan prihal gaduh hewan ternak yang sudah tidak bisa diteruskan sesuai dengan kesepakatan awal, kemudian setelah itu baru besoknya sapi tersebut dikembalikan kepada pihak pemilik sapi.77

lain halnya dengan hewan kambing, tidak jauh berbeda dengan sapi cara pembatalananya namun kambing yang diambil kembali berjangka 5 hari. prosedur pembatalan pemilik kambing mendatangi penggaduh kambing untuk membicarakan pengambilan hewan ternak berupa 3 ekor kambing yang sudah layak dijadikan aqiqah dalam jangka waktu 5 hari beserta alasan mengapa kambing ditarik tidak lain dan tidak bukan karena cucunya ingin segera di khitan.78

c. Kerugian Yang Timbul Dari Pembatalan

Dalam kasus pembatalan sepihak perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur terdapat kerugian yang timbul dari kesepakatan gaduh hewan ternak yang terjadi. dimana pihak pemilik

77Jono, Selaku Pemelihara Dan Merawat Hewan Ternak (Penggaduh)(Wawancara 6 Juni 2021).

78Parman, Pihak Pemilik Hewan Ternak Berupa Kambing, (Wawancara, 6 Juni 2021).

sapi dan pihak penggaduh kambing. merasa dirugikan dalam hal tersebut.

Pihak pemilik hewan ternak berupa sapi, merasa rugi akan perjanjian gaduh yang sudah berlangsung. Dalam pengembalian hewan ternak berupa sapi dikembalikan dalam keadaan sehat, namun bukan dalam hal hewan yang merasa dirugikan melainkan dari sisi suntik kawin 3x gagal. sekali suntik kawin 75 Ribu Rupiah dan sampai 3x belum mendapatkan hasil. yang di perkirakan kurangnya makanan bergizi dan vitamin pada sapi sehingga sapi bereproduksi sangat lambat.79.kemudian dari kandang. pemilik hewan ternak berupa sapi merupakan salah satu pemilik hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono yang tidak memiliki tempat untuk hewan ternak (kandang). dalam pengembalianya terkesan mendadak yang menyebabkan belum ada nya persiapan membuatkan kandang untuk sapi tersebut. sehingga sapi tersebut sekarang dititipkan kepada kakak kandungnya sendiri yang mana kandang tersebut sangat sempit karena berdesakan dengan sapi kakak nya.

Kerugian yang timbul dari pihak penggaduh kambing adalah dimana harus menyiapkan 3 ekor kambing jantan yang sudah siap dan layak untuk di jadikan hewan Aqiqah. dalam kerugianya kambing yang pernah diberikan untuk di dagangkan per ekor kisaran Rp 1.150.000,00(Satu Juta Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah) sehingga 3

79Tari, Selaku Pemilik Sapi Di Salah Satu Desa Tanajung Qencono Kec Way Bungur Kab Lampung Timur Hasil (Wawancara, 6 Juni 2021).

52

ekor kambing tersebut bertotal Rp 3.450.000,00 (Tiga Juta Empat Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) namun dari pihak penggaduh menjualnya dengan harga Rp 4.000.000,00 (Empat Juta Ribu Rupiah).

Dengan keuntungan penjualan sebesar Rp 500.000 (Lima Ratus Ribu Rupiah). Untuk hewan kambing yang siap dijadikan Aqiqah harga per ekornya Rp2.150.000,00 sampai Rp 2.250.000,00 . Pihak penggaduh kambing membelikan 3 ekor kambing tersebut dengan harga 2.150.000,00 dengan total 3 ekor kambing sebesar 6.450.000,00.

Sehingga pihak penggaduh rugi uang sebesar Rp 2.450.000.00 (Dua Juta Empat Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah).80 dalam kegiatan gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono

Berdasarkan hal tersebut yang terjadi di Desa Tanjung Qencono praktek perjanjian gaduh hewan ternak bertentangan dengan teori Mudharabah suatu perkongsian atau kerja sama dengan sistem bagi hasil resiko ditanggung bersama, sedangkan resiko gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono ditanggungkan kepada pemilik modal (pemilik sapi), namun kasus pada pemeliharaan hewan kambing resiko dibebankan kepada pihak penggaduh.

4. Penyelesaian Wanprestasi Pembatalan Sepihak Perjanjian Gaduh Hewan Ternak Di Desa Tanjung Qencono

Dalam suatu perjanjian yang terjadi dapat mengikat kedua belah pihak yang melakukan perjanjian. Dimana harus adanya keseimabangan

80Manto, Pihak Penggaduh Hewan Ternak Berupa 3 Ekor Kambing (Wawancara, 6 Juni 2021).

pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing pihak sehingga tidak menimbulkan pelanggaran atau wanprestasi dalam perjanjian tersebut.

Dalam hukum islam memiliki ketentuan mendasar dalam sebuah perjanjian yaitu memberikan kebebasan kepada para pihak yang melakukan sebuah prjanjian sehingga tidak ada yang merasa tertekan dan terbebani dalam melakukan kegiatan bermuamalah. Islam mengajarkan bahwa para pihak yang melakukan suatu perjanjian atau perikatan hendaknya dilaksanakan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan kesepakatan. Karena dalam hukum islam kelalaian yang terjadi baik dari pihak penggaduh maupun dari pihak pemilik hewan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban masing-masing pihak yang berakad tergolong perbuatan yang dilarang, karena akan berdampak ruginya salah satu pihak.

Ketika terjadinya suatu sengketa dalam bermuamalah maka dapat dicari jalan untuk menemukan titik ahir sebuah permasalahan tersebut.

penyelesaian karena terjadinya sebuah wanprestasi dari salah satu pihak dapat dilakukan dengan cara yang tepat seperti halnya mengadakan musyawarah antara pihak-pihak yang berakad dengan di dampingi orang yang adil dan tidak memihak salah satu pihak.81 sehingga permasalahan cepat dapat ditangani dan selesai.

Dalam wawancara kepada pihak penggaduh kambing di Desa Tanjung Qencono mengatakan bahwa tidak ada pertemuan selain pembatalan tempo dulu. sehingga ketika terjadinya penarikan kambing baik pihak penggaduh

81M Nasir Yusuf, ―Penyelesaian Wanprestasi Dalam Perjanjian Pembiayaan Bagi Hasil Berdasarkan Prinsip Syariah,‖ Universitas IBA Bayumi, Palembang Vol 3 No 1 (2008): 61.

54

maupun pihak pemilik hewan ternak tidak melakukan musyawarah terlebih dahulu bagaimana baiknya terhadap kerugian tersebut. dari pihak penggaduh melaksanakan permintaan dari pihak pemilik hewan ternak dengan 3 ekor kambing jantan yang siap dan layak untuk dijadikan Aqiqah.82 karena pihak penggaduh merasa ada tanggung jawab mengembalikan kambing tersebut sehingga memenuhi keinginan pihak pemilik hewan ternak walaupun pihak penggaduh mengalami kerugian.

Berdasarkan wawancara dengan pihak pemilik hewan sapi. sama halnay dengan pihak penggaduh kambing bahwasanya tidak mengadakan musyawarah terhadap kerugian yang timbul dalam sebuah perjanjian pemeliharaan hewan ternak tersebut.83 ketika dari pihak penggaduh mengembalikan hewan sapi tersebut maka pihak pemilik sapi menerima dan memelihara sapi tersebut sampai dengan sekarang dan belum menemukan orang yang tepat untuk menggaduh sapi nya kembali.

Maka dengan hal ini, Penyelesaian Kasus Pembatalan Sepihak Perjanjian Gaduh Pemeliharaan Hewan Ternak Di Desa Tanjung Qencono tidak menggunakan musyawarah para pihak yag melakukan perjanjian walaupun dalam hal tersebut terdapat kerugian, akan tetapi hanya sekedar mengembalikan kewajiban bagi penggaduh kambing kerena merasa bukan kambingnya dan dari pihak pemilik sapi dikembalikan hewanya kepadanya merupakan salah satu bentuk pengembalian hak atas hewan sapi tersebut.

82Manto, Pihak Penggaduh Hewan Kambing, wawancara, 23 Juni 2021.

83Tari, Pemilik Hewan Sapi, Wawancara,23 Juni 2021.

C. Analisis Terhadap Pembatalan Sepihak Perjanjian Gaduh Pada Pemeliharaan Hewan Ternak Di Desa Tanjung Qencono Kec Way Bungur Kab Lampung Timur

1. Pembatalan Sepihak Perjanjian Gaduh Hewan Ternak Di Desa Tanjung Qencono

Pada dasarnya semua manusia saling membutuhkan pertolongan dan bantuan manusia lainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terlebih dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Untuk melakukan suatu kegiatan atau bermuamalah dibutuhkanya suatu akad atau suatu perjanjian dalam melakukan kegiatan bermuamalah, tanpa suatua akad maka kegiatan tersebut tidak akan terjadi dan sah. akad dalam bermuamalah sangat beragam mulai dari jual beli, sewa menyewa, pinjam- meminjam dan bagi hasil.

Dalam suatu akad akan terjadinya kesepakatan antara pihak-pihak yang berakad sehingga akad menimbulkan suatu pertalian antara orang satu dengan orang lainya untuk melakukan suatu kegiatan muamalah. ketika terjadinya suatu akad maka orang tersebut memiliki hak dan kewajiban atas kegiatan bermuamalah tersebut sehingga tidak akan menimbulkan suatu permasalahan yang akan merugikan salah satu pihak.

Islam tidak pernah melarang sedikitpun kegiatan bermuamalah baik dalam jual beli maupun pmeliharaan hewan ternak berupa sapi, kambing, kerbau ayam dan lain-lain sehingga pada umumnya perjanjian

56

gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono dilakukan dengan tujuan untuk saling tolong menolong dalam hal bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan sistem bagi hasil. Gaduh berupa sapi dan kambing merupakan suatu pekerjaan sampingan dengan cara mengelola ternak milik orang lain dengan imbalan bagi hasil yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Desa Tanjung Qencono.

Berdasarkan data yang ada dari segi ekonomi masyarakat Desa Tanjung Qencono tergolong menengah. karena sebagian besar diantara penduduknya bermata pencarian sebagai petani. mereka mengandalkan penghasilan sehari-hari dari hasil pertanian seperti padi, jagung, singkong, dan sayur-sayuran. mereka juga merasa belum dapat menyisihkan uang dari hasil bertani untuk tabungan di hari tua, maka dengan itu masyarakat berinisiatif mencari pekerjaan sampingan yang tidak menggangu pertanian mereka, yang mana profesi tersebut sudah turun temurun dilakukan msyarakat Desa Tanjung Qencono dengan melakukan pekerjaan sampingan dengan menggaduh hewan ternak milik orang lain. begitu juga blantik sapi maupun blantik kambing yang ingin memberikan peluang bisnis kerjasama dengan sistem bagi hasil.

Dalam melakukan perjanjian gaduh hewan ternak masyarakat Desa Tanjung Qencono cenderung melakukanya sesuai dengan adat kebiasaan yang terdahulu, dengan demikian masyarakat Desa Tanjung Qencono melakukan perjanjian hanya berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan kegiatan gaduh tersebut sehingga isi

perjanjian tidak dituliskan dan tanpa menghadirkan sebuah saksi.

Dalam kasus pembatalan sepihak perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono Kec. Way Bungur Kab. Lampung Timur terdapat kerugian yang timbul dari kesepakatan gaduh hewan ternak yang terjadi. dimana pihak pemilik sapi dan pihak penggaduh kambing.

Dalam kasus pembatalan sepihak perjanjian gaduh hewan ternak yang ada di Desa Tanjung Qencono Kec. Way Bungur Kab. Lampung Timur terdapat kerugian yang timbul dari kesepakatan gaduh hewan ternak yang terjadi. dimana pihak pemilik sapi dan pihak penggaduh kambing.