• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertama: Pelaksanaan empat umroh yang dikerjakan Rosululloh, masing-masing dikerjakan dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umroh, seperti yang dilakukan oleh jamaah haji sekarang ini. Syaikh Muhammad bin

Sholih Al-'Utsaimin menyimpulkan, setiap umroh mempunyai waktu safar tersendiri. Artinya, satu perjalanan hanya untuk satu umroh saja. Sedangkan perjalanan menuju Tan’im belum bisa dianggap safar. Sebab masih berada dalam lingkup kota Mekkah.

Kedua: Para sahabat yang menyertai Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam dalam haji Wada’, tidak ada riwayat yang menerangkan salah seorang dari mereka yang beranjak keluar menuju tanah yang halal untuk tujuan umroh, baik sebelum atau setelah pelaksanaan haji. Juga tidak pergi ke Tan’im, Hudhaibiyah atau Ji’ranah untuk tujuan umroh. Begitu pula, orang-orang yang tinggal di Mekkah, tidak ada yang keluar menuju tanah halal untuk tujuan umroh. Ini sebuah perkara yang disepakati dan dimaklumi oleh semua ulama yang mengerti sunnah dan syariat Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam.

Ketiga: Umroh beliau shollallohu 'alaihi wa sallam yang dimulai dari Ji’ranah tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan umroh berulang-ulang. Sebab, pada awalnya beliau memasuki kota Mekkah untuk menaklukannya dalam keadaan halal (bukan muhrim) pada tahun 8 H. Selama 17 hari beliau berada di sana. Kemudian sampai kepada beliau berita, kalau suku Hawazin bermaksud memerangi beliau. Akhirnya beliau mendatangi dan memerangi mereka. Ghanimah dibagi di daerah Ji’ranah. Setelah itu, beliau ingin mengerjakan umroh dari Ji’ranah. Beliau tidak keluar dari Mekkah ke Ji’ranah secara khusus. Namun, ada perkara lain yang membuat beliau keluar dari Mekkah. Jadi,

semata-mata bukan untuk mengerjakan umroh.

Keempat: Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, juga para sahabat -kecuali ‘Aisyah- tidak pernah mengerjakan satu umroh pun dari Mekkah, meski setelah

Mekkah ditaklukkan. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang keluar dari tanah Haram menuju tanah yang halal untuk mengerjakan umroh dari sana sebelum Mekkah ditaklukkan dan menjadi Darul Islam. Karena thowaf di Ka’bah tetap masyru’ sejak Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam diutus. Bahkan sejak Nabi Ibrahim ’alaihissalam. Mengerjakan thowaf tanpa umroh terlebih dahulu, sudah mengantarkan kepada sebuah ketetapan yang pasti, bahwa perkara yang disyariatkan bagi penduduk Mekkah (orang yang berada di Mekkah) adalah thowaf. Itulah yang lebih utama bagi mereka dari pada keluar dari tanah Haram untuk mengerjakan umroh.

11 Alasan Tidak Umroh

Berulang Kali di Mekkah

Kelima: Tentang umroh yang dilakukan oleh ‘Aisyah pada haji Wada’ bukanlah berdasarkan perintah Nabi. Beliau mengizinkannya setelah 'Aisyah memohon dengan sangat. Umroh yang dilakukan ‘Aisyah ini sebagai pengkhususan baginya. Sebab, belum didapati satu pun dalil dari seorang sahabat pria ataupun perempuan yang menerangkan bahwa ia pernah melakukan umroh usai melaksanakan ibadah haji, dengan memulai ihrom dari kawasan Tan’im,

sebagaiamana yang telah dilakukan 'Aisyah rodhiyallohu 'anha. Andaikata para sahabat mengetahui perbuatan ‘Aisyah tersebut disyariatkan juga buat mereka pasca menunaikan ibadah haji, niscaya banyak riwayat dari mereka yang menjelaskan hal itu.

Keenam: Kaum Muslimin bersilang pendapat tentang hukum umroh, apakah wajib ataukah

tidak. Para ulama yang memandang umroh itu wajib seperti layaknya haji, mereka tidak mewajibkannya atas penduduk Mekkah. Imam Ahmad pernah menukil perkataan Ibnu 'Abbas: “Wahai penduduk Mekkah, tidak ada kewajiban umroh atas kalian. Umroh kalian adalah thowaf di Ka’bah”.

‘Atha bin Abi Rabah –ulama yang paling menguasai manasik haji dan panutan penduduk Mekkah– berkata : “Tidak ada manusia ciptaan Alloh kecuali wajib atas dirinya haji dan umroh. Dua kewajiban yang harus dilaksanakan bagi orang yang mampu, kecuali penghuni Mekkah. Mereka wajib mengerjakan haji, tetapi tidak wajib umroh, karena mereka sudah mengerjakan thowaf. Dan itu sudah mencukupi”.

11 Alasan Tidak Umroh

Berulang Kali di Mekkah

Ketujuh: Intisari umroh adalah thowaf. Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah bersifat menyertai saja. Bukti yang menunjukkannya sebagai penyerta adalah, sa'i tidak dikerjakan kecuali setelah thowaf. Dan ibadah thowaf ini bisa

dikerjakan oleh penduduk Mekkah, tanpa harus keluar dari batas tanah suci Mekkah terlebih dahulu. Barangsiapa yang sudah mampu mengerjakan perkara yang inti, ia tidak diperintahkan untuk menempuh wasilah (perantara yang mengantarkan kepada tujuan).

Kedelapan: Berkeliling di Ka’bah adalah ibadah yang dituntut. Adapun

menempuh perjalanan menuju tempat halal untuk berniat umroh dari sana merupakan sarana menjalankan ibadah yang diminta. Orang yang

menyibukkan diri dengan sarana (menuju tempat yang halal untuk berumroh dari sana) sehingga meninggalkan tujuan inti (thowaf), orang ini telah salah jalan, tidak paham tentang agama. Lebih buruk dari orang yang berdiam di dekat masjid pada hari Jum’at, sehingga memungkinkannya bersegera menuju masjid untuk sholat, tetapi ia justru menuju tempat yang jauh untuk

mengawali perjalanan menuju masjid itu. Akibatnya, ia meninggalkan perkara yang menjadi tuntutan, yaitu sholat di dalam masjid tersebut.

11 Alasan Tidak Umroh

Berulang Kali di Mekkah

Kesembilan: Mereka mengetahui dengan yakin, bahwa thowaf di sekeliling Baitullah jauh lebih utama daripada sa’i. Maka daripada mereka menyibukkan diri dengan pergi keluar ke daerah Tan’im dan sibuk dengan amalan-amalan umroh yang baru sebagai tambahan bagi umroh sebelumnya, lebih baik

mereka melakukan thowaf di sekeliling Ka’bah. Dan sudah dimaklumi, bahwa waktu yang tersita untuk pergi ke Tan’im karena ingin memulai ihrom untuk umroh yang baru, dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan thowaf ratusan kali keliling Ka’bah.

Kesepuluh: Setelah memaparkan kejadian orang yang berumroh berulang-ulang, misalnya melakukannya dua kali dalam sehari, Syaikhul Islam semakin memantapkan pendapatnya, bahwa umroh yang demikian tersebut makruh, berdasarkan kesepakatan para imam. Selanjutnya beliau menambahkan, meskipun ada sejumlah ulama dari kalangan Syafi’iyyah dan ulama Hanabilah yang menilai umroh berulang kali sebagai amalan yang sunnah, namun pada dasarnya mereka tidak mempunyai hujjah khusus, kecuali hanya qiyas umum. Yakni, untuk memperbanyak ibadah atau berpegangan dengan dalil-dalil yang umum.

Kesebelas: Pada penaklukan kota Mekkah, Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam berada di Mekkah selama sembilan belas hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa beliau keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umroh dari sana. Apakah Nabi tidak tahu bahwa itu masyru’ (disyariatkan)? Tentu saja tidak mungkin!

11 Alasan Tidak Umroh

Berulang Kali di Mekkah

Selesai

Dokumen terkait