• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

C. Kajian Teori dalam Perspektif Islam

1. Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung. Tidak

tanggung-tanggung, yang menciptakan kita selalu bersama dengan

kita di manapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka dia

yang keempat. Bila kita berlima maka dia yang keenam

(QS.Al-Mujadilah :7). Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu

lebih dekat dari urat leher kita. Allah SWT berfirman dalam

Al-quran surah Qaaf : 16 :































Artinya : “Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.77

Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat.



















Artinya : ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (QS.Qaaf :17)78

1. Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang

baik maupun yang buruk, yang besar maupun yang kecil. Tidak ada

yang tertinggal catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan

pada kita (QS.Al-Kahfi :49).

























































Artinya : Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan

77Jejen Musfah,Indeks Al-Quran Praktis di lengkapi dengan terjemahannya,(Bandung, PT.Mizan Publika,2007),hlm.610

mereka berkata: "Aduhai celaka kami, Kitab apakah Ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang Telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun".

2. Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri. Ketika

kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan

kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol

terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian yang

sebenarnya.dalam QS.Yaasin Allah SWT berfirman :

























Artinya : Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.79

Jadi intisari yang dapat kita ambil adalah dalam menjalani

kehidupan, kita tidak akan terlepas di manapun dan kapanpun saja dari

pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat

maksiat.Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT.

Dalam kaitan dengan supervisi, maka sebagai Guru Pendidikan

Agama islam, harus menyadari sepenuhnya akan tugas dan tanggung

jawabnya dalam menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak ada pengawasan dari supervisor ataupun pengawas

PAI. Yakinlah bahwa pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari akan di

awasi oleh Allah SWT.

b) Tinjauan tentang Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam perspektif Pendidikan Islam, seorang guru bisa disebut

sebagai ustadz, mu’allim, murabby, mursyid, mudarris, dan

mu’addib.80

Sebagai ustadz, ia dituntut untuk komitmen terhadap

profesionalisme dalam mengemban tugasnya yaitu menyiapkan

generasi penerus yang akan hidup pada zamannya di masa depan.

Sebagaimana pernyataan sahabat Ali bin Abi Thalib ra :” ‘Allimuw auladakum fainnahum makhluquuna lizamanin ghairi zamanikum” ( didiklah/ajarilah anak-anakmu karena mereka diciptakan untuk

zamannya di masa depan bukan untuk zamanmu sekarang). Sebagai

mu’allimia dituntut mampu mengajarkan kandungan ilmu pengetahuan dan al hikmah atau kebijakan dan kemahiran

melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan yang

mendatangkan manfaat dan semaksimal mungkin menjauhi mudlarat.

Sedangkan murabby, guru dituntut menyiapkan peserta didik agar

mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya

agar tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan

alam sekitarnya. Guru sebagai mursyid di tuntut menularkan

penghayatan (transinternalisasi) akhlak dan atau kepribadiannya pada

peserta didik, baik itu berupa etos ibadah, etos kerja, etos belajar,

80Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pelajar Pustaka, 2003),hlm.209-213.

maupun dedikasinya, atau pengertain yang lebih simpel seorang guru

harus merupakan “model” atau pusat panutan, teladan bagi peserta didik. Sementara sebagai mudarris guru bertugas mencerdaskan

peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuanatau memberantas

kebodohan mereka, serta melatih keterampilan peserta didiksesuai

bakat, minat, dan kemampuannya. Sebagai mu’addib seseorang guru

memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization)

yang berkualitas di masa yang akan datang.

Dalam hal ini, guru adalah aktor terpenting dalam keberhasilan

proses pendidikan. Walaupun science dan technology sudah sangat

maju tapi posisi guru tidak bisa tergantikan.Guru yang baik adalah

guru yang dapat melakukan transformasi dan internalisasi nilai-nilai

ilmu pengetahuan baik yang teoritis maupun praktis dengan

methodology yang tepat dan sarana serta alat pendidikan yang

sesuai.Guru tidak hanya di kelas, tapi juga di masyarakat. Sehingga

guru betul-betul menjadi manusia yang digugu dan ditiru (di

tauladani). Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam

dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak di pundak

guru.Bahkan baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan

hakikatnya ada di tangan guru.Sebab sosok guru memiliki peranan

yang strategis dalam “mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, trampil, bermoral dan berpengetahuan luas.

Dalam literatur kependidikan Islam, istilah pendidikan

mencakup pengertian ta’lim, tarbiyah, irsyad, tadris, ta’dib, tazkiyah

dan tilawah. Sedangkan pendidiknya disebut ustadz, mu’allim,

murabby, mursyid, dan mu,addib yang sudah di paparkan diatas.

Kata ta’lim berasal dari kata dasar ‘ilm yang berarti menangkap

hakikat sesuatu.Dalam setiap ‘ilm terkandung dimensi teoritis dan

dimensi amaliah.Ini mengandung makna bahwa aktifitas pendidikan

berusaha mengajarkan ilmu pengetahuan baik dimensi teoritis maupun

praktisnya atau ilmu dan pengalamannya. Allah mengutus RasulNya

antara lain beliau mengajarkan (ta’lim) kandungan alkitab dan

alhikmah yakni kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal yang

mendatangkan manfaat dan menampik mudlarat.

Kata tarbiyah, berarti pendidikan kata-kata yang bersumber dari

akar kata ini memiliki arti yang berbeda-beda, tetapi pada akhirnya

arti-arti itu mengacu pada arti pengembangan, peningkatan,

ketinggian, kelebihan dan perbaikan.

Kata irsyad, merupakan aktivitas pendidikan yang berusaha

menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlak dan atau

kepribadian pada peserta didiknya baik berupa etos kerjanya,etos

belajarnya maupun dedikasinya yang serba lillahi ta’ala (karena

selalu bermakna gratis, tetapi dapat diperluas menjadi komitmen

terhadap kewajiban dan hak asasi manusia.

Kata tadris, berasal dari kata “darasa, - yadrusu – darsan wa

durusan wa dirasatan”, yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan using, melatih, mempelajari. Dilihat dari

pengertian ini maka pendidikan merupakan upaya pencerdasan

peserta didik, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas

kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka sesuai dengan

bakat, minat, dan kemampuannya.

Kata ta’dib berasal dari kata adab, yang berarti moral, etika dan

adab, sehingga aktivitas pendidikan merupakan upaya membangun

peradaban atau prilaku beradab yang berkualitas di masa depan.

Kata tazkiyah berasal dari kata zaka, yang berarti tumbuh atau

berkembang, atau dari kata zakat yang berarti kesucian, kebersihan.

Sehingga dapat dipahami bahwa tazkiyah berarti menumbuhkan dan

mengembangkan diri peserta didik atau satuan sosial sehingga ia

menjadi suci dan bersih sesuai dengan fitrahnya.

Sedangkan kata tilawah berarti mengikuti, membaca atau

meninggalkan.Dalam konteks ini pendidikan merupakan upaya

meninggalkan atau mewariskan nilai-nilai ilahi dan insani agar diikuti

Dari berbagai uraian tersebut di atas maka pemahaman istilah pendidikan

dalam perspektif Islam dapat di petakan dalam tabel berikut :

TABEL II.1

ISTILAH PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM