• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISADAN PEMBAHASAN

C. Hasil dan Pembahasan

2. Analisa dan Pembahasan

Dalam penelitian ini, responden diberikan 36 pertanyaan. Responden akan mengisi kolom jawaban dengan bobot penilaian, ( Sangat Sama= 5, Sama= 4, Tidak Beda=3, Beda Sekali=2, sangat Beda Sekali=1). Berikut ini hasil dari output kuesioner yang diberikan responden tentang penilaiannya terhadap Analisis Perbedaan Sistem Pemberian Kredit Pada Bank Konvensional Dengan Sistem Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah (Studi kasus pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk dengan PT. Bank DKI Syariah )”.

a. Sistem Informasi Kredit dengan menggunakan indikator: 1) Memberikan informasi yang diperlukan oleh nasabah

2) Kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang baik, cepat,

3) dan tepat kepada nasabahnya serta sesuai dengan pelayanan yang dijanjikan. Dimensi reliability dapat dilihat dari ketepatan melaksanakan janji, dapat dipercaya, dan akurasi dalam pencatatan dokumen.

98 4) Pengetahuan dan keramahan karyawan yang harus dimiliki oleh

karyawan bank dan kemampuan mereka dalam menawarkan kepercayaan diri kepada nasabah.

Tabel 4.21

Sistem Informasi dan Pelayanan yang Diperlukan Oleh Nasabah Sistem Informasi Kredit

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 8 13.3 13.3 13.3

BEDA SEKALI 21 35.0 35.0 48.3

TIDAK BEDA 10 16.7 16.7 65.0

SAMA 16 26.7 26.7 91.7

SANGAT SAMA 5 8.3 8.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.21 dapat diketahui bahwa 8 responden menyatakan sangat beda sekali, 21 responden menyatakan beda sekali, 10 responden menyatakan tidak beda, 16 responden menyatakan sama, dan 5 responden menyatakan sangat sama. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden (26,7 %) menyatakan bahwa sistem informasi pemberian kredit dengan pembiayaan murabahah “sama” dalam memberikan informasi kredit/murabahah dalam penyaluran kredit/murabahah.

Salah satu misi dari PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk dan PT. Bank DKI Syariah (Persero), Tbk adalah memberikan informasi yang diperlukan oleh nasabah dalam penyaluran pemberian kredit/pembiayaan murabahah. (Abdullah Al Juffry, 2007).

b. Mekanisme atau Prosedur Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah menggunakan indikator:

1) Syarat-syarat yang harus dipenuhi 2) Skema/Skim

Tabel 4.22

Mekanisme atau Prosedur Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Mekanisme Atau Prosedur

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 12 20.0 20.0 20.0

BEDA SEKALI 19 31.7 31.7 51.7

TIDAK BEDA 13 21.7 21.7 73.3

SAMA 13 21.7 21.7 95.0

SANGAT SAMA 3 5.0 5.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.22 dapat diketahui bahwa 12 responden menyatakan sangat beda sekali, 19 responden menyatakan beda sekali, 13 responden menyatakan tidak beda, 13 responden menyatakan sama, dan 3 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden (31,7 %) menyatakan bahwa dalam mekanisme atau prosedur pemberian kredit “beda sekali” dengan pembiayaan murabahah.

Sebagaimana kita ketahui, dalam skim Murabahah fungsi Bank adalah sebagai Penjual barang untuk kepentingan Nasabah, dengan cara membeli barang yang diperlukan Nasabah dan kemudian menjualnya kembali kepada Nasabah dengan harga jual yang setara dengan harga beli ditambah keuntungan Bank dan Bank harus memberitahukan secara jujur harga pokok Barang berikut biaya yang diperluan dan menyampaikan

100 semua hal yang berkaitan dengan pembelian Barang kepada Nasabah. Namun demikian, sebagai Penyedia Barang dalam prakteknya Bank Syariah kerap kali tidak mau dipusingkan dengan langkah-langkah pembelian Barang. Karenanya Bank Syariah menggunakan media ”akad Wakalah” dengan memberikan kuasa kepada Nasabah untuk membeli barang tersebut.

Bank Indonesia (BI) nampaknya cukup tegas dalam hal ini. Melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.7/46/PBI/2005 tanggal 14 November 2005 tentang standarisasi akad, BI menegaskan kembali penggunaan media Wakalah dalam Murabahah pada pasal 9 ayat 1 butir d yaitu dalam hal Bank mewakilkan kepada Nasabah (Wakalah) untuk membeli barang, maka akad Murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik Bank. Bahkan dalam bagian penjelasan PBI tersebut ditegaskan bahwa Akad Wakalah harus dibuat terpisah dengan Akad Murabahah. Lalu ditegaskan, yang dimaksud secara prinsip Barang milik Bank dalam Wakalah pada Akad Murabahah adalah adanya aliran dana yang ditujukan kepada pemasok barang atau dibuktikan dengan kwitansi pembelian.

c. Landasan Falsafah dengan menggunakan indikator: 1) Berdasarkan bunga, spekulasi dan ketidakjelasan

2) Mendukung dan memfasilitasi pembentukan norma keuangan konvensional

Tabel 4.23

Landasan Falsafah Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Landasan Falsafah

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 11 18.3 18.3 18.3

BEDA SEKALI 25 41.7 41.7 60.0

TIDAK BEDA 10 16.7 16.7 76.7

SAMA 10 16.7 16.7 93.3

SANGAT SAMA 4 6.7 6.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.23 dapat diketahui bahwa 11 responden menyatakan sangat beda sekali, 25 responden menyatakan beda sekali, 10 responden menyatakan tidak beda, 10 responden menyakan sama dan 4 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 41,7 % menyatakan “beda sekali” dalam “landasan falsafah” yang digunakan oleh pihak bank konvensional (UU Pemerintah) dengan syariah (AL-Quran, Hadist dan UU Pemerintah).

d. Operasionalisasi dengan menggunakan indikator:

1) Dana masyarakat berupa titipan dan investasi yang baru akan mendapatkan hasil jika diusahakan

102 Tabel 4.24

Oprasionalisasi Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Landasan Operasional

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 11 18.3 18.3 18.3

BEDA SEKALI 26 43.3 43.3 61.7

TIDAK BEDA 15 25.0 25.0 86.7

SAMA 8 13.3 13.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.24 dapat diketahui bahwa 11 responden menyatakan sangat beda sekali, 26 responden menyatakan beda sekali, 15 responden menyatakan tidak beda, dan 8 responden menyatakan sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 43,3 % menyatakan “beda sekali” dalam “Operasionalisasi” yang digunakan oleh pihak bank konvensional dengan syariah. Wajar jika banyak perspektif negatif yang ditujukan oleh masyarakat awam kepada Bank syariah. Sejauh ini mayoritas portofolio pembiayaan oleh Bank Syariah didominasi oleh pembiayaan Murabahah. Umumnya mereka mengatakan operasional bank syariah “tidak berbeda” dengan bank konvensional. Hanya saja jika di Bank Konvensional menerapkan sistem bunga, maka di bank syariah dirubah dengan istilah margin. (Fatwa MUI Tahun 2000)

Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pihak bank dengan yang lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah

jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. (Pasal 1 Angka 12 UU No: 10 tahun 1998). Jika dibandingkan dengan istilah kredit dalam Pasal 1 Angka 11 No: 10 Tahun 1998 menyebutkan:

“Kredit yang diberikan oleh bank penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara pihak bank lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Maka dapatlah kita ketahui perbedaan antara kredit pada bank konvensional dengan pembiayaan murabahah pada bank syariah terletak pada awal “persetujuan atau kesepakatan awal perjanjian”.

Dengan penegasan melalui PBI tersebut, maka saat ini terjadi perubahan paradigma dalam operasional Bank Syariah (terkait pembiayaan Murabahah). Yang mana dalam paradigma lama, Bank Syariah akan melakukan pencairan dana setelah Akad Murabahah ditanda-tangani, maka berubah menjadi paradigma baru, dimana Bank Syariah harus mencairkan dananya untuk membeli barang yang diperlukan Nasabah sebelum akad Murabahah ditanda-tangani (baik melalui Akad Wakalah ataupun tidak). Hal ini akan dibuktikan melalui adanya aliran dana yang ditujukan kepada pemasok barang atau dibuktikan dengan kwitansi pembelian (yang mendahului Akad Murabahah).

e. Sistem Stabilitas dan Keuntungan Dalam Ekonomi dengan menggunakan indikator:

104 1) Memprakarsai dalam mempelajari potential system cost

2) Memprakarsai dalam mempelajari implementasi dari keuntungan yang didapat.

Tabel 4.25

Sistem Stabilitas dan Keuntungan Dalam Ekonomi Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah

Sistem Stabilitas Dan Keuntungan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 4 6.7 6.7 6.7

BEDA SEKALI 23 38.3 38.3 45.0

TIDAK BEDA 12 20.0 20.0 65.0

SAMA 17 28.3 28.3 93.3

SANGAT SAMA 4 6.7 6.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.25 dapat diketahui bahwa 4 responden menyatakan sangat beda sekali, 23 responden menyatakan beda sekali, 12 responden menyatakan tidak beda, 17 responden menyatakan sama dan 4 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 38,3 % menyatakan beda sekali dalam “ Sistem Stabilitas dan Keuntungan Dalam Ekonomi” yang digunakan oleh pihak bank konvensional dengan pihak bank syariah.

Sepintas memang ada kemiripan antara pembiayaan Murabahah di Bank Syariah dan kredit pembelian barang di Bank Konvensional. Nasabah datang ke Bank untuk menyampaikan keinginannya membeli suatu barang dengan meminta bantuan dana kepada Bank. Bank lalu menganalisa kemampuan Nasabah. Jika dirasakan Nasabah layak untuk menerima bantuan dari Bank, maka Bank akan menyalurkan dananya

kepada Nasabah. Yang satu mensyaratkan tambahan bunga pada pengembalian hutangnya, sedangkan yang lain mem-mark up harga beli atas penjualan barangnya kepada Nasabah. Nasabah lalu membeli barang tersebut untuk keperluannya. Selanjutnya Nasabah secara rutin membayar angsuran kepada Bank. “Sama Saja”, demikian mungkin pendapat awam mengenai kedua praktek perbankan tersebut. (Fatwa MUI Tahun 2000). f. Perhitungan yang digunakan dengan menggunakan indikator:

1) Perhitungan formula sliding 2) Perhitungan formula efektif 3) Perhitungan formula flat 4) Perhitungan formula skoring

Tabel 4.26

Perhitungan yang digunakan Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Perhitungan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid BEDA SEKALI 10 16.7 16.7 16.7

TIDAK BEDA 4 6.7 6.7 23.3

SAMA 30 50.0 50.0 73.3

SANGAT SAMA 16 26.7 26.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.26 dapat diketahui bahwa 10 responden menyatakan beda sekali, 4 responden menyatakan tidak beda, 30 responden menyatakan sama dan 16 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 50,0 % menyatakan

106 sama dalam “Perhitungan yang digunakan” yang digunakan oleh pihak bank konvensional dengan pihak bank syariah hanya namanya saja.

g. Organisasi dengan menggunakan indikator:

1) Tidak harus memiliki dewan pengawas syariah (Konvensional) 2) Memiliki dewan pengawas syariah (Syariah).

Tabel 4.27

Organisasi Dalam Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Organisasi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent Valid SANGAT BEDA

SEKALI 3 5.0 5.0 5.0 BEDA SEKALI 22 36.7 36.7 41.7 TIDAK BEDA 7 11.7 11.7 53.3 SAMA 17 28.3 28.3 81.7 SANGAT SAMA 11 18.3 18.3 100.0 Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.27 dapat diketahui bahwa 3 responden menyatakan sangat beda sekali, 22 responden menyatakan beda sekali, 7 responden menyatakan tidak beda, 17 responden menyatakan sama dan 11 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 36,7 % menyatakan “Beda Sekali” dalam Organisasi yang digunakan oleh pihak bank konvensional dengan pihak bank syariah.

Terlepas nantinya ada rekayasa-rekayasa yang dilakukan Bank untuk sekedar menunjukan kepatuhannya terhadap aturan tersebut, nampaknya aturan Bank Indonesia tersebut telah sejalan dengan Fatwa MUI mengenai Murabahah, dimana BI dan MUI kembali menempatkan posisi Bank dalam kedudukannya sebagai Penjual Barang. Bukan hanya sekedar

lembaga keuangan saja. Hal inilah yang sangat membedakan antara pembiayaan Murabahah di Bank Syariah dengan kredit pembelian barang biasa di Bank Konvensional.

h. Jika Terjadi Kerugian dengan menggunakan indikator: 1) Hanya ditanggungkan pada nasabah

2) Ditanggung oleh kedua belah pihak Tabel 4.28

Jika Terjadi Kerugian Pemberian Kredit/Pembiayaan Murabahah Jika Terjadi Kerugian

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SANGAT BEDA SEKALI 11 18.3 18.3 18.3

BEDA SEKALI 21 35.0 35.0 53.3

TIDAK BEDA 3 5.0 5.0 58.3

SAMA 16 26.7 26.7 85.0

SANGAT SAMA 9 15.0 15.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.28 dapat diketahui bahwa 11 responden menyatakan sangat beda sekali, 21 responden menyatakan beda sekali, 3 responden menyatakan tidak beda, 16 responden menyatakan sama dan 9 responden menyatakan sangat sama. Ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden 35,0 % menyatakan “Beda Sekali” Jika Terjadi Kerugian oleh pihak bank konvensional dengan pihak bank syariah.

Dokumen terkait