• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Analisa Bivariat

1. Hubungan Posisi Partus Terhadap Rupture Perineum Spontan

Analisa Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu hubungan posisi partus terhadap rupture perineum spontan pada persalinan dengan melakukan uji statistik chi-square dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% dan nilai P<0,05.

Tabel 5.5

Distribusi Frekuensi Hubungan Posisi Partus terhadap Rupture perineum Spontan Pada persalinan Normal Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak

Banda Aceh Tahun 2013

No Posisi Partus Rupture Perineum Spontan Jumlah % P-Value Sedang Berat F % f % 1 Terlentang 0 0 7 100 7 100 0.000 2 Tidak terlentang 33 100 0 0 33 100 Total 33 82,5 7 17,5 40 100

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 33 responden yang melakukan posisi partus tidak terlentang, semua responden 33(100%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 7 orang responden yang melakukan posisi partus secara terlentang, semua responden 7(100%) mengalami rupture perineum spontan tingkat berat.

Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara posisi partus dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P<0,05.

2. Hubungan berat badan lahir Terhadap Rupture Perineum Spontan Analisa Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu hubungan berat badan lahir terhadap rupture perineum spontan pada persalinan dengan melakukan uji statistik chi-square dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% dan nilai P<0,05.

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Hubungan berat badan lahir terhadap Rupture perineum Spontan Pada persalinan Normal Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak

Banda Aceh Tahun 2013

No Berat Badan lahir Rupture Perineum Spontan Jumlah % P-Value Sedang Berat f % f %

1 Normal 30 83,3 6 16,7 36 100

0,552

2 BBLR 3 75,0 1 25,0 4 100

Total 33 82,5 7 17,5 40 100

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 36 responden yang berat badan lahir normal, sebanyak 30 responden (83,3%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 4 orang responden yang berat badan lahir rendah, sebanyak 3 responden (75,0%) mengalami rupture perineum spontan tingkat sedang.

Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P>0,05.

3. Hubungan teknik mengedan Terhadap Rupture Perineum Spontan Analisa Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu hubungan teknik mengedan terhadap rupture perineum spontan pada persalinan dengan melakukan uji statistik chi-square dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% dan nilai P<0,05.

Tabel 5.7

Distribusi Frekuensi Hubungan teknik mengedan terhadap Rupture perineum Spontan Pada persalinan Normal Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak

No Teknik mengedan Rupture Perineum Spontan Jumlah % P-Value Sedang Berat f % f % 1 Baik 33 100 0 0 33 100 0,000 2 Kurang 0 0 7 100 7 100 Total 33 82,5 7 17,5 40 100

Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 33 responden yang teknik mengedan baik, semua responden 33 (100%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 7 orang responden yang teknik mengedannya kurang, semua responden 7(100%) mengalami rupture perineum spontan tingkat berat.

Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara teknik mengedan dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P<0,005.

E. Pembahasan

1. Hubungan posisi partus dengan rupture perineum spontan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 33 responden yang melakukan posisi partus tidak terlentang, semua responden 33(100%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 7 orang responden yang melakukan posisi partus secara terlentang, semua responden 7(100%) mengalami rupture perineum spontan tingkat berat.

Dari hasil analisa data menunjukkan bahwa ada hubungan antara posisi partus dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P= 0,000.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Winkjosastro(2005), mengemukakan bahwa rupture perineum selain disebabkan oleh faktor ibu , pimpinan persalinan yang tidak sebagaimana mestinya seperti posisi saat persalinan (Posisi partus) yang tidak benar yakni posisi terlentang dapat menyebabkan rupture perineum yang lebih berat, sehingga untuk menghindari terjadinya rupture yang berat dengan memimpin persalinan secara benar yakni sebaiknya posisi setengah duduk atau berbaring miring.

Hasil penelitian Rahmi, F (2006), bahwa ada hubungan antara Posisi persalinan dengan rupture perineum pada ibu primigraviga di Bps. Sri Hariati Bandung. Dimana ibu ibu primigravida yang melakukan posisi persalinan secara tidak terlentang umumnya 13 responden (64,2%) mengalami rupture perineum ringan, sedangkan ibu yang melahirkan dengan posisi terlentang 18 (68,6%) responden yang mengalami rupture perineum berat.

Berdasarkan asumsi peneliti bahwa posisi partus berhubungan dengan rupture perineum spontan karena jika ibu menggunakan posisi terlentang, hal ini disebabkan ibu dengan posisi terlentang akan lebih mudah mengangkat bokongnya, maka kemungkinan besar akan terjadinya rupture yang berat.

Namun jika ibu melakukan posisi yang benar maka rupture akan lebih ringan seperti setengah duduk posisi ini cukup membuat ibu nyaman, posisi ini juga digunakan untuk pemeriksaan vagina (alat kelamin), dan suplai oksigen dari ibu kejanin pun juga dapat berlangsung secara maksimal. Sehingga mengurangi frekuensi terjadinya rupture perineum.

2. Hubungan berat badan lahir Terhadap Rupture Perineum Spontan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden yang berat badan lahir normal, sebanyak 30 responden (83,3%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 4 orang responden yang berat badan lahir rendah, sebanyak 3 responden (75,0%) mengalami rupture perineum spontan tingkat sedang.

Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P= 0,552.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Winkjosastro (2005), mengemukakan bahwa Berat Badan Lahir merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya rupture perineum. Bila berat badan lahir rendah kemungkinan lebih kecil frekuensi terjadinya rupture perineum. Namun paritas dan jarak kelahiran juga merupakan faktor terjadi rupture perineum, jarak kelahiran yang telalu dekat memungkinkan terjadi rupture perineum yang berat.

Hasil penelitian Suliswati (2010), bahwa tidak ada hubungan antara berat badan lahir dengan rupture perineum di Rumah Sakit Umum fauziah Bireuen. Dimana berat badan lahir dengan makrosomia yang menyebabkan terjadinya rupture perineum umumnya 15 responden (68,2%) mengalami rupture tingkat sedang, sedangkan ibu yang melahirkanbayi dalam kategori normal, 18 (61,6%) responden yang mengalami rupture perineum berat.

Berdasarkan asumsi peneliti bahwa berat badan lahir tidak berhubungan dengan rupture perineum spontan karena dimana seorang ibu yang melahirkan dengan berat badan lahir rendah tidak menutupi kemungkinan ibu tersebut mengalami tingkat rupture perineum yang sama dengan ibu yang melahirkan dengan berat badan bayi dalam kategori normal. Begitu hal nya dengan Berat badan dengan makrosomia tapi mengalami rupture perineum yang kecil, bahkan bayi yang lahir dengan berat badan rendah bisa mengalami rupture yang besar, itubisa disebabkan oleh mengedan yang salah.

3. Hubungan teknik mengedan Terhadap Rupture Perineum Spontan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 33 responden yang teknik mengedan baik, semua responden 33 (100%) mengalami Rupture perineum spontan sedang. Dan dari 7 orang responden yang teknik mengedannya kurang, semua responden 7(100%) mengalami rupture perineum spontan tingkat berat.

Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara teknik mengedan dengan rupture perineum spontan pada persalinan normal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dengan nilai P= 0,000.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Manuaba (2003), mengemukakan bahwa mengedan yang benar dengan mengedan sesuai dengan dorongan alamiah selama kontaksi. Selain itu juga ibu tidak di anjurkan untuk menahan nafas pada saat mengedan atau nafas jangan terengah-engah. Teknik mengedan yang benar yakni dimana saat ibu mengedan tidak mengangkat bokongnya.

Menurut asumsi peneliti bahwa ada hubungan teknik mengedan dengan rupture perineum, karena jika teknik mengedan salah maka rupture perineum juga bisa lebih berat dibandingkan dengan teknik mengedan secara benar. Hal ini disebabkan oleh cara seseorang dalam mengatur nafas saat mengedan dan juga cara melakukan dorongan saat mengedan. Sehingga diperlukan pengetahuan ibu dan bantuan dari penolong agar ibu dapat mengedan dengan benar untuk mengurangi rupture perineum.

BAB VI

Dokumen terkait