Diagnosis pada pasien ini adalah :
OD: Glaukoma sudut tertutup/akut OS: Glaukoma sudut terbuka/kronik
41 Diagnosis Glaukoma sudut tertutup OD ditegakan berdasarkan:
Anamnesis:
Pasien perempuan, 61 tahun datang dengan keluhan penglihatan semakin kabur disertai mata merah sejak 3 hari sebelum masuk RS. Selain itu pasien juga mengeluhkan mata kanannya yang suka berair saat nyeri pada matanya.
Berdasarkan keluhan tersebut, maka kelainan pada mata pasien dapat dikelompokkan dalam kelompok penglihatan turun perlahan dengan mata merah, dengan kemungkinan-kemungkinan antara lain: kelainan uveitis, glaukoma, keratitis, ataupun ulkus kornea
Pada riwayat penyakit sekarang, didapatkan :
- Penglihatan mata kanan semakin kabur sejak 3 hari yang lalu disertai mata merah, Pasien mengeluhkan dirinya sering tersandung saat berjalan, gejala tersebut merupakan ciri-ciri pada penderita glaukoma akut.
- Riwayat trauma pada mata, alergi, belekan disangkal pasien, menyingkirkan keratitis - Riwayat silau apabila melihat cahaya / fotofobia disangkal pasien, menyingkirkan uveitis
Pemeriksaan Fisik
- Status Oftalmologi:
o Tajam penglihatan OD: 3/60, dengan Pin Hole tidak maju, tidak dapat dikoreksi karena adanya gangguan pada media pembiasan cahaya. Media pembiasan cahaya itu kornea, akuos humor, lensa, badan kaca, dan retina. Pada kasus ini kemungkinan gangguan di akuos humor dimana terjadi gangguan regulasi.
o Seluruh bagian lensa OD jernih dengan hasil shadow test (-) menunjukan tidak adanya kalsifikasi lensa pada katarak.
o Pemeriksaan segmen anterior : kedalaman bilik mata depan OD dangkal, hal ini disebabkan adanya glaukoma sudut tertutup yang sudah berjalan akut.
o Pada pemeriksaan tonometri schiotz terjadi peningkatan TIO OD : 71 mmHg (tinggi). o Pada pemeriksaan funduskopi mata kanan batas papil tidak jelas, warna pucat, CD
ratio 0.7 ini menunjukkan adanya glaukoma karena pada glaukoma anak terjadi pembesaran cup disk ratio.
42 hal ini disebabkan karena glaukoma kronik yang dapat menyebabkan atrofi papil saraf optik.
Pemeriksaan Anjuran
- Perimetri , untuk menilai progresivitas penyakit glaukoma.
- Gonioskopi untuk melihat sudut bilik mata yang dapat menimbulkan glaukoma.
Penatalaksanaan
Tatalaksana pada kasus ini :
- Tetes mata parasimpatomimetik (Pilokarpin 2%) dikenal dengan bentuk miotika yang cara kerjanya dengan mengecilkan pupil yang mengakibatkan bertambahnya fasilitas keluarnya cairan mata di sudut bilik mata depan.
- Tetes mata beta bloker (Timolol maleat 0.50%) yang berkerja menghambat rangsangan simpatis dan mengakibatkan penurunan tekanan bola mata.
- Carbon anhydrase inhibitor (Asetazolamid 250 mg) yang dapat menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60% sehinga dapat menurunkan tekanna bola mata. Hati-hati pada pemberian pertama kali karena dapat menyebabkan hipokalemia sementara.
-
Indikasi operasi pada kasus ini :
o Tekanan intraokuler tak dapat dipertahankan di bawah 22 mmHg o Lapang pandang terus mengecil
o Pasien tidak kooperatif dalam pengobatan
Prinsip operasi : fistulasi, membuat jalan baru untuk mengeluarkan humor aqueus oleh karena jalan yang normal tidak dapat dipakai lagi.
Macam-macam operasi : o Iridenkleisis o Trepanasi o Sklerotomi o Siklodialise
43 o trabekuletomi
Diagnosis Glaukoma sudut terbuka OS ditegakan berdasarkan:
Anamnesis:
Pasien datang ke poliklinik mata RSUD dengan keluhan penglihatan pada mata kiri sudah hilang tanpa disertai mata merah sejak 3 bulan SMRS.
Berdasarkan keluhan tersebut, maka kelainan pada mata pasien dapat dikelompokkan dalam kelompok penglihatan turun perlahan tanpa mata merah, dengan kemungkinan-kemungkinan antara lain: kelainan refraksi, katarak, glaukoma ataupun kelainan pada makula dan retina.
Pada riwayat penyakit sekarang, didapatkan :
- Penglihatan mata hilang sejak 3 bulan yang lalu tanpa disertai mata merah, selain itu pasien sering tersandung terutama saat naik tangga, pasien dua tahun yang lalu berobat dengan keluhan yang sama dengan diagnosa glaukoma, selain itu pasien menderita penyakit diabetes yang tidak terkontrol, gejala tersebut merupakan ciri-ciri pada penderita glaukoma kronik.
- Riwayat penglihatan seperti melihat kabut disangkal pasien ini dapat menyingkirkan adanya katarak.
- Pasien tidak pernah menggunakan obat2an TBC, menyingkirkan retinopathy akibat intoksikasi etambutol.
- Pasien tidak pernah tinggal didaerah episemik malaria dan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan malaria(kina) dalam jangka waktu lama, menyingkirkan diagnosa retinopathy akibat intoksikasi kina.
Pemeriksaan Fisik
- Status Oftalmologi:
o Tajam penglihatan OS: 0, pada kasus ini kemungkinan gangguan di akuos humor dimana terjadi gangguan regulasi yang telah disertai kerusakan pada papil nervus optikus.
o Seluruh bagian lensa OS jernih dengan hasil shadow test (-) menunjukan tidak adanya kalsifikasi lensa pada katarak.
44 o Pemeriksaan segmen anterior : kedalaman bilik mata depan OD dalam, hal ini
disebabkan adanya glaukoma sudut terbuka yang sudah berjalan kronik.
o Pada pemeriksaan tonometri schiotz terjadi peningkatan TIO OD : 81,6 mmHg (tinggi) karena pasien sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit glaukoma dan sudah mendapat pengobatan sebelumnya.
o Pada pemeriksaan funduskopi mata kanan batas papil tidak jelas, warna pucat, CD ratio 0.7 ini menunjukkan adanya glaukoma karena pada glaukoma anak terjadi pembesaran cup disk ratio.
o Pada tes konfrontasi negatif, hal ini disebabkan karena glaukoma kronik yang dapat menyebabkan atrofi papil saraf optik.
Pemeriksaan Anjuran
- Gonioskopi untuk melihat sudut bilik mata yang dapat menimbulkan glaukoma.
Penatalaksanaan
Tatalaksana pada kasus ini :
- Tetes mata parasimpatomimetik (Pilokarpin 2%) dikenal dengan bentuk miotika yang cara kerjanya dengan mengecilkan pupil yang mengakibatkan bertambahnya fasilitas keluarnya cairan mata di sudut bilik mata depan.
- Tetes mata beta bloker (Timolol maleat 0.50%) yang berkerja menghambat rangsangan simpatis dan mengakibatkan penurunan tekanan bola mata.
- Carbon anhydrase inhibitor (Asetazolamid 250 mg) yang dapat menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60% sehinga dapat menurunkan tekanna bola mata. Hati-hati pada pemberian pertama kali karena dapat menyebabkan hipokalemia sementara.
Indikasi operasi pada kasus ini :
o Tekanan intraokuler tak dapat dipertahankan di bawah 22 mmHg o Pasien tidak kooperatif dalam pengobatan
45 karena jalan yang normal tidak dapat dipakai lagi.
Macam-macam operasi : o Iridenkleisis o Trepanasi o Sklerotomi o Siklodialise o trabekuletomi