D. Harga pokok bahan siap pakai
4.2 Analisis Penelitian
4.2.2 Alokasi Biaya Bersama
Untuk menjadi produk individu, diperlukan mengalokasikan biaya bersama yang telah digunakan selama proses produksi ke masing-masing produk individu tersebut. Pemisahan tersebut terjadi pada sebuah titik dimana produk bersama berubah menjadi produk individual yang disebut dengan titik split off. Dalam Wingko Babat Hj. Wiwiek, dibutuhkan bahan penolong berupa nangka, essense nangka, coklat bubuk, dan pasta moka untuk menjadikan sebuah produk bersama menjadi produk individu yang dapat diidentifikasi. Pemisahan yang terjadi pada titik split off hanya terjadi kepada bahan baku saja, terlihat bahwa tenaga kerja dan biaya overhead tidak dipisahkan berdasarkan rasa wingko babat. Ke 2 unsur tersebut digunakan untuk mengerjakan seluruh produk tanpa terkecuali. Bahan penolong adalah bahan yang digunakan untuk menyelesaikan suatu produk, namun kuantitasnya relatif kecil. Pada Wingko Babat Hj. Wiwiek bahan penolong yang digunakan adalah cokelat bubuk, pasta moka, essense nangka, dan nangka.
Untuk membuat wingko babat rasa coklat, adonan dasar wingko diberi tambahan bahan yakni coklat bubuk dan pasta moka. Dalam 1 kali produksi, dibutuhkan 2 sdm coklat bubuk yang setara dengan 20 ml dan 1 sdt pasta moka yang setara dengan 5 ml. Harga 1 bungkus coklat bubuk yang berisi 90gr adalah Rp 16.500,- sehingga harga per unitnya, yakni : Rp 16.500,−
90 gr = Rp183,33/gr. Pada bulan Oktober 2014 dibutuhkan coklat bubuk sebanyak 620gr, jadi dalam 1 bulan dibutuhkan biaya sebesar : 620gr x Rp 183,33= Rp 113.667. Untuk pasta moka, harga 1 botol yang berisi 450 ml adalah Rp 45.000,-, jadi harga per ml nya adalah : Rp 100,-/ml. Dalam 1 bulan dibutuhkan pasta moka sebanyak 155ml yang setara dengan Rp 15.500,-.
Untuk membuat wingko babat rasa nangka, dibutuhkan bahan tambahan berupa buah nangka dan essense nangka. harga 1kg buah nangka adalah Rp 15.000,-, dalam 1 kali produksi digunakan ½ kg nangka, jadi dalam 31 kali produksi digunakan 15,5 kg nangka seharga Rp 232.500,-. Untuk essense nangka, harga 1 botol yang berisi 100ml adalah Rp 2.500,- jadi harga per unitnya adalah Rp 25,-. Dalam 1 kali produksi dibutuhkan essense sebanyak 1 sdt yang setara dengan 5ml, dan dalam 1 bulan dibutuhkan 155ml yang setara dengan Rp 3.875,-.
Berikut perhitungan biaya bahan penolong selama bulan Oktober 2014:
Tabel 4.7
Biaya bahan penolong bulan Oktober 2014
Keterangan Jumlah Harga per unit
(Rp)
Total biaya (Rp)
A. Persediaan Awal
Cokelat bubuk 100 gram 183,33/gr 18.333
Pasta Moka 140 ml 100/ml 14.000
Essense nangka 135 ml 25/ml 3.375
Total 35.708
B. Pembelian bahan baku
Cokelat bubuk 540 gram (6bks) 183,33/gr 99.000
Pasta moka 450 ml (1btl) 100/ml 45.000
Essense nangka 600ml (6btl) 25/ml 15.000
Nangka 15,5 kg 15.000/kg 232.500
Total 391.500
C. Harga pokok biaya bahan penolong siap pakai
Cokelat bubuk 640 gram 183,33/gr 117.333
Pasta moka 590 ml 100/ml 59.000
Essense nangka 735 ml 25/ml 18.375
Nangka 15,5 kg 15.000/kg 232.500
Total A + B 427.208
D. Persediaan akhir
Cokelat bubuk 20 gram 183,33/gr 3.666
Pasta moka 435 ml 100/ml 43.500
Essense nangka 580 ml 25/ml 14.500
Total 61.666
E. Total biaya bahan penolong C-D 365.542
Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa selama bulan Oktober 2014, total biaya yang digunakan untuk membiayai bahan penolong sebesar Rp 365.542,-. Harga perunit didapatkan dari harga beli bahan dibagi dengan kuantitas masing-masing.
Untuk menghitung alokasi biaya bersama pada produk bersama, dibutuhkan perhitungan biaya setelah titik pisah atau biaya bahan penolong per unit. Biaya bahan penolong per unit tersebut akan dijelaskan dalam Tabel 4.8
Tabel 4.8
Biaya setelah titik pisah per unit pada bulan Oktober 2014
Jenis Total biaya (A) Jumlah produksi
(B)
Biaya per unit (A:B) Cokelat bubuk Rp 113.667,- 1765 Rp 64,40 Pasta moka Rp 15.500,- 1765 Rp 8,78 Total Rp 73,18 Nangka Rp 232.500,- 1.899 Rp 122,43 Essense nangka Rp 3.875,- 1.899 Rp 2,04 Total Rp 124,47
Sumber: Diolah dari data primer Wingko Babat Hj. Wiwiek Semarang
Menurut Tabel 4.8, total biaya merupakan jumlah biaya yang digunakan untuk membiayai bahan penolong berdasarkan perhitungan biaya bahan penolong. Jumlah produksi merupakan jumlah wingko babat yang diproduksi selama bulan Oktober 2014. Biaya per unit didapat dengan cara membagi total biaya yang digunakan untuk membiayai bahan penolong dengan jumlah produksi selama bulan Oktober. Sehingga ditemukan biaya bahan penolong untuk per unit wingko babat. Perhitungan tersebut berguna dalam menghitung alokasi biaya bersama yang terdapat pada tabel 4.9
Tabel 4.9
Perhitungan alokasi biaya bersama menggunakan metode market value
Produk bersama Harga jual (1) Biaya setelah titik pisah (2) Nilai jual hipote-sis (1)x(2)= (3) Jumlah yang di produksi (4) Nilai jual hipotesis x jumlah yang di produksi (3)x(4)=(5) Nilai jual hipote-sis relatif (5) : *= (6) Alokasi biaya bersama (6) x ** = (7) Alokasi biaya bersama per unit (7) : (4) = (8) Harga pokok produksi perunit total (2) + (8) Kelapa 1.350 0 1.350 9.721 13.123.350 74,13 % 4.535.268,40 466,54 466,54 Nangka 1.350 124,47 1.225,53 1.899 2.327.281,47 13,14% 803.904,32 423,33 547,80 Cokelat 1.350 73,18 1.276,82 1.765 2.253.587,13 12,73% 778.820,54 441,26 514,44 * 17.704.218,77 100% ** 6.117.993,26
Sumber: Diolah dari data primer Wingko Babat Hj. Wiwiek Semarang
Berdasarkan Tabel 4.9, alokasi biaya bersama didapat dengan cara mengalikan nilai jual hipotesis relatif dengan total dari biaya bersama. Total biaya bersama merupakan biaya bersama yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, serta biaya overhead tanpa biaya bahan penolong sebesar Rp 6.117.993,26 yang telah dihitung pada Tabel 4.6. Biaya bahan penolong tidak termasuk dalam biaya bersama dikarenakan bahan tersebut digunakan untuk membuat produk bersama menjadi produk individual yang dapat diidentifikasi. Harga pokok produksi per unit merupakan harga pokok produksi untuk biaya bersama, untuk mendapatkan harga pokok produksi total, harga produksi per unit ditambah dengan biaya setelah titik pisah.
Harga pokok produksi menurut perhitungan perusahaan terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, overhead, dan biaya non produksi. Berikut perhitungan harga pokok produksi menurut perhitungan perusahaan:
Tabel 4.10
Perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan
Biaya bahan baku Rp 3.818.050,-
Tenaga kerja Rp 1.000.000,-
Overhead Rp 1.496.000,-
Biaya non produksi Rp 2.545.750
Harga pokok produksi Rp 8.859.800
Sumber: Berdasarkan data primer Wingko Babat Hj. Wiwiek Semarang
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui bahwa harga pokok produksi menurut perhitungan perusahaan sebesar Rp 8.859.800,- sedangkan total biaya produksi menurut metode full costing adalah sebesar Rp 6.483.535,26 yang berasal dari HPP sebesar Rp 6.117.993,26 ditambah dengan biaya bahan penolong sebesar Rp365.542,-. Dari kedua perhitungan harga pokok produksi tersebut terdapat selisih sebesar Rp 2.376.264,74
Biaya bahan baku menurut perusahaan merupakan biaya yang digunakan untuk membiayai bahan baku yang digunakan untuk proses produksi,sedangkan tenaga kerja merupakan Ibu Wiwiek beserta suami yang memproduksi wingko babat. Perhitungan biaya bahan baku dan tenaga kerja menurut estimasi perusahaan tersebut, sama dengan perhitungan menurut metode full costing yang digunakan penulis.
Biaya overhead dalam perhitungan perusahaan terdiri dari:
Biaya bahan bakar (LPG) Rp 770.000,- ; Biaya listrik Rp 50.000,- ; Biaya air Rp 25.000,- ; Biaya bahan habis pakai Rp 288.000,- ; Biaya bahan penolong Rp 363.000,-
Biaya bahan habis pakai terdiri dari:
Lap Rp 20.000,- ; Sarung tangan Rp 25.000,- ; Sabun cuci piring Rp 10.500,- ; Daun klutuk Rp 232.500,-
Biaya bahan penolong menurut asumsi perusahaan terdiri dari :
1. Coklat bubuk
Menurut perhitungan perusahaan, dalam 1 bulan dibutuhkan 7 dus coklat bubuk yang setiap dusnya berisi 90 gr. Harga 1 dus coklat bubuk adalah Rp 16.500,-, jadi biaya yang diperlukan untuk coklat bubuk sebanyak Rp 115.500,-
2. Pasta moka
Menurut perhitungan perusahaan, dalam 1 bulan pasta moka digunakan sebanyak ¼ botol. Harga 1 botol pasta moka dengan kuantitas 450 ml adalah Rp 45.000,-, sehingga dalam 1 bulan biaya yang diperlukan untuk pasta moka sebesar Rp 11.250,-.
3. Essense nangka
Menurut perhitungan perusahaan, dalam 1 bulan essense nangka yang digunakan sebanyak 1 ½ botol. Harga 1 botol essense nangka
dengan kuantitas 100 ml adalah Rp 2.500,- sehingga dalam 1 bulan biaya yang diperlukan untuk essense nangka sebesar Rp 3.750,-.
4. Nangka
Untuk 1 kali produksi, dibutuhkan nangka sebanyak ½ kg. Dalam 1 bulan dilakukan produksi sebanyak 31 kali, sehingga dibutuhkan nangka sebanyak 15,5 kg. Harga 1 kg nangka adalah Rp 15.000,- sehingga dalam dalam 1 bulan biaya yang diperlukan untuk essense nangka sebesar Rp232.500,-.
Biaya non produksi menurut estimasi perusahaan, terdiri dari:
1. Kertas dalam
Menurut asumsi perusahaan, 1 dus kertas dalam dapat digunakan untuk 2 bulan, jadi dalam 1 bulan digunakan ½ dus kertas dalam yang setara dengan Rp 155.000,-.
2. Kertas bungkus
Menurut asumsi perusahaan, dalam 1 bulan Ibu. Wiwiek menggunakan kertas bungkus sebanyak 9 dus. Harga 1 dus kertas bungkus adalah Rp 230.000,-, jadi harga untuk 9 dus kertas bungkus sebesar Rp 2.070.000,-. 3. Spidol
Dalam 1 bulan Ibu. Wiwiek menggunakan 1 spidol dengan tinta warna hitam untuk memberi tanda pada kertas bungkus, sehingga dapat dengan mudah diketahui rasa dari wingko babat yang berada didalamnya.
4. Tas kertas
Pada bulan Oktober 2014 Ibu. Wiwiek menggunakan tas kertas sebanyak 535 tas. Harga 1 unit tas adalah Rp 550,-, sehingga harga 535 tas adalah sebesar Rp294.250,-
5. Tepung kanji
Menurut asumsi perusahaan, dalam 1 bulan Ibu. Wiwiek menggunakan tepung kanji sebanyak 1,5 kg yang setara dengan Rp 25.500,-
4.3 Pembahasan
Harga pokok produksi pada Wingko Babat Hj. Wiwiek menurut metode full costing adalah Rp 6.117.993,26. Dengan menggunakan metode market value, biaya bersama tersebut teralokasikan ke masing-masing produk yang dihasilkan. Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa biaya bersama teralokasikan untuk wingko rasa kelapa sebesar Rp 4.535.268,40, rasa nangka Rp 803.904,32 , dan rasa cokelat sebesar Rp 778.820,54.
Berdasarkan asumsi perusahaan, biaya non produksi dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi, hal tersebut mengakibatkan harga pokok produksi yang ditetapkan kurang tepat, karena biaya non produksi seharusnya digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan. Berikut merupakan penjelasan atas perbedaan perhitungan harga pokok produksi menurut asumsi perusahaan dan menurut metode full costing yang disajikan dalam Tabel 4.11
Tabel 4.11
Perbedaan perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan dan metode full costing
Unsur Harga Pokok Harga Pokok Produksi Selisih
Perusahaan (Rp) Full Costing (Rp)
Biaya Bahan Baku 3.818.050 3.818.050 -
Biaya Tenaga Kerja 1.000.000 1.000.000 -
Biaya overhead Pabrik 1.496.000 1.665.485,26 Ada selisih
Rp169.485,26 karena perusahaan tidak memasukkan biaya penyusutan,
pemeliharaan kendaraan, dan tidak
menghitung biaya bahan penolong
secara rinci.
Biaya non produksi 2.545.750 - Menurut metode full
costing biaya non produksi tidak dimasukkan dalam
perhitungan harga pokok produksi, karena biaya non
produksi dimasukkan dalam perhitungan harga pokok penjualan, sehingga terjadi selisih sebesar Rp2.545.750
Harga Pokok Produksi 8.859.800 6.483.535,26 Rp 2.376.264,74
Sumber : Diolah dari data primer Wingko Babat Hj. Wiwiek Semarang
Berdasarkan Tabel 4.11 dapat diketahui perbedaan antara perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan dan menurut metode full costing. Selisih yang terjadi tersebut dikarenakan didalam perhitungan menurut asumsi perusahaan, dimasukan biaya non produksi kedalam perhitungan harga pokok produksi. Seharusnya, menurut metode full costing, biaya non produksi dimasukkan dalam
menghitung harga pokok penjualan. Perusahaan juga tidak memperhitungkan biaya penyusutan sebesar Rp 151.943,26 dan biaya pemeliharaan kendaraan sebesar Rp15.000,- dalam penetapan harga pokok produksi. Selain itu, Ibu. Wiwiek juga tidak menghitung biaya bahan penolong yang digunakan untuk memproduksi wingko babat secara rinci sehingga menimbulkan selisih sebesar Rp 2.542,-.
Setelah biaya bersama teralokasikan ke masing-masing produk yang dihasilkan, kemudian dapat dibandingkan antara harga pokok produksi perunit menurut metode market value dengan harga pokok produksi per unit menurut asumsi perusahaan. Harga pokok produksi per unit menurut asumsi perusahaan didapat dari harga pokok produksi menurut asumsi perusahaan sebesar Rp 8.859.800,- dibagi dengan total wingko yang diproduksi dalam 1 bulan yakni sebanyak 13.385 buah wingko babat. Tabel 4.12 akan menjelaskan tentang perbandingan harga pokok produksi per unit antara ke 2 metode tersebut.
Tabel 4.12
Analisis harga pokok produksi per unit pada Wingko Babat Hj. Wiwiek
Produk
Harga Pokok Produksi per unit Selisih (Rp) Harga jual (Rp) Kontribusi laba Perusahaan (Rp) Market Value (Rp) Perusahaan (Rp) Market Value (Rp) Kelapa 661,92 466,54 195,38 1.350 688,08 883,46 Nangka 661,92 547,80 114,12 1.350 688,08 802,20 Coklat 661,92 514,44 147,48 1.350 688,08 835,56
Sumber: Diolah dari data primer pada Wingko Babat Hj. Wiwiek Semarang
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa perhitungan harga pokok produksi menurut asumsi perusahaan dan menurut metode market value terdapat perbedaan.
Perhitungan menurut estimasi perusahaan memiliki hasil harga pokok produksi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan menggunakan metode market value. Perbedaan tersebut terjadi dikarenakan perusahaan tidak melakukan perhitungan secara rinci dan tanpa menggunakan metode khusus dalam menetapkan harga pokok produksi, yang mengakibatkan biaya yang seharusnya tidak dimasukkan dalam harga pokok produksi seperti biaya non produksi, turut dimasukkan dalam perhitungan. Dengan menggunakan metode market value, harga pokok produksi dapat teralokasikan secara tepat dan jelas.
Produk yang dihasilkan oleh Wingko Babat Hj. Wiwiek tidak semuanya laku terjual. Untuk produk yang tidak laku terjual biasanya diberikan kepada tetangga sekitar, dan kepada saudara-saudaranya. Berikut penjelasan mengenai produk yang tidak terjual tersebut:
Tabel 4.13
Jumlah produk tidak laku terjual pada bulan Oktober 2014
Nama Produk Jumlah
Rasa Kelapa 51
Rasa Coklat 29
Rasa Nangka 77
Sumber: Data primer Wingko Babat Hj. Wiwiek
Berdasarkan Tabel 4.13 diketahui bahwa wingko babat dengan rasa kelapa yang tidak laku terjual sebanyak 51 buah. Harga pokok produksi per unit wingko babat rasa kelapa adalah Rp 466,54. Dengan demikian Wingko Babat Hj. Wiwiek mengalami kerugian pada wingko rasa nangka sebesar Rp 23.793,53. Untuk rasa nangka yang tidak laku terjual sebanyak 77 buah wingko babat. Harga per unit nya
adalah Rp 547,80 sehingga pada rasa nangka kerugiaanya sebesar Rp 42.180,60, sedangkan untuk rasa coklat yang tidak terjual sebanyak 29 buah dan harga perunitnya sebesar Rp 514,44 sehingga kerugian yang dialami untuk rasa coklat sebesar Rp 14.918,76. Sehingga jika dijumlah, kerugian keseluruhan yang ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp 80.892,89. Hal tersebut berdampak bagi laba perusahaan. Kerugian tersebut mengurangi laba yang didapatkan oleh perusahaan.
54 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di UMKM Wingko Babat Hj. Wiwiek, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan harga pokok produksi menurut asumsi perusahaan tidak dilakukan secara rinci, sehingga biaya produksi tidak teralokasikan secara jelas sesuai dengan metode yang ada.
b. Berdasarkan perhitungan alokasi biaya bersama menurut metode market value diketahui bahwa biaya bersama sebesar Rp 6.117.993,26 dialokasikan ke masing-masing produk individu sebagai berikut:
1. Rasa kelapa sebesar Rp 4.535.268,40 2. Rasa nangka sebesar Rp 803.904,32 3. Rasa coklat sebesar Rp 778.820,54
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberi saran kepada Wingko Babat Hj. Wiwiek sebagai berikut:
1. Sebaiknya Wingko Babat Hj. Wiwiek mengalokasikan biaya bersama ke masing-masing produk yang dihasilkan dengan menggunakan metode market value, sehingga biaya menjadi lebih akurat. Informasi biaya yang
akurat akan memudahkan manajemen dalam menetapkan strategi penjualannya baik dalam penetapan kontribusi laba maupun dalam menetapkan harga jual.
2. Sebaiknya Wingko Babat Hj. Wiwiek mengurangi jumlah wingko babat yang diproduksinya sehingga dapat meminimalkan kerugian yang ditanggung oleh Wingko Babat Hj. Wiwiek.