36
Pertama, Faktor Eksternal, yaitu faktor atau alasan tersebut datang dari luar
dirinya. Dibagi menjadi kelompok alasan administratif dan alasan teknis. Seorang pemilih tidak ikut memilih karena terbentur dengan prosedur administrasi—seperti tidak tahu nama terdaftar dalam daftar pemilih, belum mendapat kartu pemilih atau kartu undangan. Riset ini menemukan responden tidak memilih karena tidak memiliki kartu pemilih, tidak memiliki KTP, dan alasan administr tif lainnya yang menyebabkan pemilih tidak bisa menggunakan haknya. Alasan ini yang banyak mempengaruhi pemilih untuk tidak hadir ke TPS. Sedangkan alasan teknis, seseorang memutuskan tidak ikut memilih karena tidak ada waktu untuk memilih— sedang ada keperluan, harus ke luar kota di saat hari pemilihan dan sebagainya.
Kedua, Faktor Internal yaitu faktor yang bersumber dari dirinya sendiri. Dengan
Kelompok alasan, Ideologis, Rational Choice dan Sosiologis, misalnya Pemilih memutuskan tidak menggunakan haknya karena secara sadar memang memutuskan untuk tidak memilih.Pemilu dipandang tidak ada gunanya, tidak akan membawa perubahan, atau tidak ada calon yang disukai dan sebagainya. Di sini seseorang memutuskan tidak memilih sebagai bentuk protes atau ketidakpuasan, baik terhadap penyelenggaraan Pemilu mapun calon yang maju dalam pemilu
Tabel 4.1 Pengelompokan Faktor /alasan tidak ikut memilih (golput) NO FAKTOR GOLPUT KELOMPOK ALASAN SPESIFIK ALASAN
1 Faktor Eksternal
Administratif Tidak terdaftar di DPT
Tidak mendapatkan surat undangan Tidak terdaftar pada Daftar Pemilih Tidak memiliki KTP
Teknis Sedang bepergian Sakit
Terlalu banyak partai
2 Faktor internal
Pilihan Rasional
/ekonomi Politik Sibuk bekerja/sekolah
Menganggap bahwa mengikuti Pemilu tidak akan membuat perubahan dan tidak aad manfaatnya.
Tidak ada yang menjanjikan hadiah
Sosiologis Bingung dengan banyaknya pilihan partai politik dan kandidat
Malu/minder untuk datang ke TPS Ideologis Bertentangan dengan ideologi
Banyak terjadi kecurangan dalam pemilihan Tidak percaya dengan calon
37
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. SIMPULAN
Dari hasil pembahasan dan analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Tingkat partisipasi pemilih dilihat dari kehadiran dan ketidakhadiran pada
pemilu legislatif di Kabupaten Tasikmalaya jika dilihat dari dua pemilu legislatif terakhir tidak banyak mengalami perubahan. Walaupun secara nasional tercatat bahwa tingkat partisipasi dari dua pemilu legislatif terakhir mengalami penurunan tetapi temuan penelitian ini menggambarkan hal yang berbeda. Artinya apa yang terjadi pada cakupan nasional tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang terjadi di tingkat lokal. Walaupun temuan penelitian menujukan hal yang berbeda ketika melihat pemilihan presiden. Dimana, apa yang terjadi di tingkat Kabupaten Tasikmalaya memiliki pola yang sama dengan apa yang terjadi di tingkat nasional yakni terjadi peningkatan partisipasi pemilih ketika melihat perbandingan dua pemilihan presiden terakhir.
2. Terjadi pola yang berbeda dalam hal tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu legislatif dengan pemilihan presiden/wakil presiden. Temuan penelitian menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat yang melihat pemilihan presiden jauh lebih sederhana daripada pemilu legislatif. Jika dalam pemilihan presiden, para pemilih hanya dihadapkan pada pilihan yang sedikit sedangkan dalam pemilu legislatif masyarakat dihadapkan pada pilihan yang sangat banyak. Hal ini sangat menentukan karena sebagian besar masyarakat dalam setiap pemilihan menginginkan kejelasan mengenai visi-misi dan program – program para kontestan yang bertarung dalam setiap pemilihan baik legislatif maupun pemilihn presiden.
3. Perilaku tidak memilih atau yang lebih dikenal dengan istilah golput selalu ada dalam setiap pemilihan. Hal ini karena golput ketika ditelusuri tidak hanya muncul karena faktor internal pemilih saja seperti faktor-faktor yang berkaitan dengan ideologis dan rasionalitas tetapi juga golput dapat muncul karena faktor-faktor dari luar pemilih seperti faktor teknis atau administratif yang memaksa seorang yang memiliki hak pilih namun tidak dapat menggunakan hak pilihnya.
38 4. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya golput sebagaimana yang dimaksud dalam point tiga yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Temuan penelitian menjelaskan bahwa faktor ekternal yang menyebabkan masyarakat termasuk pada kategori golput meliputi faktor teknis dan administratif seperti ketika seseorang yang tengah dalam kondisi berpergian, orang tersebut tidak dapat menggunakan hak pilihnya karena ia tidak terdaftar dalam DPT pada TPS terdekat. Sedangkan faktor administratif misalnya seseorang penduduk di suatu daerah tetapi tidak terdaftar dalam DPT. Sementara itu, faktor internal meliputi berbagai pertimbangan dari diri pemilih baik itu pertimbangan ideologis, sosiologis maupun rasionalitas (ekonomi politik). Temuan penelitian ini rasionalistas pemilih sudah sangat tinggi, masih ada sentimen keagamaan dalam preferensi pilihan dan beberapa faktor sosiologis masih ada walaupun dalam presentase yang tidak terlalu besar. Hal-hal seperti itu akan selalu ada dalam setiap penyelenggaraan pemilu, sehingga golput akan selalu hadir dalam setiap penyelenggaraan pemilu baik pemilu legislatif, pemilihan presiden/wakil presiden maupun pemilihan kepala daerah.
B. REKOMENDASI
Berdasarkan temuan lapangan dan simpulan yang didapat pada penelitian ini maka dapat diajukan beberapa rekomendasi bebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan partisipasi pemilih ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu perbaikan sistem pemilihan agar dapat terlaksana lebih jujur, adil, bebas dan rahasia serta menghasilkan para pemimpin yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dan juga dapat mewujudkan harapan masyarakat yang diamanahkan kepada para pemimpin tersebut.
2. Dengan beragamnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap persoalan kepartaian dan kepemiluan, penyelenggara pemilu perlu melakukan sosialisasi yang lebih komprehensif mengenai para kandidat yang bertarung dalam arena pemilihan termasuk sosialisasi terkait dengan visi-misi dan program-program dari setiap kontestan. Dengan demikian masyarakat atau pemilih dapat lebih mengenal terlebih dahulu siapa yang akan dipilihnya.
3. Penyelenggara pemilu perlu menekan angka golput dengan membenahi persoalan-persoalan yang dapat menjadi penyebab eksternal terjadinya perilaku golput seperti membuat mekanisme yang lebih dapat dipahami oleh setiap masyarakat dan memudahkan sehingga dapat menekan
39 permasalahan administrasi yang dapat menghalangi setiap orang yang mempunyai hak pilih menggunakan hak pilihnya.
4. Penyelenggara pemilu perlu meningkatkan peranannya tidak hanya sebagai penyelenggara pemilu secara teknis tetapi juga menjalankan fungsi pendidikan politik guna meningkatkan kesadaran politik masyarakat untuk ikut menentukan arah kebijakan negara melalui pemilihan umum.
40
REFERENSI
Edi Kusmayadi, 2015, Dinamika Realitas Politik Lokal, De Publish Yogyakarta. IDEA. 2002. Voter turnout Since 1945: A Global Report, 2002, hal. 80-82. Lingkaran Survey Indonesia. 2007. Golput dalam Pilkada, Kajian Bulanan
Lingkaran Survey Indonesia, EDISI 05 - September 2007
Poling Centre. 2013. Laporan final naratif Survei dasar terhadap KAP pemilih di Enam propinsi_Kabupaten Tasikmalaya, 23 November 2013.
Setiawaty, Diah, 2010. Partisipasi dan Pendidikan Pemilu Programatik
.http://www.rumahpemilu.org/in/read/5552/Partisipasi-dan-Pendidikan-Pemilu-Programatik-oleh-Diah-Setiawaty