BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Analisa Data dan Pembahasan
1. Analisis Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor merupakan salah satu bagian Pajak Daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pemerintah Daerah Kota Surakarta mengharap perolehan Pajak Kendaraan Bermotor dari tahun ke tahun meningkat. Besar kecilnya penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tergantung juga mekanisme pemungutnya. Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dapat diketahui dengan perbandingan target terhadap realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor.
Target Pajak Kendaraan Bermotor adalah kemampuan maksimum yang ingin dicapai dari penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, sedangkan realisasi merupakan hasil pungutan dari penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor.
Penulis akan menganalisa tingkat efektifitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor berdasar laporan target dan realisasi pendapatan daerah Kota Surakarta untuk tahun 2007-2011. Efektifitas merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk menilai apakah pemungutan yang dilakukan sudah maksimal sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan. Efektifitas adalah mengukur hubungan antara hasil pungutan suatu pajak dengan potensi hasil pajak tersebut, dengan asumsi semua wajib pajak membayar pajak masing-masing dan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
35
membayar seluruh pajak terutang. Semakin besar nilai efektifitas, maka semakin tinggi tingkat efektifitas penerimaan. Kebijakan akan tampak efektif bila mampu menaikkan Pajak Kendaraan Bermotor dalam presentase terbesar. Berikut adalah tabel yang menyajikan perbandingan antara target yang telah ditetapkan dengan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dalam kurun waktu 5 tahun, untuk mengetahui rasio efektifitas.
Tabel 2.1
Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Tahun anggaran 2007-2011
Tahun anggaran
Target Realisasi Selisih lebih
(kurang) Efektifitas 2007 60.475.170.000 59.942.375.320 (532.794.680) 99,12% 2008 76.250.950.000 68.061.249.330 (8.189.700.670) 89,26% 2009 75.900.847.000 74.392.929.275 (1.507.917.725) 98,01% 2010 78.871.713.000 93.122.138.400 14.250.425.400 118,07% 2011 105.536.820.000 109.777.162.900 4.240.962.900 104,02%
Sumber data: SAMSAT Surakarta
Berdasar tabel diatas perhitungan rasio efektifitas menurut (Suhaedi, 2000 dalam Irine Putri Rucita, 2009) menggunakan rumus:
Berdasar tabel di atas, dapat dikatakan bahwa selama kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu tahun 2007-2011, tingkat presentase efektifitas Pajak Kendaraan Bermotor sudah memenuhi target meskipun masih ada beberapa tahun yang mengalami penurunan. Pada tahun 2007 tingkat
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
36
efektifitas sebesar 99,12%, sedangkan pada tahun 2008 tingkat efektifitas menurun menjadi 89,26%, di tahun 2009 tingkat efektifitas mengalami peningkatan kembali menjadi 98,01%, kemudian di tahun 2010 tingkat efektifitas juga mengalami peningkatan kembali menjadi 118,07%, dan di tahun terakhir 2011 tingkat efektifitas kembali mengalami penurunan menjadi 104,02%. Hal ini dapat dikatakan bahwa realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dari tahun 2007-2011 sudah sangat efektif walaupun tingkat efektifitas dari tahun ke tahun ada yang mengalami penurunan. Penurunan tingkat presentase efektifitas diakibatkan karena banyaknya wajib pajak yang menunggu masa-masa pemutihan yang belum tentu satu tahun sekali karena pemutihan tersebut yang menentukan dari kantor Pusat. Ini menunjukkan bahwa sistem penagihan Pajak Kendaraan Bermotor belum cukup baik.
Realisasi yang selalu dapat melampaui target disebabkan karena target ditetapkan sesuai dengan potensi wajib pajak yang ada agar dapat terealisasi dengan baik dan bahkan melampaui target. Adanya peningkatan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tidak disebabkan karena kenaikan tarif, peningkatan kenaikan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor disebabkan karena meningkatnya jumlah wajib pajak, sehingga jumlah penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kesadaran wajib pajak dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor juga dapat meningkatkan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor. Dapat dilihat tingkat efektifitas pada tahun 2008 lebih kecil
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
37
dibandingkan tahun 2007, 2009, 2010, dan 2011, tetapi ternyata penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dipengaruhi karena adanya perkembangan jumlah penduduk, juga pertumbuhan atau perkembangan tingkat perekonomiannya yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.
Seiring dengan majunya perkembangan di Kota Surakarta, pada saat ini bahwa kendaraan bermotor di Jawa Tengah menunjukkan angka yang cukup besar karena fungsi dan manfaat dari kendaraan bermotor itu sendiri yaitu sebagai alat pengangkutan. Tingkat daya beli masyarakat akan berbagai jenis kendaraan bermotor membuat tingkat penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor juga tinggi.
2.Laju Pertumbuhan
Penerimaan target dan realisasi PKB merupakan dasar untuk mengetahui seberapa besar laju pertumbuhannya. Laju pertumbuhan ini digunakan untuk mengukur kenaikan atau perkembangan Pajak Kendaraan Bermotor dari tahun ke tahun. Analisis ini digunakan untuk mengetahui prospek atau peluang ke depan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pajak Daerah (Halim, 2001 dalam Dimas Yudi Apriyanto, 2010). Untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan penerimaan PKB menggunakan rumus :
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
38
Tabel 2.2
Tingkat pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Tahun anggaran 2007-2011
Tahun anggaran
Realisasi X (Rp) Realisasi tahun (X-1) Tingkat pertumbuhan (%) 2007 59.942.375.320 - - 2008 68.061.249.330 59.942.375.320 13,54% 2009 74.392.929.275 68.061.249.330 9,30% 2010 93.122.138.400 74.392.929.275 25,17% 2011 109.777.162.900 93.122.138.400 17,88%
Sumber data: SAMSAT Surakarta
2007 = -
2008 =
2009 =
2010 =
2011 =
Dilihat dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun 2008 sebesar 13,54% dari realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun anggaran 2007. Pada tahun 2009 persentase pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor mengalami penurunan menjadi 9,30% dari realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
39
anggaran 2008, dan tahun anggaran 2010 persentase pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor mengalami peningkatan lagi menjadi 25,17% dari realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun 2009, sedangkan pada tahun 2011 pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor mengalami penurunan lagi sebesar 17,88% dari realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun sebelumnya.
Dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Surakarta selama 5 tahun masih belum stabil karena dari tahun ke tahun masih mengalami peningkatan dan penurunan. Persentase pertumbuhan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terendah pada tahun 2009 dengan 9,30%. Hal ini dapat disebabkan karena pada tahun 2009 terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan wajib pajak lebih mementingkan kebutuhan rumah tangganya daripada membayar Pajak Kendaraan Bermotor terlebih dahulu.
3. Kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian kontribusi adalah sumbangan, sedangkan menurut kamus Ekonomi kontribusi adalah sesuatu yang diberikan bersama sama dengan pihak lain untuk tujuan biaya, atau kerugian tertentu atau bersama. Kontribusi disini dapat diartikan sebagai sumbangan yang diberikan Samsat kepada Pajak Kendaraan Bermotor sebagai Pendapatan Asli Daerah.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
40
Apabila kita lihat pada laporan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Surakarta maka akan terlihat bahwa penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor ini merupakan penerimaan terbesar pada pos-pos pajak daerah dibandingkan dengan penerimaan pajak daerah dari sektor lainnya. Seberapa besarkah Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah dan apakah setiap tahunnya meningkat atau menurun akan penulis bahas di sini.
Untuk mengetahui kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.3
Kontribusi Penerimaan PKB Terhadap PAD Tahun anggaran 2007-2011 Tahun anggaran Penerimaan PKB (Rp) Penerimaan PAD (Rp) Kontribusi (%) 2007 59.942.375.320 102.514.865.370 58,47% 2008 68.061.249.330 126.224.750.155 53,92% 2009 74.392.929.275 131.896.959.913 56,40% 2010 93.122.138.400 174.340.371.675 53,41% 2011 109.777.162.900 208.922.437.850 52,54% Rata-rata 81.059.171.045 148.779.876.992 54,94%
Sumber data: SAMSAT Surakarta
2007 =
2008 =
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
41
2010 =
2011 = X 100% = 52,54%
Dari data di atas dapat kita ketahui bahwa kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah selama 5 (lima) tahun masih mengalami penurunan dari tahun 2007 kontribusi sebesar 58,47%, di tahun 2008 kontribusi sebesar 53,92%, sedangkan pada tahun 2009 kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah meningkat menjadi 56,40%, tahun 2010 kontribusi menurun kembali menjadi 53,41%, dan pada tahun 2011 kontribusi sebesar 52,54%.
Kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Surakarta bisa dilihat selama 5 (lima) tahun Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu di atas 50%, dapat dilihat pada tahun 2007 sebesar 58,47%, tahun 2008 sebesar 53,92%, tahun 2009 kontribusi sebesar 56,40%, tahun 2010 kontribusi sebesar 53,41%, dan pada tahun 2011 kontribusi sebesar 52,54%, maka dari lima tahun ini adalah tahun 2011 memberikan kontribusi yang terkecil terhadap Pendapatan Asli Daerah. Meskipun kontribusi mengalami penurunan tetapi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi paling banyak daripada penerimaan Pendapatan Asli Daerah lainnya.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
42
4. Hambatan dan cara mengatasi dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah khususnya dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor
Dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui sektor Pajak Kendaraan Bermotor sering terjadi masalah baik dari pihak internal atau eksternal, adapun hambatan sebagai berikut:
1. Permasalahan ini yang paling sering terjadi, kurangnya syarat dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor oleh wajib pajak. Seperti contohnya: Bukti Pembayaran Kendaraan Bermotor (BPKB) menjadi agunan dilembaga pembiayaan dan tidak disertakan dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Petugas mengatasi hal ini dengan cara, Wajib Pajak disarankan untuk kelembaga pembiayaan (leasing) untuk mendapatakan surat keterangan bahwa Bukti Pembayaran Kendaraan Bermotor (BPKB) menjadi jaminan kredit. 2. Permasalahan ini juga sering terjadi pada saat proses pelayanan, signal
atau jaringan yang terkadang tidak terdeteksi untuk pihak SAMSAT secara optimal sehingga menghambat proses pelayanan SAMSAT. Penanggulangannya dengan cara pihak SAMSAT bekerja sama dengan pihak TELKOM untuk mengatasi modem agar bisa tersambung kembali.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 45 BAB III TEMUAN