Yustanti, Tuti, Pendidikan Agama Islam, Bandung: Grafindo Media Pratama, 2008
14. Batu Amparan Gading
No. REKAMAN TERTULIS KET
1. Salam jumpa anak-anaku, kita jumpa dalam program Dongeng dari Radio Edukasi BMPR Yogyakarta. Bagaimana nilai ulangan kalian? Baik semua bukan? Nah kali ini Bunda siapkan dongeng dari Bengkulu.
“Tolong! Tolong turunkan putra putriku dari atas batu itu! Tolonglah! Mereka semakin tinggi! Awan... Bulan putriku tolong! Tolong!”
Apa yang kalian dengar anak-anakku? Ya, Raja Muda memerintahkan pada orang-orang untuk menolong putra putrinya yang duduk di atas batu yang makin lama makin tinggi. Kenapa bisa begitu? Nah anak-anakku bersama Bunda Dongeng inilah dongeng Batu Amparan Gading.
OPENING
2. Anak-anakku ada seorang raja yang gagah perkasa bernama Raja Muda, dia mempunyai seorang permaisuri yang cantik rupawan halus budi bahasanya sehingga amat disayangi oleh baginda. Permaisuri yang cantik jelita ini bernama Putri Ghani. Dalam menjalankan pemerintahannya Raja Muda selalu bertindak adil dan bijaksana. Baginda sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Para petani selalu mendapat hasil panen yang melimpah, para nelayan pun memperoleh banyak ikan dari hasil tangkapan mereka. Baginda raja dan
LATAR 1
permaisuri hidup rukun saling mengasihi satu sama lain. Mereka dikaruniai dua orang anak, yang pertama laki-laki bernama Raden Awang dan adiknya yang kedua diberin nama Putri Renong Bulan. Keduanya tumbuh sehat, cerdas dan lucu. Di kala senggang baginda raja dan permaisuri mengajak putra-putrinya bermain dan bercengkrama. Sesekali sang permaisuri dan Putri Renong Bulan pergi ke taman untuk memetik bunga atau memeriksa tanaman bunga kesayangannya.
“Ibu, bunga yang berwarna merah itu apa namanya?”, tanya Renong Bulan pada suatu pagi.
“Oh itu namanya bunga mawar”, jawab ibundanya.
“Bagus ya bu, tetapi batangnya banyak duri”
“Betul, karena itu memetiknya harus hati-hati supaya tangan kita tidak tertusuk”
“Kalau yang putih kecil ini bunga apa bu?”
“Oh ini? Ini bunga melati nak, meskipunn kecil bunganya sangat wangi. Nah kalau yang kuning bergerombol itu bunga soka, bagus bukan?”, ibunda suri menjelaskan kepada putrinya.
“Bunga yang warnanya hijau ada tidak bu?”, tanya Renong Bulan.
“Oh ada, lihatlah di sudut taman itu nak! Namanya bunga kenanga, karena berwarna hijau bunganya hampir tidak kelihatan tetapi harumnya semerbak di seluruh taman”
Renong Bulan yang masih kecil itu selalu menanyakan yang belum diketahui.
Ibundanya dengan sabar membimbingnya agar mengetahui lingkungan sekitarnya. Di halaman istana terdapat sebuah batu besar yang permukaannya datar. Batu itu berwarna kuning muda, karena itu disebut Batu Amparan Gading.
Tidaka ada yang mengetahui dari mana asal batu aneh itu. Raja Muda beserta keluarga sering duduk-duduk atau bercengkrama di atas Batu Amparan Gading itu. Begitu pula dengan kakak adik Raden Awang dan Putri Renong Bulan.
3. Anak-anakku kebahagiaan Raja Muda tiba-tiba hilang, permaisuri Raja Muda Putri Ghani menderita sakit. Tidak berapa lama sang permaisuri wafat, Raja Muda sangat terpuluk atas meninggalnya istri yang sangat dicintainya itu lebih-lebih bila melihat kedua putra putrinya yang masih kecil tak mempunyai ibu lagi.
Hatinya sangat iba, kesedihan Raja Muda semakin mendalam.
“Hahh, sungguh kasihan anak-anakku. Tak ada lagi belai kasih sayang ibu yang sangat mencintainya”
Begitu pula yang dalami oleh Awang dan adiknya Renong Bulan. Mereka sangat sedih ditinggal ibundanya yang sangat mereka sayangi.
“Ibu, mengapa ibu meninggalkan kami. Awang rindu pada ibu, kasihan adik ia masih sering memanggil-manggil ibu”, kat Awang di sela isak tangisnya.
LATAR 2
4. Hari demi hari berlalu, suasana istana masih muram. Raja Muda belum dapat melupakan istrinya Putri Ghani, begitu pula putra putrinya selalu murung tidak bersemangat untuk bermain seperti dulu.
Mengetahui hal itu, Ibunda Raja Muda berkata “Oh anakku, kau seorang raja, mengapa tidak beristri lagi? Lagian kasihan si Awang dan Renong Bulan itu, mereka masih kecil membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu”
Raja Muda terdiam lalu berkata, “Iya bu ananda tau, akan tetapi siapa yang pantas menjadi pendamping ananda?”, tanyanya kepada ibunya.
“Hahh, kalau ananda setuju ibu ingin engkau melamar Putri Raja Hulu Sungai.
Ibu rasa selain pantas menjadi pendampingmu, ia juga dapat menjadi ibu bagi anak-anakmu”, Ibunda Raja Muda menjelaskan dan Raja Muda pun setuju.
LATAR 3
5. Tidak lama berapa lama kemudian Raja Muda menikah dengan Putri Raja Hulu Sungai. Dengan pernikahan raja itu, istana menjadi cerah, suasana muram menjadi gembira lagi. Sekarang Awang dan Renong Bulan sudah mempunyai
LATAR 4
dengan sabar. Di kala makan, ditungguinya dengan telaten sambil menannyakan apa yang masih kurang. Bila waktunya tidur, diantarkan ke kamar masing-masing lalu diselimuti. Awang dan Renong Bula merasakan kebahagiaan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama hilang.
Namun anak-anakku, suasana ceria dan gembira yang dirasakan kakak beradik Awang dan Renong Bulan tidak berlangsung lama. Ibu tiri mereka mulai rewel dan sering marah-marah.
6. Suatu hari kedua anak itu bermain petak umpet di taman istana. Tiba-tiba... ada suara prangg! Pot bunga proselin pecah berantakan. Awang dan Renong Bulan terperanjat dan mereka diam tertegun. Kedua anak itu ketakutan karena tau apa yang akan dilakukan oleh ibu tiri mereka.
“Hei apa itu? Siapa yang memecahkan pot ini ha?”
Kedua kakak beradik itu diam tertunduk.
“Siapa?! Kau Bulan? Kau yang memecahkan pot ini?!”
Sambil memeluk adiknya Awang menjawab “Bukan bu, tetapi aku” Padahal Renong Bulan lah yang memecahkan pot itu waktu bersembunyi.
“Oh jadi kau pelakunya? Dasar anak nakal! Heehh! Nakal kamu ya! Nakal, dasar!”, ibu tiri itu menampar pipi Awang dengan sangat keras.
“aduh, aduh ampun bu! Aduh, aduh saya tidak sengaja bu!”, Awang menangis kesakitan.
Mendengar jeritan Awang, para pengasuh dan pembantu istana berdatangan tetapi mereka tidak berani berbuat apa-apa. Takut dimarahi pula oleh istri raja yang baru itu.
“Kak Awang, maaf ya. Karena membela aku jadinya kakak yang terkena tamparan”, kata Renong Bulan dengan sedih.
“Tidak apa-apa dik, biarlah aku yang merasakan sakit. Aku menyayangimu, lain kali kita harus berhati-hati ya!”, saut Awang menghibur adiknya.
LATAR 5
7. Begitulah anak-anakku, nasib Raden Awang dan Renong Bulan yang mempunyai ibu tiri. Semua kekejaman ibu tiri ini tidak diketahui oleh Raja Muda. Awang dan Renong Bulan tidak berani mengadu.
“Hei! Kalian berdua! Jangan sekali-kali mengadu pada ayahmu atau kepada siapapun! Mengerti?!”
“Ii iya bu, iya”
“Ee i iya bu”, jawab kedua anak itu ketakutan.
“Awas ya kalau berani mengadu! Ibu masukkan ke sungai! Mau?!”
“Tidak bu! Tidak! Ampun, jangan!”
Para pembantu dan pengasuh istana pun tak ada yang berani membuka mulut, mereka sangat iba dan kasihan melihat putra putri raja itu.
LATAR 6
8. Selang beberapa bulan kemudian istana kembali berkabung, ibunda Raja Muda meninggal karena sakit. Keadaan ini menguntungkan istri baru Raja Muda karena dia lebih leluasa melakukan apa saja di istana.
“Ibuuu, kami lapar. Kami mau makan bu, ibuuu”, rintih Awang suatu hari.
“Apa?! Makan?! Kerja dulu!”, hardik ibu tirinya. “Hei! Siapa pun tidak boleh memberi makan pada mereka!”, katanya pada para pembantu istana.
“Ibuuu, kami sudah tidak tahan lagi bu. Kami lapar...”, rintih Awang dan adiknya.
LATAR 7
“sirami dulu tanaman! Dan kau Bulan, lap jambangan bunga sampai bersih!
Semua makanan di simpan ibu tiri di lemari makan dan dikunci. Kedua anak itu lalu pergi ke halaman bermain-main di atas Batu Amparan Gading. Baru sebentar bermain, perut mereka terasa lapar. Untuk sekedar melupakan rasa lapar Awang berkata.
“Dek, kakak akan mencoba keluar untuk mencari makan dan mainan, kau tunggu saja di sini sebentar ya”
“Baiklah kak, pergilah...”, jawab adiknya.
LATAR 8
10. Sambil membawa seruas bambu, Awang pun pergi. Setelah berjalan sebentar sampailah ia ke tempat ibu-ibu sedang menumbuk padi.
“Ibu, bolehkah saya minta melukut sedikit untuk makanan ayam saya?”
Anak-anakku, melukut adalah serpihan beras.
“Oh boleh nak, ambilah”, kata ibu itu.
Awang mengambil melukut dan memasukkannya ke dalam bahu yang dibawanya.
“Ee, terimaksih bu. Terimakasih...”, katanya lalu pergi.
LATAR 9
11. Dalam perjalanannya ia bertemu seekor bengkarung atau kadal. Bengkarung itu lalu di tangkap untuk mainannya. Setelah itu dilihatnya pula bunga dadap merah yang berguguran di tanah, dipungutinya bunga itu untuk maianan adiknya.
Dengan mendekap benda-benda yang diperoleh itu awang pun kembali ke istana.
“Dek, lihatlah bengkarung ini”
“Iiih tidak mau! Bulan geli dan takut...”, jawab Renong Bulan.
“Hehehe bengkarung ini kalau besar seperti biawak, bentuknya mirip kan dek?”
“Iya, tapi Bulan bermain bunga ini saja. Warnanya merah sangat bagus seperti paruh Burung Beo ya kak?”, balas Renong Bulan sambil memperlihatkan bunga dadap merah.
Anak-anakku, ketika mereka asik bermain ibu tiri mereka pulang dan langsung mendekati kakak beradik itu. Diamatinya kedua anak yang sedang bermain, bekas permainan mereka berserakan di atas batu amparan gading. Pandangannya tertuju pada remah-remah bekas makanan diantara mainan yang ada di situ. Ibu tiri mulai curiga kepada Awang dan Renong Bulan. Biji puar dikira remah nasi, bunga dadap merah disangkanya kulit udang dan sisik bengkarung dikiranya sisik ikan. Dengan serta merta timbul lah amarahnya.
“Hei! Awang dan Bulan! Kalian tadi mencuri makanan ya?!”
“Eee, tidak bu. Sejak pagi kami tidak makan apa-apa”, jawab Awang sedih.
“Hah! Jangan bohong! Itu lihat bekas remah makanan masih ada”
“Sunguh bu, kami tidak mencuri makanan. Itu bekas serpihan kami bermain”
Ibu Tirinya semakin naik pitam, sambil mencerca dan mencaci maki dipukulnya dua kakak beradik yang malang itu. Awang dan Renong Bulan memekik dan menangis kesakitan.
“Aduhh... ah ampun! Kami tidak bohong, benar bu... jangan! Ampun!”
“Huh! Anak tidak tau diri! Anak manja, dasar pemalas! Hih dasar ya kalian!”
“Aduh, sakit bu! Jangan pukul! Sakit sakit bu, jangan pukul bu sakit!”
Tangisan kedua anak itu tidak dihiraukannya, ibu tiri itu terus memukuli mereka sampai puas lalu ia masuk ke istana. Para pengasuh dan pembantu istana tidak
LATAR 10
Tirinya.
“Huhuhu sakit kak, aduh... pedih ehuhuuhu”, sedu sedan adiknya membuat hati Awang teriris. Dia sendiri juga menahan rasa sakit dan pedih bekas pukulan ibu tirinya. Karena letih dan laparnya badan mereka lemas dan akhirnya tertidur di atas batu amparan gading. Dalam tidurnya Awang bermimpi seolah-olah melihat ibundanya melambaikan tangan kepadanya, beberapa saat kemudian Awang pun terbangun dari tidurnya. Hatinya sangat sedih mengenang nasib mereka yang malang. Mereka hanya berharap agar penderitaannya dapat segera berakhir.
“Bulan adikku, sabarlah tidak lama lagi kita akan lepas dari penderitaan ini”, katanya dalam hati.
Dengan air mata berlinang-linang ia meratap dan menangis. Kesedihan yang sangat mengiris hatinya diungkapkan dengan kata-kata sedih.
“Ibu kandung bundaku sayang, mengapa kami engkau tinggalkan? Kami rindu akan belaian, tiada orang belas kasihan, lihatlah kami yang malang ini, lapar dahaga kami alami, cerca dan siksa silih berganti, deritta dan sakit sudahlah pasti. Hai burung yang sedang terbang! Kemana ibuku? Tolong tunjukkan!
Mungkinkah ia di atas awan? Bawalah kami serta melayang”, sambil memeluk adiknya Awang mengucapkan kata-kata sedih itu.
Tiba-tiba angin menderu dan aneh. Batu Amparan Gading yang didudukinya sedikit demi sedikit meninggi. Awang dan adiknya keheranan, dicobanya lagi mengucapkan kata-kata tadi dan Batu Amparan Gading pun semakin meninggi.
Setiap diucapkan kata-kata pantun itu, batu amparan gading semakin meninggi.
LATAR 11
13. Sementar itu Raja Muda yang baru kembali dari perjalanan langsung masuk istana untu menemui kedua putra putrinya. Ia terperanjat, dia tidak menemukan Raden Awang dan Renong Bulan.
“Mereka tidak ada dalam istana, pasti sedang bermain di halaman istana. Hm, tiap hari mereka hanya bermain! Tak mau makan, tak mau belajar dan lupa segalanya. Saya sudah menasehati tapi tidak didengar”, istrinya mengadu dengan berbohong.
“Sejak kapan mereka jadi anak yang tidak patuh?”, tanya Raja Muda.
Perasaannya tidak enak, Raja muda segera keluar menuju halaman istana.
Dengan rasa terkejut bercampur heran Raja Muda melihat batu amparan gading di halaman istana sudah menjadi tinggi melebihi puncak bumbungan istana.
Betapa kagetnya saat terlihat putra putrinya yang sangat disayangi berada di atas batu itu.
“Oh, bagaimana ini bisa terjadi?”, gumamnya. “Apa yang telah menimpa anak-anakku!”, teriak Raja Muda sangat cemas dan kawatir kalau anaknya terjatuh dari tempat setinggi itu.
Sementara itu Awang terus menangis sambil mengucapkan kata-kata pantun yang sedih. Bersamaan dengan itu, keadaan kedua anak itu semakin tinggi mengikuti tingginya Batu Amparan Gading.
LATAR 12
14. Akhirnya mereka sampai ke pintu langit. Ketika mereka tiba di sana, pintu langit sedang tertutup. Mereka berusaha dengan susah payah membukanya tetapi tidak bisa. Kebetulan saat itu ada seekor Burung Garuda melewati tempat itu.
“Oh Burung Garuda yang baik hati, tolong lah kami”, kata Awang memohon.
“Oh apa yang bisa ku lakukan?”, tanya si Burung Garuda.
LATAR 13
“Bukakan pintu langit itu, nanti ku beri upah seruas bambu melukut”
“Ohohoho baiklah akan ku coba”, jawab Burung Garuda itu.
Maka dipukul-pukulnya pintu langit dengan paruhnya yang besar dan tajam. Tak lama kemudian terbuka lah pintu langit dan kakak beradik itu langsung melangkahkan kaki masuk ke langit. Mereka berjalan ke kediaman yang penuh kedamaian dan ketentraman yang abadi. Di sana tak ada lagi caci maki, siksaan maupun penderitaan.
15. Awang dan Renong Bulan sudah tidak terlihat lagi. Raja Muda memanggil orang yang ada di sekitarnya. Dibunyikan lah kentongan hingga seisi istana berhamburan keluar. Orang-orang segera memberi pertolongan, mereka berusaha memecah pangkal batu amparan gading itu dengan berbagai peralatan.
“Tolong! Tolong turunkan putra putriku dari atas batu itu! Tolonglah! Mereka semakin tinggi! Awan... Bulan putriku tolong! Tolong!”
Anak-anakku setelah Awang dan Renong Bulan naik ke langit, Batu Amparan Gading kembali merendah seperti semula. Raja Muda termenung berdiam diri dalam kesedihan berpisah dengan kedua anak kesayangannya karena Raja Muda mengetahui bahwa semua ini gara-gara perbuatan istrinya, maka Raja Muda pun mengusir istrinya dari istana.
LATAR 14
16. Begitulah anak-anakku kisah ibu tiri yang jahat kepada anak tirinya, namun tidak semua ibu tiri seperti dalam dongeng Batu Amparan Gading. Nah anak-anak, hingga disini program dongeng dari Radio Edukasi BPMR Yogyakarta. Sampai jumpa! Edukasi BPMR Yogyakarta. Kali ini Bunda Dongeng akan mengajak anak-anak mendengarkan sebuah dongeng yang berasal dari Riau.
“Ayo terus berputar! Ayo terus, berputar! Ayo! Ayo! Bentur saja, iya! Hantam!
Horee hantam terus! Terus!”
Nah anak-anak kalian pasti bisa menebak suara yang kalian dengar tadi. Iya, permainan adu gasing. Siapa mereka? Ternyata ada dua orang anak muda yang sedang bertarung, salah seorang diantaranya adalah anak raja. Nah bersama Bunda Dongeng inilah cerita Aji Bonar.
OPENING
2. Anak-anakku pada jaman dahulu di daerah Riau ada sebuah kerajaan yang disebut Tiang Kerarasen. Sang raja memerintah dengan adil dan bijaksana, kerajaannya sangat makmur, rakyat tidak kekurangan makan dan pakaian, para petani dan pedagang banyak yang kaya. Mereka semua merasa aman dalam menjalankan usahanya masing-masing. Sang raja mempunyai permaisuri dan dikaruniai beberapa orang putra dan seorang putri, keluarga raja hidup bahagia saling menyayangi. Para putra dan putri raja tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang berhati lembut dan ayah yang bijaksana, namun diantara putra dan putri raja itu putra sulung yang bernama Damar Kelana mempunyai watak dan tingkah laku yang kurang baik. Dia pemalas tidak mau belajar, sehari-hari kerjanya hanya bermain-main saja. Ia gemar bermain gasing. Gasing adalah salah satu permainan rakyat di daerah Riau. Biasanya gasing dibuat dari kayu yang keras, bentuknya lonjong, dan salah satu ujungnya di beri paku. Cara memainkannya diputar dengan bantuan tali yang dililitkan di bagian atas gasing. Setelah itu gasing dilepaskan ke tanah diikuti dengan menarik tali ke belakang, gasing yang jatuh ke tanah akan berputar. Permainan gasing sering dipertandingkan, gasing
LATAR 1