4 HASIL
4.3 Hasil Tangkapan
4.3.1 Jenis hasil tangkapan
4.3.1.1 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan
Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 3 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan tambangan (Lutjanus sp) yaitu sebesar 39,18 % dan yang paling sedikit adalah ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,39 % (Gambar 12).
Gambar 12 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 3 hari
4.3.1.2 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman 4 hari
Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 4 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,14 % (Gambar 13).
Gambar 13 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 4 hari
4.3.1.3 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman 5 hari
Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 5 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan tambangan (Lutjanus sp) yaitu sebesar 33,85 % dan yang paling sedikit adalah ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,89 % (Gambar 14).
Gambar 14 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 5 hari
4.3.2 Pengaruh lama perendaman bubu dasar terhadap hasil tangkapan Bubu dasar dari material kawat dan jaring yang dioperasikan dengan lama perendaman 3 (tiga) hari, 4 (empat) hari dan 5 (lima) hari memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil tangkapan. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan material yang digunakan dan perbedaan lamanya perendaman di dalam air. Pengaruh ini dapat dilihat dari berat total ikan tangkapan (Gambar 15).
Selama penelitian ini telah berhasil ditangkap 24 ekor kerapu sunu (berat rata rata-rata 0,83 kg); 21 ekor kerapu macan (berat rata-rata 0,68 kg); 30 ekor kerapu malabar (berat rata 0,66 kg); dan 28 ekor kakap merah (berat rata-rata 0,64 kg), dan 35 ekor beronang (berat rata-rata 0,47 kg), dan 45 ekor ekor kuning (dengan rata-rata berat 0,38 Kg), dan 20 ekor swanggi (dengan rata-rata berat 0,64 kg), dan 24 ekor tambangan (dengan rata-rata berat 2,3 kg). Diantara kedelapan jenis ikan hasil tangkapan, Tambangan (Lutjanus johni) yang memilki berat hingga 2,01 Kg per ekor, jenis lainnya umumnya hanya kurang dari 2,01 kg per ekor.
Gambar 15 Komposisi berat jenis ikan yang tertangkap menggunakan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan 2009
4.3.2.1 Perbandingan berat tangkapan berdasarkan jenis bubu dasar
Analisis ragam yang dilakukan hanya terhadap data primer yang diperoleh dari hasil pengamatan berupa berat (kg) hasil tangkapan pada kedua material bubu dasar. Data primer berupa berat (kg) hasil tangkapan yang diperoleh menyebar tidak normal. Hal ini disebabkan karena banyak terdapat pencilan.
82,58
Selanjutnya untuk dapat dilakukan analisis sidik ragam, maka data primer tersebut ditransformasi terlebih dahulu sebelum dianalisis. Berat total tangkapan ikan terbanyak pada pengoperasian bubu dasar dari material jaring yaitu sebesar 90,05 kg. Sedangkan berat total tangkapan yang paling sedikit adalah bubu dasar dari material kawat yaitu sebesar 82,58 kg. Perbandingan total berat tangkapan dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16 Perbandingan total berat tangkapan berdasarkan jenis bubu dasar Gambar 16 menunjukkan bahwa pengoperasian bubu dasar dari material jaring menangkap ikan lebih banyak daripada bubu dasar dari material kawat.
Berdasarkan uji statistika, Fhitung < Ftabel dengan nilai Fhitung = 4,49 dan Ftabel
Uji hipotesis menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan 95% jenis material yang digunakan dalam pembuatan bubu dasar tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap berat total hasil tangkapan. Ini berarti bahwa alat tangkap bubu kawat dan jaring dapat digunakan untuk menangkap ikan karang. Hasil tangkapan bubu dasar yang optimal dengan menggunakan bahan material jaring. Pengolahan data sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 9.
= 18.51, maka Ho diterima.
4.3.2.2 Perbandingan berat tangkapan berdasarkan lamanya perendaman bubu dasar
Analisis ragam digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan dengan perbedaan lama perendaman dari kedua bubu dasar yang digunakan terhadap hasil tangkapan. Berat total tangkapan ikan terbanyak pada pengoperasian bubu dasar yang direndam selama 5 hari yaitu sebesar 71,59 kg. Berat total hasil tangkapan bubu dasar paling sedikit adalah bubu dasar yang direndam selama 4 hari yaitu sebesar 47,08 kg. Perbandingan total hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 17.
53.96
47.08
71.59
10.000.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00
Perendaman 3 hari
Perendaman 4 hari
Perendaman 5 Total Tangkapan (kg) hari
Lamanya perendaman (hari)
Gambar 17 Perbandingan berat total tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman
Gambar 17 menunjukkan bahwa pengoperasian bubu dasar dengan lama perendaman 5 (lima) hari menangkap ikan lebih banyak daripada bubu dasar yang direndam selama 3 (tiga) hari dan 4 (empat) hari. Berdasarkan uji statistika, Fhitung > Ftabel dengan nilai Fhitung = 38,59 dan Ftabel = 19,00, maka Ho ditolak. Uji hipotesis menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan 95 % lama perendaman bubu dasar dalam air memberikan pengaruh yang berbeda pada total hasil tangkapan (Gambar 18). Hal ini menunjukkan bahwa lama perendaman berbeda nyata terhasil tangkapan ikan karang. Hasil tangkapan ikan karang yang optimal terjadi pada lama perendaman 5 (lima) hari. Pengolahan data sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 9.
Gambar 18 Berat ikan pada kedua jenis bubu dasar dengan perbedaaan lama perendaman
4.4 Analisis Finansial
4.4.1 Analisis usaha
Analisis usaha perikanan bubu dasar dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha yang akan dicapai secara finansial. Analisis usaha yang dilakukan dalam usaha pengembangan perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan meliputi biaya, penerimaan usaha, keuntungan, kriteria analisis usaha terhadap 2 (dua) jenis alat tangkap bubu dasar yaitu bubu kawat dan bubu jaring. Hasil analisis usaha dari alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring dilakukan sebagai ukuran keberhasilan pengembangan usaha tersebut pada saat ini dan untuk mengetahui kelayakan pengembangan usaha perikanan bubu dasar.
4.4.1.1 Biaya
Biaya dalam usaha perikanan bubu dasar terdiri atas biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel. Biaya investasi merupakan nilai investasi yang ditanamkan pada usaha perikanan bubu dasar (Lampiran 10 dan Lampiran 14).
Total investasi yang dibutuhkan untuk penangkapan ikan dengan bubu kawat sebesar Rp 36.765.394,00 dan bubu jaring sebesar Rp 96.820.851 (Tabel 5). Besarnya biaya investasi merupakan nilai investasi rata-rata responden yang ditanamkan pada unit usaha penangkapan bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan.
Tabel 5 Komponen investasi unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009
No. Jenis investasi Nilai investasi (Rp.) Bubu kawat Bubu jaring Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.
Biaya tetap (fixed cost) didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walau pun produksi yang diperoleh banyak
atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh (Soekartawi 1995). Biaya tetap dalam usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring terdiri atas biaya penyusutan dan perawatan. Biaya penyusutan pada bubu kawat meliputi penyusutan kapal, mesin, alat tangkap, GPS, peralatan elektrik, kompresor, masker, selang, jangkar dan tali, serta jerigen solar dan air.
Sedangkan pada bubu jaring terdapat biaya penyusutan peti fiber. Biaya perawatan pada bubu kawat dan bubu jaring meliputi perawatan kapal, mesin dan alat tangkap.
Biaya tetap pada unit usaha bubu jaring lebih besar dibandingkan dengan unit usaha bubu kawat yaitu sebesar Rp 21.462.527 dan Rp 8.771.619 (Tabel 6).
Biaya untuk penyusutan unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu jaring lebih besar dibandingkan dengan alat tangkap bubu kawat. Hal ini disebabkan modal yang dikeluarkan untuk membeli bubu jaring lebih besar yaitu Rp 300.000,00 daripada modal untuk membeli bubu kawat yaitu Rp 70.000, sedangkan umur teknis dari bubu jaring yaitu 6-7 bulan lebih lama dibandingkan bubu kawat yaitu 4 bulan (Lampiran 10 dan Lampiran 14).
Tabel 6 Komponen biaya tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009
Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.
Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya (variable cost) dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh (Soekartawi 1995). Biaya tidak tetap dalam usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap
bubu kawat dan bubu jaring terdiri atas biaya solar, oli, perbekalan (ransum) dan upah ABK. Komponen biaya tidak tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Komponen biaya tidak tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009 Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.
Total biaya tidak tetap pada unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat berbeda jauh dengan alat tangkap bubu jaring, yaitu Rp 128.127.782,40 dan Rp 160.463.280,00 Biaya tidak tetap yang paling besar pada unit usaha perikanan bubu dasar dengan material terbuat dari kawat dan jaring adalah upah ABK, yaitu sebesar Rp 112.347.782,40 dan 142.643.280,00 Hal ini dikarenakan besarnya biaya solar yang digunakan pada saat menuju daerah penangkapan dan operasi penangkapan dan ukuran GT kapal. Upah ABK juga menjadi salah satu biaya tidak tetap yang paling besar. Hal ini di karenakan sistem bagi hasil yang dilakukan usaha bubu kawat dan bubu jaring berbeda, yaitu Rp 112.347.782,40 dan Rp 142.643.280,00.
Total biaya merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yaitu hasil penjumlahan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Total biaya dalam usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat sebesar Rp 136.899.402,07, sedangkan dengan mengunakan alat tangkap bubu jaring sebesar Rp 182.625.807,03.
Total biaya usaha bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan lebih besar daripada bubu kawat. Hal ini disebabkan oleh biaya bahan bakar solar dan upah ABK yang lebih besar (Tabel 8).
Tabel 8 Biaya total unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009 Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.
4.4.1.2 Penerimaan
Penerimaan (output) dalam usaha penangkapan ikan merupakan nilai penjualan hasil tangkapan. Besarnya pendapatan dipengaruhi oleh produktivitas alat tangkap, perubahan musim yang disebabkan perubahan cuaca dan iklim dan fluktuasi harga ikan baik perubahan harga dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh produk hasil perikanan bersifat sangat mudah rusak dan akibat perubahan sementara dalam penawaran dan permintaan serta nilai ekonomis atau nilai jual hasil tangkapan.
Rata-rata penerimaan yang diperoleh selama satu trip penangkapan pada pengoperasian alat tangkap bubu kawat sebesar Rp 3.343.684, sedangkan untuk rata-rata biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 3.174.657,07 per trip. Keuntungan yang diperoleh unit usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan sebesar Rp 169.027 per trip.
Penerimaan yang diperoleh dari unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat selama satu tahun penangkapan sebesar Rp 187.246.304,00, sedangkan total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp
136.899.402,07. Keuntungan yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 968.209,65.
Penerimaan rata-rata unit usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan sebesar Rp 5.486.280 per trip. Rata-rata biaya yang dikeluarkan pada pengoperasian alat tangkap ini sebesar Rp 3.512.034,75. Keuntungan yang diperoleh usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring adalah sebesar Rp 1.974.245,25 per trip. Penerimaan yang diperoleh dari usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring selama satu tahun penangkapan sebesar Rp 285.286.560,00, sedangkan total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 182.625.807,03. Keuntungan yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 102.660.752,97 (Lampiran 10 dan Lampiran 14).
4.4.1.3 Keuntungan
Keuntungan usaha yang diperoleh dari unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan merupakan hasil selisih antara total penerimaan dan total biaya. Total penerimaan ditentukan oleh nilai penjualan hasil tangkapan ikan, sedangkan total biaya ditentukan oleh biaya produksi, baik biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan untuk
operasi usaha unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring. Pendapatan yang diperoleh juragan dan ABK melalui sistem bagi hasil pada alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring berbeda. Pada bubu kawat, pemilik mendapat bagian 40% dan nelayan mendapat bagian 60% dari setiap kali penjualan hasil tangkapan setelah dikurangi dengan biaya operasional yaitu Sedangkan pada bubu jaring, pemilik mendapat bagian 50% dan nelayan mendapat bagian 50%.
4.4.2 Kriteria analisis usaha
1) Rasio imbangan penerimaan dan biaya (R/C)
R/C merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya. Setiap pelaku usaha selalu mengharapkan keuntungan dari kegiatanusaha yang dilakukan, begitupun dengan nelayan. Rasio imbang penerimaan dan biaya digunakan untuk mengetahui seberapa besar biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha sehingga dapat memberikan sejumlah keuntungan dari penerimaan yang diperoleh. Analisis R/C merupakan perbandingan antara nilai penerimaan per tahun dengan biaya yang telah dikeluarkan setiap tahun. Analisis R/C juga dapat digunakan untuk menilai efisiensi biaya yang telah dikeluarkan (Djamin 1984).
Analisis R/C dilakukan untuk melihat berapa penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan pada unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan.
Hasil analisis unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan diperoleh nilai R/C sebesar 1,37 dan 1,56 yang artinya setiap satu rupiah total biaya yang dikeluarkan untuk usaha akan menghasilkan total penerimaan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,56 atau memberikan keuntungan sebesar Rp 0,13 dan Rp 0,15 (Lampiran 16 dan Lampiran 20).
Analisis imbangan penerimaan dan biaya merupakan perbandingan antara besarnya penerimaan dengan total biaya. Pada usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan ini diperoleh nilai R/C>1, sehingga dapat diartikan usaha tersebut mendapatkan keuntungan (Lampiran 10 dan Lampiran 24).
2) Return of investment (ROI)
ROI bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh dalam setiap rupiah investasi yang ditanamkan. ROI dari unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan sebesar 137% dan 106%. Hal ini berarti bahwa setiap seratus rupiah yang diinvestasikan akan memberikan keuntungan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,06 (Lampiran 10 dan Lampiran 24).
3) Payback period (PP)
PP dalam studi kelayakan usaha berfungsi untuk mengetahui berapa lama usaha yang diusahakan dapat mengembalikan investasi. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah usaha, semakin baik usaha tersebut karena semakin lancar perputaran modal.
Analisis PP digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menutupi modal investasi dalam hitungan tahun atau bulan, jika seluruh pendapatan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menutupi modal investasi (Umar 2003).
PP dari unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan adalah 0,7 tahun dan 0,9 tahun.
Hal ini berarti waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian biaya investasi yang telah dikeluarkan akan kembali dengan keuntungan sebesar Rp 50.346.901,93 dan Rp 102.660.752,97 per tahun dalam waktu 0,7 tahun dan 0,9 tahun (Lampiran 10 dan Lampiran 24).
4.4.3 Analisis kriteria investasi
Analisis kriteria investasi digunakan untuk membuat keputusan suatu kegiatan bisa atau tidak untuk dijalankan serta menilai dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Perhitungan analisis kriteria investasi tersebut menggunakan beberapa asumsi dasar untuk membatasi permasalahan yang ada. Asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Analisis yang dilakukan merupakan usaha baru yang akan dikembangkan terhadap unit usaha yang ada dengan umur kegiatan ditentukan 8 tahun, karena umur teknis untuk investasi kapal baru adalah 8 tahun. Investasi yang telah dihitung dengan penyesuaian IHK yang berlaku di Kabupaten Bangka Selatan untuk komoditas ikan segar, sehingga menunjukkan nilai saat penelitian;
2) Tahun pertama proyek dimulai tahun 2009 dengan penilaian investasi dinilai pada tahun tersebut, penggantian investasi berikutnya menggunakan barang baru dan harga baru;
3) Sumber modal yang digunakan adalah modal sendiri;
4) Populasi ikan berada di daerah penangkapan ikan karang;
5) Hasil tangkapan yang masuk ke dalam perhitungan adalah jenis ikan karang ekonomis;
6) Jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat jumlah dalam setahun 56 trip atau selama 8 bulan dan jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu jaring dalam setahun 52 trip 7 bulan 3 minggu.
7) Harga ikan hasil tangkapan merupakan harga yang diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan bubu kawat dan bubu jaring setempat dan harga ikan per satuan hasil tangkapan adalah konstan;
8) Biaya perawatan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini disebabkan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek;
9) Discount factor pada tahun 2009 didasarkan pada tingkat suku bunga 15%
per tahun yang berlaku pada Bank Sumsel Babel Cabang Bangka Selatan;
10) Biaya operasional yang digunakan sepanjang umur proyek dianggap tetap.
11) Kebutuhan solar dan minyak tanah meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini disebabkan oleh umur teknis semakin, tua sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah; dan
12) Kebutuhan oli meningkat 5% per tahun proyek, hal ini disebabkan oleh umur teknis mesin semakin tua, sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah.
Analisis kriteria investasi usaha perikanan bubu dasar dengan material kawat dan jaring di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR).
1) Net Present Value (NPV)
Suatu usaha layak untuk dilanjutkan jika nilai NPV adalah selisih antara benefit (pendapatan) dengan cost (pengeluaran) yang telah di present valuekan lebih dari nol. Dalam metode ini discount rate yang digunakan adalah sebesar 12
% sesuai dengan tingkat bunga bank rata-rata yang berlaku saat ini.
Nilai NPV pada unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring bernilai positif yaitu sebesar 314.926.267,14 dan Rp
132.093.915,15 yang berarti bahwa usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring akan memperoleh net benefit sebesar Rp 314.926.267,14 dan Rp 132.093.915,15 selama umur proyek (10 tahun) pada discount rate sebesar 15 % per tahun, apabila dinilai sekarang (Lampiran 11 dan Lampiran 15).
Nilai NPV bubu jaring lebih besar dari nilai NPV bubu kawat dikarenakan jumlah aliran kas pada net cash flow yang merupakan selisih total inflow (pendapatan) dengan total outflow (investasi dan biaya total) yang besar. Hal ini disebabkan oleh biaya total unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu jaring lebih kecil dibandingkan dengan bubu kawat, sehingga berpengaruh pada nilai NPV nya.
Pada usaha perikanan bubu dasar dengan terbuat dari kawat dan jaring, maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.
2) Internal Rate of Return (IRR)
Perhitungan IRR dilakukan dengan cara mencari discount rate yang dapat menyamakan antara present value dari aliran kas dengan present value dari investasi (initial investment). Jika perhitungan IRR dari discount rate dikatakan usaha tersebut feasible (layak) dijalankan, bila sama dengan discount rate berarti pulang pokok dan di bawah discount rate usaha tersebut tidak feasible.
Nilai IRR dari unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan layak diusahakan sebab nilai IRR-nya memiliki nilai yang lebih tinggi dari nilai discount rate (15%) yaitu sebesar 148%
dan 114%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha tersebut akan memberikan manfaat baik internal dari nilai investasi yang ditanamkan untuk usaha penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring sebesar 148% dan 114% tiap tahunnya selama umur proyek (Lampiran 11 dan Lampiran 15).
Usaha penangkapan alat tangkap bubu jaring lebih layak diusahakan karena memiliki nilai IRR yang lebih besar dibandingkan dengan nilai IRR jaring.
Hal ini disebabkan oleh besarnya NPV dan discount rate yang digunakan untuk membuat nilai NPV negatif.
3) Net B/C
Net B/C unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring yaitu sebesar 4,16 dan 4,25 (net B/C>1), artinya selama tahun proyek pada tingkat discount rate 15% per tahun setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memberikan benefit bersih sebesar Rp 4,16 dan Rp 4,25, sehingga dapat dikatakan usaha tersebut layak untuk dikembangkan (Lampiran 11 dan Lampiran 15). Net B/C tidak menggambarkan besarnya keuntungan tetapi menggambarkan skala penerimaan atas biaya dan modal.
Pada usaha perikanan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring, maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.
4) Analisis sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat pengaruh apa yang akan terjadi akibat perubahan nilai input atau perubahan nilai output yang akan berdampak pada akhir perhitungan. Dalam penelitian ini faktor yang dianalisis adalah perubahan harga solar sebagai komponen variabel terbesar yaitu untuk kebutuhan solar pada bubu kawat sebesar 65,4 % sedangkan untuk bubu jaring sebesar 160,5% dari total biaya variabel. Metode yang digunakan adalah switching value. Komponen tersebut merupakan komponen variabel utama yang dianggap peka dalam proses penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring.
Berdasarkan metode switching value diperoleh nilai untuk kenaikan harga solar pada bubu kawat dan bubu jaring sebesar 65,4% dan 160,5%
menyebabkan usaha penangkapan menjadi tidak layak untuk dijalankan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa apabila terjadi perubahan harga solar, maka nilai kriteria investasi juga akan mengalami perubahan.
Nilai kriteria investasi setelah dilakukan analisis sensitivitas pada usaha
Nilai kriteria investasi setelah dilakukan analisis sensitivitas pada usaha