Pembangkit SPK
2 Prioritas Global
1.8 Dependensi antar Kriteria (Interdependensi)
1.9.2 Algoritma Klaster Zahir (1999)
Untuk kelompok berukuran menengah (intermidiate-sized group) atau kelompok berukuran besar (large group), kehomogenan kelompok sulit dijamin atau dicapai, sehingga Zahir (1999) mengajukan suatu algoritma pengklasteran berdasarkan metode VAHP (the Vector Space Formulation of the Analytic Hierarchy Process). Dengan menggunakan algoritma ini, dalam suatu kelompok yang terdiri dari N anggota dapat dibentuk klaster yang masing-masing homogen, dimana 1 N.
Klaster ditentukan secara alamiah dengan nilai batas keanggotaan klaster (). Besarnya nilai batas keanggotaan klaster () bervariasi dan bergantung pada jenis permasalahannya. Nilai batas keanggotaan klaster ini ditetapkan berdasarkan kesepakatan anggota kelompok.
Untuk menentukan keanggotaan seorang pengambil keputusan terhadap suatu klaster, kosinus sudut antara vektor bobot pengambil keputusan tersebut dan vektor bobot resultan dari seluruh pengambil keputusan dalam klaster dibandingkan dengan nilai batas keanggotaan klaster (). Jika kosinus sudut antara vektor bobot pengambil keputusan tersebut dan vektor bobot resultan lebih besar atau sama dengan nilai batas keanggotaan klaster (), maka pengambil keputusan tersebut terpilih masuk menjadi anggota klaster. Demikian juga sebaliknya, jika kosinus sudut yang terbentuk antara vektor bobot pengambil keputusan tersebut dan vektor bobot resultan lebih kecil dari nilai batas keanggotaan klaster, maka pengambil keputusan tersebut tertunda untuk dipilih masuk menjadi anggota klaster.
Pengambil keputusan yang tertunda ini harus menunggu untuk kembali terpilih masuk klaster tersebut hingga terdapat pengambil keputusan lain dari kelompok yang terpilih masuk klaster. Jika tidak terpilih, pengambil keputusan yang tertunda tersebut harus menunggu untuk ditempatkan pada klaster lain.
Pembentukkan klaster pada algoritma Zahir (1999) ini menggunakan simulasi Monte Carlo.
2 Pengembangan Model
Pada bagian ini dibahas tentang tahapan pengembangan model, hal ini didasari oleh keinginan untuk menggambarkan sistematika dan metodologi pengembangan model.
Pengembangan model dalam penelitian ini adalah pengembangan model PKKM berbasis AHP. Hal ini juga didasari kenyataan bahwa AHP, dengan berbagai kelebihannya, merupakan model yang baik dalam menyelesaikan persoalan PKKM.
2.1 Perumusan Masalah
Perumusan masalah pada pengembangan model untuk penelitian ini dilakukan dengan melalu tiga tahap, yakni pengenalan masalah, identifikasi masalah, dan definisi masalah.
Sistematika metodologi pengembangan model PKKM harus mampu menciptakan tiga faktor penting dalam proses analisa pengambilan keputusan, yaitu (a) pembuatan struktur situasi permasalahan, (b) evaluasi alternatif dan kriteria, dan (c) pemilihan alternatif (Costa et. al., 1999)
Evaluasi Alternatif dan Kriteria Pembuatan Struktur Masalah Pemilihan Alternatif Kelompok Aktor Evaluasi Alternatif dan Kriteria Pembuatan Struktur Masalah Pemilihan Alternatif Evaluasi Alternatif dan Kriteria Pembuatan Struktur Masalah Evaluasi Alternatif dan Kriteria Pembuatan Struktur Masalah Pemilihan Alternatif Kelompok Aktor
Pengenalan Masalah
Pengenalan masalah dalam penelitian ini merupakan tahap observasi terhadap gejala-gejala (symptoms) dari objek penelitian. Penjajakan dilakukan dengan membangkitkan sebanyak mungkin pertanyaan-pertanyaan untuk memungkinkan munculnya gejala-gejala yang tersamar. Penafsiran pada gejala-gejala yang ada dilakukan berdasarkan sudut pandang peneliti terhadap permasalahan yang sedang diteliti.
Pengenalan masalah untuk pengembangan model keputusan didasari oleh pemikiran bahwa pada setiap saat, manusia selalu dihadapkan dengan masalah pengambilan keputusan, baik yang sederhana maupun yang rumit sekalipun. Sesederhana apapun suatu masalah pengambilan keputusan, manusia tetap melakukan suatu proses tertentu sampai didapatkannya suatu keputusan. Benar tidaknya atau baik tidaknya suatu keputusan akan sangat bergantung pada bagaimana seorang individu mampu mendayagunakan kemampuan berpikirnya dan sejauhmana individu tersebut memahami suatu permasalahan. Karena permasalahan di dunia nyata semakin kompleks dan makin sukar dibayangkan oleh kemampuan berpikir manusia, maka perlu dikembangkan metoda-metoda atau prosedur-prosedur pengambilan keputusan yang dapat mempermudah dan menambah keakuratan pengambilan keputusan.
Persoalan pengambilan keputusan merupakan bentuk optimasi dari pilihan-pilihan yang dibangun atas pertimbangan variabel-variabel kriteria dan/atau keterbatasan sumberdaya. Untuk memudahkan dan mempercepat proses pengambilan keputusan, dan didasarkan atas suatu metoda atau logika yang rasional, maka diperlukan suatu bentuk model yang mampu membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan terhadap informasi-informasi yang diperoleh/tersedia. Pengembangan model yang dilakukan pada penelitian ini merupakan suatu upaya memperoleh model PKKM yang dapat membantu pengambil keputusan dalam menetapkan pilihan atas alternatif.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan tahapan untuk mengenali masalah penyebab atau akar timbulnya gejala. Analisis dalam identifikasi masalah pada penelitian ini merupakan analitis situasional yang dilakukan untuk mengisolasi dan memahami variabel-variabel yang akan dilibatkan dalam model.
Kemampuan membuat keputusan tidak lepas dari kemampuan pengambil keputusan dalam mengelaborasi masalah, dan kemudian membuat analisa masalah. Berdasarkan pendekatan fisiologis manusia, pengambilan keputusan ini tidak lepas dari peran otak manusia, yang pada dasarnya terbagi atas dua bagian; otak kanan dan otak kiri. Otak kanan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan perasaan manusia, pengalaman, naluri dan hal-hal lain yang berkaitan dengan emosi manusia. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa otak kanan berkaitan dengan perasaan manusia. Sedangkan otak kiri manusia mencakup hal-hal yang sifatnya logis dan dapat dijelaskan dengan bukti yang kuat.
Dalam proses pengambilan keputusan, pada umumnya digunakan kombinasi dari otak kiri dan otak kanan, meskipun tidak dapat disangkal adanya kemungkinan bahwa banyak keputusan yang diambil hanya melalui satu kemampuan otak; baik otak kiri maupun otak kanan. Dengan kata lain, suatu proses pengambilan keputusan umumnya menggunakan kombinasi pendekatan rasional analitis dan intuitif emosional dalam penetapan keputusannya (Suryadi dan Ramdhani, 1998; Salusu, 1996; Jauch dan Glueck, 1995, Brodjonegoro, 1992).
Identifikasi masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini, adalah kebutuhan kemudahan pengunaan PKKM. Model yang dikembangkan dipersyaratkan untuk memiliki kelebihan dalam hal fleksibilitas. Model ini diharapkan dapat memecahkan masalah yang kompleks dimana aspek atau kriteria yang diambil
cukup banyak, dengan struktur masalah yang belum jelas, serta ketidakpastian tersedianya data statistik yang akurat atau bahkan tidak ada sama sekali.
Sebab, adakalanya timbul masalah yang dirasakan dan diamati perlu diambil keputusan secepatnya, tetapi variasinya sedemikian rumit sehingga datanya tidak mungkin dapat dicatat secara numerik, tetapi hanya data kualitatif yang dapat diukur yaitu berdasarkan persepsi pengalaman atau intuisi. Dalam kondisi ini, masalah-masalah seperti perumusan perencanaan, konflik, proyeksi, alokasi sumberdaya, adalah beberapa dari banyak hal yang diharapkan dapat diselesaikan dengan baik oleh model yang dikembangkan.
Definisi Masalah
Definisi masalah pada pengembangan model dalam penelitian ini merupakan bentuk observasi. Hal ini dilakukan berdasarkan penelusuran model-model PKKM yang ada (studi pustaka) khususnya AHP dan topik-topik lainnya yang relevan dengan fokus penelitian.
Secara umum model yang dikembangkan harus mampu memberikan gambaran (description), memberikan penjelasan (prescription), dan memberikan perkiraan (prediction) dari realitas yang diselidiki. Dalam kaitan ini, karakteristik model yang dikembangkan memiliki ciri-ciri:
1 Tingkat fleksibilitas model yang tinggi
Dapat menunjang pengambil keputusan di berbagai bidang fungsional (keuangan, pemasaran, operasi produksi, dan lain-lain);
2 Mekanisme transparansi
Model memiliki kemampuan untuk menerangkan kembali (rekonstruksi) tanpa ada yang disembunyikan.
3 Interaksi model
Memungkinkan para pembuat keputusan berinteraksi dengan model-model, termasuk memanipulasi model-model tersebut sesuai dengan kebutuhan
4 Fleksibilitas output
Mendukung para pembuat keputusan dengan menyediakan berbagai macam output, termasuk kemampuan grafik menyeluruh atas pertanyaan-pertanyaan pengandaian
Berdasarkan karakteristik model dikaitkan dengan persoalan PKKM, dengan berlandaskan identifikasi masalah, maka variabel-variabel yang dilibatkan dalam model terdiri atas:
1 Kriteria-kriteria 2 Alternatif-alternatif
3 Kendala (batasan) sumberdaya
Pengembangan model menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1 Elaborasi
Pengembangan model dimulai dengan yang sederhana dan secara bertahap dielaborasi hingga memperoleh model yang lebih representatif. Penyederhanaan dilakukan dengan menggunakan sistem asumsi yang ketat, yang tercermin pada jumlah, sifat, dan relasi variabel-variabelnya. 2 Analogi
Pengembangan model dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip hukum atau teori yang sudah dikenal secara meluas.
Berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan model, metoda-metoda evaluasi yang dilibatkan dalam pengembangan model meliputi:
1 Model Hirarki Tujuan 2 Metoda pembobotan
3 Instrumen pengukuran interdependensi kriteria 4 Programa linier
5 Analisis sensitivitas
Empat prinsip dijadikan sebagai titik pandang dalam penetapan informasi yang akan dilibatkan dalam model. Keempat prinsip tersebut adalah:
1 Keterorganisasian (block building)
Tujuan pengorganisasian proses pemodelan adalah untuk menyederhanakan spesifikasi interaksi di dalam sistem. Masing-masing blok menggambarkan satu bagian sistem yang bergantung pada beberapa atau sedikitnya satu variabel input, dan yang berubah menjadi variabel output. Maka sistem secara keseluruhan, dapat digambarkan dalam terminologi keterkaitan antar blok.
2 Relevansi (relevance)
Prinsip relevansi merupakan sifat yang melekat dalam model, karena model harus menggambarkan keadaan yang diamati. Dengan demikian, model hanya akan mencakup aspek-aspek yang relevan dengan sasaran-sasaran dan sudut pandang yang telah ditetapkan.
3 Keakuratan (accuracy)
Keakuratan analisis model merupakan pertimbangan utama dalam pengembangan model. Keakuratan tergantung pada tingkat kebutuhan penggunaan model terhadap persoalan yang diamati atau tergantung pada ketelitian yang diinginkan.
4 Tingkat Agregasi (aggregation)
Tingkat agregasi perlu dipertimbangkan sesuai dengan tingkat kecukupan atau kepuasan minimal yang harus didapat dengan memakai model. Maksudnya, sampai sejauhmana tiap-tiap komponen maupun aktifitas akan diteliti. Atau, komponen-komponen mana saja yang dapat dikelompokkan menjadi satu komponen yang lebih besar.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, data-data yang dibutuhkan pada saat pengambilan keputusan, terdiri atas:
1 Kriteria-kriteria 2 Alternatif-alternatif 3 Preferensi antar kriteria
4 Preferensi antar alternatif 5 Interdependensi kriteria 6 Kendala-kendala sumberdaya