BAB II TINJAUAN TEORITIS
B. Minat Belajar Alquran Anak Usia Dini
2. Anak Usia Dini
Anak membutuhkan kebahagiaan dan kasih sayang dalam keluarga, perlindungan dari ayahnya, serta kelembutan hati dari ibunya maka pendidikan pun seharusnya diberikan sejak dini. Hal ini karena anak usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan perlu mendapat penanganan sedini mungkin. Definisi anak usia dini menurut National Association For the Education Young Children (NAEYC) menyatakan bahwa anak usia dini merupakan anak yang berada pada usia nol sampai delapan tahun. Pada masa tersebut merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek dalam rentang kehidupan manusia. Proses pembelajaran terhadap anak harus memerhatikan karakteristik yang dimiliki dalam tahap perkembangan anak.
Menurut Bacharuddin Mustafa dalam Ahmad Susanto, anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia satu hingga lima tahun.
Pengertian ini didasarkan pada psikologi perkembangan yang meliputi bayi (infancy atau babyhood) berusai 0-1 tahun, usia dini (early childhood) berusia 1-5 tahu, masa kanak-kanak akhir (latechidhood) berusia 6-12 tahun. 25
25 Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), h. 1
Berbeda halnya Subdirektorat Pendidikan Anak Usia Dini (PADU) yang membatasi istilah pengertian udia dini pada anak usia 0-6 tahun , yakni hingga anak menyelesaikan masa taman kkanak. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak yang masih dalam pengasuhan orang tua, anak-anak-anak-anak yang berada pada Taman Penitipan Anak (TPA), kelompok bermain (play group), dan Taman Kanak-kanak (TK) merupakan cakupan tersebut.
Bredakamp ahli pendidikan anak usia dini dalam Masganti Sit, membagi kelompok anak usia dini menjadi tiga bagian, yaitu kelompok usia bayi hingga dua tahun, kelompok usia tiga hingga lima tahun, dan kelompok empat hingga delapan tahun. Pembagian kelompok tersebut dapat mempengaruhi kebijakan penerapan kurikulum dalam pendidikan dan pengasuhan anak.26
Setiap anak memiliki sifat yang unik dan terlahir dengan potensi yang berbeda-beda dengan memiliki kelebihan bakat, dan minat sendiri-sendiri.
Misalnya, ada anak berbakat menyanyi, ada pula yang berbakat menari, bermusik, bahasa, dan olahraga. Anak usia dini mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Pertumbuhan dan perkembangan dimulai sejak prenatal, yaitu sejak dalam kandungan.
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003).27 Anak Usia dini oleh Beeker dalam Sumantri, dikelompokkan pada anak yang berusia antara 3-6 tahun, anak usia tersebut biasanya mengikuti program pendidikan dini atau kindergarten. Anak
26 Masganti Sit, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, (Medan: Perdana Publishing, 2015), h. 5
27 Departemen Pendidikan Nasional, Undang-undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) UU RI No. 20 Tahun 2003 dan Undang-undang Guru dan Dosen UU RI Nomor 14 Tahun 2005, (Jakarta, 2007)
usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.28 Sedangkan hakikat anak usia dini adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosioemosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Rentang usia tersebut merupakan masa memupuk pendidikan anak usia dini atau PAUD. Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1 Butir 14 UU No. 20 Tahun 2003, PAUD itu sendiri merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujuk kepada anak sejak lahir sampai sampai dengan enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.29
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental sehingga tepat untuk mengenalkkan sesuatu yang bersifat mendidik seperti membina anak dalam mempelajari Alquran.
a. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini
Anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau masa emas. Karena masa ini merupakan fase yang terbilang hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Pertumbuhan atau growth adalah perubahan dimana terjadi peningkatan pada jumlah dan ukuran sel-sel tubuh, Sedangkan perkembangan
28 Sumantri, Model Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini, (Jakarta:
Depdiknas, 2005), h. 11
29 Isjoni, Model Pembelajaran Anak Usia Dini (PAUD) (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 2
atau development adalah perubahan yang terjadi secara bertahap yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas, kemampuan, kompleksitas, serta kedewasaan individu.30 Pasalnya Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama merujuk pada perubahan seorang individu. Contoh perkembangan pada anak usia dini, yakni perkembangan bahasa dan pola pikir anak dari tidak tahu menjadi tahu.
Pertumbuhan dan perkembangan anak haruslah terus dipantau untuk memastikan prosesnya berjalan dengan baik. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak pada fase Golden Age akan lebih mudah mengingat dan menangkap apa diberikannya. Pada tahap pengenalan sesuatu yang bersifat mendidik, disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan yakni mengenali secara langsung bagaimana tumbuh kembang anak serta cara menangkapan atau memahaminnya dengan melatih potensi anak yang dimiliki baik itu menulis maupun membaca dan sebagainya. Menulis dan membaca bersama dengan kemampuan berbicara, berfikir, emosi, dan sosial , dan motorik merupakan aspek perkembangan yang anak-anak bisa kuasai dengan bermain-main dengan material di lingkungan mereka.31
Berkembangnya agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi dalam kandungan, tepatnya ketika terjadi perjanjian atas manusia dengan Tuhannya. Seperti dalam firman Allah Swt QS. Al-A’raaf (7) ayat 172:
30 Andin Sefrina, Deteksi Minat Bakat Anak (Jogjakarta: Media Pressindo, 2003), h. 8
31 Janice J.Beaty, Observasi Perkembangan Anak Usia Dini (Jakarta: Pernada Media Grub, 2013), h. 350
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."32
Menanamkan nilai-nilai agama pada anak usia dini merupakan langkah awal menumbuhkan sifat, sikap, dan perilaku keberagaman seorang pada masa perkembangan berikutnya. Pada masa anak, karakter dibentuk baik yang bersumber dari fungsi otak, omosional, maupun religiusnya.
Berkualitas atau tidaknya seseorang di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh proses pengasuhan, bimbingan, dan pendidikan yang diterimanya pada masa kanak-kanak.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan adalah fase yang dialami setiap orang dengan berbeda.
Pertumbuhan mengacu pada sifat kuantitatif seseorang. Sedangkan perkembangan lebih mengacu pada kemampuan seseorang atau bersifat kualitatif. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sangat berperang penting terhadap peningkatan potensi anak usia dini itu sendiri.
32 Op.Cit, h. 173
b. Kecerdasan Spiritual Anak Usia Dini
Anak-anak meski belum dapat memahami hal-hal yang abstrak , namun kecerdasan ini sudah mulai dapat dipupuk dengan proses pembelajaran spiritual. Kecerdasan spiritual juga berkaitan dengan perkembangan pemikiran, moral, serta emosional. Semakin kompleks tingkat perkembangannya maka kecerdasan spiritualnya pun akan semakin berkembang.
Cara mengembangkan kecerdasan spiritual anak usia dini yakni:
1) Melibatkan anak dalam kegiatan atau acara keagamaan,
2) Mengajarkan konsep-konsep sederhan mengenai hidup dan mati, 3) Melibatkan anak dalam kegiatan amal dan sosial,
4) Perkenalkan berbagai jenis profesi yang dijalani oleh orang-orang sekitarnya,
5) Ajakan suatu kejadian yang menimppa anak dalam berbagai sudut pandang.
Menanamkan sifat spiritual kepada anak sejak usia dini merupakan suatu perkara yang memang harus dilakukan oleh orang tua, dalam hal ini orang tua bertindak untuk mengarahkan anak dalam dalam proses mendidik.
Inovatif, dan kreatif mengatakan bahwa mendidik tidak hanya memberikan atau mentransfer pengetahuan, melainkan mencakup semua proses menerima pengetahuan, mengolahnya, menganalisisnya, mendiskusikannya, dan mengatakannya kembali. Karena seperti yang diketahui tingkat kebosanan
seorang anak usia dini jauh lebih tinggi dalam fase pertumbuhannya karena pada umumnya mereka masih mau bermain.33
Berdasarkan penjelasan diatas makan penulis menyimpulkan bahwa, anak usia dini merupakan masa emas (golden age), karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang.