• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tindak Pidana dan Pemidanaan

2.1.4 Alat Bukti

Menurut herzien inlandsch reglement (HIR) atau Reglemen Indonesia yang di perbaharui, dalam acara perdata/ pidana hakim terikat pada alat-alat bukti yang sah, yang berarti bahwa hakim hanya boleh mengambil keputusan berdasarkan alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang saja17.

Di dalam Pasal 184 (1) KUHAP, ditegaskan bahwa alat bukti yang sah akan menjadi dasar hukum untuk mnentukan apakah terdakwa bersalah atau tidak, adalah: 18

a. Keterangan saksi.

b. Keterangan ahli.

c. Surat.

d. Petunjuk.

e. Keterangan terdakwa.

1. Keterangan saksi

Dalam pengertian tentang keterangan saksi, terdapat beberapa pengertian lainya yang perlu dikemukakan, yaitu pengertian saksi dan kesaksian, sebagai berikut :

a. Saksi

- Seseorang yang mempunyai informasi tangan pertama mengenai suatu kejahatan atau kejadian dramatis melalui indra mereka seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan dan dapat menolong

17 Andi sofyan, H.Abd.Asis, hukum acara pidana, PT kencana predanamedia group, Jakarta,2014, Hlm.237.

18 Ruslan Renggong, Hukum Pidana Lingkungan, Prenadamedia Group, Jakarta,2018, hlm.138.

memastikan pertimbangan-pertimbangan dalam suatu kejahatan atau kejadian .

- Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia liat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 angka 26 KUHAP).

- Saksi adalah seseorang yang menyampaikan laporan dan/atau yang dapat memberikan keterangan dalam proses penyelesaian tindak pidana berkenaan dengan peristiwa hukum yang ia dengar, liat dan alami sendiri dan/atau orang yang memiliki keahlian khusus tentang pengetahuan tertentu guna kepentianga penyelesaian tindak pidana (Rancangan Undang-Undang Perlindungan Saksi Pasal 1angka 1).19 b. Kesaksian

- Menerut R. soeilo, adalah suatu keterangan di muka hakim degan sumpah, tentang hal-hal mengenai kejadian tertentu, yang ia dengar, lihat, dan alami sendiri.

- Menurut Sudikono Mertokusumo, adalah kepastian yang di berikan kepada hakim dipersidangan tentang peristiwa dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan dilarang atau tidak diperbolehkan oleh Undang-Undang, yang di panggil di pengadilan.

19Andi sofyan, Op.cit., hlm.238.

c. Keterangan Saksi

Yang diamaksud dengan keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang iyah dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya.

2. Keterangan Ahli (verlaringen van een deskundige expert testimony)

Di dalam KUHAP telah merumuskan pengertian tentang keterangan ahli, sebagai berikut:

- Menurut Pasal 1 angaka 28 KUHAP, bahwa keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang halnyang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

- Menurut Pasal 186 KUHAP, bahwa keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.20

3. Keterangan Bukti Surat

Menurut Sudikno Mertokusumo, bahwa alat bukti tertulis atau surat adalah segala sesuatu yang membuat tanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah fikiran seseorang dan digunakan sebagai pembuktian. Menurut Pasal 187 KUHAP, bahwa yang dimaksud dengan surat sebagaiman tersebut pada

20 Ibid, hl.245.

Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :

- Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dipahaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu.

- Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.21

- Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.

- Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

4. Alat Bukti Petunjuk

Menurut Pasal 188 KUHAP, bahwa yang dimaksud dengan alat bukti petunjuk adalah:

- Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuiannya, baik anatara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana dan siapa pelakunya.

21 Ibid. Hlm.264.

- Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat diperoleh dari:

a. Keterangan saksi b. Surat

c. Keterangan terdakwa

- Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.

5. Alat Bukti Keterangan

Menurut Pasal 189 KUHAP, bahwa yang dimaksud alat bukti berupa keterangan terdakwa, adalah :

- Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang iyah lakukan atau yang iyah ketahui sendiri atau alami sendiri.

- Keterangan terdakwa yang diberikan diluar sidang dapat digunanakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh sebuah alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

- Keterangan terdakwa hanya bisa digunanakan terhadap dirinya sendiri.

- Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.

Jadi berdasarkan Pasal 189 KUHAP di atas, bahwa keterangan terdakwa harus harus diberikan di depan sidang saja, sedangakan di luar sidang hanya dapat digunakan untuk menemukan bukti di sidang saja .

KUHAP hanya menjelaskan tentang alat bukti sebagaimana uraian diatas, namun pengertian barang bukti tidak di jelaskan, namun dalam HIR Pasal 63 sampai 67 HIR disebutkan, bahwa barang-barang yang dapat digunakan sebagai bukti, dapatlah dibagi atas:

1. Barang yang merupakan objek peristiwa pidana.

Misalnya dalam perkara pencurian uang , maka uang tersebut digunakan sebagai barang bukti, selain itu di bedakan antar objek mati (tidak bernyawa) dan objek yang bernyawa, maka objek mati adalah benda-benda tak bernyawa, sedangkan yang bernyawa misalnya pencurian hewan dan lain sebagainya .

2. Barang yang merupakan produk peristiwa pidana Misalnya uang palsu atau obat-obatan dan sebagainya.

3. Barang yang digunakan sebagai alat pelaksanaan peristiwa pidana

Misalnya senjata api atau parang yang digunakan untuk penganiayaan atau pembunuhan orang dan sebagainya.

4. Barang-barang yang terkait didalam peristiwa pidana

Mislanya bekas-bekas dara pakaian, bekas sidik jari dan lain sebagainya.

Jadi barang-barang bukti sebagaimana disebutkan diatas adalah sebagai bagian dari pembuktian (evidences) dalam suatu peristiwa pidana.22

22 Ibid, hlm. 266.

2.1.5. Dasar Peniadaan, Pemberatan, dan Peringanan Pidana

Dokumen terkait