a. Amandemen dan Pernyataan Kembali Kerja Sama Operasi di Divisi Regional IV (“KSO IV”) (lanjutan)
• Risiko kerugian atas kerusakan atau hancurnya aktiva yang dioperasikan oleh KSO IV dialihkan ke Perusahaan.
• Pada akhir masa KSO (31 Desember 2010), semua hak dan pemilikan MGTI atas aktiva tetap yang ada (termasuk instalasi tambahan baru) dan persediaan akan dialihkan ke Perusahaan tanpa biaya.
• Hak Perusahaan untuk menerima Pendapatan Minimum Telkom (“MTR”) dan bagian Pendapatan KSO yang Harus Dibagi (“DKSOR”) dalam perjanjian KSO awal diubah sehingga MGTI menerima pembayaran bulanan dalam jumlah tetap (“Fixed Investor Revenue”) sejak Pebruari 2004 hingga Desember 2010 dengan nilai keseluruhan sebesar US$517,1 juta dan Perusahaan berhak atas sisa pendapatan KSO setelah dikurangi beban operasional dan pembayaran kepada MGTI untuk Fixed Investor Revenue. Selain itu, pembayaran Fixed Investor Revenue kepada MGTI harus dilakukan sebelum pembayaran apapun kepada Perusahaan.
• Bila dana di KSO IV tidak memadai untuk membayar Fixed Investor Revenue ke MGTI, Perusahaan diharuskan membayar kekurangannya kepada MGTI.
Dengan adanya amandemen atas Perjanjian KSO ini, Perusahaan memperoleh hak secara hukum untuk mengendalikan kebijakan-kebijakan keuangan dan operasional KSO IV. Oleh karena itu, Perusahaan mencatat transaksi ini sebagai suatu penggabungan usaha dengan menggunakan metode pembelian (purchase method of accounting).
Harga perolehan transaksi ini adalah sekitar US$390,7 juta atau setara Rp3.285.362 juta yang merupakan nilai kini dari pembayaran bulanan dalam jumlah tetap (seluruhnya sebesar US$517,1 juta) yang harus dibayar kepada MGTI sejak Pebruari 2004 hingga Desember 2010 dengan menggunakan tingkat diskonto 8,3% ditambah dengan biaya langsung yang timbul sehubungan dengan penggabungan usaha. Alokasi harga perolehan adalah sebagai berikut:
Rp
Aktiva tetap 2.377.134
Aktiva tidak berwujud 908.228
Jumlah harga perolehan 3.285.362
Alokasi harga perolehan sebagaimana dijelaskan di atas adalah berdasarkan penilaian independen atas nilai wajar. Aktiva tidak berwujud yang timbul dari transaksi ini merupakan hak untuk mengoperasikan bisnis di wilayah KSO dan jumlahnya diamortisasi selama sisa jangka waktu perjanjian KSO, yaitu 6,9 tahun (Catatan 14). Tidak terdapat goodwill dari transaksi akuisisi ini. Hasil usaha konsolidasian Perusahaan meliputi hasil usaha KSO IV terhitung sejak 1 Pebruari 2004 sebagai tanggal neraca terdekat.
a. Amandemen dan Pernyataan Kembali Kerja Sama Operasi di Divisi Regional IV (“KSO IV”) (lanjutan)
Pada tanggal 31 Maret 2007 dan 2006, saldo pembayaran bulanan yang masih harus dibayar kepada MGTI, sebelum dikurangi diskonto yang belum diamortisasi, sebesar US$300,7 juta (setara dengan Rp2.744.659 juta) dan US$373,3 juta (setara dengan Rp3.384.115 juta) dan disajikan dalam “Nilai perolehan penggabungan usaha yang ditangguhkan” (Catatan 24).
b. Amandemen dan Pernyataan Kembali Kerja Sama Operasi di Divisi Regional VII (“KSO VII”)
Pada tanggal 19 Oktober 2006, Perusahaan dan PT Bukaka Singtel International (“BSI”), mitra KSO di KSO VII, menandatangani perjanjian untuk mengubah dan menyatakan kembali perjanjian kerja sama operasi di Divre VII (“Perjanjian KSO”). Persyaratan-persyaratan utama dalam perjanjian KSO awal yang telah diamandemen dan dinyatakan kembali adalah sebagai berikut:
• Hak untuk mengoperasikan jasa telekomunikasi tidak bergerak dialihkan ke Perusahaan, dimana KSO VII akan dioperasikan di bawah manajemen, pengawasan, kendali dan tanggung jawab Perusahaan.
• Tanggung jawab untuk pendanaan penyelesaian dan pembangunan fasilitas telekomunikasi baru dan pembayaran beban operasional yang timbul di KSO VII dialihkan ke Perusahaan. • Risiko kerugian atas kerusakan atau hancurnya aktiva yang dioperasikan oleh KSO VII
dialihkan ke Perusahaan.
• Pada akhir masa KSO (31 Desember 2010), semua hak dan pemilikan BSI atas aktiva tetap yang ada (termasuk instalasi tambahan baru) dan persediaan akan dialihkan ke Perusahaan tanpa biaya.
• Hak Perusahaan untuk menerima Pendapatan Minimum Telkom (“MTR”) dan bagian Pendapatan KSO yang Harus Dibagi (“DKSOR”) dalam perjanjian KSO awal diubah sehingga BSI menerima pembayaran bulanan dalam jumlah tetap (“Fixed Investor Revenue”) sebesar Rp55,64 miliar antara Oktober 2006 sampai dengan Juni 2007 dan sebesar Rp44,25 miliar sejak Juli 2007 hingga Desember 2010. Perusahaan berhak atas sisa pendapatan KSO setelah dikurangi beban operasional dan pembayaran kepada BSI untuk Fixed Investor Revenue. Selain itu, pembayaran Fixed Investor Revenue kepada BSI harus dilakukan sebelum pembayaran apapun kepada Perusahaan.
• Bila dana di KSO VII tidak memadai untuk membayar Fixed Investor Revenue ke BSI, Perusahaan diharuskan membayar kekurangannya kepada BSI.
4. AMANDEMEN KERJASAMA OPERASI DI DIVRE IV DAN DIVRE VII (lanjutan)
b. Amandemen dan Pernyataan Kembali Kerja Sama Operasi di Divisi Regional VII (“KSO VII”) (lanjutan)
Dengan adanya amandemen dan pernyataan kembali atas Perjanjian KSO ini, Perusahaan memperoleh hak secara hukum untuk mengendalikan kebijakan-kebijakan keuangan dan operasional KSO VII. Oleh karena itu, Perusahaan mencatat transaksi ini sebagai suatu penggabungan usaha dengan menggunakan metode pembelian (purchase method of accounting). Seiring dengan berlakunya amandemen atas perjanjian KSO tersebut, Perusahaan telah menandatangani perjanjian pengalihan dengan BSI dan para mitra usaha BSI dimana BSI mengalihkan perjanjian Pola Bagi Hasil (“PBH”) antara BSI dengan para mitra usahanya kepada Perusahaan. Perusahaan mencatat transaksi pengalihan ini sesuai dengan perlakuan akuntansi PBH. Harga perolehan transaksi ini adalah sekitar Rp1.770.925 juta yang merupakan nilai kini dari pembayaran bulanan dalam jumlah tetap (seluruhnya sebesar Rp2.359.230 juta) yang harus dibayar kepada BSI sejak Oktober 2006 hingga Desember 2010 dengan menggunakan tingkat diskonto 15% ditambah dengan biaya langsung yang timbul sehubungan dengan penggabungan usaha. Alokasi harga perolehan adalah sebagai berikut:
Rp
Harga perolehan - nilai tunai 1.770.925
Nilai wajar dari aktiva bersih yang diperoleh:
- Kas dan setara kas 143.648
- Piutang 266.337
- Aktiva lancar lainnya 69.960
- Aktiva tetap 1.288.888
- Aktiva pajak tangguhan 6.993
- Aktiva tetap pola bagi hasil 527.931
- Aktiva tidak berwujud 451.736
- Kewajiban lancar (456.637)
- Pendapatan diterima dimuka atas pola bagi hasil (527.931)
Nilai wajar aktiva bersih 1.770.925
Nilai wajar aktiva tetap dan aktiva tetap pola bagi hasil ditentukan oleh penilai independen sedangkan nilai wajar aktiva dan kewajiban lain-lain ditentukan oleh manajemen. Aktiva tidak berwujud merupakan hak untuk mengoperasikan bisnis di wilayah KSO VII dan jumlahnya diamortisasi selama sisa jangka waktu perjanjian KSO, yaitu 4,3 tahun (Catatan 14). Tidak terdapat goodwill dari transaksi akuisisi ini.
Hasil usaha konsolidasian Perusahaan meliputi hasil usaha KSO VII terhitung sejak 1 Oktober 2006 sebagai tanggal neraca terdekat.
Pada tanggal 31 Maret 2007, saldo pembayaran bulanan yang masih harus dibayar kepada BSI, sebelum dikurangi diskonto yang belum diamortisasi, sebesar Rp2.060.867 juta dan disajikan dalam “Nilai perolehan penggabungan usaha yang ditangguhkan” (Catatan 24).