• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Hasil Uji Jalan dengan Metode Radius Belok Tetap pada Jalan Aspal Basah

B. Analisa Guling untuk Kendaraan Belok pada Jalan Miring

4.7. Analisa Hasil Uji Jalan dengan Metode Radius Belok Tetap pada Jalan Aspal Basah

Setelah dilakukan uji jalan dengan radius belok sebesar 10 meter dengan 2 orang penumpang yang berada di dalam mobil Toyota Agya yang dilakukan di jalan aspal basah. Didapatkan beberapa data berdasarkan hasil pengujian seperti yang ditunjukkan oleh tabel dan grafik hasil uji jalan pada aspal basah sebagai berikut ini :

Tabel 4.4. Hasil uji jalan mobil Toyota Agya pada jalan aspal basah

Gambar 4.23. Grafik δf° Vs 𝑽𝟐

𝒈 . 𝑹hasil uji jalan mobil Toyota Agya pada radius belok 10 meter jalan aspal dengan 2 orang penumpang.

Dari gambar 4.22 diatas dapat diketahui nilai gradian dari masing-masing grafik δf° Vs 𝑽𝟐

𝒈 . 𝑹. Nilai gradient tersebut

menunjukan nilai Kus dari mobil Toyota Agya yang berasal dari hasil uji jalan. Uji jalan yang dilakukan menggunakan metode radius belok tetap dengan jarak 10 meter dengan kondisi aspal basah. Dengan melalui nilai gradient grafik diatas dapat melihat perilaku arah kendaraan Toyota Agya adalah understeer. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan yang dilakukan sebagai berikut ini

Tabel 4.5. Hasil perhitungan nilai kus kendaraan. Aspal

V

[Km/jam] δf [°] Rn [m] KUS Tanda nilai Kus

10 13.71 10.238 0

15 13.71 10.238 0

20 13.71 10.284 0.201 +

25 13.71 10.393 0.4322 +

Berdasarkan tabel perhitungan diatas, nilai Kus yang didapat dengan radius belok nyata sebesar ± 10 meter yaitu cenderung bernilai positif (+) maka dapat dikatakan bahwa perilaku arah belok kendaraan cenderung understeer. Sehingga hasil yang didapatkan dari perhitngan dan uji jalan dapat dikatakan sama.

Dari tabel diatas hasil uji jalan mobil Toyota Agya dapat dilihat sudut steer kendaraan pada setiap penambahan kecepatan cenderung semakin besar sudut steer nya. Hal ini sudah sesuai dengan teori bahwa kendaraan yang mengalami kondisi understeer memerlukan sudut steer yang besar. Hasil yang didapat pada uji

jalan jika dibandingkan dengan perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6. Perbandingan sudut belok dan kecepatan skid kendaraan hasil perhitungan dengan hasil uji jalan.

Permukaan Jalan

Hasil Perhitungan Hasil Uji Jalan

δf V. Skid δf V. Skid

[°] [Km/Jam] [°] [Km/Jam]

Aspal Basah 13.71 30.68 13.71 30

Dari tabel diatas perbandingan hasil perhitungan dan uji jalan, nilai kecepatan skid kendaraan dengan sudut belok yang diberikan pada saat kendaran melintasi jalan aspal basah menunjukan nilai yang tidak jauh berbeda. Maka dapat dikatakan hasil uji jalan sesuai dengan hasi perhitungan yang telah dilakukan.

83

5.1 Kesimpulan

Dari analisa stabilitas arah yang dilakukan pada kendaraan Toyota Agya tipe G dengan variasi jumlah penumpang, kecepatan, sudut belok dan kemiringan melintang jalan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Stabilitas arah yang paling baik untuk mobil Toyota Agya tipe G ketika kendaraan dinaiki oleh dua orang penumpang. Karena kendaraan memiliki nilai koefisien understeer yang kecil dan mengalami kondisi oversteer yang rendah.

2. Semakin bertambahnya kecepatan dan sudut belok maka semakin besar sudut slip yang terjadi pada ban depan dan ban belakang. Sudut slip terbesar terjadi pada 4 penumpang, sudut belok 25° dengankecepatan 50 km/jam yaitu ban depan sebesar 8.848055772° dan11.44251093°

untuk ban belakang pada jalan datar.

3. Semakin bertambahnya sudut kemiringan melintang jalan, maka semakin kecil sudut slip yang terjadi pada ban kendaraan.

4. Semakin besar sudut kemiringan melintang jalan yang dilalui oleh kendaraan maka kecepatan kendaraan tidak mengalami skid semakin besar. Batas kecepatan agar kendaraan tidak mengalami skid dengan 2 orang penumpang dan sudut belok 13° pada jalan aspal kering, yang terkecil dengan sudut kemiringan melintang jalan 0°

sebesar 35.83275415 km/jam dan 36.07618363, dan yang terbesar pada sudut kemiringan melintang jalan 5.7°

sebesar 38.42480942 km/jam dan 39.00888699 km/jam 5. Saat melewati jalan aspal basah, mobil Toyota Agya lebih

mudah mengalami kondisi skid. Dengan 2 orang penumpang dan sudut belok 13°, batas kecepatan agar

kendaraan tidak mengalami kondisi skid, yang terkecil dengan sudut kemiringan melintang jalan 0° sebesar 31.4970922 km/jam dan 31.66203637 km/jam dan yang terbesar dengan sudut kemiringan melintang jalan 5.7°

sebesar 34.11792328 km/jam dan 34.51333807 km/jam. 6. Semakin banyak jumlah penumpang yang berada didalam

mobil, maka batas kecepatan mobil tidak terguling akan semakin menurun. Batas kecepatan agar mobil Toyota Agya tidak terguling pada sudut belok 15° dengan jalan aspal datar yaitu dengan 1 penumpang sebesar 53.099 km/jam, dengan 2 orang penumpang sebesar 51.4316 km/jam, dengan 3 orang penumpang sebesar 49.026 km/jam dan dengen 4 orang penumpang sebesar 46.4362 km/jam.

7. Semakin besar sudut kemiringan jalan yang diberikan maka kecepatan maksimum kendaraan tidak terguling semakin besar.

8. Berdasarkan analisa guling mobil Toyota Agya cenderung mengalami kondisi understeer karena batas kecepatan guling roda depan yang nilainya lebih kecil daripada batas kecepatan guling roda belakang.

9. Berdasarkan analisa Kus, mobil Toyota Agya cenderung mengalami kondisi understeer ketika diisi oleh 1 sampai 2 penumpang. Sedangkan saat diisi 3 sampai 4 penumpang mobil akan cenderung mengalami oversteer.

10. Berdasarkan hasil uji jalan dengan metode radius belok tetap 10 meter didapatkan hasil yaitu, mobil Toyota Agya cenderung mengalami kondisi understeer karena nilai koefisien understeer yang didapatkan bernilai positif yaitu sebesar 1.5788 pada jalan aspal basah

5.2 Saran

Dari hasil analisa yang telah dilakukan terdapat beberapa saran dan rekomendasi sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya. Adapun beberapa saran tersebut antara lain.

1. Melakukan analisa slip, skid dan guling dengan menambahkan stabilizer pada mobil Toyota Agya G 2. Melakukan uji jalan pada jalan aspal kering, untuk

membandingkan perilaku arah dan skid mobil Toyota Agya

87

DAFTAR PUSTAKA

Abe, Masato. 2009. Vehicle Handling Dynamics, Edisi Pertama. Amsterdam: Elsevier

Andriansyah, Deva. 2016. Analisis Pengaruh Operasional dan Penggunaan Stabilizer terhadap Perilaku Arah Belok Mobil Toyota Fortuner 4.0 V6 SR (AT 4X4). Surabaya: Teknik Mesin ITS.

An Naafi, Rizki. 2013. Perilaku Arah Mobil GEA Pada

Lintasan Belok Menurun dengan Variasi

Kecepatan, Berat Muatan, Sudut Kemiringan Melintang, Sudut Turunan Jalan dan Radius Belok Jalan. Surabaya : Teknik Mesin ITS

Badan Pusat Statisitik, 2013. Jumlah Angka Kecelakaan pada 1987-2013, Retrieved from <URL : http : // www. bps. go. Id /index .php/linkTabelStatis/1415

Direktorat Jenderal Bina Marga. 2004. Standar Geometri Jalan Perkotaan. Jakara: Badan Standardisasi Indonesia Dukkipati, R.V., et. all., 2008. Road Vehicle Dynamic. Warrendale

(PA): Society of Automotive Engineers.

Gaikindo. (2014). Domestic Market & Exim. Retrieved from www.gaikindo.or.id: http://www.gaikindo.or.id/data-by-category-2014/

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, (2014). Laporan Investigasi KNKT Jalan Raya. Retrieved from www. http://knkt.dephub.go.id/:http://knkt.dephub.go.id/we bknkt/investigasi_report.php?id=15

Dokumen terkait