BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
7. Alat dan bahan penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, busur dan lembar isian, yang digunakan sebagai media pengumpulan data. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rekam medis pasien yang telah selesai menjalani perawatan ortodonti yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan (Gambar 7).
Gambar 7. Alat dan bahan penelitian (A) Alat tulis dan busur; (B) Lembar isian; dan (C) Rekam medis pasien.
29
3.8 Prosedur Penelitian
1. Pengumpulan data dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Data rekam medis pasien yang berkunjung ke Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU untuk mendapatkan perawatan piranti ortodonti cekat dari tahun 2006 s/d tahun 2010.
2. Metode penilaian relasi skeletal dalam penelitian ini ditentukan menggunakan analisis sefalometri Steiner.1,3,12,17,22,23
3. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengukuran kembali pada sefalogram dari data rekam medis seperti besar sudut SNA, SNB dan ANB menggunakan busur.
4. Hasil pengukuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lembar isian, beserta dengan rencana perawatan yang dilakukan, apakah perawatan dengan atau tanpa pencabutan.
5. Hasil pengumpulan data dimasukkan kedalam tabel di komputer untuk dianalisis.
6. Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data berdasarkan jenis perawatan dan maloklusinya, untuk mengetahui prevalensi maloklusi berdasarkan relasi skeletal pada kasus pencabutan maupun non-pencabutan.
3.9 Pengolahan Data
Data yang diperoleh dianalisis, diklasifikasikan, diinterpretasikan setiap variabel pengukuran dan dianalisis dengan komputerisasi.
3.10 Ethical Clearance
Penelitian yang dilakukan telah memintakan ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Peneliti melakukan penelitian tentang prevalensi relasi skeletal pada kasus pencabutan dan non-pencabutan yang dilakukan di Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU. Sampel penelitian berjumlah 122 sampel yang terdiri atas 65 sampel kasus non-pencabutan dan 57 sampel kasus pencabutan yang berasal dari data rekam medis pasien yang telah selesai menjalani perawatan ortodonti dan telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi seperti yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini menggunakan data sudut ANB sebelum perawatan dari data rekam medis sampel. Hasil perhitungan pada sampel berupa jumlah maloklusi yang diklasifikasikan menjadi tiga Klas sesuai dengan relasi skeletal sampel (Tabel 1).
Tabel 1. Prevalensi relasi skeletal pada kasus pencabutan dan non-pencabutan (N=122)
Tabel 1 menunjukkan bahwa pasien yang telah selesai melakukan perawatan ortodonti cekat dengan pencabutan di klinik PPDGS Ortodonti FKG USU dari tahun 2006 sampai dengan 2010 adalah sebanyak 57 orang, dengan 46,72%. Persentase relasi skeletal tertinggi adalah relasi skeletal Klas I dengan 23,77% (29 orang), diikuti Klas II dengan 16,39% (20 orang) dan Klas III dengan 6,55% (8 orang). Sedangkan
RELASI SKELETAL
JENIS PERAWATAN
DENGAN PENCABUTAN TANPA PENCABUTAN
FREKUENSI (N) PERSEN (%) FREKUENSI (N) PERSEN (%)
Klas I Skeletal 29 23,77 37 30,32
Klas II Skeletal 20 16,39 19 15,57
Klas III Skeletal 8 6,55 9 7,37
31
pasien yang mendapatkan perawatan ortodonti cekat tanpa pencabutan sebanyak 65 orang, 53,27%. Persentase relasi skeletal tertinggi pada relasi skeletal Klas I dengan 30,32% (37 orang), diikuti Klas II dengan 15,57% (19 orang) dan Klas III dengan 7,37% (9 orang).
BAB 5 PEMBAHASAN
Maloklusi skeletal dapat mempengaruhi susunan gigi dan estetika wajah seseorang.24 Oleh karena itu, melakukan analisis relasi skeletal dan dental yang
menunjukkan diskrepansi atau abnormalitas dari struktur yang normal, diperlukan untuk mempermudah dalam menegakkan diagnosa dan menyusun rencana perawatan bagi tiap individu.25 Berbagai penelitian mengenai maloklusi sudah banyak dilakukan,
namun hasil dari penelitian tersebut sangat bervariasi bergantung pada populasi yang diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk melihat prevalensi maloklusi berdasarkan relasi skeletal pada pasien perawatan ortodonti cekat dengan pencabutan dan non-pencabutan di klinik PPDGS Ortodonti FKG USU. Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah data rekam medik dari pasien yang telah menyelesaikan perawatan ortodonti cekat dari tahun 2006 sampai dengan 2010 dengan jumlah 122 sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dimana sampel yang dipilih adalah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan melakukan pencatatan nilai sudut SNA, SNB dan ANB beserta jenis perawatan yang dilakukan. Setelah data hasil penelitian dikumpulkan, data kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi.
Pada penelitian ini sampel dibagi menjadi dua kelompok perawatan, yaitu
kelompok perawatan kasus pencabutan dan kelompok perawatan kasus non-pencabutan. Penelitian ini tidak membedakan sampel berdasarkan jenis kelamin
maupun umur. Hasil penelitian ini, seperti yang ditunjukkan pada tabel 1 memperlihatkan bahwa relasi skeletal dengan persentase tertinggi pada kelompok perawatan kasus pencabutan adalah relasi skeletal Klas I dengan persentase sebesar 23,77% (29 orang). Sedangkan pada kelompok perawatan kasus non-pencabutan, relasi skeletal Klas I juga memiliki persentase tertinggi sebesar 30,32% (37 orang). Sehingga didapat relasi skeletal Klas I merupakan relasi skeletal yang paling umum dirawat di
33
Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU. Beberapa penelitian lain yang menunjukkan hasil serupa dengan penelitian ini seperti, penelitian yang dilakukan oleh Aldrees terhadap 602 pasien ortodonti di Saudi Arabia, menunjukkan maloklusi skeletal yang paling umum terjadi berdasarkan sudut ANB adalah maloklusi skeletal Klas I.4 Hal serupa juga dikemukakan oleh Saleh, yang menyatakan 35,5% dari 851 murid sekolah di Lebanon mengalami maloklusi Klas I.26 Sayin melakukan penelitian terhadap 1356 pasien ortodonti di Turki menunjukkan hasil dimana 875 pasien mengalami maloklusi Klas I yang merupakan maloklusi yang paling sering terjadi, sedangkan maloklusi Klas II divisi 1 merupakan yang paling jarang terjadi.6 Matya melakukan
penelitian pada 1601 anak dengan rerata umur 12-14 tahun. Hasil penelitian tersebut menyatakan 93.6% anak menunjukkan hubungan molar Klas I.7Šidlauskas melakukan penelitian terhadap 1681 anak sekolah usia 7-15 tahun di Lithuania, hasil penelitian
tersebut menunjukkan hubungan molar Klas I ditemukan sebesar 68,4% (1150 orang).27
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Laganà untuk melihat prevalensi maloklusi pada 2617 anak sekolah di Tirana, Albania. Hasil penelitian tersebut menunjukkan 40,4% (1058 orang) subjek mengalami maloklusi Klas I.28 Serupa dengan Ajayi yang melakukan penelitian terhadap 441 anak sekolah di Nigeria, mengemukakan bahwa maloklusi Angle Klas I merupakan maloklusi yang paling sering terjadi dengan 80,7% (356 orang).29 Wijayanti melakukan penelitian di SD At-Taufiq, Jakarta. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan 65,3% dari 98 sampel menunjukkan maloklusi Klas I.30 Wahab melakukan penelitian terhadap masyarakat etnik Kadazan dusun di Malaysia menunjukkan relasi skeletal yang paling umum adalah relasi skeletal Klas I dengan persentase 48% (121 orang).31 Tokugana mengemukakan 53,3 % ( 228 orang) dari 428 pasien di National University of Mexico (UNAM) mengalami maloklusi skeletal Klas I.32
Berbagai penelitian lain yang berhubungan dengan prevalensi maloklusi telah dilakukan di seluruh dunia pada berbagai populasi, ras, etnik, kelompok umur dan jenis kelamin tertentu, dan memperoleh hasil yang berbeda-beda pula. Misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh Gul-e-Erum dan Fida yang menunjukkan Klas II Angle
memiliki presentase 70,5% (110 orang) dari 156 sampel merupakan bentuk maloklusi yang paling umum terjadi.33 Nanjannawar mengemukakan bahwa maloklusi Klas II dan Klas II divisi 1 merupakan bentuk maloklusi yang paling banyak ditemukan dengan 48% (60 orang) dan 56,8% (71 orang) dari 125 sampel.34 Hasil yang sama juga dikemukakan oleh Sakrani35, Phaphe36, Simmons37, Hamid8, dan Oshagh38 bahwa
maloklusi Klas II merupakan maloklusi yang paling umum terjadi. Di lain pihak, penelitian yang dilakukan oleh Boeck pada 381 pasien di Araraquara, Brazil menunjukkan maloklusi Klas III memiliki persentase tertinggi dengan 81 pasien.39
Almasri melakukan penelitian untuk melihat prevalensi maloklusi skeletal pada 364 pasien Saudi Arabia. Hasil penelitian tersebut menyatakan 42% mengalami maloklusi skeletal dengan maloklusi skeletal Klas III merupakan maloklusi yang paling banyak terjadi.9
Elham mengemukakan bahwa data prevalensi maloklusi pada berbagai populasi yang telah diterbitkan menunjukkan variasi yang luas antara 39-93%. Adanya perbedaan dalam rentang umur dari populasi yang diteliti, perbedaan tahap perkembangan yang dipelajari, jumlah subjek yang terlibat dan metode yang digunakan dalam penelitian dapat menjelaskan perbedaan dan variasi tersebut.40 Variasi yang luas pada berbagai populasi juga dapat bergantung pada variasi genetik dan lingkungan yang mempengaruhi.4 Berdasarkan hal-hal tersebut, perbedaan antara penelitian ini dengan beberapa penelitian lain dapat dikaitkan dengan adanya perbedaan jumlah dan lingkungan dari populasi, serta perbedaan metode penelitian yang dipilih. Dimana penelitian ini tidak mempertimbangkan umur dan jenis kelamin sehingga perbedaan hasil sangat mungkin dapat terjadi.
Hasil penelitian ini menunjukkan distribusi perawatan ortodonti dengan pencabutan sebesar 46,72% (57 orang), sedangkan pada perawatan ortodonti tanpa pencabutan sebesar 53,27% (65 orang), dengan relasi skeletal Klas I adalah relasi skeletal yang paling banyak ditemui. Penelitian ini memiliki hasil yang hampir sama dengan penelitian yang dilakukan Peck dan Khan.41,42 Peck melakukan penelitian untuk
melihat frekuensi pencabutan gigi dalam perawatan ortodonti. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan 42,1% (226 orang) dari 537 sampel mengalami pencabutan gigi,
35
sedangkan 57,9% (311 orang) melakukan perawatan ortodonti tanpa pencabutan.41 Khan melakukan penelitian untuk melihat rasio perawatan ortodonti dengan pencabutan dan tanpa pencabutan menunjukkan dari total 135 sampel, perawatan ortodonti dengan pencabutan memiliki persentase sebesar 41,5%, sedangkan perawatan ortodonti tanpa pencabutan sebesar 58,5%. Pada penelitian tersebut juga ditemukan bahwa relasi skeletal yang paling banyak ditemui adalah relasi skeletal Klas I dengan 57,04%.42
Sementara itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Proffit untuk melihat frekuensi kasus pencabutan terhadap 6000 pasien di klinik ortodonti University of North Carolina dari tahun 1953-1993. Hasil penelitian tersebut menunjukkan perawatan ortodonti dengan pencabutan memiliki presentase sebesar 30%, sedangkan perawatan ortodonti tanpa pencabutan sebesar 70%. Penelitian oleh Proffit memiliki persamaan dengan penelitian ini, dimana perawatan ortodonti tanpa pencabutan memiliki persentase yang lebih besar dari perawatan ortodonti dengan pencabutan. Proffit mengemukakan, hasil tersebut dapat disebabkan oleh 3 faktor yang mempengaruhi, yaitu: (1) berbagai penelitian yang menunjukkan terjadinya relapse setelah perawatan dengan pencabutan, (2) adanya kekhawatiran bahwa pencabutan premolar berhubungan dengan temporomandibular dysfunction, dan (3) perubahan teknik yang mempermudah melakukan perawatan ortodonti tanpa pencabutan, dan rata-rata waktu perawatan ortodonti tanpa pencabutan lebih singkat dibandingkan perawatan dengan pencabutan.43
Namun terdapat perbedaan rentang persentase yang signifikan antara penelitian ini, penelitian Peck, dan penelitian Khan, dibandingkan dengan penelitian dari Proffit. Khan menyatakan perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pemilihan pencabutan gigi yang dilakukan.42 Penelitian oleh Proffit hanya memasukkan pencabutan gigi premolar pertama sebagai kriteria inklusi dalam penelitiannya. Sedangkan pada penelitian ini dan penelitian Khan memasukkan semua jenis pencabutan gigi seperti pencabutan gigi premolar pertama, kedua dan molar. Selain itu Proffit juga hanya melakukan penelitian pada kasus dengan maloklusi Klas II, sedangkan penelitian ini dan penelitian Khan memasukkan relasi skeletal Klas I, Klas II dan Klas III.42,43 Penelitian ini memiliki
kriteria pemilihan sampel yang mirip dengan penelitian oleh Khan, sehingga hasil penelitian yang didapat hampir sama dengan penelitian Khan.
Pada penelitian oleh Weintraub terhadap 238 dokter gigi spesialis ortodonti di Michigan, distribusi perawatan ortodonti dengan pencabutan sangatlah bervariasi dengan persentase antara 5-87,5%.44 Krisnawati melakukan penelitian untuk melihat
kecenderungan perawatan ortodonti dengan pencabutan gigi pada pasien ortodonti di Jakarta periode 1993-1995. Hasil penelitian tersebut menunjukkan persentase perawatan ortodonti dengan pencabutan memiliki rentangan antara 25-85%.45
Weintraub mengemukakan bahwa adanya variasi yang luas tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis teknik yang digunakan dalam perawatan, profil pasien yang menerima perawatan, dan tingkat pengetahuan operator yang melakukan perawatan.44
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, distribusi perawatan ortodonti dengan pencabutan sebesar 46,72% (57 orang), sedangkan pada perawatan ortodonti tanpa pencabutan sebesar 53,27% (65 orang). Relasi skeletal yang paling umum terjadi di Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU adalah Klas I skeletal, dengan persentase sebesar 23,77% (29 orang) untuk kelompok perawatan kasus pencabutan, dan 30,32% (37 orang) pada kelompok perawatan kasus non-pencabutan. Hasil ini juga dapat menunjukkan bahwa perawatan ortodonti cekat baik dengan pencabutan maupun non-pencabutan yang paling umum dilakukan di Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU adalah perawatan untuk Klas I skeletal. Walaupun demikian, pengembangan dan perluasan populasi penelitian ini dirasakan perlu. Penelitian ini hanya dapat mewakili populasi di Klinik PPDGS Ortodonti FKG USU, tanpa mempertimbangkan berbagai aspek seperti rentang umur dan jenis kelamin. Sehingga penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih akurat untuk setiap rentang umur maupun jenis kelamin.
37
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Distribusi maloklusi berdasarkan relasi skeletal pada kasus pencabutan di klinik PPDGS Ortodonti FKG USU dari tahun 2006 s/d tahun 2010 adalah 46,72% (57 orang) dari 122 sampel. Dengan relasi skeletal Klas I sebesar 23,77% (29 orang), diikuti relasi skeletal Klas II dengan 16,39% (20 orang), dan relasi skeletal Klas III dengan 6,55% (8 orang).
2. Distribusi maloklusi berdasarkan relasi skeletal pada kasus non- pencabutan di klinik PPDGS Ortodonti FKG USU dari tahun 2006 s/d tahun 2010 adalah 53,27% (65 orang) dari 122 sampel. Dengan relasi skeletal Klas I sebesar 30,32% (37 orang), diikuti relasi skeletal Klas II dengan 15,57% (19 orang), dan relasi skeletal Klas III dengan 7,37% (9 orang).
6.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar agar diperoleh hasil yang dapat mewakili populasi yang lebih luas.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih spesifik serta memperhatikan beberapa aspek seperti usia, jenis kelamin, kebiasan, ras maupun etnik agar diperoleh hasil yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Couborne MT, DiBiase AT. Handbook of Orthodontics. China: Elsevier, 2010: 1, 7-9, 125, 136, 150-2, 154, 157-8, 163-172, 190, 192, 195-7.
2. Sarver DM, Proffit WR, Ackerman JL. Diagnosis and Treatment Planning in Orthodontics. In: Graber TM, Vanarsdall RL. Orthodontics Current Principles and Techniques. 3rd ed., Missouri: Mosby, 2000: 4, 7, 17-9.
3. Singh G. Textbook of Orthodontics. 2nd ed., New Delhi: Jaypee, 2007: 65, 94-5, 100-9, 112-5, 119-20, 160, 163, 170-2, 648-653, 655-8.
4. Aldrees AM. Pattern of skeletal and dental malocclusions in Saudi orthodontic patients. Saudi Med J 2012 33(3): 315-20.
5. Soh J, Sandham A, Chan YH. Occlusal status in Asian male adults: prevalence and ethic variation. Angle Orthodontist 2005 75(5): 814-20.
6. Sayin MO, Turkkahraman H. Malocclusion and crowding in an orthodontically referred Turkish population. Angle Orthodontist 2004 74(5): 635-9.
7. Matya M, Brudvik P, AstrØm AN. Prevalence of malocclusion and its relationship with socio-demographic factors, dental caries, and oral hygiene in 12 to 14 year old Tanzanian schoolchildren. European Journal of Orthodontics 2009 31: 467-76. 8. Hamid WU, Asad S. Prevalence of skeletal components of malocclusion using
composite cephalometric analysis. Pakistan Oral & Dent. Jr 2003 23(2): 137-44. 9. Almasri M. The prevalence of skeletal malocclusion in the southern aseer region of
Saudi Arabia. American Journal of Medical Sciences and Medicine 2014 2(1): 13-5.
10.Hearsman P. Master Dentistry. Spain: Churchill Livingstone, 2003: 232, 235, 238, 242-4, 249-51.
11.Taner-Sarisoy L, Darendeliler N. The influence of extraction orthodontic treatment on cranio-facial structures: Evaluation according to two different factors. American Journal of Orthodontics and Dentofacial Orthopedics 1999; 115(5): 508-14.
39
12.Bhalajhi SI. Orthodontics the Art and Science. 3rd ed., New Delhi: Arya (MEDI) Pubhishing House, 2003: 63, 66-69, 115, 143-144, 151-157, 239, 242-243, 245-246, 260-261, 264-267, 393-394, 415, 420, 423-435, 433-434.
13.Staley RN, Reske NT. Essentials of Orthodontics: Diagnosis and Treatment. Oxford: Wiley-Blackwell, 2011: 6.
14.Singh G, Juneja T. Methods of Gaining Space. In: Singh G. Textbook of Orthodontics. 2nd ed., New Delhi: Jaypee, 2007: 231-2, 241, 246-55.
15.Viazis AD. Atlas of Advanced Orthodontics. Michigan: WB Saunders Co., 1998: 3, 10-11.
16.Proffit W, Fields HW. Contemporary Orthodontics. 4th ed., Missouri: Mosby, 2007: 163.
17.Azar NP. The consistency of orthodontic diagnosis and treatment planning. Thesis. Saint Louis: Saint Louis University, 2012: 3, 15-9, 23-7.
18.Abdullah RTH, Kuijpers MAR, Bergé SJ, Katsaros C. Steiner cephalometric analysis: predicted and actual treatment outcome compared. Orthod Craniofacial Res 2006: 77-83.
19.Loi H, Nakata S, Nakasima A, Counts AL. Comparison of cephalometric norms between Japanese and Caucasian adult in antero-posterior and vertical dimension. European Journal of Orthodontics 2007; 29: 493-9.
20.Staley RN. Cephalometric Analysis. In: Bishara SE. Textbook of Orthodontics. USA: WB Saunders Co., 2001: 113-5, 118, 122, 133.
21.Walker RP. Computer Applications in Orthodontics. In: Graber TM, Vanarsdall RL.
Orthodontics Current Principles and Techniques. 3rd ed., Missouri: Mosby, 2000: 363-5.
22.Jacobson A. Radiographic Cephalometry: from basics to video imaging. Illinois: Quintessence Publishing Co. Inc., 1995: 77-80.
23.Steiner CS. Cephalometrics in clinical practice. Angle Orthod 1959 29: 8‑29. 24.Joshi N, Hamdan AM, Fakhouri WD. Skeletal Malocclusion: a developmental
25.Navarro ACL, Carreiro LS, Rossato C, Takahashi R, Lima CEO. Assessing the predictability of ANB, 1-NB, P-NB and 1-NA measurements on Steiner cephalometric analysis. Dental Press J Orthod. 2013 18(2): 125-32.
26.Saleh FK. Prevalence of malocclusion in a sample of Lebanese schoolchildren: an epidemiology study. Eastern Mediterranean Health Journal 1999 5(2): 337-43. 27.Šidlauskas A, Lopatienė K. The prevalence of malocclusion among 7-15-year-old
Lithuanian schoolchildren. Medicina (Kaunas) 2009 45(2): 147-52.
28.Laganà G, Masucci C, Fabi F, Bollero P, Cozza P. Prevalence of malocclusions, oral habits, and orthodontics treatment need in a 7-to 15-year-old schoolchildren population in Tirana. Progress in Orthodontics 2013 14(12): 1-7.
29.Ajayi EO. Prevalence of malocclusion among school children in Benin city, Nigeria.
CMS UNIBEN JMBR 2007 1(2): 5-11.
30.Wijayanti P, Krisnawati, Ismah N. Gambaran maloklusi dan kebutuhan perawatan ortodonti pada anak usia 9-11 tahun (Penelitian pendahuluan di SD At-Taufiq, cempaka putih, Jakarta). Jurnal PDGI 2014 63(1): 25-9.
31.Wahab RMA, Idris H, Yacob H, Ariffin SHZ. Cephalometric and malocclusion analysis of Kadazan Dusun ethnic orthodontics patients. Sains Malaysiana 2013 42(1): 25-32.
32.Tokugana CS, Katagiri KM, Elorza PTH. Prevalence of malocclusions at the orthodontics department of the graduate school, national school of dentistry, national university of Mexico (UNAM). Revista Odontológica Mexicana 2014 18(3): 175-9.
33.Fida M. Pattern of malocclusion in orthodontic patients: a hospital based study. J Ayub Med Coll Abbottabad 2008 20(1): 43-7.
34.Nanjannawar L, Agrawal JA, Agrawal M. Pattern of malocclusion and treatment need in orthodontic patients: an institution-based study. World Journal of Dentistry 2012 3(2): 136-40.
41
35.Sakrani H, Hussain SS, Ansari O, Hanif M. Prevalence of malocclusion in patients reporting in an orthodontic opd of a tertiary care hospital. Pakistan Orthodontic Journal 2010 : 8-13
36.Phaphe S, Kallur R, Vaz A, Gajapurada J, Sugaraddy, Mattigatti S. To determine the prevalence rate of malocclusion among 12 to 14-year-old schoolchildren of Urban Indian population (Bagaldot). The Journal of Contemporary Dental Practice 2012 13(3): 316-21.
37.Simmons HC, Oxford DE, Hill MD. The prevalence of skeletal class II patients found in a consecutive population presenting for TMD treatment compared to the national average. J Tenn Dent Assoc. 2008 88(4): 16-8.
38.Oshagh M, Ghaderi F, Pakshir HR, Baghmollai AM. Prevalence of malocclusions in school-age children attending the orthodontics department of Shiraz University of Medical Sciences. 2010 16(12): 1245-50.
39.Boeck EM, Lunardi N, Pinto AdS, Pizzol KEDC, Neto RJB. Occurrence of skeletal malocclusions in Brazilian patients with dentofacial derformities. Braz Dent J 2011 22(4): 340-5.
40.Elham SJ, Alhaija A, Al-Khateeb SN, Al-Nimri KS. Prevalence of malocclusion in 13-15 year-old north Jordanian school children. Community Dental Health 2005 (22): 000-0
41.Peck S and Peck H. Frequency of tooth extraction in orthodontic treatment. Am J Orthod. 1979 95: 462-6.
42.Khan WU, Zia AU, Aziz S, Shahzad A, Iftikhar A, Shahzad S. Ratio of extraction vs non-extraction decision on profile based orthodontic treatment planning. POJ 2011 3(2): 39-43.
43.Proffit WR. Forty-year review of extraction frequencies at a University orthodontic clinic. Angle Orthod. 1994 64: 407-14.
44.Weintraub JA, Vig PS. Brown C, Kowalski CJ. The prevalence of orthodontic extractions. Am. J. Orthod Dentofac. Orthop. 1989 96(6): 462-466.
45.Krisnawati. Kecenderungan perawatan ortodonti dengan pencabutan gigi ditinjau dari faktor usia, jenis kelamin, dan maloklusi: studi pendahuluan pada pasien ortodonti di Jakarta periode 1993-1995. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia, 1996.