BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisa Giro Wajib Minimum (GWM)
Giro Wajib Minimum (GWM) merupakan simpanan yang wajib dimiliki oleh setiap bank umum pada Bank Indonesia. GWM dapat diklasifikasikan lagi menjadi GWM Rupiah dan GWM Valas. Cara perhitungan Giro Wajib Minimum adalah sebagai berikut :
GWM = Saldo Rekening Giro di Bank Indonesia x 100% Dana Pihak Ketika (DPK)
Saldo rekening giro di Bank Indonesia yang terdapat pada lampiran 1, 3, 5, 7, dan 9, Laporan Neraca Konsolidasi BCA pada pos aktiva dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu Giro Rupiah dan Giro Valas (Lihat pada catatan atas laporan keuangan, lampiran 11, 15, 19, 23, dan 27).
Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan simpanan dari nasabah yang ada di BCA (Lihat Lampiran 1, 3, 5, 7, dan 9 Laporan Neraca Kosolidasi BCA pada pos kewajiban). Selanjutnya dalam perhitungan rasio GWM, dana pihak ketiga tersebut diklasifikasikan menjadi DPK dalam bentuk rupiah dan DPK dalam bentuk valuta asing. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/15/PBI/2004 pasal 9, DPK dalam rupiah meliputi kewajiban
50
dalam rupiah kepada pihak ketiga bukan bank. Sedangkan DPK dalam valuta asing meliputi kewajiban dalam valuta asing kepada pihak ketiga, termasuk bank di Indonesia. Dana pihak ketiga terdiri dari penjumlahan saldo giro, tabungan dan deposito (baik sertifikat deposito maupun deposito berjangka) nasabah (Lihat pada catatan atas laporan keuangan, lampiran 12, 16, 20, 24, dan 28).
Data-data yang digunakan dalam perhitungan rasio GWM dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1
Data Perhitungan Rasio GWM
Tahun 2002 2003 2004 2005 2006
(dlm jutaan Rp) Saldo Rekening di BI:
Rupiah 4,736,543 5,484,008 9,901,854 14,589,982 17,954,208 Valuta Asing 305,642 331,524 332,867 439,401 447,449
Dana Pihak Ketiga:
Rupiah 94,121,975 107,817,833 122,726,005 118,419,878 139,713,542 Valuta Asing 9,588,169 10,234,714 8,894,491 11,148,427 14,154,386
Rasio GWM 2002 2003 2004 2005 2006
Rupiah 5.03% 5.09% 8.07% 12.32% 12.85%
Valas 3.19% 3.24% 3.74% 3,94% 3.16%
Sumber : Laporan Keuangan Tahunan PT Bank Central Asia, Tbk.
Sebagai contoh, perhitungan rasio GWM akan penulis rinci pada rasio GWM tahun 2002. Berikut adalah hasil perhitungannya:
a. Tahun 2002
Saldo Rekening Giro di BI (Rupiah) : Rp 4.736.543 Dana Pihak Ketiga Rupiah:
51 - Giro : Rp 16.072.605 - Tabungan : Rp 45.692.876 - Deposito Berjangka : Rp 32.343.772 - Sertifikat Deposito : Rp 12.722 Total DPK Rupiah Rp 94.121.975 GWM Rupiah = Rp 4.736.543 Rp 94.121.975 = 5,03 %
Saldo Rekening Giro di BI (Valas) : Rp 305.642 Dana Pihak Ketiga Valas :
- Giro : Rp 1.932.018
- BCA Dollar : Rp 3.428.586 - BCA Ekstra : Rp 122.063 - Deposito Berjangka : Rp 4.090.808 - Sertifikat Deposito : Rp 2.717 - Giro Bank lain : Rp 11.977
Total DPK Valas Rp 9.588.169 GWM Valas = Rp 305.642 Rp 9.588.169 = 3,19 % X 100 % X 100 %
52
Berarti pada tahun 2002, saldo rekening giro dalam mata uang Rupiah di Bank Indonesia sebesar 5,03 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk Rupiah. Sedangkan saldo rekening giro dalam valuta asing sebesar 3,19 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk valas.
b. Tahun 2003
GWM Rupiah = Rp 5.484.008
Rp 107.817.833 = 5,09 %
Pada tahun 2003, saldo rekening giro dalam mata uang Rupiah di Bank Indonesia sebesar 5,09 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk Rupiah.
GWM Valas = Rp 331.524
Rp 10.234.714 = 3.24 %
Pada tahun 2003, saldo rekening giro dalam valuta asing di Bank Indonesia sebesar 3,24 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk valas.
c. Tahun 2004 GWM Rupiah = Rp 9.901.854 Rp 122.726.005 = 8,07 % X 100 % X 100 % X 100 %
53
Pada tahun 2004, saldo rekening giro dalam mata uang Rupiah di Bank Indonesia sebesar 8,07 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk Rupiah.
GWM Valas = Rp 332.867
Rp 8.894.491 = 3,74 %
Pada tahun 2004, saldo rekening giro dalam valuta asing di Bank Indonesia sebesar 3,74 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk valas.
d. Tahun 2005
GWM Rupiah = Rp 14.589.982
Rp 118.419.878 = 12,32 %
Pada tahun 2005, saldo rekening giro dalam mata uang Rupiah di Bank Indonesia sebesar 12,32 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk Rupiah.
GWM Valas = Rp 439.401
Rp 11.148.427 = 3,94 %
Pada tahun 2005, saldo rekening giro dalam valuta asing di Bank Indonesia sebesar 3,94 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk valas.
X 100 %
X 100 %
54
e. Tahun 2006
GWM Rupiah = Rp 17.954.208
Rp 139.713.542 = 12,85 %
Pada tahun 2006, saldo rekening giro dalam mata uang Rupiah di Bank Indonesia sebesar 12,85 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk Rupiah.
GWM Valas = Rp 447.449
Rp 14.154.386 = 3,16 %
Pada tahun 2006, saldo rekening giro dalam valuta asing di Bank Indonesia sebesar 3,16 % dari total dana pihak ketiga yang terhimpun dalam bentuk valas.
Selanjutnya, rangkuman perhitungan rasio GWM dapat dilihat dalam gambar 1 dibawah ini.
0 2 4 6 8 10 12 14 2002 2003 2004 2005 2006 GWM Rupiah (%) GWM Valas (%) Gambar 1
Grafik Pertumbuhan Rasio GWM
X 100 % X 100 %
55
Pada tahun 2002 rasio GWM rupiah sebesar 5,03 % dan rasio GWM valas sebesar 3,19 %. Hal tersebut berarti bahwa BCA dapat menjaga saldo rekening giro di Bank Indonesia sesuai persyaratan dan ketentuan yang berlaku dimana menurut ketentuan Bank Indonesia GWM rupiah minimum sebesar 5 % dan GWM valas minimum sebesar 3 % serta juga dapat tetap menjalankan operasional perusahaan dengan baik di tengah berbagai tekanan faktor eksternal yang mempengaruhi pasar keuangan domestik.
Pada tahun 2003, terdapat peningkatan saldo rekening rupiah 15,78 % menjadi sebesar Rp 5,48 triliun dan rekening valas sebesar 8,47 % menjadi Rp 331,52 miliar. Peningkatan saldo tersebut sejalan juga dengan meningkatnya dana pihak ketiga di BCA yang meningkat masing-masing sebesar 14,55 % (rupiah) dan 6,74 % (valas) dari tahun 2002. Meningkatnya dana pihak ketiga dipicu oleh adanya peningkatan komponen dana murah yang makin diminati masyarakat, berupa giro dan tabungan.
Pada tahun 2004, saldo rekening giro rupiah meningkat signifikan sebesar 80,56 % dibandingkan tahun 2003. Sementara itu, saldo rekening valas tetap stabil berada pada kisaran Rp 300 miliar meskipun ada peningkatan tipis sebesar 0,41%. Dana pihak ketiga meningkat sebesar 13,83 % untuk mata uang rupiah dan menurun sebesar 13,09 % untuk valuta asing. Penurunan dana pihak ketiga dalam bentuk valuta asing tersebut dikarenakan tingkat inflasi yang cukup tinggi pada tahun
56
2004 serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Akan tetapi, meskipun terjadi penurunan dana pihak ketiga valas, rasio GWM Valas dapat tetap dipertahankan sesuai ketentuan minimum dari Bank Indonesia, yakni sebesar 3,74%.
Pada tahun 2005, saldo rekening giro rupiah dan valas sama-sama meningkat masing-masing sebesar 47,35 % dan 32,00 %. Sementara itu, dana pihak ketiga rupiah menurun sebesar 3,51 % atau Rp 4,31 triliun dan dana pihak ketiga valas kembali naik setelah sebelumnya sempat turun pada tahun 2004 menjadi sebesar Rp 11,15 triliun. Pada tahun ini juga Bank Indonesia menerapkan kebijakan pengetatan tingkat likuiditas Giro Wajib Minimum, sehingga BCA terus berupaya memenuhi kepatuhan tersebut dengan meningkatkan saldo rekening rupiah dan valas. Penurunan dana pihak ketiga rupiah disebabkan oleh menurunnya jumlah tabungan sebesar 7.97 %, menurunnya rekening giro rupiah sebesar 5.67 % sementara deposito meningkat sebesar 8.16 % (data dihitung berdasarkan lampiran 16). Nasabah lebih memilih deposito dibandingkan dengan tabungan dan rekening giro, disebabkan karena deposito memberikan bunga yang lebih tinggi. Faktor lain yang mungkin menyebabkan menurunnya dana pihak ketiga rupiah karena selama tahun 2005 banyak tekanan ekonomi yang membebani perekonomian nasional seperti naiknya harga BBM hingga dua kali lipat, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika dan valuta asing lainnya, inflasi yang merangkak tinggi dan masih
57
banyak lagi yang membuat situasi perekonomian menjadi kurang kondusif.
Pada tahun 2006, saldo rekening giro di Bank Indonesia tetap dipertahankan pada kisaran Rp 400 triliun untuk valas dan meningkat 3,36 triliun untuk rupiah. Sementara itu dana pihak ketiga rupiah meningkat sebesar 17,98 % menjadi Rp 139,71 triliun dan dana pihak ketiga valas meningkat sebesar 26,96 % menjadi sebesar Rp 14,15 triliun. Peningkatan dana pihak ketiga ditengah pertumbuhan perekonomian Indonesia yang kurang bergairah dan tingkat suku bunga yang semakin tinggi tersebut disebabkan adanya investasi BCA dalam pengembangan produk, ekspansi jaringan, dan berbagai program promosi.
Jika dilihat pada gambar 1, terlihat bahwa rasio GWM Rupiah mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2004 dan 2005. Faktor utama yang menyebabkan peningkatan tersebut dikarenakan kenaikan saldo rekening giro rupiah di Bank Indonesia yang meningkat hingga mencapai 80,56 % pada tahun 2004 dan mencapai 47,35 % pada tahun 2005. Meskipun dana pihak ketiga sempat mengalami penurunan pada tahun 2005, tapi justru karena itulah rasio GWM di tahun 2005 bisa lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2004. Pada tahun 2006, GWM Rupiah bergerak cukup stabil dari posisi tahun sebelumnya.
58
Pada gambar 1 juga dapat dilihat bahwa rasio GWM Valas bergerak sangat stabil dan terus berada pada kisaran 3 %. Meskipun terdapat peningkatan dalam saldo rekening valas di Bank Indonesia dan peningkatan dana pihak ketiga valas, tapi peningkatan dan penurunan tersebut masih saling mengimbangi sehingga selalu membuat pergerakan rasio GWM Valas stabil dari tahun ke tahun.
Secara keseluruhan, dilihat dari aspek likuiditas berdasarkan rasio GWM, dapat dilihat bahwa BCA cukup likuid dengan dipatuhinya ketentuan dari BI tentang GWM Rupiah dan Valas.