Kompetensi dasar tersebut diuraikan menjadi 7 indikator pencapaian kompetensi diantaranya:
Tabel 2.2 Indikator Pencapaian Kompetensi Menurunkan rumus keliling bangun segiempat dan segitiga Menurunkan rumus luas bangun segiempat dan segitiga Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segiempat dan segitiga
E. Alat Peraga yang Digunakan dalam Pembelajaran
Alat peraga yang digunakan oleh peneliti yaitu kertas ajaib. Kertas ajaib digunakan untuk memperoleh rumus segiempat dengan pendekatan pesegi panjang. Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kertas ajaib yaitu kertas origami, gunting, pensil, penggaris sesuai dengan gambar 2.12.
25
Gambar 2.12 Peralatan alat peraga kertas ajaib
Kertas ajaib terbuat dari kertas origami yang dipotong berbentuk segiempat dan segitiga dengan ukuran yang sudah disepakati. Guru menyiapkan bangun persegipanjang sebanyak kelompok yang ada kemudian guru meminta peserta didik membuat bangun datar segiempat dan segitiga yang sama masing-masing 2 bangun dengan kertas origami yang sudah disediakan. Gambar pertama disimpan sebagai alat untuk meyesuaikan, kemudian gambar keduanya dipotong sesuai diagonal atau jari-jari, seperti tabel berikut ini :
Tabel 2.3 Hasil Pembuatan Bangun Datar Segiempat dan Segitiga No. Nama
bangun
Gambar 1 Gambar 2
1. Segitiga
26 2. Jajargenjang
3. Belahketupat
4. Layang-layang
5. Trapesium
27
Berikut ini langkah penurunan rumus luas bangun datar segitiga dan segiempat menggunakan alat peraga kertas ajaib:
1. Segitiga
Bangun datar segitiga yang kedua dipotong menjadi dua bagian sama besar, setelah itu ditempelkan pada bingkai berbentuk persegi panjang hingga menutupi seluruh bagian dalamnya seperti gambar berikut ini :
Gambar 2.13 Segitiga pada Alat Peraga Kertas Ajaib Dari gambar diatas dapat dilihat tinggi segitiga berada pada bagian panjang dan 1
2alas pada bagian lebar. Dapat kita turunkan dengan pendekatan persegi panjang bahwa :
28
Luas segitiga = πππππππ Γ πππππ = π‘πππππ Γ1
2ππππ 2. Jajargenjang
Bangun datar jajargenjang yang kedua dipotong menjadi dua bagian, setelah itu ditempelkan pada bingkai berbentuk persegi panjang hingga menutupi seluruh bagian dalamnya seperti gambar berikut ini :
Gambar 2.14 Jajargenjang pada Alat Peraga Kertas Ajaib
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa alas berada pada bagian panjang dan tinggi pada bagian lebar. Dapat kita turunkan dengan pendekatan persegi panjang bahwa : Luas jajargenjang = πππππππ Γ πππππ = ππππ Γ π‘πππππ
3. Belahketupat
Bangun datar belahketupat yang kedua dipotong diagonalnya menjadi empat bagian sama besar, setelah itu ditempelkan pada bingkai berbentuk persegi panjang hingga menutupi seluruh bagian dalamnya seperti gambar berikut ini :
Gambar 2.15 Belahketupat pada Alat Peraga Kertas Ajaib
29
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ππππππππ1berada pada bagian panjang dan
1
2ππππππππ2 pada bagian lebar. Dapat kita turunkan dengan pendekatan persegi panjang bahwa :
Luas belahketupat = πππππππ Γ πππππ = ππππππππ1Γ1
2ππππππππ2 4. Layang-layang
Bangun datar layang-layang yang kedua dipotong diagonalnya menjadi empat bagian, setelah itu ditempelkan pada bingkai berbentuk persegi panjang hingga menutupi seluruh bagian dalamnya seperti gambar berikut ini :
Gambar 2.16 Layang-layang pada Alat Peraga Kertas Ajaib
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ππππππππ1berada pada bagian panjang dan
1
2ππππππππ2 pada bagian lebar. Dapat kita turunkan dengan pendekatan persegi panjang bahwa :
Luas layang-layang= πππππππ Γ πππππ = ππππππππ1Γ1
2ππππππππ2 5. Trapesium
Bangun datar trapesium yang kedua dipotong menjadi dua bagian, setelah itu ditempelkan pada bingkai berbentuk persegi panjang hingga menutupi seluruh bagian dalamnya seperti gambar berikut ini :
30
Gambar 2.17 Trapesium pada Alat Peraga kertas Ajaib
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa jumlah sisi sejajar berada pada bagian panjang dan 1
2 tinggi pada bagian lebar. Dapat kita turunkan dengan pendekatan persegi panjang bahwa :
Luas belahketupat = πππππππ Γ πππππ = (ππ’πππβ π ππ π π ππππππ Γ1
2π‘πππππ) F. Minat Belajar
Menurut Sardiman (2000:76) menjelaskan minat merupakan suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengankeinginan dan kebutuhannya sendiri. Belajar bersifat aktif, siswa sebagai peserta didik tidak akan mampu merubah perilaku jika ia tidak aktif mengikuti setiap proses yang berlangsung. Efektivitas pembelajaran melekat pada aktivitas belajar dan partisipasi siswa. Untuk dapat bersikap aktif dibutuhkan pula faktor penggerak yang secara langsung memberi dorongan pada siswa untuk bertindak. Faktor pendorong yang dimaksud adalah minat belajar. Dengan tumbuhnya minat belajar, siswa akan berusaha menemukan momen yang tepat dan kondisi yang menarik untuk turut larut dalam proses pembelajaran.
31
Surya (2007:46) menyampaikan beberapa langkah untuk meningkatan minat belajar diantaranya dengan menggugah rasa kebutuhan anak akan pentingnya belajar.Strategi dalam menggugah tentang kebutuhan akan belajar dapat dilakukan dengan membangun dialog dan pendekatan personal, mengembangkan komunikasi kondusif dengan anak.
Dalam kontek ini orang tua atau guru sebaiknya tidak hadir dengan mengitervensi atau mendikte tetapi hadir dengan memberi dukungan dan Minatuntuk berada pada jalur yang tepat sebagai seorang pelajar.
Hardwinoto dan Setiabudhi (2006:111) menginformasikan bahwa minat siswa terhadap matematika akan bertambah apabila ia dapat memahami dan meyelesaikan soal matematika dengan mudah. Seseorang siswa yang mampu memperoleh nilai terbaik dalam ulangan matematika, prestasi tersebut secara langsung akan memberi rasa bangga, yang dengan rasa bangga tersebut terbentuk minat untuk mencapai nilai yang lebih baik, selanjutnya keinginan tersebut akan memacu lahinrnya minat belajar.
Dari pengertian diatas diperoleh bahwa minat belajar merupakan dorongan batin yang tumbuh dari seseorang siswa untuk meningkatkan kebiasaan belajar. Minat belajar akan tumbuh saat peserta didik memiliki keinginan untuk memperoleh nilai terbaik. Minat belajar juga dapat dibangun dengan menetapkan cita-cita yang tinggi dan sesuai dengan bakat dan kemampuan peserta didik.
Dalam minat belajar memiliki beberapa ciri-ciri. Menurut Elizabeth Hurlock (dalam Susanto, 2013: 62) menyebutkan ada tujuh ciri minat belajar sebagai berikut:
1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.
2. Minat tergantung pada kegiatan belajar.
32 3. Perkembangan minat mungkin terbatas.
4. Minat tergantung pada kesempatan belajar.
5. Minat dipengaruhi oleh budaya.
6. Minat berbobot emosional.
7. Minat berbobot egoisentris, artinya jika seseorang senang terhadap sesuatu, maka akan timbul hasrat untuk memilikinya.
Menurut Slameto (2003: 57) peserta didik yang berminat dalam belajar adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus-menerus.
2. Ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminatinya.
3. Memperoleh sesuatu kebanggaan dan kepuasan pada suatu yang diminati.
4. Lebih menyukai hal yang lebih menjadi minatnya daripada hal yang lainnya.
5. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
Dari pendapat ahli di atas diperoleh bahwa ciri-ciri minat belajar peserta didik yaitu bergantung pada kegiatan belajar dan kesempatan belajar serta memiliki kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu secara terus menerus, memperoleh kebanggaan dan kepuasan terhadap hal yang diminati, berpartisipasi pada pembelajaran, dan minat belajar dipengaruhi oleh budaya.
Ketika siswa ada minat dalam belajar maka siswa akan senantiasa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan akan memberikan prestasi yang baik dalam
33
pencapaian prestasi belajar. Menurut Slameto (2010: 180) beberapa indikator minat belajar yaitu: perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, dan keterlibatan siswa.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan mengenai indikator minat belajar tersebut diatas, dalam penelitian ini menggunakan indikator minat yaitu:
1. Perasaan Senang
Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang terhadap pelajaran tertentu maka tidak akan ada rasa terpaksa untuk belajar. Contohnya yaitu senang mengikuti pelajaran, tidak ada perasaan bosan, dan hadir saat pelajaran.
2. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan obyek yang mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut.
Contoh: aktif dalam diskusi, aktif bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
3. Ketertarikan
Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap ketertarikan pada sesuatu benda, orang, kegiatan atau bisa berupa pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Contoh: antusias dalam mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas dari guru.
4. Perhatian Siswa
Minat dan perhatian merupakan dua hal yang dianggap sama dalam penggunaan sehari-hari, perhatian siswa merupakan konsentrasi siswa terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain.
Siswa memiliki minat pada obyek tertentu maka dengan sendirinya akan
34
memperhatikan obyek tersebut. Contoh: mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi.
Dari pendapat diatas diperoleh bahwa indikator minat meliputi perasaan senang terhadap pelajaran matematika, dari perasaan senang itu akan memunculkan ketertarikan terhadap pelajaran matematika yang dapat ditijau dari seberapa antusianya dan konsentasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran siswa bisa terlibat aktif baik dalam diskusi, bertanya, ataupun menjawab pertanyaan, serta tidak menunda tugas yang diberikan oleh guru.
G. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Purwanto (1990: 84), βBelajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performancenya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu ia sesudah mengalami tadiβ. Menurut Mutakin dan Teti Sumiati (2011:73), βBelajar selalu melibatkan perubahan dalam diri individu seerti kematangan berpikir, berperilaku maupun kedewasaan dalam menentukan keputusan dan pilihanβ. Hasil belajar yang diperoleh manusia dengan mahkluk lain seperti hewan akan berbeda, pada manusia hasil belajar akan terus mengalami perubahan dan perkembangan, sedangkan pada mahkluk lain tidak mengalami perubahan dan perkembangan secara optimal seperti halnya pada manusia.
35
Menurut Sudjana (1991:22), βHasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnyaβ. Menurut Nasution (1994:24) menyatakan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan dan penghargaan dalam diri pribadi yang belajar.
Dari pengertian diatas dapat diperoleh bahwa hasil belajar merupakan akibat dari proses belajar seseorang. Hasil belajar terkait dengan perubahan pada diri orang yang belajar. Bentuk perubahan sebagai hasil dari belajar berupa perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan dan kecakapan. Perubahan dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan tidak dianggap sebagai hasil belajar. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat relatif menetap dan memiliki potensi untuk dapat berkembang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah : a. Kesiapan Belajar
Faktor kesiapan ini meliputi kesiapan fisik dan psikologis. Usaha yang dapat dilakukan guru adalah dengan memberikan perhatian penuh pada peserta didik sehingga mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Hal ini merupakan implikasi dari prinsip kesiapan.
b. Motivasi
36
Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif saat orang melakukan aktivitas. Sedangkan motif adalah kekuatan yang terdapat pada diri seseorang yang mendorong orang melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuannya.
c. Keaktifan Peserta didik
Keaktifan peserta didik dapat dilihat dari suasana belajar yang tercipta dalam pembelajaran yang berlangsung, peserta didik terlihat aktif berperan/tidak.
d. Mengalami Sendiri
Dengan mengalami sendiri akan memberikan hasil belajar yang lebih baik dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang disajikan.
e. Pengulangan
Adanya latihan yang berulang-ulang akan lebih berarti bagi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman terhadap materi pelajaran.
f. Balikan dan Penguatan
Balikan adalah masukan yang sangat penting bagi peserta didik maupun guru. Sedangkan penguatan adalah tindakan yang menyenangkan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik yang berhasil melakukan suatu perbuatan belajar.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh kesiapan meliputi kesiapan fisik dan psikologis, selain itu dipengaruhi juga oleh
37
pengulangan dan penguatan yang diberikan oleh guru serta pengalaman peserta didik sendiri yang membuat peserta didik termotivasi untuk belajar sehingga lebih memahami materi.
2. Aspek-Aspek Hasil Belajar
Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom. Pengertian kognitif, afektif dan psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar. Dalam setiap ranah ini juga terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih detail. Ketiga ranah itu meliputi :
a. Kognitif (proses berfikir )
Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :
1. Pengetahuan (knowledge) mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
38
2. Pemahaman (comprehension) Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
3. Penerapan (application) Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.
4. Analisis (analysis) Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponenkomponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
5. Sintesa (evaluation) Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponenkomponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
6. Evaluasi (evaluation) Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
39
Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.
b. Afektif (nilai atau sikap)
Afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa. Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
1. Penerimaan (recerving) Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
2. Pemberian respon atau partisipasi (responding) Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
3. Penilaian atau penentuan sikap (valung) Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi βsikap dan opresiasiβ.
4. Organisasi (organization) 18 Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
40
5. Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex) Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat penting untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.
c. Psikomotorik (keterampilan)
Psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.
Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
1. Peniruan terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otototot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
2. Manipulasi Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.
41
3. Ketetapan memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahankesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
4. Artikulasi Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.
5. Pengalamiahan Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin.
Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Dalam penelitian ini peneliti membatasi penelitian yaitu dengan meneliti aspek kognitif (proses berfikir) serta psikomotorik (keterampilan).
42 H. Penelitian sejenis
Penelitian yang sejenis dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu penelitian pengenai pengembangan papan permainan jare (jari engklek) sebagia media pembelajaran matematika mengenal lambing bilangan untuk siswa dengan Attention Deficit Hyperactivy Disorder (ADHD) oleh Fransiskus Ambronsius(2020). Penelitian ini mengatakan bahwa media papan permainan jare (jari engklek) memiliki kualitas yang sangat baik menurut skala 4. Rata-rata hasil validasi media papan permainan jare 3,26, buku panduan 3,35, dan video penggunaan media 3,35.
Penelitian kedua mengenai pemanfaatan kartu bermuatan dalam pembelajaran (penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat berdasarkan gaya belajar mahasiswa mappi menggunakan paradigm pedagogi reflektif oleh Heny Arnika Banjarnahon (2020). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) persentase keterlaksanaan pendekatan PPR yang diperoleh yakni mencapai skor 153 (85%) tergolong baik, jenis gaya belajar tidak hanya dominan pada gaya belajar auditorial tetapi seringkali juga menggunakan gaya belajar visual dan kinestetik. (2) Pencapaian skor kompetensi aspek competence siswa yakni 66,7% yang tergolong tinggi. Pencapaian skor aspek conscience siswa yakni 86 degan predikat A dan pencapaian skor aspek compassion
yakni 75 dengan predikat B. (3) respon mahasiswa terhadap keterlaksanaan pembelajaran matematika dengan PPR hanya dapat meningkatkan aspek compassion pada mahasiswa A sedangkan pada mahasiswa B dan mahasiswa C dapat meningkatkan conscience, compassion, dan competence. Respon tersebut sesuai dengan hasil tes ketigas mahasiswa. Refklesi siswa selama proses pembelajaran siswa merasa senang dan lebih dapat menumbuhkan sikap kerjasama, percaya diri, teliti,
43
tanggung jawab dan menghargai pendpat orang lain. Siswa lebih mengetahui tentang bilangan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pemanfaatan kartu bermuatan dalam pembelajaran (penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat berdasarkan gaya belajar mahasiswa mappi menggunakan paradigma pedagogi reflektif dapat mengembangkan mahasiswa secara utuh baik dari aspek kompetensi, hati nurani dan berbela rasa.
I. Kerangka Berpikir
Banyak siswa di SMP St.Aloysius Turi menganggap sulit matematika sehingga mengkibatkan hasil belajar kurang. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pengulangan, yaitu adanya latihan yang berulang-ulang akan lebih berarti bagi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman terhadap materi pelajaran, tetapi perulangan disini hanya dilakukan di sekolah saja dengan guru, setelah sampai dirumah peserta didik tidak melakukan perulangan kembali dengan membaca kembali materi ataupun dengan latihan soal sehingga saat diberikan ujian peserta didik tidak bisa mengerjakan. Selain faktor perulangan proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan ceramah dan beberapa kali diberikan contoh kemudian dilanjutkan dengan latihan soal, pembelajaran seperti ini menjadi kurang bermakna karena mengakibatkan peserta didik hanya dapat melakukan prosedur pengerjaan soal-soal matematika tanpa mengetahui konsep-konsep matematika secara mendalam.
Pembelajaran matematika topik segiempat dan segitiga
Menumbuhkan minat belajar peserta didik
Menumbuhkan hasil belajar peserta didik Menggunakan alat
peraga kertas ajaib
44
Salah satu cara untuk menumbuhkan konsep matematika dengan topik segiempat dan segitiga pada peserta didik yaitu dengan media alat peraga kertas ajaib , yaitu alat bantu untuk memperjelas konsep yang dipelajari dengan menyelidiki, menyusun, memindah, serta mengelompokkan karena konsep-konsep matematika abstrak tersajikan dalam bentuk konkret, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami konsep yang dipelajari. Pembelajaran dengan alat peraga kertas ajaib peserta didik memperoleh pengalaman langsung dengan menyelidiki, menyusun, memindah serta mengelompokkan dan diharapkan proses belajar mengajar yang berlangsung tidak didominasi oleh guru sehingga minat belajar dan hasil belajar pada peserta didik kelas VII A SMP St.Aloysius Turi tumbuh dengan baik.
45 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk melihat pertumbuhan minat serta hasil belajar. Menurut Sugiyono (2003: 11) Penelitian deskiptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Berdasarkan pengertian diatas dapat diperoleh bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan tanpa menghubungkan atau membandingkan dengan variabel lain untuk mengetahui nilai variabel tersebut .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat belajar terhadap hasil belajar peserta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat belajar terhadap hasil belajar peserta