• Tidak ada hasil yang ditemukan

AN USULAN SOEKARNO PANITIA 9 : PEMBUKAAN UUD 45 KETERANGAN

Dalam dokumen buku pancasila ham dan (Halaman 31-35)

1 Kebangsaan Indonesia Ketuhanan Yang Maha Esa Sila yang mempersatukan

2 Internasionalisme atau

perikemanusiaan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

3 Demokrasi (dengan

makna permusyawa- ratan dan perwakilan)

Persatuan Indonesia Untuk menegaskan pada pihak Jepang keinginan bersatu

4 Keadilan Sosial Kerakyatan yang Dipimpin

oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawa- ratan dan Perwakilan

5 Ketuhanan Yang Maha

Dalam pidatonya itu, Soekarno mengusulkan Pancasila dengan urutan tersendiri, yang kemudian dirumuskan oleh Panitia Sembilan, sebagaimana yang terdapat di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. (Lihat Tabel 1). Namun, dalam konteks ini, hal yang mendapat perhatian utama adalah gagasan sila internasionalisme. Sehubungan dengan itu, Soekarno menyebutkan dua kali dalam pidatonya berkenaan dengan kata internasional, dengan pemaknaan yang berbeda, yang kemudian muncul sebagai salah satu sila dalam usulannya.

Pertama, Soekarno menyebut internasional dalam pemaknaan hukum yang memudahkan lahirnya kemerdekaan. Hukum Internasional adalah memudahkan bangsa Indonesia untuk mendirikan negaranya, yang kontradiksi dengan pandangan sekarang bahwa hukum internasional, khususnya, yang berkenaan dengan hak asasi manusia justru menyulitkan aparat negara dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan negara.

“...bahwa sebenarnja international recht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara jang merdeka, tidak diadakan sjarat-sjarat jang neko-neko, jang mendjelimet, tidak! Sjaratnja sekedar bumi, rakjat, pemerintah jang teguh! Ini sudah tjukup untuk international recht.”17)

Kedua, Soekarno menyebut kata internasional dalam kaitan dengan latarbelakang kemunculan Sila Internasional atau perikemanusiaan, yang kemudian dirumuskan oleh Panitia Sembilan sebagai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Artinya, bangsa dan negara ini, selain mendapat keuntungan dari hukum internasional, juga memberi penghormatan, mengadopsi dan menegakan nilai-nilai hukum internasional dengan spirit nasionalisme yang terbuka.

‘Kita harus menudju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan sadja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menudju pula kepada kekeluargaan bangsa- bangsa.

17) Lihat Iwan Siswo, Panca Azimat Revolusi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014. Jilid I, halaman 475.

Djustru inilah prinsip saja jang kedua. Inilah ilosoisch principe

jang nomor dua, jang saja usulkan kepada Tuan-tuan, jang oleh saja namakan “internasionalisme”.’18)

Hal yang penting adalah untuk terus-menerus mempertimbangkan perihal hak asasi manusia dalam konteks nasionalisme ke-Indonesia-an, sebagaimana penegasan Soekarno tentang ainitas antara internasionalisme dan nasionalisme.19)

“Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminja nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinja internasionalisme. Jadi dua hal ini, saudara-saudara, prinsip satu dan prinsip dua, jang pertama-tama saja usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.”20)

Oleh karena itu, jika kita mempertimbangkan asal-usul lahirnya sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, maka kita akan mendapatkan sejauhmana eratnya hubungan antara Internasionalisme (khususnya yang berkenaan dengan penghormatan dan penegakan hak asasi manusia) dan nasionalisme ke-Indonesia-an (khususnya yang berkenaan dengan konstitusi dan keseluruhan perundang-undangan, serta berbagai peraturan yang merupakan turunannya).21) Jadi, penghormatan terhadap hukum

internasional bukanlah hal yang baru, yang harus diberikan oleh generasi sekarang, demikian pula bangsa Indonesia juga harus memberikan penghormatan terhadap kemanusiaan, karena hal ini sudah ada sejak para

18) Soekarno membedakan antara internasionalisme dengan kosmopolitanisme (jang idak mau adanja kebangsaan). Lihat Iwan Siswo, 2014:487. Jilid I.

19) Adalah menjadi sangat pening untuk memperimbangkan apa yang dikatakan Sjahrir: “Akuham- pir-hampir hendak mengatakan bahwa nasionalisme ialah proyeksi daripada kompleks inferioritas da- lam hubungan kolonial antara bangsa yang dijajah dan bangsa yang menjajah. Jadi, dari semula dasar dari propaganda nasionalisis adalah suatu perasaan yang idak rasional.”Zulkili, Arif. Dkk. (Penyunt- ing).Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil. Jakarta: Kepustaaan Populer Gramedia, 2015. Halaman145. 20) Lihat Iwan Siswo, 2014:487. Jilid III.

21) Menurut McVey: “internasionalisme (kemudian ditafsirkan sebagai prikemanusiaan, kepedulian akan kesejahteraan global umat manusia.” Lev dan McVey, 2014:17.

22) Lihat Iwan Siswo, 2014:478. Jilid III.

23) Bila kita mengacu pada isilah yang digunakan oleh Hata, berari: “negara penguasa” sudah mai, dan muncul “negara pengurus”. Lihat Baderin, Hukum Internasional Hak Asasi Manusia dan Hukum Islam. Jakarta: Komnas HAM RI, 2013. Halaman 1.

24) destruksi/des·truk·si/ /déstruksi/ n perusakan; pemusnahan; penghancuran; pembinasaan. htp://kbbi.web.id/destruksi

25) Menurut Halbwachs, memori adalah sebuah penampakan sosial yang isi dan kegunaanya dijelas- kan melalui interaksi dengan orang lain dalam bentuk bahasa, indakan, komunikasi dan dengan ung- kapan emosi-emosi pada konigurasi keberadaan sosial kita. [2] Ingatan terbentuk melalui dialog da- lam kelompok sosial, seperi halnya sebuah ingatan yang terbesar atau bagian kenangan yang terkuat akan menjadi ingatan yang resmi di dalam kelompok tersebut.[2] Halbwachs melengkapi frasa “kita adalah yang kita ingat” menjadi “kita adalah apa yang kita miliki” dengan sangat yakin mengembang- pendiri negara memikirkan tentang dasar negara, yang dalam kalimat Soekarno: ‘Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas “Weltanschauung” apa?’22)

Dalam lain kata, nasionalisme Indonesia tidak dapat hidup subur bila tidak mempertimbangkan tatanan nilai yang secara internasional telah mendapatkan pengakuan dari negara-negara di dunia, dalam hal ini adalah perihal hak asasi manusia, yang mana Baderin mengatakan:

“Di dunia sekarang ini, konsep hak asasi manusia (HAM) mempengaruhi semua aspek hubungan internasional dan melintasbatasi semuaaspek hukum internasional kontemporer. Ia merupakan tujuan internasional penting yang melingkupi semua tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Serupa halnya, organisasi-organisasi antar-pemerintah regional juga mengakui konsep hak asasi manusia, dan beragam organisasi hak asasi non-pemerintah secara konsisten mengecam keras pelanggaran hak asasi manusia oleh negara. Perlindungan hak asasi manusia menjadi alat penting internasionalisme yang menyibak hijab ‘kudus’ kedaulatan negara demi kehormatan manusia.”23)

Apalagi, bila kita pahami dan sadari bahwa pelanggaran hak asasi manusia berimplikasi pada kemunculan perbedaan atau dapat mendestruksi 24) pengalaman bersama atau memori kolektif 25) antar warganegara, kelompok,

kan ari sempit dari memori tersebut dengan menunjukkan sisi-sisi sosialnya [2] Ia menyatakan bahwa memori adalah apa yang terbentuk secara bersama melalui perhaian dan kecemasan dalam sebuah kelompok masyarakat, tersalur melalui interaksi kelompok, dan dibatasi dalam ruang disosialisasikan. htps://id.wikipedia.org/wiki/Maurice_Halbwachs.

26) “Dekonstruksi adalah sebuah metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam seiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, seiap anggapan selalu kontekstual: anggapan selalu hadir sebagai konstruksi sosial yang menyejarah. Maksudnya, an- ggapan-anggapan tersebut idak mengacu kepada makna inal. Anggapan-anggapan tersebut hadir sebagai jejak (trace) yang bisa dirunut pembentukannya dalam sejarah.” htps://id.wikipedia.org/ wiki/Dekonstruksi

golongan dan suku yang membentuk sebuah bangsa, atau yang merupakan fundasi utama bagi terbentuknya sebuah persatuan dari berbagai etnis dan suku menjadi apa yang disebut bangsa. Tentunya, hal itu berimplikasi pada pendekonstruksian26) persatuan bangsa, yang berakibat lanjutan pada

pelemahan ketahanan nasional itu sendiri.

Dalam dokumen buku pancasila ham dan (Halaman 31-35)