BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Anak Usia Sekolah Dasar
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 1 ayat 1, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (KEMENKES RI, 2014).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 66 Tahun 2010, sekolah (2,2)
(KEMENKUMHAM, 2010). Sekolah dasar pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan enam tahun bagi anak-anak usia 6-12 tahun (Suharjo, 2006).
Masa usia sekolah dasar dapat terbagi menjadi 2 fase, yaitu (Djamarah, 2011) : a. Masa kelas rendah sekolah dasar (usia 6 tahun sampai usia sekitar 8 tahun).
Pada usia ini dikategorikan mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 3.
b. Masa kelas tinggi sekolah dasar (usia 9 tahun sampai usia 12 tahun). Pada usia ini dikategorikan mulai dari kelas 4 sampai dengan kelas 6.
2.4 HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP PRESTASI ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Kejadian obesitas yang ditandai dengan nilai indeks massa tubuh yang tinggi pada anak usia sekolah dasar memberikan efek tidak langsung terhadap penurunan fungsi kognitif yang diduga sebagai dampak dari penyakit yang diderita oleh anak dengan obesitas seperti diabetes, gangguan tidur berupa Obstructive Sleep Apnea (OSAS), dan masalah respirasi, selain dari akibat masalah psikososial (rendah diri, mengisolasi diri, dan depresi) (Hartini, 2014).
Pada anak kekurangan gizi yang ditandai dengan nilai indeks massa tubuh yang rendah, terjadi perubahan pada metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak. Keadaan kurangnya asupan nutrisi pada anak seperti kekurangan energi protein akan berefek pada fungsi hippocampus dan korteks dalam membentuk dan menyimpan memori (Ijarotimi dan Ijadunola, 2007). Gizi buruk yang dialami anak juga memengaruhi sistem imun sehingga anak lebih mudah menderita penyakit infeksi. Keadaan ini akan memengaruhi kehadiran anak di sekolah sehingga anak cenderung tertinggal dalam proses pembelajaran sehingga memengaruhi hasil belajar (Sorhaindo dan Feinstein, 2006).
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hubungan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar anak usia sekolah dasar masih bersifat
bahwa, terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia (p = 0,019) dan IPA (p = 0,029) yang bermakna secara statistik. Tetapi, pada penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi dan Faizah (2008) tidak didapatkan adanya hubungan IMT (obese dan non-obese) dengan prestasi belajar (p = 0,264).
2.5 KERANGKA TEORI
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :
Gambar 2.5 Kerangka teori
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Underweight
Normal
Overweight
Obesitas
Prestasi Belajar Keluarga
Sekolah
Masyarakat
Sosioekonomi
Kesehatan Psikologis Kelelahan
Faktor Internal
Faktor Eksternal
2.6 KERANGKA KONSEP
Gambar 2.6 Kerangka konsep.
2.7 HIPOTESIS
Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar.
Indeks Massa Tubuh
(IMT) Prestasi Belajar
Variabel Independen Variabel Dependen
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross-sectional (studi potong lintang). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara indeks massa tubuh terhadap prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan April 2018 – Desember 2018.
Sementara pengambilan data dilakukan mulai dari bulan Agustus 2018 – Desember 2018 di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul ‘Azizi
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah murid aktif kelas 2-6 SD berusia 7-11 tahun di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul ‘Azizi dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian yang diambil merupakan subjek dari populasi yang dipilih dan telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah secara proportional stratified random samping, yaitu:
menentukan besar sampel yang akan diambil, ditentukan alat pemilihan sampel (absensi kelas), dan dipilih sampel secara acak pada setiap tingkatan kelas sampai
a. Aktif bersekolah di sekolah dasar tersebut;
b. Merupakan siswa kelas 2-6 SD berusia 7-11 tahun;
c. Datang pada saat pengukuran berat badan dan tinggi badan;
d. Mengisi data pada kuesioner identitas;
e. Memiliki data nilai rapor tahun ajaran 2017/2018.
2. Kriteria eksklusi
a. Tidak mempunyai data rapor.
Pada penelitian ini, besar sampel dihitung berdasarkan metode penelitian yang dipakai yaitu analitik korelatif. Maka rumus yang dipakai adalah:
n = [0,5 ln[ (1+𝑟 )/ (1−𝑟) ](𝑍⍺+𝑍𝛽) ]2 + 3 Keterangan :
Z⍺ = Nilai Z untuk kesalahan tipe I [ditetapkan 5%]
Zβ = Nilai Z untuk kesalahan tipe II [ditetapkan 10%]
r = koefisien korelasi [berdasarkan jurnal terkait]
Sampel minimum = [ (1,96+1,282)
0,5 ln[ (1+0,5 )/ (1−0,5) ]] + 3 Sampel minimum = [0,5 ln[3 ](3,242)] + 3
Sampel minimum =[(3,242)0,549 ] + 3
Sampel minimum = 37,833 = 38 sampel Keterangan :
Z⍺ = 1,96 Zβ = 1,282
r = 0,5 (Momongan et al., 2016)
Berdasarkan perhitungan diatas, total besar sampel yang diperlukan untuk penelitian ini adalah sebanyak 38 sampel.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa identitas, tinggi badan, dan berat badan serta data sekunder yang digunakan berupa
2
2 2
(3,1)
ketepatan dan kelengkapan data; (2) coding, data yang telah terkumpul dikoreksi, kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer; (3) entry, data tersebut dimasukkan ke dalam program komputer; (4) cleaning data, pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data; (5) saving, penyimpanan data untuk siap dianalisis; dan (6) analisa data.
3.5 DEFINISI OPERASIONAL 3.5.1 Indeks Massa Tubuh
a. Definisi Operasional : Indikator sederhana status gizi seseorang dengan menggunakan perbandingan berat badan dan tinggi badan berdasarkan Indeks Quatelet.
b. Alat ukur : Timbangan berat badan dan microtoise c. Cara ukur : Observasi dan perhitungan rumus IMT
diinterpretasikan dengan kurva pertumbuhan anak
CDC 2000
d. Hasil pengukuran :
< persentil ke-5 = Underweight
Persentil ke-5 < IMT < persentil ke-85 = Normal Persentil ke-85 < IMT < persentil ke-95 = Overweight
≥ Persentil ke-95 = Obese
e. Skala pengukuran : Ordinal
3.5.2 Prestasi belajar
a. Definisi Operasional : Hasil atau taraf siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan, dan
Rata-rata nilai rapor < 2,67 (B-) = Rendah
1. Menentukan umur anak
2. Memakai grafik CDC 2000 sesuai usia dan jenis kelaminnya
3. Melihat sumbu vertikal dan sesuaikan usia dan tinggi badan yang diukur dan diberi tanda silang
4. Kemudian menarik garis putus-putus horizontal ke kanan atau ke kiri menuju garis persentil 50 pada grafik tinggi badan dan diberi tanda titik 5. Dari tanda titik pada garis persentil 50 grafik tinggi lanjutkan garis
putus-putus vertikal ke bawah menuju garis persentil 50 pada grafik berat badan dan diberi tanda titik
6. Kemudian dari tanda titik dari garis persentil 50 grafik berat badan lanjutkkan penarikan garis putus-putus secara horizontal ke kanan atau ke kiri menuju sumbu vertikal bawah berat badan dan beri tanda silang 7. Baca skala berat badan seharusnya pada sumbu vertikal bawah berat badan 8. Tentukan median BB/U dalam persentil dengan rumus BB sekarang/ BB
ideal x 100% dan hasil diinterpretasikan
d. Hasil pengukuran : > 120% = Obesitas
3.5.4 Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
a. Definisi Operasional : Indikator sederhana status gizi seorang anak dengan menggunakan tinggi badan dan usia anak.
b. Alat ukur : Microtoise c. Cara ukur :
1. Menentukan umur anak
2. Memakai grafik CDC 2000 sesuai usia dan jenis kelaminnya
3. Melihat sumbu vertikal dan sesuaikan usia dan tinggi badan yang diukur dan diberi tanda silang
4. Interpretasikan hasil
Data yang didapatkan dalam penelitian akan diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistical Product and Service Solution) dan disajikan dalam bentuk tabel dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar.
Analisa data yang dimaksud adalah analisa bivariat. Analisa bivariat digunakan untuk menyatakan analisis terhadap dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Pada penelitian analisa bivariat ini, uji yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. Bivariat yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:
1. Variabel dependen yang dimaksud adalah prestasi belajar (rata-rata nilai rapor/angka).
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Azizi Medan.
Sekolah ini memiliki jenjang dari tingkat TK sampai SMA. Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Azizi Medan terletak di Jalan Suka Elok No. 10, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Azizi Medan kelas 2-6 SD yang berusia 7-11 tahun. Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 56 orang yang dipilih dengan metode proportional stratified random sampling dan seluruhnya memenuhi kriteria inklusi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung oleh peneliti dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil pengukuran berat badan dengan timbangan digital, tinggi badan dengan microtoise, sedangkan data sekunder berupa prestasi belajar didapatkan dari nilai rata-rata rapor.
Karakteristik sampel penelitian dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, tinggi badan, tinggi badan menurut umur, berat badan, berat badan menurut umur, indeks massa tubuh, dan prestasi belajar. Berikut ini merupakan tabel karakteristik sampel penelitian;
Tabel 4.1 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 4.1, dapat disimpulkan bahwa jumlah sampel perempuan lebih banyak daripada jumlah sampel laki-laki. Karakteristik sampel secara keseluruhan didapatkan jumlah sampel perempuan sebanyak 29 orang (51,8%) dan jumlah sampel laki-laki sebanyak 27 orang (48,2%).
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-laki 27 48,2
Perempuan 29 51,8
Total 56 100,0
Tabel 4.2 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Tinggi Badan
Berdasarkan tabel 4.2, dapat dilihat bahwa mayoritas sampel memiliki tinggi badan (127 – 132) cm, yaitu sejumlah 14 orang (25%). Sedangkan minoritas sampel memiliki tinggi badan (145-150) cm dan (151-156) cm sejumlah 6 orang.
Tabel 4.3 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Tinggi Badan Menurut Umur
Berdasarkan pengukuran terhadap status gizi anak berdasarkan indeks TB/U (tabel 4.3), didapatkan anak dengan status gizi normal dan tinggi masing-masing sebanyak 49 orang (87,5%) dan 1 orang (1,8%). Sementara anak dengan status gizi stunting (pendek) sebanyak 6 orang (10,7%).
Tabel 4.4 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Berat Badan
Tinggi Badan Jumlah Persentase
(115 – 120) cm 1 1,8
Tinggi Badan Menurut Umur Jumlah Persentase
Pendek 6 10,7
Normal 49 87,5
Tinggi 1 1,8
Total 56 100,0
Berat Badan Jumlah Persentase
(20,0 – 26,7) kg 14 25
Tabel 4.5 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Berat Badan Menurut Umur
Berdasarkan pengukuran terhadap status gizi anak berdasarkan indeks BB/U (Tabel 4.5), didapatkan anak dengan status gizi baik sebanyak 25 orang (44,6%).
Sementara anak dengan status gizi buruk dan status gizi kurang masing-masing sebanyak 1 orang (1,8%). Terdapat anak dengan status gizi obesitas sebanyak 9 orang (16,1%).
Tabel 4.6 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
Berdasarkan pengukuran terhadap status gizi anak berdasarkan indeks IMT/U (tabel 4.6), didapatkan sebagian besar anak memiliki status gizi normal (71,4%), 4 orang anak dengan status gizi underweight (7,1%), 6 orang anak dengan status gizi overweight (10,7%), dan 6 orang anak dengan status gizi obese (10,7%).
Tabel 4.7 Data Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Prestasi Belajar
Berdasarkan tabel 4.7, didapatkan mayoritas anak mempunyai nilai rerata rapor yang berada pada kategori tinggi berjumlah 55 orang (98,2%) dan hanya 1 orang anak dengan nilai rerata rapor yang berada pada kategori rendah (1,8%).
Berat Badan Menurut Umur Jumlah Persentase
Gizi Buruk 1 1,8
Indeks Massa Tubuh Jumlah Persentase
Underweight 4 7,1
Normal 40 71,4
Overweight 6 10,7
Obese 6 10,7
Total 56 100,0
Prestasi Belajar Jumlah Persentase
Rendah 1 1,8
Tinggi 55 98,2
Total 56 100,0
Berdasarkan tabel 4.8, proporsi sampel terbanyak dengan indeks massa tubuh yang dikategorikan underweight adalah sama untuk laki-laki (50%) dan perempuan (50%), sedangkan proporsi IMT kategori normal lebih banyak dijumpai pada perempuan yaitu sebanyak 23 orang (57,5%) dan proporsi IMT untuk kategori overweight dan obese lebih banyak dijumpai pada laki-laki masing-masing sebanyak 4 orang (66,7%).
Tabel 4.9 Hubungan TB, BB, dan indeks massa tubuh dengan prestasi belajar.
Kategori Prestasi Belajar
Underweight Normal Overweight Obese
n % n % n % n %
Untuk hubungan indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar didapatkan bahwa seluruh anak memiliki prestasi belajar tinggi untuk kategori IMT underweight, normal, dan overweight. Sedangkan untuk kategori IMT obese, terdapat 1 orang anak dengan prestasi belajar rendah (16,7%) dan 5 orang anak dengan prestasi belajar tinggi (83,3%).
Uji Spearman dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar. Berdasarkan uji tersebut didapatkan nilai p = 0,051, maka H0 diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maleke et al tahun 2015 di salah satu sekolah dasar di Modoinding dengan sampel sebanyak 114 orang anak yang menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar di sekolah tersebut (p = 0,792). Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi dan Faizah (2008) di Semarang yang tidak mendapatkan adanya hubungan IMT (obese dan non-obese) dengan prestasi belajar (p = 0,264). Selain itu, dalam penelitian Huang et al tahun 2006 juga disebutkan bahwa obesitas tidak berhubungan dengan prestasi belajar dalam sampel anak dengan variasi suku yakni Latin dan Asia-Amerika pada penelitian mereka.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Naticchioni pada tahun 2013 di London dan Ijarotimi di Nigeria tahun 2007 yang menemukan bahwa, pada anak yang mengalami kekurangan gizi atau obesitas akan terjadi perubahan pada metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak.
Kurangnya asupan nutrisi pada anak akan berefek dalam membentuk dan menyimpan memori. Status gizi kurang menyebabkan kognitif dan perkembangan IQ terhambat serta kemampuan belajar terganggu yang selajutnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Sedangkan, obesitas dapat menghambat aliran darah ke otak yang dikarenakan adanya deposit lemak, sehingga otak mengalami kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen akan menimbulkan gangguan belajar dalam waktu yang lama akan menimbulkan gangguan pada prestasi belajar. Obesitas atau
Syatyawati pada tahun 2013 di salah satu sekolah dasar di kabupaten Kebumen juga mendukung adanya hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dan prestasi belajar anak usia sekolah dasar.
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa obesitas dapat berkontribusi terhadap munculnya penyakit lain, yang juga dapat mempengaruhi prestasi belajar.
Misalnya, peningkatan prevalensi obesitas sejalan dengan kejadian sindroma metabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes yang juga terkait dengan gangguan kognitif pada orang dewasa. Beberapa peneliti percaya bahwa hal yang sama terjadi pada remaja. Remaja diuji berdasarkan kriteria yang berbeda, termasuk fungsi intelektual dan prestasi akademik, fungsi memori, fungsi eksekutif, dan perhatian serta efisiensi psikomotorik. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Yau et al (2012), remaja dengan sindroma metabolik mendapat skor lebih rendah daripada teman mereka yang tidak menderita sindroma metabolik di semua area pelajaran. Anak-anak dengan komponen sindroma metabolik (misalnya: anak-anak yang mengalami obesitas) mendapat skor yang lebih rendah dalam intelligence quotient (IQ), membaca, mengeja dan berhitung. Anak-anak yang mengalami obesitas dalam sampel penelitian Yau et al (2012) juga menunjukkan rentang perhatian yang lebih pendek dan penurunan fleksibilitas mental serta cenderung memiliki fungsi intelektual yang lebih rendah, hal ini dapat memberikan tantangan untuk pembelajaran anak-anak.
Selain prestasi belajar, penelitian telah menunjukkan hubungan antara status gizi dengan keterampilan sosial, emosional, dan keyakinan. Misalnya, anak perempuan yang kelebihan berat badan atau obesitas tidak hanya secara signifikan lebih cenderung mendapat skor lebih rendah pada tes matematika dan membaca, tetapi mereka juga memiliki masalah terkait dengan perilaku sosial dan emosional (Datar & Sturm, 2006). Remaja yang obesitas juga menghadapi konsekuensi sosial selain dari sisi akademis. Perilaku sosial dan emosionalnya berkontribusi pada cara
Sejumlah penelitian di Amerika Latin, Afrika, dan AS melaporkan bahwa pada tes kecerdasan, anak-anak dengan riwayat malnutrisi memperoleh skor lebih rendah daripada anak-anak dengan status sosial dan ekonomi yang sama yang mempunyai status gizi baik (Fanzo, 2012). Malnutrisi meningkatkan risiko terkena penyakit, kerusakan otak, keterlambatan pertumbuhan fisik, keterlambatan pengembangan keterampilan motorik dan keterlambatan perkembangan intelektual. Malnutrisi mempengaruhi perkembangan intelektual dengan mengganggu kesehatan secara keseluruhan serta tingkat energi anak, laju perkembangan motorik dan laju pertumbuhan.
Perbedaan hasil penelitian ini mungkin disebabkan karena perbedaan populasi tempat peneliti melakukan penelitian dan besarnya populasi yang diteliti. Selain itu, penilaian status gizi tidak hanya dapat ditentukan dengan antropometri tapi juga dapat dinilai berdasarkan uji laboratorium (Sa’adah, 2014).
Tidak adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan prestasi belajar menunjukkan bahwa status gizi yang mengarah kepada indikator IMT bukan faktor yang terlalu memengaruhi prestasi belajar. Terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi prestasi belajar yang tidak diteliti seperti keluarga, psikologis, kepribadian siswa, interaksi siswa, kesehatan, motivasi belajar, dan faktor belajar yaitu faktor les tambahan dan sistem proses belajar mengajar sekolah yang tidak akan membiarkan siswanya tidak mencapai target kelulusan dalam prestasi belajar atau karena sosioekonomi keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan anaknya seperti mencarikan tempat kursus bagi anaknya untuk meningkatkan prestasi belajar (Surbakti, 2018).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan mengenai hubungan antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar, sebagai berikut:
a. Pada penelitian ini, sebagian besar anak memiliki status gizi normal (71,4%), diikuti dengan obesitas (10,7%), overweight (10,7%), dan underweight (7,1%).
b. Hampir seluruh anak di sekolah tersebut mempunyai prestasi belajar tinggi (98,2%) dan terdapat 1 orang anak dengan prestasi belajar rendah (1,8%).
c. Dari hasil analisis korelasi berdasarkan uji Spearman, didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara indeks massa tubuh dengan prestasi belajar pada anak usia sekolah dasar (p = 0,051).
d. Berdasarkan nilai p, maka hipotesis nol (H0) diterima.
5.2 SARAN
Dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Pihak sekolah dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai kajian dalam memberikan wawasan atau edukasi kepada siswa mengenai keadaan para siswa terkait dengan status gizi mereka dan hubungannya dengan prestasi belajar. Para guru disarankan untuk dapat memberikan penyuluhan atau memasukkan materi tambahan untuk pembelajaran di sekolah terkait status gizi siswa dan mempertahankan serta meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar.
2. Memberi pemahaman kepada orang tua akan pentingnya gizi yang seimbang untuk anak dan menyarankan agar para orang tua memperhatikan status gizi anak
DAFTAR PUSTAKA
Abramowitz, M. 2004, Diseases and Disorder: Obesity, Lucent Books, USA, pp.
44.
Agustini, C.C., Malonda, N.S.H. & Purba, R.B. 2013, ‘Hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar anak kelas 4 dan 5 sekolah dasar di kelurahan maasing kecamatan tuminting kota manado’, accessed 27 Maret 2018, Available at: http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/creisye-cynthia-agustini.pdf
Amany, T. & Sekartini, R. 2017, ‘Association between Nutritional Status and Academic Performance among students at SDN 03 Pondok Cina Depok 2015’, Sari Pediatri, vol. 18, no. 6, pp. 487-491.
Arikunto. 2006, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Rineka Cipta, Jakarta.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2000, Boys Body Mass Index-for-age percentiles [Internet], accessed 15 April 2018, Available at:
https://www.cdc.gov/growthcharts/data/set1clinical/cj41l023.pdf
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2000, Girls Body Mass Index-for-age percentiles [Internet], accessed 15 April 2018, Available at:
https://www.cdc.gov/growthcharts/data/set1clinical/cj41l024.pdf
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2015, About Child & Teen BMI [Internet], accessed 27 Maret 2018, Available at:
achievement [Internet], accessed 15 April 2018, Available at:
https://www.cdc.gov/healthyyouth/health_and_academics/pdf/health-academic-achievement.pdf
Crosnoe, R. & Muller, C. 2004, ‘Body mass index, academic achievement, and school context: Examining the education experiences of adolescents at risk of obesity’, Journal of Health and Social Behavior, vol. 45, pp. 393-407.
Dahlan, M.S. 2016, Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Epidemiologi Indonesia, Jakarta.
Datar, A. & Sturn, R. 2006, ‘Childhood overweight and elementary school outcomes’, International Journal of Obesity, vol. 30, pp. 1449-1460.
Departemen Pendidikan Nasional. 2016, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 4th edn, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, pp. 1101.
Djamarah, S.B. 2011, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 124-125.
Fanzo, J. 2012, ‘The nutrition challenge in Sub-Saharan Africa’, Human Development Report: UNDP
Global Nutrition Report (GNR). 2017, Nourishing the SDGs, Development Initiatives Poverty Research, United Kingdom.
Hidayati, R.N. 2012, ‘Hubungan asupan makanan anak dan status ekonomi keluarga dengan status gizi anak usia sekolah di kelurahan tugu kecamatan cimanggis kota depok’, Jurnal Penelitian Kesehatan, vol. 7 , pp. 1-7.
Hill, J.O. 2006, Etiology in Modern Nutrition in Health and Disease, 10th edn, Lippincott Williams & Wilkins, USA.
Huang, T.T., Goran, M.I. & Spruijt-Metz, D. 2006, ‘Associations of adiposity with measured and self-reported academic performance in early adolescence’, Obesity (Silver Spring), vol. 14, pp. 1839-1845.
Ijarotimi, O.S. & Ijadunolo, K.T. 2007, ‘Evaluation of energy and micronutrients intake with learning achievement at Nigerian’, Journal of Nutrition, vol.
3, no. 4, pp. 250-253.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2015, Growth Chart [Internet], accessed 15 April 2018, Available at : http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2015, Kurva Pertumbuhan CDC-2000 Lengkap [Internet], accessed 15 April 2018, Available at : http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/cdc-modified-21-april-2001
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2015, Kurva Pertumbuhan WHO [Internet], accessed 15 April 2018, Available at : http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/kurva-pertumbuhan-who
Kantachuvessiri, A., Sirivichayakul, C., KaewKungwal, J., Tungtrongchitr, R. &
Lotrakul, M. 2005, ‘Factors associated with obesity among workers in a metropolitan waterworks authority’, Southeast Asian J Trop Med Public Health, vol. 36, no. 4, pp. 1057-1065.
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. 2010, ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan’ [Internet], accessed 23 April 2018, Available at: http://peraturan.go.id/pp/nomor-66-tahun-2010-11e44c4f499e9d40a776313232303134.html
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014, ‘Kondisi Pencapaian Program Kesehatan Anak Indonesia’ [Internet], accessed 25 April 2018, Available at: http://www.depkes.go.id/article/view/15021800001/kondisi-pencapaian-program-kesehatan-anak-indonesia.html
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017, ‘Bayi Gendut, Lucu tapi belum Tentu Sehat’, DEPKES, [Internet], accessed 27 Maret 2018, Available at: