BAB 3. METODE PENELITIAN
3.4 Rancangan Penelitian
3.4.3 Analisa Data
Analisa penelitian kualitatif adalah proses menyusun data agar dapat diinterpretasi. Hal ini dilakukan dengan cara mengelompokkan sesuai tema, kategori, atau pola. Interpretasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola dan kategori sehingga dapat mencari hubungan antara berbagai konsep. Interpretasi bukan hanya dilakukan pada saat berakhirnya pengumpulan data, namun sepanjang penelitian. Karena bila ternyata data tidak sesuai dengan kategori maka harus mengubah kategori atau mencari data yang sesuai dengan kategori (Nasution, 1988)
Proses analisa dimulai dengan menelaah seluruh data dari berbagai sumber yaitu kuisioner, pengamatan perilaku dan pengamatan jejak fisik dan wawancara. Hasil data dari sumber tersebut yang berupa catatan lapangan, hasil wawancara dan kuisioner, dokumentasi foto, video, gambar dan sebagainya, ditelaah lebih mendalam untuk dapat mengadakan reduksi data. Data reduksi akan memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan, dan mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan. Reduksi dapat membantu dalam pemberian kode pada aspek-aspek tertentu.
Moleong (1999) memperjelas bahwa reduksi data dapat dilakukan dengan membuat abstraksi yang berisi inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Data yang telah direduksi untuk selanjutnya disusun dalam satuan-satuan yang kemudian dibuat kategorisasi melalui pengkodean.
Data yang telah direduksi ditransformasikan dalam bentuk display yang dapat diwujudkan berupa sinopsis, sketsa, matriks, serta didukung dengan dokumentasi yang relevan (chart, grafik, foto, video dan gambar) agar mudah dipahami maknanya dalam menginterpretasikan. Membuat display berarti membuat sintesa. Hasil interpretasi tersebut kemudian dibuat kesimpulan sementara untuk dibandingkan dan pengujian kebenaran. Tahapan dalam siklus diatas berlangsung terus-menerus hingga sampai pada kesimpulan yang kuat. Kesimpulan yang semula sangat tentatif dan kabur, dengan bertambahnya data maka kesimpulan semakin kuat, karena senantiasa diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi adalah persetujuan bersama agar lebih menjamin validitas
(Nasution, 1988). Jadi pengumpulan data dan analisa data dilakukan secara bersama atau simultan.
Analisa data sewaktu pengumpulan data dapat untuk mengungkapkan (a) data apa yang masih harus dicari, (b) pertanyaan apa yang masih harus dijawab, (c) metode apa yang masih harus diadakan serta (d) kesalahan apa yang masih harus diperbaiki. Hasil analisa selama pengumpulan data berupa lembar rangkuman dan pengkodean. Gambar 3.1. berikut adalah skema analisa data.
Gambar 3.1 Skema Analisa dan Sintesa Data
Sumber : Reformasi Model Interaktif (Miles dan Huberman, 2007)
Analisa data personalisasi di ruang bersama apartemen telah dapat dimulai ketika pengumpulan data, karena merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus.Terdapat 4 tahapan analisa data yaitu :
a) Analisa Data Tahap 1
Analisa data tahap 1 ini adalah menjaring data yang dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Tujuannya adalah untuk memperoleh data atau latar belakang penghuni apartemen, aktivitas secara umum dan peta/setting tempat beraktivitas serta perilaku privasi dan publik yang dipahami dan dimaknai dalam kehidupan sehari hari di apartemen.
Penjaringan data kuisioner ini dilakukan terhadap responden penghuni apartemen dengan karakter/kualitas fisik dan lingkungan yang sama. Karena
Reduksi data Pelaku, jenis kegiatan, tempat, preferensi dll Display data/Sintesa Synopsis, gambar foto,sketsa, diagram, video, grafik, dll Kesimpulan dan verifikasi Pengumpulan data Daftar perilaku,catatan perilaku,lokasi seting, sketsa,foto,video kuisioner,wawancara
kualitas lingkungan fisik yang sama merupakan profil karakter penghuni. Responden kuisioner ini adalah penghuni apartemen dengan lingkup struktur sosial yang berkeluarga maupun lajang. Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh wacana yang beragam tentang perilaku di apartemen pada kualitas fisik bangunan apartemen yang sama. Tahap ini diharapkan dapat menemukan karakter penghuni apartemen serta perilaku secara umum dalam kehidupan di apartemen.
b) Analisa Data Tahap 2
Data yang digunakan pada analisa data tahap 2 diperoleh melalui
observing behavior yaitu pemetaan dan perekaman perilaku di ruang bersama.
Pemetaan perilaku bertujuan untuk memperoleh data spasial aktivitas penghuni. Pemetaan perilaku mengamati pelaku, jenis kegiatan, lokasi kegiatan, posisi orang, hubungan serta konteks/maknanya. Pemetaan perilaku diwujudkan dalam
display gambar layout ruang bersama serta peta posisi orang dalam berkegiatan di
ruang bersama tersebut. Dokumentasi foto, video dan denah yang lengkap dengan dimensi merupakan data penunjang physical environmentnya.
Untuk memperoleh perekaman perilaku yang merupakan data perilaku non-spasial melalui ekspresi, suara, gerakan maupun isyarat/simbol. Data ini digunakan untuk menganalisa keterikatan non-spasial terhadap ruang bersama, yaitu berdasarkan personal space, verbal dan non-verbal behavior. Perekaman dilakukan dengan media kamera dan video. Display data juga dilengkapi dengan narasi guna memperjelas analisa keterikatan non-spasialnya. Pemetaan dan perekaman dapat dilakukan secara bersamaan atau terpisah kurun waktunya. Hal tersebut dilakukan agar dapat memperoleh data yang tepat sasaran sesuai tujuan perilaku yang diamati. Penyatuan analisa data pemetaan dan perekaman diwujudkan dalam sajian gambar dan tabel yang dilengkapi dokumentasi foto. Data juga disandingkan dengan yang berasal dari apartemen teripilih yang lain.
Tahap analisa 2 ini akan dilengkapi hasil analisa tahap 1 guna memperoleh konsep perilaku privasi dan publik yang terjadi di ruang bersama. Sehingga dapat merumuskan kebutuhan perilaku personalisasi di ruang bersama yaitu dengan mengamati kebutuhan dan perolehan penempatan dan keterikatan perilaku penghuni terhadap ruang bersama tersebut.
c) Analisa Data Tahap 3
Analisa tahap ini merupakan tahap yang melengkapi tahap 2 yaitu pengamatan perilaku melalui analisa jejak fisik. Terdapat dua jenis jejak fisik yang dijaring yaitu (1) jejak fisik yang menyangkut aspek legal hak kepemilikan bersama atas ruang bersama di apartemen, fixed-element (dinding, pintu dan lain lain) maupun non-fixed (perabot, lampu dan lain lain), serta (2) jejak fisik yang timbul karena adanya kekurangan dan keterbatasan yang diamati dalam pemetaan dan perekaman perilaku di analisa tahap 2 di atas.
Jejak fisik diperlukan juga untuk melengkapi pemetaan dan perekaman perilaku, karena peneliti mempunyai keterbatasan dalam mengambil data secara terus menerus dan dalam kurun waktu lama. Oleh karenanya penelusuran jejak fisik diharapkan dapat melengkapi kekurangan tersebut. Display dari tahap ini berupa foto, sketsa dan catatan/dokumen peraturan. Tahap ini diharapkan dapat merumuskan pola hubungan perilaku personalisasi di ruang bersama dengan hak kepemilikan bersama.
d) Analisa Data Tahap 4
Setelah semua data pada ketiga tahap di atas diperoleh, maka penelitian kualitatif ini dilengkapi data hasil wawancara. Guna menindaklanjuti penggalian data tahap wawancara, maka responden dipilih secara random sebagai responden
indepth. Secara kuantitatif kurang lebih 10% dari jumlah responden yaitu 4 orang
dari apartemen Purimas dan 3 orang dari apartemen Dian Regency Sukolilo. Selain secara kuantitatif, faktor kemudahan penyesuaian jadwal wawancara pada responden menjadi pertimbangan utama.
Karena pemilihan responden indepth secara random, maka posisi unit kamar responden tidak terwakili per lantainya. Pada apartemen Purimas diperoleh 2 orang yang menghuni di lantai 1 serta 2 orang di lantai 5. Sedangkan pada apartemen Dian Regency Sukolilo diperoleh 1 orang bertempat di lantai 3, 1 orang di lantai 8, serta 1 orang di lantai 10. Perbedaan posisi lantai tersebut menjadi ‘wakil’ guna memahami makna perilaku yang tidak dapat diamati saat pengamatan perilaku serta jejak fisik.
Karakter perilaku yang diperoleh dari hasil pemetaan, perekaman dan jejak fisik digali lebih mendalam lagi melalui wawancara, guna menggali hal-hal yang tidak dapat terungkap melalui inderawi. Diharapkan tahap ini dapat melengkapi dan mempertajam analisa dalam merumuskan perilaku personalisasi ruang pada hunian vertikal apartemen. Sebagai catatan, tahapan analisa di atas tidak berarti berjalan linier, karena sangat dimungkinkan terjadi feedback. Hal tersebut sesuai dengan karakter penelitian kualitatif, bahwa analisa sudah dapat dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.