HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Alat tangkap garuk
Alat tangkap garuk yang terdapat di Desa Rawameneng merupakan hasil karya masyarakat setempat atau diproduksi nelayan masing-masing. Panjang (P) garuk berkisar antara 250 cm-350 cm dan lebar (L) 100 cm-120 cm (Gambar 2). Panjang ini diukur dari bagian gigi garuk sampai bagian ujung kantong. Adapun lebarnya diukur dari bagian gigi garuk sebelah kiri sampai bagian garuk sebelah kanan. Garuk dilengkapi dengan rangka atau bingkai berbentuk segitiga untuk meletakan tali selambar sehingga garuk bisa ditarik oleh perahu.
Proses pembuatan satu unit alat tangkap garuk membutuhkan waktu satu hari penuh, berkisar antara 8 jam sampai 10 jam. Jumlah pekerja minimal 3 orang. Pekerjaan pembuatan garuk dimulai dari pengadaan bahan-bahan seperti besi, paku, jaring PE dan tali tambang. Proses selanjutnya membentuk rangka. Adapun untuk membuat gigi raga perlu disediakan kayu yang sebelumnya sudah diberi tanda dengan jarak 2 cm untuk memasang paku atau besi. Selanjutnya, alat siap dirangkai dengan memasangkan gigi raga pada rangka yang kemudian dilengkapi dengan pemberat dan kantong jaring. Proses pembuatan alat tangkap garuk dilakukan secara bersama-sama.
(2a) (2b)
Gambar 2 Desain garuk dengan gigi raga lurus (2a) dan desain garuk dengan gigi raga dibengkokan (2a)
Keterangan: a = Bingkai b = Kantong c = Gigi raga d = Mulut raga e = Tali selambar
Alat tangkap garuk yang di operasikan di Desa Rawameneng memiliki bagian-bagian yang sama walaupun tidak mempunyai ukuran yang baku untuk beberapa bagian antara nelayan setempat. Alat tangkap garuk terdiri dari beberapa bagian, yaitu bingkai, gigi raga, kantong, mulut raga dan pemberat yang terdiri dari 4-5 besi atau baja bekas yang diikat jadi satu bagian.
20 -3 0 c m 100-120 cm 100-120 cm 20 -3 0 c m a e b c d
9
1.1 Bingkai
Bingkai adalah bagian pada alat tangkap garuk yang berbentuk segitiga, berfungsi sebagai tempat mengikatkan tali penarik pada alat tangkap sehingga bisa ditarik oleh perahu. Bingkai terbuat dari besi, mempunyai ukuran 120 cm-125 cm untuk panjang kedua sisinya dan alasnya 100 cm-120 cm.
1.2 Gigi raga
Gigi raga adalah satu bagian pada alat tangkap garuk yang berbentuk seperti gigi, terdiri dari deretan paku atau besi yang disusun berderet dengan jarak sekitar 2 cm antar giginya. Bentuk gigi raga terdiri dari 2 jenis, yakni gigi raga yang berbentuk lurus dan gigi raga yang dibengkokan bagian ujungnya. Gigi raga berbentuk lurus terbuat dari besi behel, panjangnya sekitar 12 cm. Adapun gigi raga yang dibengkokan ujungnya terbuat dari besi paku nomor 10. Panjangnya 6,5 cm yang sudah terlebih dahulu dipotong bagian tumpulnya dan dibengkokan ujungnya dengan tujuan untuk memperoleh hasil tangkapan sampingan udang yang lebih optimal. Gigi raga terletak pada bagian depan alat tangkap garuk, dimana fungsinya untuk menggaruk dasar perairan yang menjadi target penarikan alat tangkap tersebut. Gigi raga disajikan pada Gambar 3.
(3a) (3b)
Gambar 3 Gigi raga yang ditancapkan pada kayu (3a) dan desain gigi raga (3b)
1.3 Mulut raga
Mulut raga adalah bagian pada alat tangkap garuk yang berfungsi sebagai tempat masuknya hasil tangkapan kedalam kantong. Lebarnya (L) 100 cm-120 cm dan tingginya (T) 20 cm-30 cm. Mulut raga terbuat dari besi beton yang berbentuk empat persegi panjang. Mulut raga terletak pada bagian depan pada alat tangkap garuk. Mulut raga dapat dilihat pada Gambar 4.
1 2 cm 6 ,5 cm 100-120 cm
10
(4a) (4b)
Gambar 4 Mulut raga alat tangkap garuk (4a) dan desain mulut raga (4b)
1.4 Kantong
Kantong adalah bagian pada alat tangkap garuk yang berbentuk kerucut dengan ukuran panjang (P) 250 cm-350 cm, lebar (L) 100 cm-120 cm dan mesh size 2,54 cm. Bagian kantong memanjang dari mulut hingga bagian ujung. Kantong terbuat dari bahan PE. Untuk membuat satu unit kantong diperlukan bahan jaring PE sebanyak 500 gram. Kantong berfungsi sebagai tempat menampung hasil tangkapan. Kantong dapat dilihat pada Gambar 5.
(5a) (5b)
Gambar 5 Kantong garuk yang terbuat dari jaring PE (5a) dan desain kantong garuk (5b)
1.5 Pemberat
Pemberat adalah bagian pada alat tangkap garuk yang berbentuk persegi panjang terdiri dari beberapa besi behel yang diikat jadi satu. Pemberat terbuat dari besi bekas dengan panjang (P) 100 cm dan diameter berkisar 2-3 cm. Satu alat garuk membutuhkan 4 sampai 5 besi yang akan disusun menjadi satu, sehingga berfungsi sebagai pemberat. Pemberat dapat dilihat pada Gambar 6.
20
-3
0
cm
11
(6a) (6b)
Gambar 6 Pemberat alat garuk (6a) dan desain pemberat (6b)
Secara lengkap bagian-bagian alat tangkap garuk dan spesifikasinya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Spesifikasi alat tangkap garuk
No Bagian Bahan Ukuran
1 Bingkai Besi Panjang sisi 120-125 cm
Alas 100-120 cm
2 Gigi raga Besi paku atau
Behel baja
Panjang 6,5 cm Panjang 12 cm
3 Mulut raga Besi Panjang 120 cm
Diameter 2-3 cm
4 Kantong Jaring PE Mesh size 2,54 cm
Panjang 250-400 cm Lebar 100-120 cm
5 Pemberat Besi Panjang 100-120 cm
Diameter 2-3 cm Jumlah 4-5 buah
2. Perahu alat tangkap garuk
Perahu yang digunakan untuk mengoperasikan alat tangkap garuk adalah perahu kayu. Panjang total (LOA) 8 m-10 m, lebar (B) 2,2 m-2,6 m, dan tinggi dek (D) 0,8 m-1 m. Perahu dibuat di Indramayu dengan tonasse berkisar antara 2-4 GT, perahu tersebut mendaratkan hasil tangkapannya di TPI KUD Mina Karya Baru. Mesin yang dominan digunakan untuk menjalankan perahu bermerek Tianli. Mesin tersebut memiliki umur teknis 6 tahun, kekuatan mesin yang digunakan untuk mengoperasikan perahu tersebut berkisar antara 16 PK-22 PK.
Perahu berfungsi sebagai penarik alat tangkap garuk yang dipasang di dasar perairan. Satu perahu akan menarik 2-3 alat tangkap garuk sekaligus, posisi penarikan garuk terletak pada bagian haluan, tengah, dan buritan. Namun, apabila nelayan hanya mengoperasikan 2 alat tangkap secara bersamaan, maka posisi penarikan hanya pada bagian haluan dan buritan. Penempatan penarikan selalu di sebelah kanan perahu, karena pada bagian sebelah kiri sudah ditempati mesin sehingga perahu tetap melaju dengan seimbang. Perahu juga digunakan sebagai sarana transportasi nelayan dari fishing base ke fishing ground dan juga sebagai tempat penyimpanan hasil tangkapan garuk. Perahu disajikan pada Gambar 7.
12
Gambar 7 Perahu untuk mengoperasikan alat tangkap garuk
3. Nelayan alat tangkap garuk
Jumlah nelayan yang melaut tergantung dari jumlah alat yang dioperasikan. Saat mengoperasikan 2 alat secara bersamaan maka jumlah nelayan yang mengoperasikan alat 2-3 orang. Namun, jika nelayan mengoperasikan sebanyak 3 alat, maka jumlah nelayan 3-4 orang. Hal ini berkaitan dengan pembagian kerja pada saat melakukan operasi penangkapan garuk. Satu orang nelayan bertugas mengemudikan perahu, sedangkan dibutuhkan dua orang nelayan untuk menarik garuk pada saat hauling dan satu orang nelayan untuk melakukan sortir hasil tangkapan. Namun, terkadang pembagian tugas tersebut bisa berubah atau dilakukan secara fleksibel sesuai kondisi saat melakukan operasi penangkapan.
4. Bagi hasil tangkapan
Bagi hasil yang diperoleh berasal dari penjualan hasil tangkapan dikurangi dengan biaya perbekalan melaut. Setelah itu hasil yang diperoleh diperuntukan bagi pemilik perahu 2 bagian dan masing-masing nelayan mendapat satu bagian. Misalnya hasil bersih yang telah dipotong perbekalan adalah Rp 100.000. Jumlah nelayan 2 orang. Maka pemilik mendapat Rp 50.000, sedangkan ABK atau nelayan mendapat masing-masing Rp.25.000.
5. Metode pengoperasian alat tangkap
Operasi penangkapan alat tangkap garuk mulai dari tahap persiapan sampai kembali ke fishing base membutuhkan waktu selama satu hari, yakni dari jam 04.30-13.00 WIB. Tahap operasi penangkapan garuk terdiri dari tahap persiapan, tahap penurunan alat/pemasangan alat (setting), tahap penarikan alat tangkap garuk di dasar perairan, tahap pengangkatan alat (hauling) ke atas perahu untuk mengambil hasil tangkapan dan yang terakhir yaitu tahap penyortiran hasil tangkapan.
5.1 Persiapan
Tahap persiapan dimulai pada jam 04.30 WIB. Persiapan tersebut dilakukan dengan menyiapkan perbekalan melaut seperti makanan dan BBM. Tahap ini dilakukan pengecekan kondisi mesin. Selanjutnya, setelah semua perbekalan siap dan mesin dalam kondisi prima, nelayan garuk berangkat menuju fishing ground. Waktu yang dibutukan untuk menuju fishing ground dari fishing base berkisar 50-90 menit.
13
5.2 Penurunan alat (setting)
Penurunan alat garuk ini pertama-tama dimulai dengan menyiapakan alat tersebut di bagian buritan. Setelah alat tangkap garuk di bagian buritan selesai diturunkan, selanjutnya dilakukan penurunan alat tangkap garuk yang kedua, yakni pada sisi sebelah kanan perahu. Setelah kedua alat tangkap garuk diturunkan maka alat tangkap garuk ditarik dengan menggunakan perahu. Proses penurunan berlangsung selama 2-3 menit. Posisi nelayan saat setting dapat dilihat pada Gambar 8a.
(8a) (8b)
Gambar 8 Posisi nelayan saat melakukan penurunan alat (setting) (8a) dan posisi garuk saat ditarik di dasar perairan (8b)
5.3 Penarikan alat
Tahap ketiga yaitu melakukan penarikan garuk dengan menggunakan perahu. Penarikan berlangsung antara 10-15 menit. Penarikan alat tangkap garuk membentuk suatu lingkaran. Apabila alat tangkap garuk sudah terasa berat maka alat tangkap segera diangkat untuk diambil hasil tangkapannya. Selama proses penarikan garuk kecepatan perahu dipertahankan konstan dan menyesuaikan dengan kondisi garuk di dasar. Posisi nelayan pada saat melakukan penarikan alat dapat dilihat pada Gambar 9a.
(9a) (9b)
Gambar 9 Posisi nelayan saat melakukan penarikan alat garuk (9a) dan posisi nelayan saat hauling (9b)
14
5.4 Hauling
Tahap keempat yaitu pengangkatan alat untuk mengambil hasil tangkapan. Proses hauling tersebut dilakukan bila alat garuk sudah terasa berat. Sebelum garuk diangkat keatas perahu, kecepatan perahu diturunkan, kemudian dilakukan pengangkatan. Pengangkatan pertama dilakukan dengan mengangkat garuk yang berada di bagian buritan. Selanjutnya, hasil tangkapan dikeluarkan dari jaring ke atas dek perahu yang sudah diberi alas terpal berbentuk persegi yang memiliki ukuran berkisar antara 0,6 m × 1 m. Bila hasil tangkapan sudah dikeluarkan dari kantong, garuk diturunkan kembali ke perairan. Selanjutnya, pengangkatan garuk dilakukan pada sisi bagian kanan perahu. Hasil tangkapan pada garuk yang kedua dikeluarkan dan disatukan dengan hasil tangkapan garuk yang pertama. Garuk kemudian diturunkan kembali ke perairan dan kemudian hasil tangkapan disortir. Posisi nelayan saat proses pengangkatan (hauling) garuk keatas perahu disajikan pada Gambar 9b.
5.5 Penyortiran hasil tangkapan
Penyortiran dilakukan di atas perahu. Sortir hasil tangkapan dilakukan bersamaan pada saat perahu melakukan operasi penangkapan dengan menarik garuk untuk penangkapan berikutnya. Penyortiran dilakukan dengan memisahkan hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan serta sampah. Kerang yang tertangkap akan disortir berdasarkan ukuran. Kerang yang besar berukuran lebih besar dari 3 cm, kerang yang sedang berukuran antara 1,8 cm-3 cm. Hasil tangkapan garuk disajikan pada Gambar 10.
(10a) (10b)
Gambar 10 Hasil tangkapan garuk yang akan disortir (10a) dan hasil tangkapan utama garuk (10b)
Kegiatan operasi penangkapan kerang yang dilakukan oleh nelayan Desa Rawameneng hanya dilakukan di sekitar perairan Subang, Cilamaya dan Karawang. Daerah penangkapan relatif dekat dari fishing base hanya membutuhkan waktu sekitar 50-90 menit. Setengah perjalan tersebut digunakan untuk menyusuri sungai sebelum sampai ke pantai. Penentuan posisi atau daerah penangkapan ini dilakukan berdasarkan kebiasaan dan pengalaman. Pengoperasian garuk biasanya one day fishing dan membutuhkan sekitar 15-20 liter BBM untuk satu kali operasi penangkapan. Satu unit penangkapan garuk di Desa Rawameneng Blanakan terdiri dari 3 alat tangkap, satu unit perahu, dan 2 sampai 4 orang nelayan.
15
6. Musim penangkapan
Kerang menjadi hasil tangkapan utama garuk. Kerang tersebut tertangkap sepanjang tahun, sehingga kegiatan operasi penangkapan kerang dengan menggunakan garuk terjadi sepanjang tahun. Adapun jumlah hasil tangkapan dalam satu tahun selalu bervarisi pada setiap bulannya. Berdasarkan hasil informasi dari nelayan jumlah hasil tangkapan terbanyak didapat pada musim timur dan awal musim barat yang berlangsung pada bulan Juli-Januari.
Jumlah setting alat tangkap garuk dipengaruhi oleh musim penangkapan. Jadi saat musim puncak yang berlangsung antara bulan Juli-Januari, nelayan hanya melakukan 10-15 kali setting per trip per alat tangkap. Hal ini karena hasil tangkapan yang diperoleh sudah melampaui kapasitas perahu untuk memuat hasil tangkapannya. Sebaliknya pada saat musim paceklik yang berlangsung bulan Februari-Juli, setting penangkapan garuk berlangsung hingga 25-35 per trip per alat tangkap. Meskipun jumlah setting bertambah banyak, hal tersebut tetap saja tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah tangkapan pada musim paceklik.
7. Hasil tangkapan alat tangkap garuk
Hasil tangkapan garuk terdiri dari hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan utama berupa kerang-kerangan dan hasil tangkapan sampingan berupa udang dogol. Proporsi jumlah hasil tangkapan yang diperoleh berdasarkan informasi terhadap responden disajikan pada Tabel 2. Gambar hasil tangkapan garuk dapat dilihat pada Lampiran 2.
Tabel 2 Proporsi hasil tangkapan garuk per tahun Hasil tangkapan/tahun No Responden Kerang besar (kg) Kerang sedang (kg) Udang dogol (kg) Total 1 Kusnadi 24.150 44.275 2.990 71.415 2 Darkim 15.007,5 27.542,5 2.806 45.356 3 Taja 12.190 22.310 3.312 37.812 4 Risam 12.650 23.000 3.358 39.008 5 Dakim 22.856 41.984 2.850 67.690 6 Taslim 39.890 73.310 2.788 115.988 7 Warkim 20.182,5 37.317,5 2.990 60.490 8 Ratim 23.460 43.240 2.990 69.690 9 Carsan 12.190 22.310 2.185 36.685 10 Tarli 17.825 32.775 3.795 54.395 11 Karsa 46.690 86.135 2.760 135.585 12 Iwan 40.595 74.980 2.185 11.7760 13 Sadam 23.460 43.240 4.048 70.748 14 Durasid 16.560 21.620 2.380,5 40.560,5 15 Daslim 23.460 43.240 4.600 71.300 16 Sawit 22.208 41.012 2.850 66.070
Hasil tangkapan garuk yang diperoleh pada saat survei dilakukan didominasi berbagai jenis kerang. Kerang yang dominan tertangkap adalah kerang gelatik. Ukuran kerang gelatik yang tertangkap pada saat survei berkisar antara 12 mm-43,9
16
mm. Ukuran kerang gelatik yang paling banyak tertangkap berada pada kisaran 18,4 mm-21,5 mm. Ukuran panjang cangkang kerang gelatik disajikan pada Gambar 12.
Gambar 11 Ukuran panjang cangkang kerang gelatik
Efisiensi teknis unit penangkapan garuk
Efisiensi merupakan perbandingan antara output dan input yang digunakan dalam proses produksi. Menurut (Soekartawi 2002), efisiensi didekati dari dua sisi yaitu alokasi pendekatan penggunaan input dan alokasi output yang dihasilkan. Faktor input produksi berupa tenaga kerja, alat, waktu maupun BBM yang diperlukan untuk menghasilkan output berupa pruduksi hasil tangkapan yang dilihat dari sudut teknis persatuan input produksi.
Kriteria input yang digunakan untuk menghasilkan output berupa hasil tangkapan garuk yaitu ukuran perahu, kekuatan mesin, jumlah alat yang digunakan, jumlah bahan bakar, jumlah trip, jumlah setting dan jumlah ABK (tenaga kerja). Unit penangkapan garuk yang berada di Desa Rawameneng berjumlah sekitar 20 unit, jumlah tersebut berbeda dengan jumlah yang terdaftar di KUD Mina Karya Baru. Jumlah unit penangkapan garuk yang terdaftar di KUD Mina Karya Baru berjumlah 26 unit. Perbedaan ini terjadi karena beberapa nelayan telah berpindah dari alat garuk menjadi jaring arad. Jumlah nelayan yang berhasil diwawancarai pada saat penelitian berjumlah 16 unit penangkapan garuk dari 20 unit penangkapan garuk yang terdapat di lokasi penelitian. Data hasil wawancara berupa perahu, jumlah trip, jumlah setting, jumlah BBM, kekuatan mesin, jumlah alat dan jumlah nelayan disajikan pada Tabel 3.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 12 15,1 18,3 21,5 24,7 27,9 31,1 34,3 37,5 40,7 Fr ek u en si (e k or ) Panjang kerang (mm)
17
Tabel 3 Data produksi, jumlah trip, jumlah setting, ukuran perahu, ukuran mesin, jumlah BBM, jumlah ABK, dan jumlah alat yang berhasil diperoleh di Desa Rawameneng. No Nama Perahu Produksi (kg) Jumlah trip Jumlah setting Perahu (GT) Mesin (PK) BBM (L) Jumlah ABK Jumlah alat 1 Putra Bima 71.415 276 17.595 4 23 5.520 3 3 2 Laksana 45.356 276 14.490 4 20 4.140 2 2 3 Lancar Abadi 37.812 276 11.730 4 20 5.520 3 2 4 Asri Laksana 39.008 276 9.453 4 16 4.140 2 2 5 Sri Langgeng 67.690 262 14.800 4 20 3.930 3 2 6 Anak Jaya 115.988 262 15.720 4 20 5.240 3 3 7 Angkut Jaya 60.490 276 10.120 4 20 4.140 2 2 8 Cawuk 69.690 276 13.340 4 20 4.968 3 2 9 Anggun Jaya 36.685 276 13.455 4 20 4.140 2 3 10 Srimulya 54.395 276 11.730 4 23 5.520 2 2 11 Ridho Jaya 135.585 276 15.870 4 20 4.968 3 3 12 Srimuda 117.760 276 14.490 4 20 4.968 2 2 13 Luna Jaya 70.748 276 12.880 4 16 4.416 2 2 14 Karya Guna 40.560,5 276 11.408 4 21 4.140 2 2 15 Endang Jaya 71.300 276 12.880 4 22 4.968 3 2 16 Lancar Rahayu 66.070 262 13.720 4 20 5.240 3 2
Analisis efisiensi teknis unit alat tangkap garuk di Desa Rawameneng didasarkan pada penilaian produksi/jumlah trip, produksi/jumlah setting, produksi/GT, produksi/ukuran mesin, produksi/BBM, produksi/jumlah ABK, dan produksi/jumlah alat. Tabel 3 menunjukkan jumlah produksi masing-masing alat tangkap garuk yang ada di Desa Rawameneng. Ridho Jaya mempunyai nilai produksi tertinggi 135.585 kg, disusul oleh Srimuda dengan produksi 117.760 kg, kemudian Anak Jaya diurutan tertinggi ketiga dengan produksi 115.988 kg. Adapun diantara 16 unit penangkapan garuk yang produksinya paling sedikit diperoleh unit penangkapan Anggun Jaya sebesar 36.685 kg per tahun.
Jumlah trip unit penangkapan garuk, seperti yang disajikan pada Tabel 3 berkisar antara 262-276 trip per tahun. Variasi ini diakibatkan adanya alih profesi sebagian nelayan sehingga mempengaruhi jumlah trip penangkapan. Ukuran tonasse perahu untuk alat tangkap garuk yaitu 4 GT. Adapun ukuran mesin yang digunakan berkisar antara 16 PK-22 PK dengan jumlah BBM setiap alat tangkap garuk berkisar 15-20 liter per trip. Jumlah BBM yang digunakan tidak jauh berbeda. Hal ini karena daerah penangkapan untuk alat garuk relatif berdekatan.
Jumlah alat yang digunakan dalam setiap kali trip secara bersamaan berjumlah 3 unit atau 2 unit alat. Jumlah alat yang digunakan berkaitan dengan jumlah ABK. Apabila ABK minimal 3 orang, biasanya perahu tersebut akan mengoperasikan 3 alat tangkap. Namun, apabila ABK berjumlah 2 orang, maksimal alat yang dioperasikan berjumlah 2 unit. Selain itu jumlah alat yang dioperasikan secara bersamaan juga dipengaruhi oleh kekuatan mesin masing-masing perahu. Perhitungan efisiensi teknis dilakukan setelah produksi masing-masing alat tangkap diketahui. Perhitungan dilakukan berdasarkan kriteria teknis yang tercantum pada
18
Tabel 3. Perbandingan perhitungan faktor produksi yang menentukan efisiensi teknis dan nilai finansial disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Perbandingan perhitungan faktor produksi yang menentukan efisiensi teknis dan finansial
Keterangan: X1 : Produksi/trip perahu X2 : Produksi/setting alat X3 : Produksi/ukuran perahu (GT) X4 : Produksi/ukuran mesin (PK) X5 : Produksi/BBM (L) X6 : Produksi/ABK X7 : Produksi/jumlah alat R : Net Revenue (Rp)
Tabel 4 menunjukkan hasil perbandingan produksi untuk masing-masing unit alat tangkap garuk. Perbandingan tersebut menunjukan tingkat efisiensi teknis dari masing-masing unit penangkapan garuk terhadap salah satu faktor teknis yang digunakan yakni X1 hingga X7. Selanjutnya, untuk mengetahui urutan prioritas unit produksi yang memiliki efisiensi teknis terbaik dilakukan perhitungan dengan fungsi nilai dari masing-masing kriteria teknis. Analisis efisiensi teknis dilakukan dengan metode skoring yang dikembangkan oleh Mangkusubroto dan Trisnadi (1987). Hasil perhitungannya menentukan urutan efisiensi teknis masing-masing unit penangkapan garuk, sebagaimana disajikan pada Tabel 5.
No Nama Perahu X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 R (Rp) 1 Putra Bima 258,8 4,1 17.853,8 3.105,0 12,9 23.805,0 23.805,0 60.352.000 2 Laksana 164,3 3,1 11.339,0 2.267,8 11,0 22.678,0 22.678,0 52.992.000 3 Lancar Abadi 137,0 3,2 9.453,0 1.890,6 6,9 12.604,0 18.906,0 39.790.000 4 Asri Laksana 141,3 4,1 9.752,0 2.438,0 9,4 19.504,0 19.504,0 55.890.000 5 Sri Langgeng 258,4 4,6 16.922,5 3.384,5 17,2 22.563,3 33.845,0 59.619.600 6 Anak Jaya 442,7 7,4 28.997,0 5.799,4 22,1 38.662,7 38.662,7 92.908.000 7 Angkut Jaya 219,2 6,0 15.122,5 3.024,5 14,6 30.245,0 30.245,0 67.194.500 8 Cawuk 252,5 5,2 17.422,5 3.484,5 14,0 23.230,0 34.845,0 59.110.000 9 Anggun Jaya 132,9 2,7 9.171,3 1.834,3 8,9 18.342,5 12.228,3 40.399.500 10 Srimulya 197,1 4,6 13.598,8 2.365,0 9,9 27.197,5 27.197,5 65.492.500 11 Ridho Jaya 491,3 8,5 33.896,3 6.779,3 27,3 45.195,0 45.195,0 104.162.400 12 Srimuda 426,7 8,1 29.440,0 5.888,0 23,7 58.880,0 58.880,0 108.468.000 13 Luna Jaya 256,3 5,5 17.687,0 4.421,8 16,0 35.374,0 35.374,0 87.561.000 14 Karya Guna 147,0 3,6 10.140,1 1.931,5 9,8 20.280,3 20.280,3 46.488.750 15 Endang Jaya 258,3 5,5 17.825,0 3.240,9 14,4 23.766,7 35.650,0 72.542.000 16 Lancar Rahayu 252,2 4,8 16.517,5 3.303,5 12,6 22.023,3 33.035,0 54.092.800
19
Tabel 5 Efisiensi teknis dan nilai finansial unit penangkapan garuk
Keterangan:
R : Net revenue (Rp) UP : Urutan Prioritas
Tabel 5 menunjukkan hasil perhitungan efisiensi teknis unit penangkapan garuk di Desa Rawameneng secara keseluruhan. Berdasarkan Tabel 5, unit alat tangkap garuk Ridho Jaya memiliki tingkat efisiensi secara keseluruhan sebesar 6,41 dan menduduki perangkat pertama. Peringkat kedua ada unit penangkapan garuk Srimuda dengan nilai 6,21. Adapun tingkat efisiensi yang paling kecil terdapat pada unit penangkapan garuk Anggun Jaya yang hanya mencapai 0,22. Berdasarkan Tabel 5 tersebut dapat disimpulkan bahwa unit penangkapan Ridho Jaya lebih efisien secara teknis dibandingkan dengan ke 15 alat tangkap garuk lainnya di Desa Rawameneng. Contoh perhitungan efisiensi teknis dapat dilihat pada Lampiran 3.
Analisis finansial usaha penangkapan garuk
Analisis usaha dilakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha tersebut berhasil. Analisis usaha biasanya diaplikasikan untuk mengevaluasi suatu usaha atau rencana usaha yang berorientasi mencari keuntungan semaksimal mungkin yang bisa diperoleh suatu perusahaan tertentu. Titik berat masalah usaha adalah estimasi keuntungan yang secara langsung dapat diterima oleh individu perusahaan dari investasi yang ditanamkan. Analisis usaha yang dilakukan antara lain:
1. Investasi unit penangkapan garuk
Investasi merupakan modal awal yang harus dimiliki untuk memulai usaha, termasuk usaha dalam perikanan tangkap. Investasi yang ditanamkan pemilik untuk usaha unit penangkapan garuk dapat dilihat pada Tabel 6.
No Nama kapal V (X1) V (X2) V (X3) V (X4) V (X5) V (X6) V (X7) V (X) R (Rp) UP 1 Ridho Jaya 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 0,70 0,71 6,41 104.162.400 1 2 Srimuda 0,82 0,93 0,82 0,82 0,82 1,00 1,00 6,21 108.468.000 2 3 Anak Jaya 0,86 0,80 0,80 0,80 0,75 0,56 0,57 5,15 92.908.000 3 4 Luna Jaya 0,34 0,48 0,34 0,52 0,45 0,49 0,50 3,12 87.561.000 4 5 Endang Jaya 0,35 0,48 0,35 0,28 0,37 0,24 0,50 2,58 72.542.000 5 6 Cawuk 0,33 0,43 0,33 0,33 0,35 0,23 0,48 2,50 59.110.000 6 7 Sri Langgeng 0,35 0,32 0,31 0,31 0,51 0,22 0,46 2,48 59.619.600 7 8 Angkut Jaya 0,24 0,56 0,24 0,24 0,38 0,38 0,39 2,43 67.194.500 8 9 Lancar Rahayu 0,33 0,36 0,30 0,30 0,28 0,20 0,45 2,22 54.092.800 9 10 Putra Bima 0,35 0,23 0,35 0,26 0,30 0,24 0,25 1,98 60.352.000 10 11 Srimulya 0,18 0,33 0,18 0,11 0,15 0,32 0,32 1,58 65.492.500 11 12 Laksana 0,09 0,07 0,09 0,09 0,20 0,22 0,22 0,97 52.992.000 12 13 Asri Laksana Jaya 0,02 0,24 0,02 0,12 0,13 0,15 0,16 0,84 55.890.000 13 14 Karya Guna 0,04 0,14 0,04 0,02 0,14 0,17 0,17 0,72 46.488.750 14 15 Lancar Abadi 0,01 0,08 0,01 0,01 0,00 0,00 0,14 0,26 39.790.000 15 16 Anggun Jaya 0,00 0,00 0,00 0,00 0,10 0,12 0,00 0,22 67.194.500 16
20
Tabel 6 Rata-rata investasi unit penanangkapan garuk
Investasi Nilai (Rp)
Perahu untuk 10 tahun 10.000.000
Mesin untuk 6 tahun 6.000.000
Alat untuk 1 tahun 900.000
Total investasi 16.900.000
Investasi yang ditanamkan untuk memulai usaha penangkapan dengan menggunakan garuk yaitu Rp 16.900.000. Investasi tersebut dalam bentuk perahu, alat tangkap garuk dan mesin. Modal yang paling besar dikeluarkan pemilik yaitu untuk membeli perahu Rp 10.000.000. Adapun modal paling kecil yaitu untuk membuat 3 alat Rp 900.000.
2. Biaya operasional unit penangkapan garuk
Biaya operasional unit penangkapan garuk meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan dalam jumlah yang sama tanpa terpengaruh oleh besar kecilnya kegiatan produksi. Meskipun tidak melakukan operasi penangkapan biaya tetap harus tetap dikeluarkan. Biaya tetap usaha penangkapan garuk disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Biaya tetap unit penangkapan garuk
Biaya tetap Keterangan Nilai (Rp)
Perawatan perahu @ Rp 1500000 1.500.000
Perawatan mesin @ Rp 650.000 × 2 1.300.000
Perawatan alat @ Rp 660.000 × 3 1.980.000
Pas @ Rp 100000 100.000
Total biaya tetap 4.880.000
Total biaya tetap untuk usaha penangkapan dengan garuk Rp 4.880.000. Biaya paling besar harus dikeluarkan untuk perawatan alat tangkap garuk yaitu Rp 1.980.000. Biaya tersebut digunakan untuk memperbaiki 3 alat tangkap garuk termasuk untuk biaya mengganti secara keseluruhan alat tangkap dalam jangka waktu satu tahun. Selain itu biaya tetap juga digunakan untuk melakukan perawatan mesin Rp 660.000 untuk sekali perawatan, dimana dalam 1 tahun terjadi dua kali perawatan atau perbaikan. Adapun untuk biaya perizinan atau PAS membutuhkan biaya Rp 100.000.
Biaya tidak tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai kegiatan produksi, dimana besar kecilnya biaya tersebut dipengaruhi volume produksi. Biaya tidak tetap pada usaha penangkapan garuk meliputi BBM dan perbekalan melaut. Biaya tidak tetap disajikan pada Tabel 8.
21
Tabel 8 Biaya tidak tetap usaha unit penangkapan garuk
Biaya Tidak Tetap (variabel cost) Keterangan Nilai (Rp)
BBM 274 trip × 20 L × 5.500 30.140.000
Perbekalan 274 trip × 30.000 8.220.000
Total biaya variabel 38.360.000
Biaya tidak tetap dikeluarkan untuk kegiatan produksi, seperti untuk membeli BBM sebesar Rp 30.140.000 untuk satu tahun, dan biaya perbekalan sebesar Rp