5.2 Temuan dan Bahasan
5.2.4 Analisa Data dengan Korelasi dan Regresi Linier Berganda
Analisa data statistik dengan korelasi product moment pearson dan regresi linier berganda bertujuan untuk memperoleh korelasi diantara variabel dan seberapa kuat pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Data yang digunakan untuk analisa data statistik terdiri dari 37 variabel bebas (X) 1 variabel terikat (Y) dan 41 sampel.
Dalam analisa statisitk data dengan korelasi diperoleh 11 (sebelas) variabel bebas yang memiliki nilai koefisien korelasi yang signifikan. Hasil korelasi dapat dilihat pada Tabel 4.12, yang dapat diuraikan sebagai berikut.
Pengendalian dan pengelolaan change order dengan :
Informasi change order didistribusikan/dikomunikasikan ke pihak yang terkait pada perubahan.
Pengeluaran persetujuan permohonan perubahan oleh owner/konsultan tepat waktu.
Owner menginstruksi pelaksanaan change order dengan jelas, dilengkapi dengan dokumen gambar dan spesifikasi.
Tidak adanya pelaksanan perubahan tanpa persetujuan change order terlebih dahulu, baik dari owner maupun konsultan.
Pembayaran perubahan dilaksanakan dengan tepat waktu.
Isi permohonan perubahan meliputi identifikasi perubahan terjadi beserta alasannya.
Isi permohonan perubahan meliputi persetujuan perubahan dari Project Manager.
Isi permohonan perubahan meliputi rencana instruksi waktu pelaksanaan perubahan.
Administrator kontrak mendiskusikan dan menegosiasikan proposal change order dari kontraktor.
Owner mempersiapkan change order.
Pengawasan pelaksanaan perubahan.
Memiliki hubungan kolerasi yang signifikan dan positif dengan kinerja waktu konstruksi proyek.
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
Informasi change order didistribusikan/dikomunikasikan ke pihak yang terkait pada perubahan (X6) (Chao-hui, Hsieh & Cheng, 2005), karena kurangnya komunikasi menjadi permasalahan yang terjadi pada pelaksanaan perubahan, karena pihak kontraktor perlu memahami keinginan pemilik proyek (Davies, 2008) dan tidak meninggalkan konsep yang keliru diantara kedua pihak (O’Leary, 2009). Jadi dengan mendistribusikan segala informasi change order ke semua pihak yang terkait akan mempermudah komunikasi selama pelaksanaan perubahan dan pelaksanaan dapat dilakukan tepat waktu dan sesuai prosedur dalam kontrak change order.
Menurut O’Leary (2009) dan Dhabi & Kristiawan (2006), pelaksanaan perubahan dapat dilakukan jika permohonan change order telah disetujui/disepakati, baik dari pemilik proyek maupun pelaksana konstruksi proyek (X13). Dengan mempercepat persetujuan permohonan perubahan dapat meminimalkan dampak change order (Al-Muhammadi & Al-Harthi, n.d.), termasuk dampak perubahan terhadap kinerja waktu proyek.
Owner menginstruksi pelaksanaan change order dengan jelas, dilengkapi dengan dokumen gambar dan spesifikasi (X14), karena setiap perubahan yang rumit seharusnya diidentifikasi dengan jelas sehingga change order dapat ditentukan biaya dampak, disiapkan dan disetujui pihak owner (O’Leary, 2009). Dengan instruksi jelas dan dokumen yang lengkap akan mempermudah pelaksanaan perubahan, sehingga dapat dilakukan dengan tepat pada waktunya.
Dalam Construction Change Order Procedure Guideline (2006) tidak ada pelaksanaan change order tanpa persetujuan jelas change order., baik dari owner maupun konsultan (X16), karena pihak kontraktor sering tidak merasa puas atas perubahan pekerjaan dengan penambahan waktu dan biaya yang ditentukan sesudahnya oleh pihak owner/engineer (O’Leary, 2009). Jika persetujuan tidak dilakukan tepat waktu maka akan mempengaruhi kinerja waktu pelaksanaan perubahan.
Pembayaran perubahan dilaksanakan dengan tepat waktu (X18) menjadi hal penting dalam melakukan efektivitas change order management (McCally, 1997). Tanpa pembayaran akan mempersulit pihak pelaksana dalam melaksanakan perubahan tepat pada waktunya.
Isi permohonan perubahan meliputi identifikasi perubahan terjadi beserta alasannya (X29), persetujuan perubahan dari Project Manager (X32) dan rencana instruksi waktu pelaksanaan perubahan (X33) harus dilampirkan/dimasukkan dalam permohonan perubahan untuk mendukung pelaksanaan perubahan (Goldhaber, Jha & Macebo, 1977).
Jadi kelengkapan dalam permohonan perubahan menjadi hal yang
penting untuk melakukan proses change order dan pengeluaran persetujuan untuk pelaksanaan perubahan sedini mungkin.
Administrator kontrak mendiskusikan dan menegosiasikan proposal change order dari kontraktor (X40), perlu dilakukan sebelum persetujuan perubahan disepakati dan dikeluarkan, termasuk pembahasan draft dari change order (Fisk & Reynold, 2006).
Mengabaikan proses peninjauan ulang terutama biaya kontrak menjadi permasalahan yang sering terjadi dalam proses change order management (PEER Committe, 2002). Jika tidak adanya kesepakatan dalam memandang perubahan diantara pihak yang terkait perubahan akan menghambat proses pelaksanaan change order.
Owner mempersiapkan change order (X42), yang kemudian dilaksanakan persetujuan proposal change order dengan ditanda tangan, sehingga dapat memerintah untuk pelaksanaan perubahan pekerjaan (Fisk & Reynold, 2006). Jika persetujuan telah dikeluarkan, maka pelaksanaan perubahan dapat dilakukan sedini mungkin.
Pengawasan pelaksanaan perubahan (X47), yakni memastikan apakah pelaksanaan perubahan konstruksi harus sesuai dengan kontrak kedua belah pihak yang telah sepakat mengenai lingkup pekerjaan, biaya dan waktu proyek (Harmon & Stephan, 2001). Dengan melakukan pengawasan, pelaksanaan perubahan dapat dilakukan dengan tepat waktu dan sesuai dengan prosedur dalam kontrak addendum.
Untuk analisa statistik data dengan regresi linier berganda, diperoleh model regresi sebagai berikut.
Y = -1.886 + 0.703X18 + 0.342X24 + 0.441X47 (5.1)
dimana :
Y = Kinerja waktu konstruksi proyek.
X18 = Pembayaran perubahan dilaksanakan tepat waktu.
X24 = Melaporkan timbulnya perubahan kepada Project Manager.
X47 = Pengawasan pelaksanaan perubahan.
Persamaan regresi yang didapat adalah untuk menentukan peramalan akan faktor pengendalian dan pengelolaan yang paling signifikan (efektif dan tepat sasaran) terhadap kinerja waktu konstruksi proyek, bukan untuk peramalan nilai matematis. Berdasarkan persamaan garis regresi dan nilai koefisien regresi yang telah diperoleh, antara pengendalian dan pengelolaan change order dengan kinerja waktu konstruksi proyek memiliki nilai positif atau hubungan yang searah, dimana :
5. Harga koefisien konstanta = -1,886. Hal ini berarti, apabila nilai dari X18, X24 dan X47 di objek penelitian sama dengan nol, maka tingkat atau besarnya variabel Y akan sebesar 188,6 persen. Jadi tidak ada pengaruh dari pengendalian change order diatas maka kinerja waktu proyek akan stabil, baik tidak terjadi keterlambatan maupun percepatan waktu pelaksanaan konstruksi proyek.
6. Harga koefisien β1 = 0,703, berarti apabila nilai X18 mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel X lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel Y akan meningkat sebesar 70,3 persen.
Jadi variabel X18 akan memiliki hubungan yang searah, yakni jika variabel X18 mengalami kenaikan maka variabel Y akan meningkat.
7. Harga koefisien β2 = 0,342, berarti apabila nilai X24 mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel X lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel Y akan meningkat sebesar 34,2 persen.
Jadi variabel X24 akan memiliki hubungan yang searah, yakni jika variabel X24 mengalami kenaikan maka variabel Y akan meningkat.
8. Harga koefisien β5 = 0,441, berarti apabila nilai X47 mengalami kenaikan sebesar satu poin, sementara variabel X lainnya bersifat tetap, maka tingkat variabel Y akan meningkat sebesar 44,1 persen.
Jadi variabel X47 akan memiliki hubungan yang searah, yakni jika variabel X47 mengalami kenaikan maka variabel Y akan meningkat.
Dalam persamaan model regresi ini terdapat satu variabel terikat (Y) dan tiga variabel bebas (X). Untuk regresi dengan variabel lebih dari dua digunakan nilai Adjusted R Square sebagai koefisien determinasi. Nilai
Adjusted R Square adalah sebesar 0,767. Untuk itu dapat disimpulkan, bahwa kemampuan dari variabel bebas X18, X24 dan X47 untuk menjelaskan variasi pada variabel terikat adalah sebesar 76,7%, selebihnya 23,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam model regresi yang diperoleh.
Adapun model regresi diatas dapat diuji dengan instrumen pengujian, antara lain uji R2, uji F, uji t, uji autokorelasi dan uji multikolinearitas. Hasil yang diperoleh dari uji model regresi dapat dilihat pada Tabel 4.18.
Dalam persamaan model regresi ini variabel bebas (X) memiliki nilai koefisien regresi positif terhadap variabel terikat (Y), yang menyatakan bahwa semakin tinggi nilai variabel bebas (X) maka akan menaikkan nilai variabel terikat (Y), berarti pengendalian dan pengelolaan change order dengan :
Pembayaran perubahan dilaksanaan tepat waktu pada pelaksanaan perubahan.
Melaporkan timbulnya perubahan pada Project Manager pada tahapan permulaan dan identifikasi perubaha.
Pengawasan pelaksanaan perubahan pada tahap implementasi change order.
Akan meningkatkan kinerja waktu konstruksi proyek.
Berikut pembahasan dari masing-masing pengendalian dan pengelolaan change order yang paling berpengaruh signifikan terhadap kinerja waktu konstruksi proyek.
a. Pembayaran perubahan dilaksanakan tepat waktu pada tahap pelaksanaan perubahan (X18).
Pembayaran perubahan pekerjaan dengan tepat waktu menjadi hal penting dalam melakukan efektifitas change order management.
Pihak pemilik proyek seharusnya merencanakan untuk
perubahan-perubahan sebelum pelaksanaan pekerjaan dilakukan dan menyediakan fasilitas untuk pendanaan perubahan (McCally, 1997). Sebelum memutuskan kesepakatan akhir atas perubahan pada kontrak dan menghindari perselisihan antara pemilik dan pelaksana proyek, harus disertakan untuk periode/jadwal waktu pembayaran pelaksanaan perubahan (Callahan, 2005). Menurut Fisk dan Reynold (2006) pelaksanaan change order berkaitan dengan kelambatan atau pe-nundaan pekerjaan kontraktor, untuk itu perlu adanya biaya tambahan untuk kontraktor seperti biaya untuk menutupi pelaksanaan perubahan oleh kontraktor.
Change order berdampak pada lingkup pekerjaan dan pihak kontraktor seharusnya dibayar untuk setiap perubahan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang konsisten pada siklus pembayaran untuk semua pekerjaan lainnya (McCally, 1997). Proses pembayaran, meliputi biaya tenaga kerja, jasa, peralatan dan material, yang harus ditentukan untuk jadwal tahapan pembayaran kepada kontraktor (Callahan, 2005).
Cara pembayaran menurut Soeharto (1995) meliputi kurun waktu tertentu secara periodik, perkiraan jumlah pengeluaran bulan yang akan datang, dan besar kinerja yang telah dicapai, baik dengan metode milestone maupun presentase penyelesaian pekerjaan. Untuk menjaga keseimbangan antara biaya pengawasan dan pembayaran perubahan dengan tepat waktu adalah permasalahan yang sulit, tetapi tidak harus dilaksanakan jika menyebabkan kesukaran bagi pihak kontraktor (McCally, 1997).
Jadi pelaksanaan perubahan dapat dilakukan pihak kontraktor dengan tepat waktu, perlu didukung dengan pembayaran perubahan yang dilakukan sesuai termin waktu yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga terhindar dari penundaan pada kinerja waktu konstruksi secara keseluruhan.
b. Melaporkan timbulnya perubahan kepada project manager (X24).
Peran project manager dalam pengendalian perubahan lingkup kerja menurut Pangihutan (1998) sangat penting, karena mengendalikan semua aspek biaya, jadwal dan aspek kontraktual proyek. Dimana project manager menempatkan ketergantungan yang besar pada field superintendent, yang bertanggung jawab untuk semua kegiatan di lapangan, sehingga kinerja kedua pihak tersebut penting terhadap kesuksesan proyek.
Dalam pengendalian perubahan konstruksi, peran project manager bertanggung jawab dalam memimpin, mengawasi dan mengelola proyek (The Office of the City Auditor, 2006), termasuk mempersiapkan change order dan inspeksi pelaksanaan perubahan di lapangan (PEER Committee, 2002). Project manager bertanggung jawab dalam mengevaluasi dampak dari perubahan pekerjaan, termasuk dampak terhadap biaya tambahan dan kinerja waktu pelaksanaan perubahan (Clough, A. Scars & K. Scars, 2000).
Pihak-pihak yang terlibat dalam perubahan pekerjaan selain peka terhadap kemungkinan terjadi perubahan lingkup pekerjaan, harus melaporkan sesegera mungkin kepada project manager, sehingga project manager dapat menentukan perlu tidaknya melanjutkan proses pelaksanaan change order (Levy, 2006).
Jadi dengan melaporkan timbulnya perubahan kepada project manager sedini mungkin, akan membantu dalam proses negosiasi dan persetujuan change order serta pelaksanaan perubahan tepat pada waktunya.
c. Pengawasan pelaksanaan perubahan pada tahap implementasi change order (X47).
Pekerjaan change order berpengaruh pada waktu penyelesaian konstruksi proyek pada kontrak atau berdampak pada penjadwalan pekerjaan subkontraktor (Levy, 2006). Untuk itu pada tahap
pelaksanaan perubahan dilakukan salah satunya dengan langkah mengadakan kegiatan tindak lanjut berupa pengawasan dan laporan khusus untuk menyakinkan bahwa pelaksanaan perubahan dijalankan sebaik-baiknya (Soeharto, 1995). Kemampuan suatu proyek dalam memonitor perkembangan perubahan dengan baik adalah dengan mengembangkan program change order control (Douglas III, 2003).
Permasalahan yang sering terjadi pada tahap pelaksanaan perubahan dalam konstruksi proyek menurut Davies (2008), antara lain adalah kegagalan untuk mengikuti tahapan pelaksanaan perubahan konstruksi yang telah disepakati sebelumnya dalam dokumen kontrak change order. Pelaksanaan perubahan di lapangan harus disesuaikan dengan kontrak change order (Hassanein & Nemr, 2008). Pengawasan pelaksaan dapat dilakukan dengan membuat catatan atau laporan dampak pelaksanaan perubahan terhadap penjadwalan, apakah waktu penyelesaian konstruksi proyek mengalami penambahan, pengurangan atau tetap sama sesuai kontrak (Levy, 2006).
Untuk menghindari permasalahan dan perselisihan/kesalah pahaman dalam pelaksanaan change order, perlu adanya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan perubahan oleh kontraktor dan pengawasan yang dilakukan oleh konsultan pengawas sebagai wakil dari pemilik proyek (O’Brien & Zilly, 1991). Dalam dokumen kontrak change order antara lain melingkupi batas waktu (deadline) untuk pelaksanaan perubahan, sehingga pihak pengawas dapat meninjau ulang proses pelaksanaan sesuai dengan dokumen kontrak perubahan (Sanders, 2004). Menjadwalkan pertemuan setelah pelaksanaan konstruksi dan meninjau ulang kemungkinan adanya kekurangan dalam pelaksanaan change order menjadi bagian dari pengawasan pelaksanaan change order (Levy, 2006). Sedangkan pihak kontraktor juga melakukan pengawasan terhadap rekaman yang berdasarkan dokumen yang berisi perbandingan antara sebelum dan sesudah dampak change order terjadi (Douglas III, 2003).
Menurut Pangihutan (1998), besar kecilnya pengaruh perubahan terhadap kinerja pelaksanaan perubahan oleh kontraktor tergantung pada kualitas pengendalian kontraktor terhadap perubahan kontrak, termasuk pengendalian terhadap perubahan waktu. Jadi pengawasan pelaksanaan menjadi hal penting, terutama dalam proyek yang berskala besar dan organisasi yang luas (Al-Muhammadi & Al-Harthi, n.d.). Pengawasan terhadap proses pelaksanaan perubahan merupakan salah satu bentuk efektivitas dalam pengendalian change order (McCally, 1997).
Jadi dengan pengawasan terhadap pelaksanaan perubahan dapat berjalan sesuai prosedur kontrak dan tepat pada waktunya, sehingga dapat meminimalkan terjadinya penundaan konstruksi proyek.
Sedangkan berdasarkan penjelasan dan masukan dari para pakar terhadap pengendalian dan pengelolaan change order yang paling berpangaruh signifikan terhadap kinerja waktu konstruksi proyek, dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pembayaran perubahan dilaksanakan tepat waktu pada tahap pelaksanaan perubahan (X18).
Keterlambatan pembayaran perubahan menjadi penyebab dari keterlambatan pelaksanaan perubahan, karena pihak kontraktor menghindari pelaksanaan perubahan sebelum persetujuan atau perintah perubahan, jika tetap dilakukan maka pihak kontraktor harus siap menalangi biaya dan ditagihkan kemudian. Jika tidak maka perlu adanya negosiasi kembali atau melakukan klaim biaya yang tentunya akan memerlukan penambahan waktu.
Untuk itu perlu kejelasan tanggung jawab kontraktor terhadap pemilik proyek. Perlu adanya perincian yang akurat dan keselurahan terhadap biaya perubahan. Pembayaran perubahan dengan fleksibel
atau sesuai dengan presentase penyelesaian juga dapat membantu dalam meminimalkan penundaan pelaksanaan perubahan.
b. Melaporkan timbulnya perubahan kepada project manager (X24).
Pihak project manager sebagai wakil dari pemilik proyek bertanggung jawab menyampaikan informasi adanya perubahan pekerjaan konstruksi yang diajukan oleh pihak kontraktor, baik sedini mungkin disampaikan pemilik proyek atau pihak konsultan/engineer.
Informasi tersebut dapat meliputi identifikasi perubahan beserta alasannya. peran project manager juga termasuk memperingatkan pihak yang terkait perubahan untuk lebih sensitif akan kemungkinan terjadinya perubahan, sehingga memahami kontrak perubahan dan konsekuensi perlu dilakukan oleh semua pihak yang terkait.
Untuk perubahan yang cukup besar perlu adanya persetujuan dari owner. Pihak kontraktor juga perlu sedini mungkin untuk memberikan notifikasi kepada owner jika teridentifikasi adanya perubahan.
Keputusan untuk persetujuan perubahan dapat dikeluarkan sedini mungkin, untuk meminimalkan penundaan pada pelaksanaan perubahan nantinya.
c. Pengawasan pelaksanaan perubahan pada tahap implementasi change order (X47).
Pelaksanaan dan pengawasan perubahan harus dilakukan tepat waktu untuk menghindari adanya re-work atau pekerjaan ulang. Untuk itu perlu adanya kesiapan dari pihak kontraktor dalam menghadapi perubahan. Pihak kontraktor melaksanakan perubahan disesuaikan dengan kontrak kedua belah pihak, termasuk biaya tambahan dan waktu pelaksanaan. Pengawasan terhadap keselurahan proses prosedur change order dan pelaksanaan perubahan berpegangan pada dokumen yang berisi perbandingan sebelum dan sesudah change order terjadi, dilengkapi dengan detail gambar dan spesifikasi yang jelas. Instruksi
pelaksanaan perubahan perlu melakukan konfirmasi ulang terlebih dahulu kepada pihak kontraktor, meninjau ulang, mengoreksi dan menyetujui permohonan perubahan kontrak sebagai bentuk change order. Selanjutnya hasil pelaksanaan pengawasan perubahan perlu disampaikan kepada pihak owner dalam bentuk laporan periodik perubahan yang selalu di-update.