• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Manfaat Penelitian

2. Alat Dan Cara Memelihara Kesehatan Gigi Dan Mulut

Kebanyakan penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut adalah plak. Plak adalah suatu lapisan lengket yang merupakan kumpulan dari bakteri. Plak ini akan mengubah karbohidrat atau gula yang berasal dari makanan menjadi asam cukup kuat untuk merusak gigi (Rahmadhan, 2010).

a. Penggunaan Sikat Gigi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyikat gigi (Putri, 2010) yaitu:

1) Teknik penyikatan gigi harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi secara efisien terutama saku gusi dan daerah interdental.

2) Pergerakan sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi atau abrasi.

3) Teknik penyikatan harus sederhana, tepat, dan efisien waktu.

b. Penggunaan Sikat gigi yang Ideal Menurut Putri, (2010):

Sikat gigi merupakan alat fisioterapi oral yang digunakan secara luas untuk membersihkan gigi dan mulut. Walaupun banyak jenis sikat gigi dipasaran, harus diperhatikan keefektifan sikat gigi untuk membersihkan gigi dan mulut seperti, kenyamanan bagi setiap individu meliputi ukuran, tekstur dari bulu sikat, mudah digunakan, mudah dibersihkan dan cepat kering sehingga tidak lembab, awet dan tidak mahal, bulu sikat lembut tetapi cukup kuat dan tangkainya ringan, serta ujung bulu sikat yang membulat.

c. Syarat Sikat Gigi yang Ideal Secara Umum Mencangkup:

1) Tangkai : tangkai sikat harus enak dipegang dan stabil, pegangan sikat harus cukup lebar dan cukup tebal.

2) Kepala sikat : jangan terlalu besar, untuk orang dewasa maksimal 25-29 mm × 10 mm; untuk anak-anak 15-24 mm × 8 mm.

3) Tekstur harus memungkinkan sikat digunakan dengan efektif tanpa merusak jaringan lunak maupun jaringan keras.

d. Teknik menyikat gigi (Putri, 2010) : 1) Teknik vertikal

Teknik verikal dilakukan dengan kedua rahang tertutup.

Kemudian permukaan bukal gigi disikat dengan gerakan ke atas dan ke bawah. Untuk permukaan lingual dan palatinal dilakukan gerakan yang sama dengan mulut terbuka.

2) Teknik horizontal

Permukaan bukal dan lingual disikat dengan gerakan ke depan dan ke belakang. Untuk permukaan oklusal gerakan horizontal yang sering disebut “scrub brush technic” dapat dilakukan dan terbukti merupakan cara yang sesuai dengan bentuk anatomis permukaan oklusal.

3) Teknik roll atau modifikassi stillman

Bulu-bulu sikat ditempatkan pada gusi sejauh mungkin dari permukaan oklusal dengan ujung-ujung bulu sikat mengarah ke apeks dan sisi bulu sikat digerakan perlahan-lahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang dari bulu sikat bergerak dengan lengkungan.

4) Vibratory technic : a) Teknik charter

Pada permukaan bukal dan labial, sikat yang dipegang dengan tangkai permukaan gigi membentuk sudut 45º terhadap sumbu panjang gigi mengarah oklusal.

b) Teknik stillman-McCall

Posisi bulu-bulu sikat berlawanan dengan Charter.

Sikat gigi ditempatkan sebagian pada gigi dan sebagian pada gusi, membentuk sudut 45º terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke apikal. Kemudian sikat gigi ditekan sehingga gusi memucat dan dilakukan gerakan rotasi kecil tanpa mengubah kedudukan ujung bulu sikat. Penekanan dilakukan dengan cara sedikit menekuk bulu-bulu sikat tanpa mengakibatkan trauma terhadap gusi.

c) Teknik bass

Sikat ditempatkan dengan sudut 45º terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke apikal dengan ujung-ujung bulu sikat pada tepi gusi.

5) Teknik fones atau Teknik sirkuler

Bulu-bulu sikat ditempatkan tegak lurus pada permukaan bukal dan labial dengan gigi dalam keadaan oklusi. Sikat digerakan dalam lingkaran-lingkaran besar sehingga gigi dan gusi rahang atas dan rahang bawah disikat sekaligus. Daerah interproksimal tidak diberi perhatian khusus. Setelah semua permukaan bukal dan labial disikat, mulut dibuka lalu permukaan lingual dan palatinal disikat dengan gerakan yang sama.

6) Teknik fisilogik

Tangkai sikat gigi dipegang secara horizontal dengan bulu-bulu sikat tegak lurus terhadap permukaan gigi.

e. Pemakaian Pasta Gigi

Pasta gigi biasanya digunakan bersama-sama dengan sikat gigi untuk mebersihkan dan menghaluskan permukaan gigi geligi, serta memberikan rasa nyaman dalam rongga mulut, karena aroma yang terkandung dalam pasta tersebut nyaman dan menyegarkan (Putri, 2010).

f. Waktu Penyikatan Gigi

Menurut Ramadhan (2010) pada waktu tidur, air ludah berkurang sehingga asam yang dihasilkan oleh plak akan menjadi lebih pekat dan kemampuannya untuk merusak gigi menjadi lebih besar. Gigi juga harus disikat pada waktu pagi hari, idealnya sarapan pagi dilakukan sebelum beraktivitas dan dilanjutkan dengan menyikat gigi. Sehingga waktu penyikatan gigi yang ideal adalah pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

B. TNI-AD

Tugas pokok TNI AD adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah

darah Indonesia dari ancaman serta gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. (pasal 7 ayat (1) UU nomor 34 tahun 2004)

a. Tugas-tugas TNI

Melaksanakan tugas TNI dibidang pertahanan, yaitu dengan melakukan Operasi Militer Untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat dengan menyelenggrakan perencanaan, pengembangan, pengerahan, dan pengendalian wilayah pertahanan untuk kepentingan pertahanan negara di darat melalui pembinaan teritorial yaitu dengan :

1) Membantu pemerintah menyiapkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan aspek darat yang dipersiapkan secara dini, yang meliputi wilayah pertahanan beserta kekuatan pendukungnya, untuk melaksanakan operasi militer untuk perang, yang pelaksanaannya didasarkan pada kepentingan negara.

2) Membantu pemerintah menyelenggrakan pelatihan kemiliteran secara wajib bagi warga negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3) Membantu pemerintah memberdayakan rakyat sebagai kekuatan pendukung.

Salah satu tugas yang diemban oleh TNI AD dalam operasi militer Selain perang adalah mengamankan wilayah perbatasan dari kegiatan ilegal dan pelanggaran hukum, di mana TNI AD menggelar kekuatan

operasi pengamanan perbatasan darat dengan menempatkan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) pada titik yang dimungkinkan terdapat suatu ancaman dan pelanggaran hukum di wilayah perbatasan. Pelaksanaan operasi pengamanan perbatasan mempunyai tujuan mencegah upaya perluasan wilayah darat Negara lain (Israr, 2012).

b. Menurut Gitoyo (2013) tahap pelatihan TNI terdiri dari tiga yaitu:

Tahap dasar meliputi latihan individu, membentuk sikap individu, mengisi kemampuan teknis, taktik operasi komando, pertempuran perorangan, dasar-dasar pertempuran kota, pengetahuan pendukung, manajerial pendukung, uji kemampuan navigasi darat, uji kemampuan perorangan.

Tahap kedua (gunung dan hutan) meliputi, perang hutan dan pertempuran, pemantapan pengamatan hutan, kemampuan individu di hutan, teknik dasar pertempuran, kemampuan kerjasama tim dan kelompok didalam hutan.

Tahap ketiga (rawa dan laut) meliputi, titik berat operasi komando, taktik pertempuran rawa, pemantapan pengamatan rawa dan laut, kemampuan patroli, ilmu medan rawa, uji daya tahan

C. Kerangka Teori

Untuk lebih menjelaskan ruang lingkup yang diteliti, maka dikemukakan kerangka teori sebagai berikut :

TNI

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran mengenai pemilihan sikat gigi yang biasa digunakan oleh responden?

2. Bagaimana gambaran mengenai pemakaian pasta gigi yang dilakukan oleh responden?

3. Bagaimana gambaran mengenai kebiasaan menyikat gigi yang dilakukan oleh responden meliputi teknik menyikat gigi dan jumlah permukaan yang disikat oleh responden.?

4. Bagaimana gambaran mengenai kebiasaan memelihara kesehatan gigi oleh responden dalam hal waktu menyikat gigi?

BAB 3

METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anggota TNI-AD di KODIM 0601/Pandeglang. Penelitian menggunakan tabel distribusi frekuensi.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat

Penelitian yang dilakukan bertempat di Kodim 0601 Jl. Pendidikan No 1 Pandeglang Banten.

2. Waktu

Pelaksanaan penelitian di lakukan mulai bulan April 2016 sampai Juni 2016.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah anggota TNI-AD KODIM 0601/Pandeglang.

2. Sampel

a. Cara Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposive, yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu pertimbangan

tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo 2005).

Pertimbangan tersebut adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Kriteria Inklusi

a) Bersedia dijadikan objek penelitian b) Tentara yang berdinas dilapangan.

2) Kriteria Eksklusi

a) Tentara yang sedang melaksanakan tugas luar b) Tentara yang sedang dalam keadaan sakit.

b. Besar Sampel

Menentukan besar sampel peneliti menggunakan rumus sebagai berikut :

= 41 Responden Keterangan:

Za : nilai kesalahan (10%=1,282)

P : proposi (tidak ada penelitian sebelumnya sehingga 0,5) n : Ukuran sampel minimal

Q : (P-1)

: Presisi (10%)

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa sampel yang akan diteliti adalah sebanyak 41 orang dari populasi yang ada di KODIM 0601/Pandeglang.

D. Jenis Pengumpulan Data 1. Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah jenis data primer yang diperoleh langsung dengan melakukan observasi dengan cara melihat sikat gigi yang digunakan, pemakaian pasta gigi, serta bagaimana menyikat gigi yang biasa dilakukan.

2. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data primer didapat melalui observasi sikat gigi yang digunakan, pemakaian pasta gigi, serta bagaimana menyikat gigi yang biasa dilakukan. Pengamatan atau observasi dilakukan oleh 3 orang atau lebih dengan menyamakan persepsi terlebih dahulu. Observasi meliputi : pemilihan sikat gigi, pemakaian pasta gigi, cara menyikat gigi, dan frekuensi serta waktu menyikat gigi.

E. Alat dan Bahan Penelitan

Penelitian ini dengan rincian sebagai berikut:

1) Persiapan :

a) Survey tempat penelitian.

b) Perizinan dari lembaga Poltekkes Kemenkes Bandung Jurusan Keperawatan Gigi kepada pihak KODIM 0601/Pandeglang.

c) Mempersiapkan lembar observasi.

d) Persiapan tempat dan waktu penelitian yang telah disepakati.

2) Pelaksanaan Penelitian

a) Memberikan lembar informed consent kepada responden.

b) Pengisian lembar informed consent oleh responden.

c) Observasi alat serta cara menggosok gigi.

d) Penyuluhan kepada responden.

3) Tahap Penyelesaian

Setelah diperiksa data yang telah dikumpulkan dimasukan kedalam tabel distribusi frekuensi untuk mendapatkan hasil penelitian.

4) Pengolahan dan Analisa Data

Data yang dikumpulkan dari hasil observasi secara langsung akan dihitung secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 yang bertempat di KODIM 0601/Pandeglang. Pada anggota TNI-AD di KODIM 0601/Pandeglang berjumlah 41 orang dengan kriteria tentara yang berdinas lapangan dan bersedia dijadikan objek sampel.

Sebelum melakukan penelitian peneliti memberikan inform consent untuk mendapatkan persetujuan dari responden dan dilanjutkan dengan observasi mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang meliputi pemilihan sikat gigi, pemakaian pasta gigi, teknik menyikat gigi melputi jumlah permukaan yang disikat serta waktu menyikat gigi. Penelitian dilakukan dengan cara meminta responden untuk memilih sikat gigi yang disediakan yang biasa digunakan sehari-hari lalu responden memperagakan teknik menyikat gigi menggunakan model gigi dan peneliti mengajukan pertanyaan tentang pemakaian pasta gigi, frekuensi dan waktu mnyikat gigi.

Hasil penelitian disajikan dengan bentuk distribusi frekuensi sebagai berikut :

TABEL 4.1

DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN PEMILIHAN SIKAT GIGI PADA ANGGOTA TNI-AD KODIM 0601/PANDEGLANG

Berdasarkan tabel 4.1 tentang distribusi frekuensi pemilihan sikat gigi terlihat bahwa dari 41 responden yang memakai sikat gigi yang tepat sebanyak 21 responden (51%) sedangkan 20 responden (49%) memakai sikat gigi yang tidak tepat.

TABEL 4.2

DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN PEMAKAIAN PASTA GIGI PADA ANGGOTA TNI-AD KODIM 0601/PANDEGLANG

PEMAKAIAN PASTA GIGI N %

1 PAKAI 41 100%

2 TIDAK PAKAI 0 0%

Berdasarkan tabel 4.2 tentang distribusi frekuensi pemakaian pasta gigi terlihat bahwa seluruh responden memakai pasta gigi.

PEMILIHAN SIKAT GIGI N %

1 TEPAT 21 51%

2 TIDAK TEPAT 20 49%

TABEL 4.3

DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN TEKNIK MENYIKAT GIGI PADA ANGGOTA TNI-AD KODIM 0601/PANDEGLANG

TEKNIK MENYIKAT GIGI N %

1 BAIK 0 0%

2 KURANG BAIK 34 83%

3 TIDAK BAIK 7 17%

Berdasarkan tabel 4.3 tentang distribusi frekuensi responden yang melakukan tenik menyikat gigi dengan baik sebanyak 0 responden (0%) sedangkan 34 responden (83%) melakukan teknik menyikat gigi kurang baik dan 7 responden (17%) melakukannya dengan tidak baik.

TABEL 4.4

DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN JUMLAH

PERMUKAAN YANG DISIKAT PADA ANGGOTA TNI-AD KODIM 0601/PANDEGLANG

Berdasarkan tabel 4.4 tentang distribusi frekuensi jumlah permukaan yang disikat dan teknik menyikat gigi terlihat bahwa dari 41 responden yang melakukan penyikatan permukaan gigi dengan baik sebanyak 39 responden

(95%), 2 reponden (5%) melakukan penyikatan permukaan gigi kurang baik dan 0 responden (0%) melakukannya dengan tidak baik.

TABEL 4.5

DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN FREEKUENSI DAN WAKTU MENYIKAT GIGI PADA ANGGOTA TNI-AD KODIM

0601/PANDEGLANG

WAKTU MENYIKAT GIGI N %

1 TEPAT 9 22%

2 TIDAK TEPAT 32 78%

Berdasarkan tabel 4.5 tentang distribusi frekuensi, tentang responden yang waktu menyikat giginya tepat sebanyak 9 responden (22%) dan 32 responden (78%) waktu menyikat giginya yang tidak tepat.

B. Pembahasan

Tabel 4.1 yaitu tabel tentang pemilihan sikat gigi menunjukkan bahwa 21 responden (51%) memakai sikat gigi yang tepat yaitu sikat gigi yang dipakai tangkainya lurus dan mudah digenggam, bulu sikat gigi soft dan medium, kepala sikat berukuran kecil dan ujung kepala sikat gigi yang membulat sedangkan 20 responden (49%) memakai sikat gigi yang tidak tepat yaitu salah satu atau keempatnya tidak sesuai. Hal ini dikarenakan responden kurang mengetahui pemilihan sikat gigi yang tepat. Berdasarkan teori menurut Putri (2010) penggunaan sikat gigi yang ideal meliputi ukuran, tekstur dari bulu sikat, mudah digunakan, mudah dibersihkan dan cepat kering sehingga tidak lembab, awet dan tidak mahal, bulu sikat lembut tetapi

cukup kuat dan tangkainya ringan, serta ujung bulu sikat yang membulat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Yusnita (2013) menunjukkan bahwa penggunaan sikat gigi lunak/soft lebih efektif dibanding sikat gigi medium yang dapat mengurangi jumlah plak lebih banyak dan efektif, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Budha (2014) menunjukkan bahwa sikat gigi yang berbulu lunak/medium lebih efektif dalam menurunkan plak dari pada sikat gigi yang berbulu lunak/soft. Selain hal tersebut ada keuntungannya dari penggunaan bulu sikat yang lunak/soft dan medium yaitu tidak menimbulkan iritasi pada gusi dan sekaligus dapat memijat gusi.

Tabel 4.2 yaitu tabel tentang pemakaian pasta gigi menunjukkan bahwa 41 responden (100%) memakai pasta gigi sebagai bahan menyikat gigi.

Menurut Putri (2010) tentang penggunaan pasta gigi selain berfungsi untuk membersihkan permukaan gigi juga dapat memberikan rasa nyaman dan menyegarkan, karena aroma yang terkandung dalam pasta tersebut nyaman dan menyegarkan. Pasta gigi mengandung bahan-bahan abrasif, pembersih, bahan penambah rasa dan warna, serta pemanis. Keuntungan dari pasta gigi diantara lain membersihkan plak dari permukaan gigi, membunuh bakteri, mengurangi respon sensitif pada gigi,serta menyegarkan rongga mulut.

Tabel 4.3 yaitu tabel tentang responden yang melakukan tenik menyikat gigi dengan baik menggunakan teknik kombinasi (vertikal, horizontal, dan berputar/fones) sebanyak 0 responden (0%), 34 responden (83%) melakukan teknik menyikat gigi kurang baik yaitu melakukan dua dari tiga teknik kombinasi dan 7 responden (17%) melakukannya dengan tidak baik yaitu

hanya melakukan satu dari tiga teknik kombinasi. Dari pengamatan penulis, terlihat bahwa permukaan yang tidak tersikat lebih banyak pada daerah palatal dan lingual dikarenakan responden tidak mengetahui jika semua permukaan harus disikat.

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa 39 responden (95%) melakukan penyikatan permukaan gigi dengan baik, dilakukannya penyikatan lebih dari 10 permukaan yaitu enam sextan yang terdiri dari permukaan yang menghadap pipi, permukaan kunyah, permukaan yang menghadap bibir, permukaan yang menghadap langit-langit dan permukaan yang menghadap lidah. 2 responden (5%) melakukannya kurang baik, dilakukannya penyikatan 5 sampai 10 permukaan dan 0 responden (0%) melakukan dengan tidak baik, dilakukannya penyikatan kurang dari 5 permukaan yaitu kurang dari enam sextan.

Dilapangan yang dilakukan responden saat melakukan teknik menyikat gigi sebagian besar melakukan teknik yang kurang baik yaitu hanya melakukan dua teknik dari tiga teknik kombinasi hal ini dikarenakan responden yang melakukannya tergesa-gesa dan ingin segera menyelesaikannya. Menurut Nisak (2015) Saliva merupakan cairan yang terdiri atas sekresi yang berasal dari kelenjar saliva dan cairan sulkus gingiva.

Sekitar 10% dihasilkan oleh kelenjar saliva minor dimukosa mulut (lingual, labial, bukal, palatinal, glossopalatinal). Biasanya mendeteksinya pada permukaan gigi tidak sukar. Jika tertutupi plak gigi akan tampak kusam, tetapi plak akan cepat terlihat jika diwarnai dengan zat pewarna plak akan

terbentuk pada semua permukaan gigi. Perkembangannya paling baik jika daerahnya paling sedikit terkena sentuhan, seperti di sekitar daerah seperti di sekitar daerah tepi ginggival, pada permukaan proksimal dan di dalam fissur (Ramadhan, 2010). Akibatnya jika pada bagian lingual, palatal tidak terbersihkan oleh sikat gigi dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan yang lama-kelamaan menimbulkan karang gigi. Ketidak cermatan pada saat menyikat gigi dapat bepengaruh pada tidak terbersihkannya plak didaerah yang disebut plak trap yaitu dimana plak terperangkap didaerah atau tepat yang sulit terbesihkan seperti tepi ginggival, pada permukaan proksimal dan di dalam fissur sehingga lama-kelamaan akan menyebabkan karies.

Tabel 4.5 yaitu tabel tentang responden yang melakukan waktu menyikat gigi dengan tepat pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur sebanyak 9 responden (22%) sedangkan 32 responden (78%) tidak tepat saat melakukan waktu menyikat gigi.

Pada waktu tidur, air ludah berkurang sehingga asam yang dihasilkan oleh plak akan menjadi lebih pekat dan kemampuannya untuk merusak gigi menjadi lebih besar. Gigi juga harus disikat pada waktu pagi hari, idealnya sarapan pagi dilakukan sebelum beraktivitas dan dilanjutkan dengan menyikat gigi (Ramadhan,2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Oktrianda (2011) menyatakan kemampuan menyikat gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat. Jika

setelah sarapan pagi tidak disikat maka sisa makanan akan dimetabolisme oleh bakteri sehingga menambah ketebalan plak, begitu pula malam hari setelah makan malam, plak yang terbentuk akan semakin tebal karena tidak adanya kegiatan pengunyahan yang dilakukan dirongga mulut (self cleansing) dan frekuensi penelanan pada saat tidur menjadi berkurang. Sehingga waktu penyikatan gigi yang ideal adalah pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan bab 4 yang sudah diuraikan maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat 21 responden (51%) yang memilih sikat gigi yang dipakainya secara tepat yaitu sikat gigi yang dipakai tangkainya lurus dan mudah digenggam, bulu sikat gigi soft dan medium, kepala sikat berukuran kecil dan ujung kepala sikat gigi yang membulat.

2. Pemakaian pasta gigi yang dilakukan responden menunjukkan bahwa 41 responden (100%) memakai pasta gigi sebagai bahan menyikat gigi.

3. Dari hasil pengamatan terhadap tenik menyikat gigi 34 responden (83%) melakukan teknik menyikat gigi kurang baik yaitu melakukan dua dari tiga teknik kombinasi (horizontal, vertikal dan berputar).

4. Dari hasil pengamatan dalam hal waktu menyikat gigi yaitu 32 responden (78%) tidak tepat waktu menyikat giginya yaitu tidak melakukan pada saat setelah sarapan dan sebelum tidur.

B. Saran

1. Perlu adanya perhatian lebih terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut khususnya dalam hal menyikat gigi pada anggota TNI-AD KODIM 0601/Pandeglang.

2. Diadakannya program pendidikan kesehatan gigi dan mulut di lingkungan TNI-AD KODIM 0601/Pandeglang yang dapat memberikan

informasi dengan segala sesuatu tentang kesehatan gigi dan mulut meliputi pemeiharaan kesehatan gigi dan mulut, penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi dan pemilihan makanan yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut dengan tujuan dapat menunjang terpeliharanya kesehatan gigi dan mulut yang optimal di komunitas TNI-AD di KODIM 0601/Pandeglang.

DAFTAR PUSTAKA

Budha M.A.D.S. 2014. Pengaruh Kekakuan Bulu Sikat Gigi Terhadap Penurunan Jumlah Plak Pada Anak, Skripsi, Fakultas Kedokteran Gigi Unversitas Mahasaraswati Denpasar. Denpasar

Gede Y.I. 2013. “Hubungan Pengetahuan Kebersihan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Siswa SMA Negeri 9 Manado”, http://download.portalgaruda.org/article, Diunduh pada tanggal 21 Februari 2016

Gutoyo Y. 2013. “Mengenal Legenda HidupTentara Indonesia”, http://hankam.

.kompasiana.com, Diunduh pada tanggal 20 Februari 2016

Israr H. 2012. Perananan TNI AD Dalam Pengamanan Perbatasan NKRI;

DISJARAHAD. Bandung

Nisak R. 2015. Perbedaan Volume, ph dan Kadar Kalsium Saliva Karies dan Bebas Karies Pada Mahasiswa FKG USU. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universtas Sumatra Utara Medan. Medan

Notoatmodjo S. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan; Rineka Cipta. Jakarta Oktrianda B. 2011. Hubungan Waktu, Teknik Menggosok Gigi dan Jenis yang

Dikonsumsi dengan Kejadian Karies Gigi Pada Murid SDN 66 Payakumbuh di Wilayah Kerja Puskesmas Lampasi Payakumbuh Tahun 2011. Skripsi.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Padang

Putri M.H., Herijulianti E., Nurjannah N. 2010 Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi; EGC, Jakarta

Ramadhan A.G. 2010. Serba-serbi Kesehatan Gigi dan Mulut; Bukuné. Jakarta.

Yulianti R.P. 2011. “Hubungan Pengtahuan Orang Tua Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies gigi pada Anak di SDN V JATEN KARANGANYAR”, https://mail-attachment.googleusercontent.com, Diunduh pada tanggal 21 Februari 2016

Yusnita R.E., Anggraini LD. 2013. “Perbandingan Menyikat Gigi Metode Horizontal Menggunakan Bulu Sikat Soft Dan Bulu Sikat Medium Terhadap Penurunan Akumulasi Plak Pada Anak Tunarungu”, https://mail-attach ment.googleusercontent.com. Diunduh pada tanggal 23 Juni 2016

Tjahani A. 1998. “Status Karies Gigi Pada Anggota di Lingkungan TNI-AL Cilangkap Jakarta”, http://download.portalgaruda.org, Diunduh pada tanggal 21 April 2016

Tobing R.L. 2011. “Konsepsi Penyelenggaraan Komsos Untuk Menyiapkan Alat Juang yang Tangguh Dalam Rangka Mencegah Terorisme di Daerah”, http://www.tniad.mil.id/images/pdf/karmil-letkol-ramses.pdf, Diunduh pada tanggal 21 April 2015

Undang Undang Republik Indonesia. 2004. “Tentang Tentara Nasional Indonesia”, http://www.tniad.mil.id, Diunduh pada tanggal 21 April 2016

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2 INFORMED CONSENT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Dokumen terkait