2.5 Perbedaan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu
3.1.3 Aliran Perdagangan dan Gravity Model
Aliran perdagangan barang dan jasa antar negara merupakan perpindahan barang dan jasa antar negara. Analisis aliran perdagangan adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara volume produk yang diperdagangkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Suatu model yang telah digunakan secara luas untuk mempelajari faktor penentu perdagangan adalah gravity model.
Nama gravity model terinspirasi dari pengamatan terhadap pengaruh positif dari ukuran pasar dan pengaruh negatif dari jarak diantara berbagai daerah dalam perdagangan. Tinbergen (1962) dan Poyhonen (1963) adalah yang pertama menerapkan persamaan gravity model untuk meneliti aliran perdagangan internasional. Keduanya mengembangkan persamaan pertama tentang gravity model melalui spesifikasi terhadap total ekspor sebagai fungsi dari GNP (Gross National Product) dan jarak diantara negara yang melakukan perdagangan (Deardorff, 1984). Sejak itu, gravity model telah menjadi suatu instrumen populer dalam menganalisa pardagangan luar negeri secara empiris10.
Linnemann (1966) mengembangkan gravity model dengan menyertakan variabel populasi dan GNP. Gravity model digunakan untuk menganalisis pola aliran perdagangan bilateral antara negara-negara dalam satu daerah tertentu. Menurut model ini, barang ekspor dari negara i ke negara j diterangkan oleh ukuran ekonomi masing-masing negara (GDP), populasi masing-masing negara, jarak antar negara.
Gravity model saat ini sudah lazim dipakai sebagai metode standar untuk mengevaluasi potensi perdagangan suatu produk atau jasa antar negara yang berbeda. Secara fisik, gravity model didasarkan pada peramalan potensi perdagangan melalui variabel jarak, papulasi dan GNP dari negara tersebut. Argumen yang melatar belakangi pemakaian gravity model, bahwa negara yang lebih besar dan kaya akan lebih banyak melakukan perdagangan luar negeri bila dibandingkan dengan negara yang lebih kecil dan miskin dimana jarak yang semakin jauh dianggap bukan sebagai hambatan.
Gravity model berkaitan dengan long-range equilibrium aliran perdagangan dan sebagai model ideal untuk membandingkan perdagangan dari
6 International Trade, Tecnologi Innovation and Income : A
Gravity Model Approach, www.google.com. 20 Mei 2007
dua daerah atau dari dua sistem ekonomi yang berbeda (Partanen, 1998).
Gravity model dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi perdagangan bilateral di antara dua negara. Secara umum
gravity model dirumuskan sebagai berikut (Oktaviani dalam Situmorang, 2001) : Tij =f (Yi, Yj, Fij)
Dimana:
Tij = nilai dari aliran perdagangan dari negara i ke negara j Yi = gross domestic product dari negara i
Yj = gross domestic product dari negara j
Fij = vektor dari faktor-faktor yang menunjang atau menghambat perdagangan
Selanjutnya Bergstrand (1985) menerapkan persamaan gravity dari keseimbangan model perdagangan dunia. Variabel gravity yang digunakan dalam persamaannya meliputi jarak, harga dan nilai tukar. Varibel-variabel yang terdapat dalam gravity model dalam kondisi keseimbangan pasar, yaitu : faktor- faktor ekonomi yang mempengaruhi aliran perdagangan pada daerah asal dan daerah tujuan, serta faktor-faktor lainnya yang rnempengaruhi aliran perdagangan (Oktaviani dalam Yunita 2006), dengan persamaan gravity model sebagai berikut :
Xij = αo Y iα1 Y jα2 C ijα3 T ijα4 P iα5 P jα6 Eijα7 eij dimana:
Xij = volume komoditas yang diperdagangkan dari negara i ke negara j
Yi = pendapatan negara i Yj = pendapatan negara j
Cij = biaya transportasi antara negara i dan negara j
Tij = faktor lain yang mempengruhi perdagangan antar negara Pi = harga komoditas pada negara i
Pj = harga komoditas pada negara j Eij = nilai tukar mata uang
eij = error
Erkilla-Widgren (1994) menyatakan bahwa pada saat kita mengevaluasi potensi perdagangan luar negeri antara dua negara, salah satu negara tersebut
harus dijadikan sebagai faktor tak bebas dalam siklus ekonominya. Pendekatan yang dilakukan dapat secara analitis melalui gravity model dimana long-run
equilibrium perdagangan dicapai melalui analisis beberapa variabel utama yang menggambarkan kondisi ukuran ekonomi, permintaan dan biaya.
Gravity model tidak hanya digunakan untuk menganalisa aliran perdagangan secara agregat, tetapi juga dapat diterapkan terhadap aliran perdagangan satu komoditi. Penelitian serupa terhadap satu komoditi telah dilakukan juga oleh Oktaviani (2000) dalam Yunita (2006), yang melakukan analisis terhadap aliran perdagangan kapas dengan menyertakan volume kapas yang diperdagangkan, pendapatan perkapita negara tujuan, jarak antara negara asal dan negara tujuan, harga komoditi dan nilai tukar di negara tujuan sebagai variabel di dalam model, yang dirumuskan sebagai berikut :
Log Xij = bo + b1 log Yj + b2 log Dij + b3 log Pi + b4 log Nj + Ej
Dimana :
Xij = volume komoditas yang diperdagangkan dari negara i ke negara j Yj = gross national product negara j
Dij = jarak antara negara i dan j Pi = harga komoditas pada negara i Nj = populasi penduduk di negara j Ej = nilai lukar di negara j
Menurut Oktaviani dalam Yunita (2006), dalam makalahnya yang berjudul
TheIndonesian Import Demand and Trade of Cotton (Permintaan Impor dan Aliran Perdagangan kapas ke Indonesia), variabel yang mempengaruhi adalah pendapatan per kapita (Yj), jarak antar negara pengekspor dengan Indonesia (Dij), harga FOB kapas di Negara eksportir (Pj), jumlah penduduk (Nj), dan nilai tukar mata uang asing (Ej). Dengan demikian, persamaan aliran perdagangannya adalah : Xij = f(Yj, Dij, Pj, Nj, Ej).
1. Gross Domestic Product (GDP) Per Kapita Negara Tujuan (Yj)
Variabel pendapatan yang digunakan untuk mewakili perdagangan teh Indonesia adalah GDP yang menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional pada output barang dan jasa (Mankiw, 2000). GDP sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian.
GDP suatu negara adalah ukuran kapasitas untuk memproduksi komoditi ekspor negara tersebut. GDP menggambarkan keadaan perekonomian suatu negara. Tingkat pendapatan lebih tinggi, maka pembelanjaan domestik menjadi lebih tinggi dan sebagai akibatnya terjadi peningkatan produksi domestik dan impor.
2. Populasi Negara Tujuan (Nj)
Pertambahan populasi dapat mempengaruhi ekspor melalui dua sisi yaitu, penawaran dan permintaan. Pada sisi penawaran, pertambahan populasi dapat diartikan penambahan tenaga kerja untuk melakukan produksi komoditi ekspor. Pertambahan populasi dari sisi permintaan, akan menyebabkan bertambah besarnya permintaan domestik di negara pengimpor.
3. Jarak Antara Negara Indonesia dengan Negara Tujuan (Dij)
Variabel jarak adalah indikasi dari biaya transportasi yang dihadapi oleh suatu negara dalam melakukan ekspor. Jarak tersebut mengurangi aliran perdagangan yang diwakilkan dari biaya transportasi. Semakin jauh jarak, semakin besar biaya transportasi, maka akan semakin rendah volume ekspor produk (semakin rendah aliran perdagangan)11. Biaya transfortasi memberikan pengaruh langsung yang sangat besar terhadap perdagangan internsional, yakni dengan meningkatnya harga atau komoditi yang diperdagangkan. Hal ini dapat dilihat baik bagi negara pengekspor maupun bagi negara pengimpor. Biaya transfortasi juga dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh terhadap perdagangan
11
internasional secara tidak langsung, yakni melalui pengaruh yang ditimbulkan terhadap pemilihan lokasi penyelengaraan produksi dan pusat-pusat industri secara internasional.
Adanya biaya transfortasi, maka hanya komoditi-komoditi tertentu yang akan diperdagangkan. Produk-produk yang selisih harganya lebih besar daripada biaya transfortasinya yang akan diperdagangkan. Apabila perdagangan dalam kondisi ekuilibrium, maka selisih harga relatif atas komoditi-komoditi yang diperdagangkan di antara kedua negara akan persis sama dengan biaya transfortasinya
4. Harga Teh Di Negara Tujuan (Pj)
Perbedaan harga komoditi relatif antara dua negara merupakan refleksi dari keunggulan komparatif dua negara tersebut dan menjadi dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Harga komoditi dan kuantitas atau jumlah yang akan ditawarkan berhubungan positif, dengan semua faktor yang lain tetap sama. Dengan demikian, semakin tinggi harga suatu komoditi, maka semakin besar jumlah komoditi yang akan ditawarkan, dan sebaliknya semakin rendah harga suatu komoditi maka semakin sedikit jumlah komoditi yang akan ditawarkan.
5. Nilai Tukar Mata Uang Negara Tujuan Terhadap Dollar AS (ERj)
Nilai tukar perdagangan suatu negara lazim didefinisikan sebagai rasio harga ekspor komoditi suatu negara terhadap harga komoditi impornya. Jadi, nilai tukar perdagangan dari suatu negara merupakan kebalikan dari nilai tukar perdagangan negara lain yang menjadi mitra dagangnya. Kurs (exchange rate) di antara dua negara adalah harga dimana penduduk kedua negara saling melakukan perdagangan.
Secara umum, istilah nilai tukar perdagangan mengacu pada nilai tukar perdagangan komoditi (commodity term of trade). Peningkatan atau perbaikan
nilai tukar perdagangan di suatu negara dianggap menguntungkan bagi negara itu sendiri, karena harga yang diperoleh dari ekspornya akan meningkat secara relatif terhadap harga-harga yang harus dibayarkan untuk memperoleh produk- produk impor.
Kondisi nilai tukar seperti terapresiasinya mata uang domestik negara tujuan ekspor terhadap dollar AS membuat harga suatu komoditi luar negeri relatif lebih murah dibandingkan harga suatu komoditi domestik yang relatif lebih mahal. Dengan demikian, penduduk domestik berkeinginan membeli lebih banyak barang impor. Hal ini tentunya akan mendorong terjadinya peningkatan volume impor dari negara tujuan, karena negara tujuan membutuhkan sedikit uang untuk membeli barang Impor.
6. Variabel Dummy (D)
Variabel dummy adalah variabel yang menjelaskan yang bersifat kualitatif. Menentukan apakah variabel terikat berkaitan dengan suatu variabel bebas apabila faktor kualitatif mempengaruhi keadaan, maka hubungan ini diselesaikan melalui pembentukan variabel dummy. Variabel dummy digunakan untuk menentukan hubungan antara variabel bebas kualitatif dengan variabel terikat.
Faktor-Faktor Lain yang tidak Dapat Dijelaskan Oleh Model a. Hambatan Perdagangan (Proteksionisme)
Hambatan perdagangan adalah regulasi atau peraturan pemerintah yang bertujuan membatasi perdagangan. Hambatan perdagangan dibuat untuk mempengaruhi secara langsung jumlah barang dan jasa yang diekspor atau diimpor. Biasanya hambatan perdagangan digunakan untuk melindungi industri domestik dari pesaing asing, baik dengan menerapkan pajak impor (tarif) atau membatasi jumlah barang dan jasa yang diimpor (kuota).
Pihak yang diuntungkan dari adanya hambatan perdangan adalah produsen dan pemerintah. Bentuk-bentuk hambatan perdangangan di antaranya adalah tarif atau bea cukai, kuota, subsidi yang berupa bantuan keuangan, pinjaman dengan bunga rendah dan lain-lain, muatan lokal, peraturan administrasi dan peraturan antidumping12.
b. Selera
Di setiap negara atau masyarakat, bukan hanya indikator-indikator ekonomi saja yang mengalami perubahan, namun selera juga dapat berubah baik secara individual maupun secara nasional. Demikian pula, perubahan dalam selera juga dapat mempengaruhi kekuatan permintaan dan penawaran suatu negara yang melakukan perdagangan. Perubahan selera di antara negara- negara yang melakukan perdagangan akan mengubah posisi tawar-menawar dari negara-negara tersebut, dengan demikian akan mepengaruhi volume produk atau jasa yang diperdagangkan.
c. Pesaing
Pesaing timbul karena adanya dua negara atau lebih berusaha untuk mendapatkan sumber daya konsumen yang sama dari negara lain. Persaingan tidak hanya terjadi di antara sesama negara-negara yang menghasilkan barang dan jasa yang sama. Sifat dan derajat persaingan suatu negara bergantung pada lima faktor yaitu ancaman pendatang baru, daya tawar menawar pembeli (pelanggan), daya tawar menawar pemasok, ancaman produk atau jasa sutitusi (jika ada) dan kekuatan persaingan di antara negara.
12