• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KAIN

F. Analis Data

Pengertian analisis disini dimaksudkan sebagai suatu penafsiran atau penginterprestasian secara logis, sistematis dan konsisten yang dilakukan penelaahan terhadap data secara rinci dan mendalam. Terhadap data yang sudah berhasil dikumpulkan dalam penelitian, baik yang berupa data primer maupun data sekunder dengan dianalisis menggunakan analisis kualitatif untuk menginterpretasikan data pustaka dan data wawancara dengan narasumber yang berkaitan dengan penelitian tentang IG. Hasil dari analisis kualitatif diuraikan secara deskriptif.

V. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendaftaran IG, tidak saja memberi pengakuan dan perlindungan hukum terhadap kepemilikan hak eksklusif, tetapi di sisi lain memberikan jaminan bahwa semua produk barang yang telah dilindungi dengan IG atau tanda asal barang, lebih dipercaya konsumen baik di tingkat lokal maupun di tingkat perdagangan internasional. Perlindungan IG dapat memacu perekonomian masyarakat, melestarikan sumber hayati, melindungi pengetahuan tradisional masyarakat, dan pengembangan pariwisata. Perlindungan Hukum terhadap kerajinan kain Maduaro sebagai potensi IG di Kabupaten Tulang Bawang maupun Provinsi Lampung belum dilakukan secara optimal. Hal ini didasarkan dengan belum adanya aturan atau Peraturan Daerah (Perda) terkait dengan kerajinan kain Maduaro, sedangkan untuk mendapatkan sertifikat IG haruslah melalui proses pendaftaran sehingga mendapatkan perlindungan hukum.

2. Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Daerah dan masyarakat Tulang Bawang dalam melindungi Kain Maduaro sebagai potensi IG adalah (a)

mendaftarkan IG tersebut ke Direktorat Merek, Direktorat Jenderal HKI, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, (b) menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang produk-produk yang masuk dalam kategori IG daerah tersebut, (c) wariskan kemampuan/pengetahuan berbasis IG ini hanya pada anggota masyarakat yang masih berdomisili di daerah tersebut, (d) jaga kelestarian alam dan lingkungan yang mempengaruhi keberlanjutan ciri maupun kualitas kekhasan tersebut, (e) bentuk kelembagaan yang diyakini mampu mengawasi kualitas dari ciri atau kekhasan tersebut, (f) pertahankan sedemikian rupa agar kekhasan tersebut tidak pudar/berkurang dengan membuat standar tertentu (mutu, corak, keharuman, dll), (g) buat perjanjian agar percetakan cap, label atau sertifikat tidak membuat lebih, atau menjual

“tanda” tersebut hanya kepada pemegang hak IG, (h) buat jaringan pemasaran

khusus, selain membangun “citra”, juga menjadi pengawas dari kemungkinan

pembajakan produk/barang, (i) adopsi teknologi kemasan modern agar ciri

maupun kualitas kekhasan yang ber”tanda” tersebut mempunyai life cycle

yang lebih baik/panjang, dan (j) beri sentuhan tertentu agar produk semakin menarik, namun jangan menghilangkan ciri maupun kekhasannya.

B. Saran

1. Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang dalam rangka menggali manfaat dari nilai ekonomis hak IG kerajinan kain Maduaro hendaknya membentuk lembaga yang mewakili masyarakat pengrajin kerajinan kain Maduaro sebagai pemegang hak IG kerajinan kain Maduaro. Untuk keperluan itu, Kepala Daerah Kabupaten Tulang Bawang perlu

mengeluarkan keputusan pembentukan lembaga dimaksud. Kebijakan lanjutan berkaitan dengan pembentukan lembaga pemegang hak IG kerajinan kain Maduaro, dalam bentuk memfasilitasi pendaftaran IG yang dapat dilaksanakan ke instansi yang terkait, yaitu Direktorat Jenderal HKI dengan memperhatikan sistem pendaftaran IG yaitu first to file/sistem konstitutif. 2. Perda yang harus disusun untuk menjamin rasa keadilan semua pihak terkait

dalam pemanfaatan hak ekonomi IG kerajinan kain Maduaro adalah Perda mengenai Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah Kabupaten dan Desa. Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Tulang Bawang wajib berperan aktif untuk menginventarisasi produk potensi IG yang ada di wilayah Tulang Bawang sehingga Pemerintah Daerah dan masyarakat dapat mengetahui barang-barang atau benda-benda apa saja yang dapat di daftarkan sebagai IG dan/atau rezim HKI yang lainnya.

A. Literatur

Ayu, Miranda Risang. 2006. Membicarakan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis, Bandung : Alumni.

Bintang, Sanusi dan Dahlan, 2000. Pokok-Pokok Hukum Ekonomi dan Bisnis, Bandung : PT. Citra Aditya Bhakti.

Hilman, H. dan Romadoni, A. 2001. Pengelolaan dan Perlindungan Aset Kekayaan Intelektual, The British Council- DFID-ITB, Jakarta.

Indrati.S., Maria Farida,. 2007. Ilmu Perundang-Undangan (1) (Jenis, Fungsi dan Materi Muatan). Yogyakarta: Kanisius.

Jumhana, M. 2006. Perkembangan Doktrin dan Teori Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Lindsey, Tim ed. 2005. Hak kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, cet. 4. Bandung: PT. Alumni.

M. Hadjon, Philipus. 1987. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.

Margono, S.. dan Angkasa, A. 2002. Komersialisasi Aset Intelektual: Aspek Hukum Bisnis, Grasindo, Jakarta.

Muhammad Abdulkadir.. 2001. Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Cet. Ke-1, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Muhammad, Abdulkadir. 1994. Hukum Harta Kekayaan. Bandung : Citra Aditya Bakti.

---, 2001. Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Bandung : PT Citra Aditya Bhakti.

OK. Saidin, H. 2013. Aspek Hukum Hak Kekayan Intelektual (Intellectual Property Rights). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Purba, Afrillyanna. 2009. Hukum HKI Indonesia: Perlindungan Hukum Seni Batik Tradisional Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 Tentang Hak Cipta , Rineka Cipta, Jakarta.

Puspawidjaja, Rizani. 2006. Hakum Adat Dalam Tebaran Pemikiran. Lampung: Univesitas Lampung.

Raharjo, Satjipto. 1979. Hukum dan Perubahan Sosial, Suatu Tinjauan Teoritis Serta Pengalaman-Pengalaman di Indonesia. Bandung : Alumni.

---. 2000. Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Riswandi, Budi Agus dan M. Syamsudin. 2004. Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudarmanto. 2005. “Produk Kategori Indikasi Gopgrafis Potensi Kekayaan

Intelektual Masyarakat Indonesia”. Depok: Lembaga Pengkajian

Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Suhardo, Etty S. 2003. Implikasi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Bagi Pengguna Hak Cipta, Undip, Semarang.

Sutedi, Adrian. 2009. “Hak Atas Kekayaan Intelektual”. Jakarta: Sinar Grafika Syafrinaldi. 2010. Hukum Tentang Perlindungan Hak Milik Intelektual Dalam

Menghadapi Era Globalisasi, Jakarta: UI Press.

Utomo, Tomi Suryo. 2010. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Era Global: Sebuah Kajian Kontemporer, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Dokumen terkait