BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
7. Analisa Data
Analisa data bertujuan untuk menyusun data dalam cara yang bermakna sehingga dapat dipahami. Menurut Sugiyono (2010), analisa data merupakan proses yang merinci usaha secara formal untuk mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting untuk dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh orang lain dan diri sendiri.
Proses analisis data dilakukan segera setelah selesai setiap satu proses wawancara. Setiap selesai wawancara, peneliti langsung membuat transkrip hasil wawancara dilengkapi dengan catatan lapangan, kemudian transkrip tersebut dibaca berulang kali atau dilakukan seleksi data satu persatu (kata perkata).
Peneliti akan menggunakan metode Collaizi (1978) dalam (Polit & Beck, 2012) yang meliputi: (1) membaca semua transkrip wawancara untuk mendapatkan perasaan mereka, (2) meninjau setiap transkrip dan menarik pernyataan yang signifikan, (3) menguraikan arti dari setiap pernyataan yang signifikan, (4) mengelompokkan makna-makna tersebut ke dalam kelompok-kelompok tema, (5) mengintegrasikan hasil ke dalam bentuk deskripsi, (6) memformulasikan deskripsi lengkap dari fenomena yang diteliti sebagai identifikasi pernyataan setegas mungkin, (7) memvalidasi apa yang telah ditentukan kepada partisipan sebagai tahap validasi akhir.
8. Tingkat Kepercayaan Data
Dalam penelitian kualitatif untuk pengujian kepercayaan data dapat divalidasi dengan menggunakan beberapa kriteria yaitu credibility, dependability confirmability dan transferability (Polit & Beck, 2012).
Credibility (uji tingkat kepercayaan) merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Credibility pada penelitian ini dipertahankan peneliti melalui teknik prolonged engagement yaitu mengadakan pertemuan dengan partisipan sebanyak 1-2 kali pertemuan sehingga antara peneliti dan partisipan memiliki keterkaitan sehingga semakin akrab, terbuka dan saling mempercayai sehingga memberikan informasi yang diperoleh lebih lengkap.
Confirmability pada penelitian ini dilakukan dengan memeriksa seluruh transkrip wawancara dan tabel analisis tema kepada ahli di kualitatif. Dalam hal
ini dilakukan oleh dosen pembimbing yang merupakan pakar penelitian kualitatif. Kemudian peneliti menentukan tema dari hasil penelitian dalam bentuk matriks tema.
Dependability merupakan suatu kestabilan data atau proses untuk menilai kualitas dari proses yang ditempuh oleh peneliti. Dalam penelitian ini, beberapa catatan yang dapat digunakan untuk menilai kualitas dari proses penelitian adalah data mentah yang diperoleh melalui pengumpulan transkrip wawancara, hasil analisa data, membuat koding-koding (pengkodean) dan draft hasil laporan penelitian untuk menunjukkan adanya kesimpulan yang ditarik pada akhir penelitian.
Transferability merupakan hal yang penting supaya temuan data dapat diterapkan pada situasi atau kelompok yang lain. Kriteria ini digunakan untuk melihat bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks (setting) tertentu dapat ditransfer ke subjek lain yang memiliki karakteristik yang sama. Transferability pada penelitian ini dapat diterapkan jika kelompok lain dalam hal ini rumah sakit lain memiliki kesamaan dalam pengobatan pasangan infertilitas.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam pengalaman pengobatan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan. Hasil penelitian yang dibahas adalah karakteristik partisipan dan tema serta sub tema hasil analisa data penelitian.
1.1Karakteristik Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 4 pasang. Kedelapan partisipan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria dan bersedia untuk diwawancarai. Karakteristik partisipan pada penelitian ini meliputi usia, lama perkawinan, jenis kelamin, suku bangsa dan pendidikan terakhir. Data yang dikumpulkan dalam penelitian tentang pengalaman pengobatan pasangan infertilitas ini berupa jawaban atau ucapan yang tampak sebagai fenomena yang ditemui di lapangan. Untuk partisipan suami diberikan kode (S) dan istri (Ist). Data demografi partisipan serta tema dan sub tema dapat juga dilihat dari tabel karakteristik partisipan dan tabel tema dan sub tema.
Partisipan 1: Pasangan 1
Partisipan 1 (Ist) : Wanita berumur 37 tahun, agama Katolik, suku Batak, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan terakhir Diploma.
Partisipan 1 (S) : Pria berumuer 39 tahun, agama Katolik, suku Batak, pekerjaan pegawai negeri sipil, pendidikan terakhir Sarjana (S1). Pasangan telah menikah selama 6 tahun.
Partisipan 2: Pasangan 2
Partisipan 2 (Ist) : Wanita berumur 42 tahun, agama Protestan, suku Batak, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan terakhir sekolah menengah atas
Partisipan 2 (S) : Pria berumur 45 tahun, agama Protestan, suku Batak, pekerjaan pedagang, pendidikan terakhir sekolah menengah atas. Pasangan telah menikah selama 12 tahun.
Partisipan 3 : Pasangan 3
Partisipan 3 (Ist) : Wanita berumur 35 tahun, agama Protestan, suku Batak, pekerjaan pegawai negeri sipil, pendidikan terakhir SArjana (S1)
Partisipan 3 (S) : Pria berumur 43 tahun, agama Protestan, suku Batak, pekerjaan pegawai negerti sipil, pendidikan terakhir Sarjana (S2). Pasangan telah menikah selama enam setengah tahun.
Partisipan 4 : Pasangan 4
Partisipan 4 (Ist) : Wanita berumur 40 tahun, agama Katolik, suku Batak, pekerjaan ibu rumah tangga, pendidikan terakhir diploma.
Partisipan 4 (S) : Pria berumur 43 tahun, agama Katolik, suku Batak, pekerjaan pegawai negerti sipil, pendidikan terakhir Sarjana (S1). Pasangan telah menikah selama 6 tahun.
Tabel 4.1 Karakteristik Partisipan Karakteristik P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 Usia 35 32 40 32 43 35 42 32 Lama Perkawinan 6 6 9 9 7 7 5 5 Jenis Kelamin L P L P L P L P
Suku Bangsa Batak Batak Minang Minang Batak Batak Batak Batak
2. Hasil Wawancara
Hasil wawancara ini mendapatkan 5 tema terkait pengalaman pengobatan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan meliputi (1) pemeriksaan infertilitas yang pernah di jalani, (2) pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas, (3) respon psikis pasangan infertilitas selama menjalani pengobatan, (4) ahambatan dalam menjalani pengobatan, (5) harapan setelah menjalani pengobatan.
2.1 Pemeriksaan infertilitas yang pernah di jalani
Dari wawancara yang dilakukan dengan delapan partisipan, peneliti mengidentifikasi bahwa pasangan infertilitas melakukan beberapa pemeriksaan untuk terhindar dari keterlambatan tata laksana yang dapat memperburuk prognosis dari pasangan tersebut. Pemeriksaan tersebut meliputi (1) pemeriksaan ovulasi, (2) penilaian kelainan uterus, (3) anamnesis, (4) pemeriksaan fisik, (5) analisis sperma.
1. Pemeriksaan ovulasi
Beberapa partisipan dalam penelitian ini menyatakan bahwa pemeriksaan infertilitas yang mereka jalani adalah pemeriksaan ovulasi. Pemeriksaan ovulasi tersebut dimaknai seperti pemeriksaan sel telur, frekuensi dan keteraturan menstruasi serta siklus menstruasi yang tidak teratur.
Dua dari delapan partisipan menjalani pemeriksaan sel telur untuk memastikan bagaimana kualitas dari sel telur istri. Berikut pernyataan dari partisipan :
“Pas diperiksa itu katanya masalahnya disaya, katanya sel telur kurang bagus karena mungkin siklus haid ibu ada yang tidak teratur”
(Partisipan 2/Istri/L116)
“Di Penang kami diperiksa semuanya. Diperiksa sel telur ibu dan katanya banyak”
(Partisipan 3/Istri/L74)
“Langsung dipaksa itu mengambil sel telur untuk mencek bagus atau tidak telur itu, ada atau tidak virus, apakah ada mio, apakah ada kista”
(Partisipan 3/Istri/L169)
2. Pemeriksaan uterus
Pemeriksaan uterus dapat digunakan untuk memeriksa kondisi uterus atau rahim. Beberapa metode yang digunakan dalam penilaian uterus meliputi pemeriksaan dengan USG Transvagina dan pemeriksaan HSG. a. USG Transvagina
Dua partisipan melakukan pemeriksaan dengan USG Transvagina untuk melihat keadaan patologi dari dinding rahim dan kondisi disekelilingnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan partisipan sebagai berikut :
“Kalau saya juga kemarin itu kan di USG ada namanya yang Transvagina. Jadi disitu juga ada monitor seperti gambar rahim”
(Partisipan 4/Istri/L55)
“Kemudian kira-kira jam 8 malam mereka itu periksa saya pake USG yang dimasukkan kedalam alat itu terus ada monitornya dan dicabutlah disitu sel telurku untuk melihat bagaimana mutu sel telur”
(Partisipan 3/Istri/L164)
b. HSG (Histerosalpingografi)
Salah satu partisipan pada penelitian ini dilakukan proses pemeriksaan HSG yaitu salah satu pemeriksaan dari pasangan infertilitas dengan mengaliri cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim. Berikut pernyataan partisipan :
“Jadi kita setuju pas saya diperiksa kata dokternya ada periksa rahim dulu,
itu pemeriksaannya saya lupa tapi pemeriksaan HSG itu dialiri cairan ke
rahim”
(Partisipan 2/Istri/L113)
3. Anamnesis
Beberapa partisipan mengemukakan bahwa dilakukan pemeriksaan anamnesis yang dilakukan oleh dokter untuk memperoleh data terhadap pengobatan yang pernah dijalani, gaya hidup yang dilakukan oleh pasangan suami istri, frekuensi senggama, keluhan nyeri haid, ada atau tidaknya penggunaan obat penghilang nyeri, penggunaan KB, riwayat keguguran, penyakit infeksi, faktor genetik dan lama perkawinan.
Pengobatan yang pernah dijalani merupakan salah satu pertanyaan dari anamnesis yang dilakukan oleh dokter kepada pasangan untuk mengetahui riwayat pengobatan. Berikut pernyataan partisipan :
“Itu tahap pengobatan kami itu pertama konsultasi sama dokternya dulu tapi kami bawa hasil dari pengobatan yang sudah kami jalani itulah”
(Partisipan 3/Suami/L176)
b. Gaya Hidup
Beberapa partisipan juga mempunyai gaya hidup yang buruk seperti mengkonsumsi rokok, tuak dan mie instan. Dilakukan anamnesis terkait dengan gaya hidup yang dilakukan pasangan. Hal ini sejalan dengan pernyataan partisipan :
“Kalau saya memang dilakukan pemeriksaan, ditanya dulu bagaimana kebiasaan merokok dan sudah berapa lama itu merokok...”
(Pasangan 4/Suami/L77)
“...disitu katanya masalah disuami saya, karena faktor sering merokok. Dia perokok berat..”
(Pasangan 4/Istri/L53)
“Kalau pemeriksaan dokternya nggak tau saya dibilang mungkin karena perokok”
(Pasangan 3/Suami/L78)
“Mau juga sih minum-minuman keras tapi terbilang minuman keras sih tidak juga. Tuak. Minuman daerah kitalah, batak..”
(Pasangan 3/Suami/L79)
“Dokternya bilang karena faktor itu faktor sering mengkonsumsi rokok dan tuak kemudian saya juga suka makan mie instan”
(Pasangan 3/Suami/L82)
c. Frekuensi senggama
Penting juga untuk melakukan anamnesis terkait dengan frekuensi senggama yang dilakukan kedua pasangan. Kedelapan partisipan menyatakan bahwa mereka melakukan senggama secara teratur. Pernyataan ini dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut :
“Yah karena pengen punya anak jadi sering kita coba itu dek. Yah ada 4 kali
seminggu”
(Pasangan 1/Suami/L37)
“Yah kalau untuk berhubungan seksual kan rutinlah kita lakukan dek, kan memang sih bisa dibilanglah itu syarat utama supaya terjadi kehamilan kan, rutin kok itu dek kita lakukan”
(Pasangan 2/Istri/L39)
“”Jadi rutin kita lakukan, lagian sebelum berhubungan juga kan kita mementingkan nutrisi sama stamina”
(Pasangan 2/Suami/L51)
“Hubungan seksual kita jarang tidak melakukannya. Rutinlah, bagaimana kami melakukan itu”
(Pasangan 3/Suami/L38)
“Yah kalau untuk berhubungan suami istri yah sering kita lakukan karena kan kita sendiri pengenlah gitu punya anak kan”
(Pasangan 4/Istri/L44)
“Tapi berhubung karena baru menikah kan, kita coba itu secara rutin. Kehamilan juga pasti akan terjadi dengan hubungan seksual kan?
(Pasangan
“Mau gitu kan dalam dua hari sekali kita berhubungan”
(Pasangan 2/Istri/L41)
d. Keluhan nyeri haid
Keluhan nyeri dapat mengindikasi adanya massa seperti kista sehingga perlu dilakukan anamnesis. Beberapa partisipan dalam penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada keluhan nyeri yang berlebihan ketika mengalami menstruasi. Berikut pernyataan partisipan :
“Gak adalah kalo nyeri kali gitu kan..”
(Partisipan 4/Istri/L85)
“Kalau berlebihan sih nggak adalah, tapi kan namanya haid kadang nyeri juga, pinggang sakit kan normalnya itu”
(Partisipan 1/Istri/L125)
“Wajar sih iyakan? Nyerinya yah sedikit sajanya, baru pinggang juga pegel-pegel, bawaannya malas ajalah kalau haid....”
(Partisipan 2/Istri/L71)
e. Ada atau tidaknya penggunaan obat penghilang nyeri
Penting juga melakukan anamnesis terkait penggunaan obat-obatan penghilang nyeri ketika menstruasi untuk mengetahui gangguan menstruasi. Beberapa partisipan mengatakan tidak menggunakan obat-obatan penghilang nyeri saat menstruasi. Berikut pernyataannya :
“Kalau obat tidak adalah untuk haidnya cuma kalau saya pusing atau demam pas lagi haid kan saya minumlah obat buat demam atau pusingnya, tapi kalau untuk fokus obat untuk haid, tidak pernah saya konsumsi karena haid saya juga lancar-lancar saja kok tidak ada masalah.”
(Partisipan 2/Istri/L77)
“Yah kalau konsumsi obat-obatan sih saya gak pake itu, saya biarin aja gitu normal”
(Partisipan 1/Istri/L130)
f. Penggunaan KB
Anamnesis terkait penggunaan KB perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pasangan tidak menggunakan KB yang menjadi salah satu faktor penghalang kehamilan. Kedelapan partisipan mengemukakan tidak menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini sejalan dengan pernyataan partisipan sebagai berikut :
“Tidak ada kita tunda-tunda kehamilan. Kita tidak menggunakan suntik KB untuk tunda-tunda kehamilan, tidak ada kita pakai itu dek, langsung maunya pengen ada anak”
(Partisipan 1/Suami/L33)
“Kalau pakai KB kan ada misalnya yang pil itu tidak pernah, KB suntik juga tidak pernah dicoba waktu awal pernikahan itu, untuk urusan kontrasepsi tidak saya pakai dek”
(Partisipan 2/Istri/L21)
“Oh tidak ada kita tunda pakai alat KB, tidak ada dek”
(Partisipan 2/Suami/L36)
“Kita tidak memakai alat kontrasepsi apapun itu dek waktu masih awal menikah dulu”
(Partisipan 4/Suami/L26)
“Kemarin sih setelah menikah, kita ingin langsung punya anak dan menunda momongan itu tidak ada direncanakan”
(Partisipan 3/Suami/L25)
“Yah istilahnya kita tidak ada menunda kehamilan dengan metode alat KB lah dek, jadi kita berniat itu kepingin langsung punya anak tanpa menunda-nuda”
(Partisipan 2/Istri/L24)
g. Riwayat keguguran
Riwayat keguguran juga merupakan salah satu anamnesis yang dilakukan oleh dokter. Satu partisipan memiliki riwayat keguguran. Berikut pernyataannya :
“Setelah meninggal itu kan selalunya aku punya rencana punya anak lagi tapi
antara meninggal anak saya itu sampai sekarang aku udah tiga kali keguguran”
(Partisipan 3/Istri/L84)
h. Penyakit infeksi
Perlu juga diperoleh informasi apakah terdapat penyakit infeksi melalui pemeriksaan anamnesis. Beberapa partisipan mengalami penyalit infeksi seperti keputihan. Hal ini sejalan dengan pernyataan partisipan :
“Dokternya bilang juga ini penyebabnya salah satu karena saya keputihan kayak ada infeksi di organ reproduksi”
(Partisipan 1/Istri/L250)
“Tidak ada, dia bilang ini karena sel telur istri yang kecil dan ada infeksi juga tapi istri saja yang diperiksa”
(Partisipan 1/Suami/L128)
i. Faktor Genetik
Faktor genetik juga menyumbang penyebab terjadinya infertilitas sehingga harus dilakukan anamnesis terkait dengan riwayat genetik. Beberapa partisipan juga memiliki riwayat genetik keluarga. Berikut pernyataan partisipan:
“Dari keluarga saya sih tidak ada, kalau dari keluarga suami ada itu..Mereka lima bersaudara. Ada abangnya nomor dua di Semarang sampai sekarang udah ada 15 tahun belum punya anak”
(Partisipan 1/Istri/L156)
“Abang saya ini sekarang tugasnya di Semarang, dia sampai sekarang sudah hampir ada 15 tahun kan belum ada juga anaknya dia”
(Partisipan 1/Suami/L73)
“Kalau penyakit keturunan, bisa dibilang ada ya, kakak saya dua orang yang sampai sekarang ini juga belum punya anak”
(Partisipan 3/Suami/L70)
“Oh mama saya pernah itu 3 tahun kosong tapi setelah itu langsung punya anaklah sampai 10 bersaudara kami, tapi meninggal 2”
(Partisipan 3/Istri/L181)
j. Lama perkawinan
Anamnesis yang lain dapat meliputi lama perkawinan pasangan. Lama perkawinan kedelapan partisipan sudah lebih dari 1 tahun dan sudah dapat dikategorikan sebagai pasangan infertilitas. Berikut pernyataannya :
“Kita menikah 2009 sudah enam tahun dek”
(Partisipan 1/Suami/L22)
“Tahun 2006 Desember berarti sudah jalan 9 tahun ini dek”
(Partisipan 2/Istri/L18)
“Kami berumah tangga sudah 7 tahun dek”
(Partisipan 3/Suami/L18)
“Usia perkawinan sudah 5 tahun dek”
(Partisipan 4/Istri/L5)
“Usia pernikahan kita sudah 9 tahun dek”
(Partisipan 2/Suami/L20)
4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan pada pasangan infertilitas meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui indeks massa tubuh.
a. Pengukuran TB dan BB
Pengukuran TB dan BB dilakukan untuk melakukan penentuan indeks massa tubuh. Perlu dilakukan pengukuran TB dan BB untuk mengetahui kondisi berat badan sebagai salah satu faktor infertilitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini:
“Ke Adam Malik juga kami pernah berobat, disana dites darah, hormon, ditimbang berat badan, tinggi badan, konsultasi juga sama dokternya kan ditanyai kita sudah berobat kemana aja..”
(Partisipan 2/Suami/L129)
“Istri saya itu diperiksa hanya masalah berat badan, kelebihan berat badan dia soalnya istri agak gemuk kan yah dek?”
(Partisipan 3/Suami/L133)
5. Analisis Sperma
Pemeriksaan analisis sperma juga penting dilakukan pada awal kunjungan pasangan suami istri dengan masalah infertilitas. Analisis sperma dilkaukan melalui tahapan proses pengambilan sperma.
a. Proses pengambilan sperma
Pengambilan sperma dilakukan dengan cara berhubungan seksual dengan pasangan untuk mengeluarkan sperma yang akan dianalisis. Dua partisipan melakukan analisis sperma. Berikut pernyataannya :
“Pengambilan spermanya ini harus ditampung tapi tidak boleh ditampung dengan alat kontrasepsi contohnya kan kondom, jadi itu selama dua hari tidak boleh dulu berhubungan dengan istri”
(Partisipan 4/Suami/L80)
“Itu pemeriksaannya jadi kami harus melakukan hubungan seksual suami istrilah disatu ruangan sudah disediakan. Tujuannya untuk pengambilan sampel sperma lah kan?”
(Partisipan 3/Suami/L181)
2.2 Upaya Penanganan dan Pengobatan yang Dilakukan Pasangan Infertilitas Dari wawancara yang dilakukan dengan delapan partisipan, peneliti mengidentifikasi bahwa pasangan infertilitas melakukan upaya-upaya penanganan dan pengobatan untuk menyelesaikan permasalahan infertilitas. Beberapa upaya pengobatan yang dilakukan meliputi (1) pengobatan medis, (2) akupuntur sebagai pengobatan konvensional, (3) melakukan pengobatan alternatif, (4) teknik In Vitro Fertilization (IVF).
1. Pengobatan Medis
Pengobatan medis yang dilakukan pasangan infertilitas adalah dengan melakukan pemeriksaan ke dokter dan pemberian obat-obatan bagi pasangan suami istri.
a. Melakukan pemeriksaan ke dokter
Kedelapan partisipan mempercayakan pengobatan ke dokter sehingga mereka datang memeriksakan diri ke dokter khususnya dokter spesialis kandungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan partisipan berikut ini :
“Karena tidak hamil, pertama itu yah ke klinik dokter, ada itu di Binjai” (Partisipan 1/Istri/L174)
“..kan ada juga dokter spesialis, mereka membilang sama kita apa penyebabnya, terus juga ada solusi dari mereka, apa yang harus dimakan apa yang tidak, kan jelas itu kalau dari rumah sakit”
(Partisipan 1/Suami/L212)
“Jadi kami kemarin itu berobatnya ke klinik dokter spesialis kandunganlah pertama sekali. Dokter Hartogi di Mandala”
(Partisipan 2/Istri/L105)
“Tapi itulah kami periksalah ke Bandung itu pernah kan di RS Advent, disitu katanya masalah disuami saya”
(Partisipan4/Istri/L52)
“Kemarin kita juga kan cara pembayaran umum di RS Pirngadi pernah kita berobat .. gak pake jamkesmas atau apalah itu kan gak ada kita pakai. Karena kita juga mau pengobatan yang terpercaya ..diperiksa sama dokter spesialis kandungan”
(Partisipan 4/Istri/L94)
“Ke Pirngadi pun gitu juga periksa sana sini apa segala macam..” (Partisipan 2/Suami/L133)
“Setelah berobat berobat berobat berobat pindahlah kami berobat ke Medan ke dokter marga Sitompul RS yang di Sisingamangaraja RS Estomihi”
(Partisipan 3/Istri/L50)
“Ada dokter Jassen di Setia Budi itu pernah mengatakan cuma ada dua jalan. Adopsi anak atau kalian pisah. Itu solusinya karena bapak ini masalahnya oligosperma”
(Partisipan 3/Istri/L73)
b. Pemberian obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan dokter juga merupakan bagian dari pengobatan medis. Beberapa partisipan diberikan obat kesuburan oleh dokter. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan :
“Setiap datang kami, yah dikasih obat, kami tanya ini obat apa yah obat kesuburan gitu katanya biar cepat ada anak”
(Partisipan 1/Istri/L205)
“Saya dikasih obat saja, perangsang untuk hamil, obat-obat kesuburan, itu saja katanya diminum rutin nanti, cek lagi kesini kasih tau gimana perkembangannya”
(Partisipan 1/Suami/L100)
“Nah disitu dokter sarankan untuk minum obat untuk perangsang sel telur tadi supaya bagus”
(Partisipan 2/Istri/L117)
“Ada obat-obatan kayak provula namanya untuk ovulasi itulah dikasih tapi itu juga tidak membuahkan hasil”
(Partisipan 2/Istri/L168)
“Nah untuk mensiasati supaya tabung itu berwarna biru semua ketika sperma nanti bercampur dengan spektrum, jadi saya harus konsumsi obat-obatan dari mereka”
(Partisipan 3/Suami/L190)
“Baru dokternya memberikan obat supaya memperbaiki kualitas sperma, suamilah yang bisa dibilangkan dek”
(Partisipan 4/Istri/L57)
“Iya rutin saya minum obatnya ketempat bekerja saya bawa obatnya habis makan gitu kan, saya minum obatnya rutin sesuai dosis yang diberi dokternya”
(Partisipan 2/Suami/L87)
“Terakhir diobatilah kan aku juga makan obat supaya virusnya hilang” (Partisipan 3/Istri/L40)
2. Akupuntur sebagai pengobatan konvensional
Melakukan pengobatan akupuntur sebagai tindakan pengobatan konvensional juga dilakukan oleh partisipan sebagai sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan infertilitas.
a. Pengobatan akupuntur
Pengobatan akupuntur juga merupakan salah satu upaya pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas. Sepasang partisipan mendatangi pengobatan akupuntur seperti terapi penusukan jarum dibagian punggung. Berikut pernyataan partisipan :
“Kita pernah terapi akupuntur, yang ditusuk jarum itu.
(Partisipan 2/Istri/L163)
“Iya akupuntur pernah, dia terapi tusuk jarum kan. Jadi ada musik yang rileks, tenang gitu kan dek kita diposisikan setengah tidur kemudian
ditusukkan jarum ke bagian punggung, awalnya agak sakit tertusuk gitu kan tidak biasa tapi lama kelamaan jadi rileksm tenang, stres reda.
(Partisipan 2/Suami/L120)
“Akhirnya kami ke Penang bulan 1 ke RS Lam Wah Ee itu kesitulah kami” (Partisipan 3/Istri/L70)
3. Melakukan pengobatan alternatif
Selain pengobatan medis, pengobatan alternatif juga menjadi solusi bagi pengobatan pasangan infertilitas.
a. Pengobatan alternatif
Pengobatan alternatif seperti pengobatan non medis juga dilakukan oleh pasangan infertilitas diantaranya dengan berobat ke orang pintar, mengkonsumsi minuman herbal serta berkusuk. Beberapa partisipan juga melakukan pengobatan alternatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan :
“Misalnya kan nak, orang tua batak itu ada kan pintar-pintarnya, pokoknya yang ada kemampuannya dari orang biasa, kita berobat juga kesana. Kita diberikan obat semacam daun-daun alami yang bisa membantu perbaikan rahim.”
(Partisipan 1/Istri/L224)
“Yah karena mereka disebut orang pintar gitu kan kita dikasih minum air jamu dari jahe, cengkeh yang bikin hangatlah badan kita”
(Partisipan 1/Suami/L140)
“Kita juga suka dikusuk sebulan itu mau ada empat kali. Ibu juga dikusuk