3.4. Ingatan-Ingatan Perempuan dan Anak-anak dalam Konflik Poso
3.4.4. Anak-Anak Yang (ter)Bungkam: Tak Ber’teman’
Anak-anak memaknai peristiwa konflik dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka mungkin tidak mengerti apa arti kehilangan harta benda dan atau nyawa seperti orang dewasa yang memaknainya sebagai sebuah kehilangan mendalam yang menimbulkan duka. Mereka mungkin saja melihat rangkaian peristiwa kekerasan di Poso dengan kenyataan bahwa mereka sudah tidak lagi bersama-sama dengan sesuatu atau seseorang yang selama ini ada dalam hidupnya; rumahnya, teman-temannya, sekolahnya, orang tuanya. Ketidakbersamaan itu sendiri adalah kehilangan yang diteruskan dengan kesendirian mereka dalam memaknainya.
Tidak didampinginya anak dalam berbagai konflik menyebabkan anak ‘meniru’ apa yang dihayati oleh orang dewasa tentang konflik tapi juga menyimpan rasa , trauma , pengalaman mereka sendiri tentang konflik itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa diamnya anak tidak berarti sama dengan ketidaktahuan anak terhadap peristiwa konflik itu sendiri, sebaliknya menggambarkan ‘kesendirian’ mereka untuk memaknai seluruh peristiwa.
Ke’diam’an anak dan kesendirian mereka tidak berarti tidak mengingat semua peristiwa yang harus mereka jalani disaat usia mereka tidak cukup mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Sebanyak 35 anak-anak pengungsi dari Desa Tongko, Desa Kasiguncu, Desa Masani, Desa Pantangolemba Kecamatan Poso Pesisir yang sampai sekarang masih berada di lokasi pengungsian Yosi, Tentena, mengekspresikan pengalaman mereka dalam bentuk gambar-gambar detail yang dominan warna merah dan hitam123. Sebagian di antara
123
Saat itu masa perayaan Natal dengan tema “Jangan takut sebab Aku menyertai kamu”. Saya yang saat itu menjadi guru sekolah minggu menggunakan tema tersebut sebagai latarbelakang memulai ibadah untuk menunjukkan bagaimana Tuhan yang mereka mengerti melindungi mereka, anak-anak dan orang tua, hingga saat ini.
anak-anak tersebut bahkan tidak merasa cukup puas dengan menggambar. Mereka menambahkan dengan tulisan tangan detail kronologis kejadian yang menimpa diri dan keluarganya di sudut gambar.
Seluruh anak-anak itu memilih untuk menggambar peristiwa konflik yang menimpa desa mereka. Gambar rumah dibakar, gereja dibakar, orang-orang di tembak, desa mereka dikepung, mengungsi ke hutan dengan latar belakang dua gunung yang besar dan sungai. Ketika ditanya mengapa menggambar seperti itu, bukankah temanya tentang Tuhan yang menyertai mereka?Salah seorang anak yang berumur 12 tahun (saat peristiwa terjadi berumur 5 tahun) menjawab dengan tegas “ Meskipun ada kerusuhan tapi kami tetap dilindungi”. Jawaban ini mempunyai makna yang lebih dalam dari pertanyaan selanjutnya mengapa gambar kerusuhan yang dipilih oleh 35 anak-anak itu.
Putri, adalah salah satu anak yang merasa tidak cukup bisa mengekspresikan perasaan dan pikirannya menulis di ujung kanan gambarnya dengan judul “Cerita Saat Kerusuhan”. Tertulis:
“Saat di Poso terjadi kerusuhan kami hanya berdiam diri. Dimana-mana kebakaran terjadi pembunuhan dimana-mana keluargaku semakin panik. Saat itu saya masih kelas 2 SD. Saat kerusuhan terjadi saya masih di sekolah tiba-tiba lonceng-lonceng berbunyi sangat kuat saat itu kami tau itu pertanda sesuatu. Semua murid-murid berlarian keluar dan pulang menuju rumah masing-masing. Saat itu mereka membom Gereja Eklesia Poso. Waktu mereka bom, foto Tuhan Yesus tidak tersingkir dan tidak terbakar. Sebelum membom, mereka menjarah barang-barangnya. Mereka membom gereja itu dua kali, foto Tuhan Yesus pun ikut hangus. Kami pindah ke Pendolo. Saat di Pendolo, kerusuhan kembali terjadi. Gara-gara seorang muslim melaporkan sesuatu. Banyak tentara yang datang yang lengkap dengan senjata...”
Anak-anak itu tidak punya ruang untuk menceritakan pengalamannya, karena mereka masih anak-anak yang seringkali dianggap tidak mengetahui apa-apa. Kenyataannya, ingatan mereka sangat detail dan melekat hingga membutuhkan ruang lebih untuk bisa menampungnya. Hal tersebut antara lain digambarkan oleh Putri. Saat saya
mendekatinya, Putri dengan bersemangat melanjutkan tulisannya yang terpotong karena sudah capek dengan bercerita:
“ saya dan mama tidak sempat lari, kami cuma bersembunyi di dalam rumah. Kami tidak sempat bantu kakek sembunyi karena tentara sudah datang. Tentara menendang-nendang kakek sampai jatuh dari kursinya. Sebenarnya kakek sudah suruh kami semua untuk lari ke sawah-sawah. Waktu itu memang semua orang sudah mengungsi ke sawah. Tangan kakek diikat dan ditaruh disudut ruangan, tentara itu mengarahkan senjata ke kakek dan menyuruh kakek mengaku dimana menyembunyikan orang-orang yang jadi pelaku kerusuhan Poso. Mentang-mentang kami pengungsi dari Poso yang menunpang di Pendolo, tentara itu menuduh salah satu di antara kami yang mengungsi yang jadi pelaku kerusuhan Poso. Waktu itu kakek menyuruh kami berdoa dalam nama Yesus, tapi tentara-tentara yang lain langsung menyobek Alkitab, banting-banting di tanah. Setelah beberapa jam dan bongkar-bongkar rumah, tentara itu baru pergi, tapi membawa kakek saya juga pergi. Sebenarnya mama mau menahan dan bilang biar mama saja yang dibawa pergi karena kakek sudah tua sekali tapi tentara itu menodongkan senjatanya ke mama. Akhirnya kami semua cuma bisa menangis. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri...124”
Entah pada siapa kisah-kisah yang mengendap dalam seluruh kesadaran anak- anak tersebut bisa diceritakan. Sangat kecil kemungkinan untuk menceritakan pada orang tua. Menurut Doni, salah seorang anak yang melihat langsung teman kelasnya dibawah paksa ke atas truk oleh kelompok yang menggunakan tanda merah, mereka dilarang oleh orang tuanya untuk menceritakan kisah-kisah itu pada orang lain atau dalam kehidupan sehari-hari. Menurut orang tuanya, hal tersebut sudah lewat. Larangan tersebut dibenarkan oleh ibu Dina, salah seorang orangtua. Menurut ibu Dina tidak pantas mengungkit-ngungkit masa lalu, makanya dia melarang anaknya bercerita hal-hal itu pada teman sepermainannya karena sebenarnya hubungan antara orang Muslim dan Kristen adalah baik-baik saja. Ibu Dina dan sebagian besar orang tua di pengungsian Yosi selalu menjelaskan kepada anak-anak bahwa mereka mengungsi karena kerusuhan dan pelakunya belum diketahui. Anak-anak dianggap tidak perlu mengetahui bahkan dihalangai untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hal ini bertolak belakang dengan apa yang mengendap dalam ingatan anak-anak. Dialog yang terjadi di kelas sekolah minggu yang saya lakukan memperlihatkan hal tersebut. Dalam penceritaannya, anak-anak tersebut “membantah” apa yang diinginkan oleh para orang tua dengan apa yang dimengerti, dimaknainya, bahkan oleh mereka yang baru berumur 2 tahun125.
“....adik – adik, dulu asalnya dari berbagai desa. Kenapa bisa ada di sini sekarang?”
“Mengungsi, kak!”
“loh, kenapa harus mengungsi?”
“kerusuhan kak!”
“kerusuhan?kenapa ada kerusuhan?”
“ berkelahi...”
“siapa yang berkelahi?”
“orang Islam!”
“orang Islam atau orang Kristen?”
“Orang Islam!”
“wah, jadi orang Islam jahat ya”
“jahat!!!”
“tapi ada juga loh orang Islam yang baik, dan ada orang Kristen yang juga suka berkelahi....”(suasana kelas menjadi riuh dan berdebat tentang pernyataan yang saya sampaikan)
Jawaban-jawaban yang bulat, spontan, tegas tersebut seperti menjadi rapalan bagi anak-anak. Fenomena ini memberi gambaran bahwa bahkan apa yang berusaha di konstruksi oleh orang tua tentang konflik tidak bisa serta merta menghapus apa yang dipikirkan, dirasakan, dihayati oleh anak-anak. Dan pikiran, perasaan, penghayatan, pemaknaan tersebut adalah milik anak-anak itu sendiri. Anak-anak adalah bagian yang juga terlibat melihat, mendengar, merasakan, memaknai peristiwa-peristiwa pembakaran, pembunuhan, dengan cara mereka sendiri. Mungkin saja dengan menggunakan bahasa orang dewasa, tetapi mereka mempunyai cara yang unik untuk memakai bahasa itu dan menyimpannya dalam endapan pengetahuan dan pengalaman.
125
Dialog ini diadakan sebelum anak-anak Sekolah Minggu tersebut diajak untuk menggambar pengalaman hidup mereka berkenaan dengan ada Tuhan yang melindungi mereka. Jawaban-jawaban yang diberi italic
tersebut adalah jawaban bulat, spontan dan tegas yang diucapkan serempak oleh semua anak-anak yang ada dalam ruangan itu.
Sebagian dari anak-anak tersebut ada yang tidak bisa menceritakan dengan lancar, tapi mengekspresikannya dalam perilaku hiperaktif atau dalam kediaman mereka. Sekelompok anak-anak yang telah kembali ke kota Poso misalnya, memilih bermain perang-perangan sebagai mainan wajib setiap sorenya. Dalam permainan tersebut masing-masing menentukan dan atau bergiliran menjadi bagian dari pasukan yang mereka namakan dengan pasukan merah dan pasukan putih. Siapa yang menang sangat tergantung dari anak-anak yang beragama apa yang memainkannya. Apabila yang memainkannya anak-anak-anak-anak beragama Kristen maka yang harus menang adalah kelompok merah, sebaliknya apabila yang memainkan perang-perangan ini anak-anak yang beragama Islam maka yang harus menang adalah pasukan putih. Strategi perang menjadi seperti sungguh-sungguh dipikirkan, demikian halnya dengan bunyi tembakan, bom yang dikeluarkan melalui mulut anak-anak atau dengan menggunakan bunyi kaleng atau kayu.
Dalam setiap peristiwa kekerasan, anak-anak rentan dengan proses pembentukan mental mereka. Kekerasan mental pada anak, pertama-tama mengandaikan bahwa anak-anak yang belum matang secara mental dan sosial126 berhadapan dengan hancurnya institusi keluarga127. Hancurnya institusi keluarga ini sendiri adalah awal kekerasan terhadap anak karena berpengaruh pada hancurnya tatanan norma dan nilai yang membentuk karakter anak dalam lingkungan keluarga. Dalam situasi normal, anak-anak bercermin dari keluarga dan lingkungannya dan memiliki tuntunan dalam hal
126
Salah satu butir mengingat dari Mukadimah Konvensi Hak Anak menyebutkan “anak, karena ketidakmatangan fisik dan mentalnya, membutuhkan perlindungan dan perawatan khusus, termasuk perlindungan hukum yang layak sebelum dan sesudah kelahiran”
127 Konvensi Hak Anak menyebutkan dalam Mukadimah-nya bahwa Konvensi ini menyakini bahwa anak, demi pengembangan sepenuhnya dan keharmonisan dari kepribadiannya, harus tumbuh dalam lingkungan keluarga, dalam iklim kebahagiaan , cinta kasih dan pengertian; menimbang bahwa anak harus sepenuhnya dipersiapkan untuk menjalani kehidupan sebagai pribadi dalam masyarakat, dan dibesarkan dalam semangat dari cita-cita yang diproklamasikan dalam piagam PBB dan khususnya dalam semangat perdamaian, martabat, toleransi, kebebasan, kebersamaan dan solidaritas.
perilaku. Dalam situasi konflik, anak-anak bercermin dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Mereka mendengar suara tembakan dan bom, jeritan orang yang kesakitan; melihat rumahnya dan gedung-gedung dibakar, orang-orang yang membawa senjata, pedang, sangkur, melihat darah dan mayat-mayat terbengkalai, orang tua atau sanak keluarganya dibunuh, disiksa, atau dibantai; mengalami masa pengungsian ke hutan dan gunung, ikut lari kesana kemari tanpa mengerti apa yang terjadi selain bahwa mereka dikejar dan akan dibunuh oleh seseorang yang disebut musuh, dan sebagainya. Tidak ada lagi masa bagi anak-anak untuk bercanda, bermain dengan teman-teman seusianya. Anak-anak dipaksa untuk bersikap dewasa dan mencerna hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Ketidakmatangan anak berhadapan dengan keseluruhan pengalaman tersebut mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Dampak yang paling kelihatan dari terganggunya kesehatan mental anak dalam situasi konflik selain didiagnosis penyakit jiwa128, terlihat dari perilaku, dan ucapan – ucapan anak yang cenderung kasar dan mencelakakan orang lain. Sepintas perilaku seperti itu adalah wajar dan juga sering terjadi dalam kehidupan anak yang normal, tetapi latar belakang dan ide besar dibalik perilaku tersebut tidaklah sama. Seorang anak yang mengalami konflik bersenjata dan meneriakkan kata “tembak!!” atau “pengkhianat” atau “ saya bunuh kamu” mempunyai makna berbeda dengan seorang anak dalam kehidupan
128
Penelitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Palu menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa yang dialami anak-anak pengungsi di rumah sakit tersebut pada berumur 5-15 tahun sebanyak 54,1 % atau sebanyak 262 orang dari 290 anak-anak. Masalah Kesehatan Jiwa cukup menonjol di kalangan pengungsi akibat kerusuhan Poso yang berada di Kota Palu dan Kecamatan Parigi, baik yang dewasa maupun anak-anak dan orangtua, dengan dampak yang cukup besar terhadap kemampuan-nya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Menurut literature kesehatan jiwa, masalah kesehatan jiwa tersebut bila tidak ditangani secara baik akan berdampak terhadap angka kesakitan (fisik dan mental) yang meningkat (co-morbidity dan
chronic illness) dan usia harapan hidup yang rendah (premature death), serta meningkatkan masalah sosial dalam keluarga(family pathology).
normal meniru ucapan yang sama dari televisi yang pernah ditontonnya. Ucapan anak dalam konflik bersenjata melingkupi seluruh pengalaman, perasaan dan penglihatannya pada seluruh peristiwa yang pernah dilihatnya. Anak yang melihat dan memaknai peristiwa tersebut dengan caranya sendiri (dengan ketidakmungkinan pendampingan dari orang tua atau keluarga) melihatnya sebagai hal yang wajar dalam kehidupan normal. Perilaku memukul teman dimaknai hampir sama dengan apa yang dilihatnya saat seseorang memukul atau menyiksa keluarganya dalam perang. Anak-anak memaknai peristiwa yang dilihat, didengarkan, dialami sebagai sesuatu yang semestinya.
Kekerasan mental yang ditanggung anak tidak saja disebabkan saat konflik bersenjata berlangsung tetapi juga terjadi di pengungsian. Hancurnya institusi keluarga menyebabkan anggota keluarga yang masih hidup harus mengupayakan kehidupan selanjutnya dengan bekerja ekstra keras. Kesibukan orang tua (bisa keduanya, bisa juga salah satu diantaranya) di tempat kerja demi memenuhi kebutuhan hidup disertai gelombang emosi yang belum selesai akibat peristiwa konflik bersenjata menyebabkan anak-anak terabaikan. Selain itu, anak juga disuguhi ekspresi emosional orang tua dan keluarga dekatnya dalam tindakan dan ucapan-ucapan kasar dalam lingkungan pengungsian yang memang tidak ideal untuk pertumbuhan anak. Hal tersebut ‘melengkapi’ bagaimana anak-anak dalam konflik bersenjata dipaksa untuk bercermin pada kekerasan dan didorong untuk mengatasi sendiri masalah traumanya dalam usia yang sebenarnya belum matang, jika bukan terlalu dini untuk itu.
Sebagian anak menjadi lebih pendiam dan pemurung. A’se misalnya, tidak pernah mau bercerita masa-masa pengungsian, apa yang didengar, dilihat atau dirasakannya. Setiap kali ditanya oleh siapapun tentang peristiwa yang dialami di desanya, A’se hanya
menangis dan menangis. Meskipun sekarang sudah duduk di bangku SMU, A’se adalah salah satu contoh dari anak-anak yang memaknai seluruh pengalaman yang dirasakan maupun yang dilihatnya dalam diam. Kata yang keluar dari A’se ketika saya melakukan percakapan dengannya adalah “teman seumur saya yang laki-laki tidak ada lagi di desa ini”.
Hal yang sama dengan versi yang berbeda juga dialami oleh Dian, anak di Desa Pantangolembah. Ayah Dian disiksa dengan pukulan popor senapan dalam keadaan terikat oleh lebih dari lima orang bercadar, kemudian ditembak puluhan kali dan dibawa pergi. Semuanya dilakukan di depan mata Dian yang saat itu baru berumur dua tahun. Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, ibu Dian pergi entah kemana dan tidak kembali lagi. Saat ini Dian diasuh oleh neneknya. Setiap kali nenek Dian diwawancarai oleh siapapun, Dian selalu menangis tanpa suara di dalam kamarnya. Tanpa kata-kata. Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga keluarga Dian memutuskan untuk tidak menerima wawancara apapun bila ada Dian, dan bahkan memutuskan untuk tidak mengingat lagi peristiwa itu berulang-ulang karena tidak akan mengembalikan ayah Dian hidup kembali; malah sebaliknya akan menyakiti hati Dian. Sejak Dian berumur 6 tahun, tidak seorangpun dari keluarga yang menyinggung peristiwa itu lagi, dan memutuskan membuat cerita tentang ibunya yang pergi merantau untuk membiayai sekolahnya.
Terdapat ribuan anak yang tersebar di hampir seluruh Sulawesi yang mengalami peristiwa konflik Poso. Mengalami masa pengungsian, berjalan kaki menembus hutan berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk mencapai tempat yang menurut orangtua mereka aman, tanpa makan dan minum yang memadai. Sebagian diantaranya melihat orangtuanya
terbunuh, disiksa, kehilangan kakak atau adik, rumahnya dibakar. Banyak diantaranya yang jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Anak-anak tersebut bahkan sering tidak termasuk dalam daftar kerugian akibat konflik bersenjata. Mereka mengikuti seluruh kebijakan, keputusan yang dibuat oleh orang tua, keluarga dan komunitasnya bahkan oleh keputusan-keputusan pemerintah untuk penanganan konflik dalam kebungkamannya. Anak-anak ini mungkin bukan yang terlalu penting dalam perhitungan sejarah tentang siapa yang memutuskan untuk menyerang atau bertahan, mendialogkan perdamaian. Anak-anak ini mengalami keberkorbanan di luar kesanggupan mereka, dan terus menjadi korban dalam ke’bungkam’an, ke’diam’an mereka. Keberkorbanan yang hampir tidak dibicarakan dalam sejarah tentang konflik Poso, pelaku konflik Poso atau para tokoh-tokoh perdamaian konflik Poso. Keberkorbanan yang tak berteman.