• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PUTUSAN PENGADILAN NEGERI KALIANDA NOMOR 23/Pid.Sus-

G. Amar Putusan

67

1. Keadaan yang memberatkan:

a. Perbuatan tidak mendukung program pemerintah dalam upaca pencegahan pengerusakan hutan.

2. Keadaan yang meringankan:

a. Terdakwa bersikap sopan dan mengakui terus terang perbuatannya. b. Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan

mengulanginya lagi.

c. Terdakwa merupakan tulang punggung keluarga.50 G

G. Amar Putusan

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kalianda menjatuhkan putusan sebagai berikut:

1. Menyatakan Terdakwa Reko Cahyono Bin Basir telah terbukti secara sahdan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ”Mengangkut Hasil penebangan di kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dalam dakwaan pertama”.

2. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Reko Cahyono Bin Basir oleh karenaitu dengan pidana penjara selama 1 (satu) Tahun 6 (enam) bulan dandenda sejumlah Rp500.000 (lima ratus ribu rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dapat dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) Bulan.

50

68

3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalaniTerdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. 4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.

5. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sejumlah Rp 2000 (dua ribu rupiah).51

B

BAB IV

ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP TINDAK PIDANA PENGANGKUTAN HASIL HUTAN TANPA IZIN DALAM

PUTUSAN PENGADILAN NEGERI KALIANDA NOMOR 23/Pid.Sus-LH/2018/PN.Kla

A. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Pertimbangan Hukum dalam Putusan Pengadilan Negeri Kalianda Nomor: 23/Pid.Sus-LH/2018/PN.Kla Tentang Tindak Pidana Pengangkutan Hasil Hutan Tanpa Izin

Atas pertimbangan hakim sebelum memberikan hukuman terhadap pelaku tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin. Hakim harus mencari fakta-fakta yang dapat dibuktikan kepada pelaku tentang kebenarannya yaitu mencari alat bukti yang dapat memperkuat bukti yang bisa membuat hakim mempertimbangkan hukuman yang tepat terhadap pelaku tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin.

Terhadap pelaku karena adanya bukti, dan saksi-saksi yang diambil kebenarannya. Pemberian hukuman hakim terhadap pelaku berdasarkan aturan yang ada, karena termasuk dalam perbuatan tindak pidana. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tersebut merupakan perbuatan melawan hukum yang terdapat dalam pasal 83 ayat (1) huruf a Undang-undang No. 18

70

Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan dan pengrusakan hutan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Yang berbunyi :

“orang perserorangan yang dengan sengaja memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki hasil penebangan dikawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 huruf d”

Hakim dalam kasus ini menjatuhkan hukuman kepada pelaku dengan pidana penjara selama 1 (satu) Tahun 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) Bulan. Dalam pemberian hukuman, hakim kepada pelaku tindak pidana harus memperhatikan hal yang memberatkan maupun yang meringankan. Hal yang memberatkan yaitu perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pencegahan dan pengerusakan hutan. Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan dan mengakui terus terang perbuatannya, menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan terdakwa merupakan tulang punggung keluarga.

Dengan memperhatikan hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa ini tidak mendukung adanya program pemerintah dalam upaya pencegahan dan pengerusakan hutan. Hutan yang merupakan sumber kehidupan manusia yang ada di bumi ini. Yang harus patut di jaga. Maka hutan sangat penting dalam kehidupan manusia. Ketika terdakwa melakukan tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin, artinya perbuatan terdakwa ini sangat

71

merugikan pemerintah maupun masyarakat. Di dalam melakukan perbuatannya, Terdakwa Reko Cahyono Bin Basir melakukan perbuatan pengangkutan hasil hutan tanpa izin yang bertempat di Taman Hutan Raya Wan Abdurrahman. Dengan mengangkut kayu balok yang berjenis sono keling berukuran 2 meter sebanyak 16 batang. Kemudian di pindah dan diangkut menggunakan bak mobil. Bahwa UPTD taman hutan raya wan Abdurrahman tidak pernah mengeluarkan surat izin untuk melaksanakan kegiatan memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai dan/atau memiliki hasil penebangan di kawasan hutan. Sehingga perbuatan terdakwa tersebut sudah melanggar ketentuan pasal 83 ayat (1) huruf a Undang-undang No. 18 Tahun 2013 Tentang pencegahan dan pemberantasan pengerusakan hutan.

Bahwa indonesia merupakan negara hukum. Setiap perbuatan yang dilarang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan ketika perbuatan yang dilakukan itu sudah melanggar ketentuan undang-undang. Maka aturan tersebut harus dilaksanakan dan dipatuhi. Agar tidak lagi yang melanggar peraturan, perlu penetapan hukuman yang tepat. Supaya dapat memberikan efek jera kepada pelaku yang melanggar aturan. Kemudian menerapkan hukuman yang tepat berupa hukuman pokok ataupun hukuman yang sifatnya tambahan.

72

Dari pertimbangan hakim yang ada diatas, jika dikaitkan dengan hukum pidana islam. Apabila perbuatan tersebut termasuk dalam jari<mah,

maka harus dijatuhi hukuman sesuai dengan klasifikasi jari<mah yang telah dilakukan. Dalam hukum pidana islam jari<mah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ yang diancam dengan hukuman h}ad atau ta’zi<r. Adapun perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ harus ada dalam Al-Quran dan Hadits. Dan ketika perbuatan tersebut tidak ada ketentuan dalam Al-quran dan hadis. Maka yang menentukan hukuman adalah Ulil Amri.

Seseorang dapat dikatakan terpidana apabila terpenuhinya semua unsur-unsur tindak pidananya. Secara umum dalam hukum pidana islam terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi ketika menetapkan suatu jarimah, diantaranya :

a.

Unsur formal, yaitu perbuatan yang dilakukan terdakwa tersebut harus terdapat dalam nash yang melarang perbuatan dan diancam hukuman terhadapnya. Dalam hal ini perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa Reko Cahyono bin Basir yakni perbuatan melakukan pengangkutan hasil hutan tanpa izin dan perbuatan tersebut termasuk bagian dari upaya pengerusakan hutan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi:

73

































Artinya: telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Allah melarang tegas merusak bumi, baik darat maupun laut. Karena merupakan bentuk pengerusakan yang membahayakan kelestarian hidup manusia dan lingkungannya. Pengangkutan hasil hutan tanpa izin merupakan bagian dari perusakan hutan. Jika perbuatan tersebut diteruskan maka akan menimbulkan kerusakan, yang nantinya berdampak pada kelangsungan hidup manusia. Maka dengan ini unsur formal terpenuhi.

b. Unsur material, yaitu adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik perbuatan-perbuatan nyata maupun sikap tidak berbuat. Dengan berdasarkan keterangan saksi-saksi, terdakwa dan adanya bukti yang lain. Diperoleh fakta bahwa pada saat saksi Bayu Saputra dan Ris Trifelly yang merupakan anggota POLRI, sedang berpatroli melihat 1 (satu) mobil yang sedang berhenti dan dikendarai oleh terdakwa beserta saksi Yahman Bin Kasiran. Kemudian diadakannya pemeriksaan terhadap mobil tersebut, ditemukan kayu yang berjenis sono keling yang berukuran

74

2 meter dengan jumlah 16 batang yang berasal dari hutan kawasan. Namun terdakwa tidak bisa menunjukkan surat izin kepemilikan kayu tersebut. Kemudian dari pengakuan terdakwa membenarkan bahwa kayu jenis sono keling tersebut diangkut dari lokasi penebangan di kawasan hutan tanpa dilengkapi izin ataupun surat-surat dari pihak yang berwenang. Berdasarkan uraian pertimbangan tersebut, maka dengan demikian unsur material terpenuhi

c. Unsur Moral, yaitu mukallaf atau orang yang dapat di mintai pertanggung jawaban terhadap jari<mah yang dilakukan. Dalam hal pertanggung jawaban terhadap jarimah terdakwa Reko Cahyono bin Basir berusia 34 tahun dengan berdasarkan surat dakwaannya. Sehingga terdakwa dapat disebut sebagai mahkum alaih.52 Dan terdakwa dapat di mintai pertanggung jawabannya.

Berdasarkan uraian unsur-unsur jari<mah diatas maka selanjutnya adalah menentukan hukuman yang tepat bagi terdakwa. Di tinjau dari berat ringannya hukuman, jarimah dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

a. Jari<mah hudu<d

hukuman yang batasannya telah ditentukan oleh syara’ dan menjadi hak allah (menyangkut hak masyarakat). sanksi, ancaman atau hukuman yang telah di tentukan secara jelas didalam Al-Quran dan hadits. Jika ditinjau

52 Mahkum alaih adalah orang yang menjadi subyek hukum, dalam istilah hukum disebut sebagai subyek hukum

75

dari segi materi jari<mah, tindakan jari<mah yang wajib dihukum had terbagi menjadi tujuh, yaitu hudu<d atas jarimah zina, qadzaf, khamr, pemberontak (bughat), murtad, pencurian (tsariqah), dan perampokan (hirabah).53Dengan demikian ciri khas dari jarimah hudud ialah, pertama,

hukumannya sudah ditentukan dan terbatas, artinya hukumannya telah ditentukan oleh nash dan tidak ada batas minimal dan maksimal. Kedua,

hukuman tersebut merupakan hak allah semata, atau jika ada hak manusia disamping hak allah maka hak allah-lah yang harus didahulukan.54

b. Jari<mah qisha}sh diya<t

Qisha}sh adalah memberikan sanksi kepada pelaku persis seperti tindakan yang dilakukan oleh pelaku tersebut kepada korban. Ciri khas dari hukuman ini adalah hukumannya sudah ditentukan dan terbatas, artinya udah ditentukan oleh nash dan tidak ditentukan batas minimal dan maksimal. Kemudian hukuman tersebut merupakan hak perseorangan (individu) artinya korban dan keluarganya berhak memberikan pengampunan terhadap pelaku. Contoh Pembunuhan.

c. Jari<mah ta’zi<r

sanksi atau hukuman yang diberikan kepada pelaku jari<mah yang melakukan pelanggaran, baik yang berkenaan dengan hak allah maupun hak manusia dan tidak termasuk ke dalam kategori hukuman hudud

53 M. Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), 17

76

ataupun kafarat. Karena jari<mah ta’zi<r tidak ditentukan secara langung oleh Al-Quran maupun hadits, maka ini menjadi tanggung jawab ulil amri baik penentuan maupun pelaksanaan hukumannya. Dalam memutuskan jenis dan ukuran sanksi ta’zi<r, ulil amri harus tetap berpedoman kepada nash secara teliti karena menyangkut kemaslahatan masyarakat.55

Dari penjelasan diatas dapat dianalisis perbuatan terdakwa dalam tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin, dalam penerapan hukumnya tidak ditentukan langsung dalam nash Al-Quran dan Hadits. Maka penerapannya diserahkan kepada Ulil Amri, Akan tetapi dalam memutuskan jenis dan ukurannya harus berpedoman pada nash karena menyangkut kemaslahatan masyarakat. Jika dilihat dalam tujuan pokok dari penjatuhan hukuman ialah pencegahan (ar-rad’u wazzajru), pengajaran serta pendidikan (al-ishlah wat-tahzib). Pencegahan ialah mencegah diri si pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya dan mencegah diri orang lain dari perbuatan yang demikian.

Dalam perkara ini, hakim memutus terdakwa dengan dakwaan alternatif pertama dari penuntut umum yaitu melanggar pasal 83 ayat (1) huruf a jo pasal 55 ayat 1 KUHP. dalam ketentuan pidana pokok hakim sudah menerapkan sesuai ketentuan pasal, namun dalam penentuan denda tidak sesuai dengan ketentuan Undang-undang.

77

Menurut penulis, Hakim diberikan kekuasaan untuk memutus perkara ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagaimana juga dijelaskan dalam surah Al-Maidah ayat 49 yang berbunyi:





































































Artinya : dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Selain memberikan sanksi pokok berupa hukuman penjara atau pidana kurungan, hakim sebagai ulil amri yang diberikan kekuasaan untuk memutus suatu perkara dapat memberikan hukuman atau sanksi denda. Dan hakim dalam menentukan hukuman harus memenuhi asas keadilan . sebagaimana firman allah dalam surah Ar-Rahman ayat 7-9 :56

78



































Artinya: dan allah telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan) supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Menurut penulis, hukuman jarimah bagi tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin ini adalah berupa pidana penjara yang salah satu bagian dari hukuman badan (uqu>bah badaniyah) dan denda (ghuramah) sebagai hukuman terhadap harta (Uqu>bah maliyah). menurut hukum pidana islam, hukuman ta’zi<r, yang berupa hukuman penjara dapat dilakukan di rumah, masjid, penjara, atau tempat-tempat lain. Sedangkan Ghuramah (ganti rugi) hukuman bagi pelaku perbuatan yang diancam dengan hukuman ta’zi<r, dengan cara membayar harta sebagai sanksi atas perbuatannya. Antara lain mengenai pencurian buah yang masih menggantung dipohonnya, hukumannya didenda dengan dua kali lipat harga buah tersebut, disamping hukuman lain yang sesuai dengan perbuatannya tersebut. Hukuman yang sama juga dikenakan terhadap orang yang menyembunyikan barang hilang. Pada intinya, hukuman ta’zi<r pelaku tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin ini diserahkan kepada majelis hakim agar memberi sanksi sesuai dan memperhatikan kemaslahatan umum berdasarkan kaidah hukum pidana islam.

79

A

A. Analisis Hukum Positif Terhadap Pertimbangan Hukum dalam Putusan Nomor 23/Pid.Sus-LH/2018/PN.Kla Tentang Tindak Pidana Pengangkutan Hasil Hutan Tanpa Izin.

Putusan adalah produk atau hasil akhir dari pemeriksaan perkara yang dilakukan oleh hakim pada masing-masing tingkat peradilan. Berdasarkan pada pasal 178 HIR/189 RBG, apabila proses pemeriksaan telah selesai, maka hakim karena jabatannya harus melakukan musyawarah untuk mengambil keputusan yang akan dijatuhkan. Pengambilan keputusan sangat diperlukan oleh hakim atas perkara yang diperiksa, baik pidana maupun perdata. Dalam membuat sebuah putusan, hakim harus dapat mengolah dan memproses data-data yang diperoleh selama proses persidangan. Dalam sebuah putusan harus berisikan isi dan sistematika putusan yang meliputi 4 (empat) hal, yaitu: kepala putusan, identitas para pihak, pertimbangan-pertimbangan dan amar putusan.

Hal yang paling terpenting dalam memutus perkara adalah kesimpulan atas fakta yang terungkap dalam persidangan. Untuk itu hakim harus bisa menggali dan memahami nilai-nilai hukum yang berlaku berdasarkan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Dalam praktik peradilan pidana di Indonesia dikenal 2 jenis tindak pidana , yaitu tindak pidana umum dan tindak pidana khusus. Tindak pidana

80

tersebut mempunyai peraturan perundang-undangan masing-masing. Tindak pidana umum diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang sering kita kenal dengan KUHP, sedangkan tindak pidana khusus diatur dalam peraturan undang-undang yang sifatnya khusus, misalnya Undang-undang tindak pidana korupsi, UU Peradilan Anak dan Undang-undang khusus lainnya.

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengerusakan hutan, tindak pidana pengangkutan hasil hutan tanpa izin ini tindak pidana yang merupakan bagian dari tindak pidana Illegal logging. Yang dimaksud Illegal logging ini adalah segala pemanfaatan hasil hutan kayu secara tidak sah yang terorganisasi, meliputi kegiatan menebang, memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai dan/atau memiliki hasil hutan. Baik tujuannya untuk di jual maupun dimanfaatkan secara pribadi.

Dalam putusan Pengadilan Negeri Kalianda nomor : 23/Pid.Sus-LH/2018/PN.Kla tentang pengangkutan hasil hutan tanpa izin yang dilakukan oleh terdakwa Reko Cahyono Bin Basir, ada beberapa pertimbangan hakim, yaitu :

1. Menimbang bahwa oleh karena unsur dari pasal 83 ayat (1) huruf a Undang-Undang No.18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengerusakan Hutan telah terpenuhi, maka

81

terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan.

2. Bahwa dalam persidangan, majelis hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggung jawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka terdakwa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

3. Bahwa oleh karena terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana.

4. Bahwa terdakwa telah di dakwakan oleh penuntut umum dengan dakwaan alternatif maka sampailah majelis hakim kepada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan dan dipertimbangkan dengan fakta yang didapat di persidangan, karena surat dakwaan disusun secara alternatif maka majelis hakim berdasarkan fakta-fakta yuridis, menetapkan terdakwa telah melanggar pasal 83 ayat (1) huruf a Undang-undang No. 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan dan pengrusakan hutan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. sesuai dengan hasil pemeriksaan persidangan untuk dipertimbangkan yang memiliki unsur sebagai berikut :

82

Bahwa setiap orang adalah orang perorangan dan/atau korporasi yang melakukan perbuatan pengerusakan hutan secara terorganisasi di wilayah hukum indonesia dan/atau berakibat hukum di wilayah Indonesia. Menurut pengertian yang ada dalam Kamus Umum Indonesia, WJ. Purwadarminta, barang siapa berarti siapa saja sehingga dapat diartikan setiap orang tanpa terkecuali. Baik pria maupun wanita yang dapat menjadi subyek hukum yang dalam hal ini adalah Reko Cahyono Bin Basir yang identitasnya sesuai dengan identitas terdakwa sebagaimana telah disebutkan dalam surat dakwaan. Sehingga berdasarkan uraian tersebut maka dengan demikian unsur “orang perseorangan” telah terpenuhi.

b. Unsur dengan sengaja memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai dan/atau memiliki hasil penebangan di kawasan hutan tanpa izin sebagaimana yang dimaksud pasal 12 huruf d

Bahwa kementerian kehakiman RI dalam memberi arti pada kata “dengan sengaja” bahwa untuk dapat disebut telah melakukan suatu perbuatan “dengan sengaja” itu orang tidak perlu hanya menghendaki saja melainkan juga jika : orang menyadari bahwa perbuatan tersebut itu pasti akan

83

menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-undang, walaupun ia tidak mempunyai maksud untuk menimbulkan akibat tersebut. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, terdakwa dan adanya bukti yang lain. Diperoleh fakta bahwa pada saat saksi Bayu Saputra dan Ris Trifelly yang merupakan anggota POLRI, sedang berpatroli melihat 1 (satu) mobil yang sedang berhenti dan dikendarai oleh terdakwa beserta saksi Yahman Bin Kasiran. Kemudian diadakanya pemeriksaan terhadap mobil tersebut, ditemukan kayu yang berjenis sono keling yang berukuran 2 meter dengan jumlah 16 batang yang berasal dari hutan kawasan. Namun terdakwa tidak bisa menunjukkan surat izin kepemilikan kayu tersebut. Kemudian dari pengakuan terdakwa membenarkan bahwa kayu jenis sono keling tersebut diangakut dari lokasi penebangan di kawasan hutan tanpa dilengkapi izin ataupun surat-surat dari pihak yang berwenang. Berdasarkan uraian pertimbangan tersebut, maka dengan demikian unsur “dengan sengaja memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai dan/atau memiliki hasil penebangan dikawasan hutan tanpa izin sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 12 huru d” terpenuhi.

84

c. Unsur tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 huruf d

Berdasarkan keterangan ahli Adi Syafaat Bin Harisman yang telah dikemukakan dalam muka sidang, mengenai batas kawasan hutan, menerangkan bahwa lokasi penebangan tersebut atau pengambilan kayu jenis sono keling yang diangkut oleh terdakwa masuk dalam kawasan hutan Taman Hutaqn Raya Wan Abdul Rahman. Dan berdasarkan keterangan ahli Sumqardi, S.Hut, MM Bin Sukarto, menerangkan yang berhak mengeluarkan ijin adalah menteri kehutanan atau pejabat yang ditunjuk oleh menteri kehutanan, pemilik kawasan hutan adalah pemerintah RI dalam hal ini melalui UPTD Tahura Wan Abdul Rahman tidak pernah mengeluarkan surat izin untuk melaksanakan kegiatan memuat, membongkar, mengeluarkan, mengangkut, menguasai dan/atau memiliki hasil penebangan di dalam kawasan hutan tanpa izin. Maka unsur “tanpa izin” terpenuhi d. Unsur mereka yang melakukan, menyuruh melakukan dan

turut serta melakukan

Bahwa yang dimaksud perbuatan mereka yang melakukan, menyuruh melakukan dan turut serta melakukan adalah

85

perbuatan deelneming atau penyertaan yaitu berkaitan dengan suatu peristiwa pidana yang pelakunya lebih dari 1 (satu) orang, sehingga harus dicari peranan dan tanggung jawab masing-masing pelaku dari peristiwa pidana itu. Berdasarkan keterangan saksi maupun keterangan terdakwa serta barang bukti bahwa terdakwa dalam melakukan perbuatan pidana tidak dilakukan sendirian melainkan dengan saksi Yahman Bin Kasiran yang merupakan rekan terdakwa. Sehingga disini terdakwa mempunyai peran masing-masing. Maka unsur tersebut terpenuhi.

e. Menimbang bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa. Hal-hal yang memberatkan :

- Perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pencegahan pengerusakan hutan

Hal-hal yang meringankan :

- Terdakwa bersikap sopan dan mengakui terus terang

86

- Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi

- Terdakwa merupakan tulang punggung keluarga

Dari beberapa uraian penulis tersebut, penulis memiliki beberapa pendapat, yaitu:

1. Berdasarkan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara tindak pidana tersebut, hakim menjatuhkan pidana pokok sangat ringan. sesuai unsur-unsur diatas perbuatan terdakwa jelas bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum Terdakwa diancam dengan hukuman penjara 1 (satu) Tahun 10 (sepuluh) Bulan dan denda sejumlah Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka di ganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan. Namun hakim memutuskan hukuman dengan pidana penjara 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka di ganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan. Padahal perbuatan terdakwa ini dalam hal yang memberatkan merugikan pemerintah dalam upaya

87

mendukung pemerintah dalam pencegahan dan pemberantasan

Dokumen terkait