Menolak Eksepsi Termohon Seluruhnya.
Dalam pokok perkara :
a. Mengabulkan permohonan Praperadilan Pemohon untuk sebagian;
b. Memerintahkan Termohon untuk melakukan proses hukum selanjutnya sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas dugaan tindak pidana korupsi Bank Century dalam bentuk melakukan Penyidikan dan menetapkan tersangka terhadap Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede dkk, (sebagaimana tertuang dalam surat dakwaan atas nama Terdakwa BUDI MULYA) atau melimpahkannya kepada Kepolisian dan Kejaksaan untuk dilanjutkan dengan Penyelidikan, Penyidikan, dan Penuntutan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat;
c. Menolak Permohonan Pemohon Praperadilan untuk selain dan selebihnya;
d. Membebankan biaya perkara kepada Termohon, sebesar NIHIL.
3. Pembahasan
Hakim menurut Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana adalah pejabat peradilan negara yang diberikan wewenang oleh undang-undang untuk mengadili suatu perkara. Dalam menjalankan tugasnya hakim harus adil dan tidak boleh memihak juga berarti bahwa hakim itu tidak diperintah oleh pemerintah dalam hal memutus perkara. Bahkan jika perintah dari hukum, hakim dapat memutuskan untuk menghukum pemerintah, misalnya tentang keharusan ganti kerugian yang tercantum dalam KUHAP (Andi Hamzah 2008: 106). Dengan demikian maka jelas bahwa hakim dalam mengadili tidak boleh memihak serta memutus perkara berdasarkan asas yang bebas dan jujur seperti yang tertera pada Pasal 1 ayat (9) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Berdasarkan undang-undang kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka adalah kekuasaan badan peradilan untuk mengadili atau memeriksa perkara dan menjatuhkan putusan tanpa campur tangan atau intervensi dari pihak manapun sehingga merupakan kekuasaan yang absolute atau mutlak (Andi Sofyan dan Abd. Azis, 2014: 26). Namun didalam kekuasaan kehakiman dalam menjatuhkan putusan kebebasan hakim tidak dapat diartikan dalam arti bebas yang seutuhnya. Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dalam mengikuti yurisprudensi. Kebebasan hakum dalam menemukan hukum tidaklah berarti menciptakan hukum melainkan merumuskan hukum tersebut (Andi Hamzah, 2008: 104). Pedoman kewenangan hakim dalam hal mengadili diatur dalam Bab X Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Dalam kasus ini, hakim tunggal Effendi Mukhtar meminta KPK melakukan proses penyidikan dan menetapkan tersangka baru dalam perkara tersebut. Hakim memerintahkan agar Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede dan pihak yang ada dalam surat dakwaan Budi Mulya menjadi tersangka dalam kasus ini. KPK menganggap permohonan MAKI ne bis in idem karena permohonannya sama dengan yang sebelumnya, baik obyek maupun pemohonnya. Tapi hakim tidak sependapat karena putusan praperadilan hanya memutus secara formil proses yang dilakukan oleh penyidik dan belum memutus tentang pokok perkara yang harus diperiksa secara majelis. Sehingga hakim berpendapat dalam suatu permohonan praperadilan tidak ada pembuktian tentang materi pokok perkara, sehingga ne bis in idem tidak ada dalam perkara praperadilan. Maka dari itu eksepsi Termohon tidak beralasan dan harus ditolak.
MAKI menganggap KPK menghentikan penanganan perkara ini meskipun tidak secara eksplisit. Karena sejak kasus Budi Mulya selesai pada tingkat kasasi pada 2015, tidak terlihat upaya dari KPK untuk mengusut kembali kasus tersebut. KPK membantah hal itu karena mengaku tidak bisa mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) yang berujung pada penghentian suatu kasus tindak pidana korupsi. Jika memang Termohon tidak atau belum mengeluarkan SP3 dengan alasan Termohon dalam undang-undang tidak ada kewenangan untuk menerbitkan SP3, harus ada penjelasan secara hukum sampai kapan status seseorang yang disebutkan dalam dakwaan yang dijunctokan dengan Pasal 55 KUHP apakah akan diteruskan atau dikeluarkan dari dakwaan tersebut. Dengan demikian, apa yang diinginkan demi tegaknya hukum dan keadilan, masyarakat pencari keadilan harus dapat mengujinya dan hakim berpendapat bahwa lembaga praperadilan sebagai lembaga kontrol secara horizontal setiap tindakan penegak hukum. Sehingga permohonan ini tidak prematur dan eksepsi yang diutarakan KPK tidak beralasan dan harus ditolak.
MAKI dalam dalilnya menyebut tidak diteruskannya kasus Bank Century ada kaitannya dengan salah satu pimpinan KPK Saut Situmorang
yang kala itu sempat mengatakan tidak akan melanjutkan penanganab kasus lawas seperti Century dan BLBI. KPK menganggap permohonan ini error in objecto karena bukan merupakan ruang lingkup praperadilan. Selain itu dikaitkan hal-hal yang terjadi dalam proses fit and proper test oleh Saut Situmorang, menurut KPK bukan berarti kasus itu sendiri dihentikan, ataupun mengulur-ulur waktu hingga daluwarsa, perkara otomatis berhenti proses penyidikannya. Hakim mempunyai pandangan bahwa praperadilan bertugas sebagai lembaga kontrol secara horizontal atas setiap kegiatan atau tindakan penegak hukum yang dilakukan dalam proses melaksanakan hukum formil dalam KUHAP dan kalau ada yang belum jelas. Penegak hukum bukan hanya menegakkan hukum tetapi juga menegakkan keadilan.
Disitulah tugas hakim untuk memberi penjelasan atau penafsiran sebagaimana diatur dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, UU MA No. 3 Tahun 2009, dan UUD Tahun 1945.
Terkait salah satu pimpinan KPK Saut Situmorang, hakim berpendapat ada suatu kejanggalan dari pernyataannya, sebab KPK pada 2012 sudah mempunyai alat bukti yang cukup dalam menangani kasus korupsi ini.
Alasan Saut ketika itu juga subyektif karena muncul juga kriminalisasi terhadap jaksa dan penyidik yang mengungkap kasus-kasus korupsi, khususnya yang melibatkan pihak-pihak tertentu.
(ttps://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5ace3f352ddff/begini- perimbangan-hakim-perintahkan-kpk-tetapkan-boediono-cs-tersangka?page=all).
Hakim juga menganggap jawaban Termohon bahwa permohonan ini sudah masuk dalam materi pokok perkara sehingga menjadi kabur atau obscuur libel juga tidak disetujui. Sebab uraian dalil permohonan ini sudah cukup jelas. Inti dari permohonan tersebut kata hakim tidak konsekuennya KPK dalam membuat dakwaan suatu tindak pidana yang dilakukan secara bersama-sama. Padahal salah seorang terdakwa perkaranya sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi tidak ada kejelasan untuk nama-nama lain yang disebutkan dalam dakwaan. KPK harus memberi penjelasan apakah
mereka harus dimintakan pertanggungjawabannya sebagai terdakwa atau nama mereka hanya sebatas formalitas belaka dalam surat dakwaan tersebut.
KPK seolah-olah selalu berlindung di balik UU KPK bahwa mereka tidak mengenal penghentian penyidikan dan tidak juga menindaklanjuti apakah akan diteruskan atau tidak, sehingga dapat menimbulkan ketidakadilan bagi keluarga terdakwa yang telah diputus dan dipidana sebelumnya.
Pada Pasal 44 ayat (4) UU KPK menyebutkan dalam hal KPK berpendapat bahwa perkara tersebut diteruskan, KPK melaksanakan penyidikan sendiri atau dapat melimpahkan perkara tersebut kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan. Dan pada ayat (5) dalam hal penyidikan dilimpahkan kepada kepolisian atau kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), kepolisian atau kejaksaan wajib melaksanakan koordinasi dan melaporkan perkembangan penyidikan kepada KPK. Hakim berpendapat sesuai dengan keterangan ahli KPK Adnan Pasliaja dalam perkara terdahulu, yang mengatakan yang diperlukan adalah kesadaran dari KPK untuk bisa lebih cepat memulai penyelidikan dan/atau penyidikan kasus tersebut dan melimpahkannya ke penuntut umum apabila memenuhi syarat untuk dituntut dan disidangkan. Atau sebaliknya menghentikan penyelidikan kalau tidak ditemukan bukti yang cukup. Dengan demikian ada kejelasan dan kepastian hukum atas kasus tersebut. Sejalan dengan pendapat ahli tersebut, hakim praperadilan berpendapat daripada KPK digugat praperadilan berkali-kali dan selalu menjawab dengan jawaban yang sama bahwa KPK masih terus mendalami dan mengumpulkan bukti-bukti. Karena KPK tidak bisa menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan yang waktunya tidak jelas, dan sampai saat ini sudah tiga tahun sejak perkara Budi Mulya berkekuatan hukum tetap, maka akan lebih terhormat dan elegan bila KPK melimpahkan perkara tersebut ke Penuntut Umum atau Kepolisian.