BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.7 Analisa pembakaran dengan perangkat lunak Aspen Plus®
Setelah penelitian yang berhubungan dengan komposisi dan properties dari masing-masing bahan bakar biomassa maka langkah selanjutnya ialah analisa pembakaran dengan menyertakan informasi yang telah didapat guna mengetahui gas yang dihasilkan biomassa ketika dibakar.
Analisa pembakaran yang dilakukan dengan perangkat lunak Aspen Plus®
akan disimulasikan sama seperti yang ada dilapangan, seperti sampel biomassa yang di ambil dari lapangan dan telah di uji untuk mengetahui properties, diberikan juga udara berlebih sebanyak 20% dari kebutuhan udara teoritis, dan perbandingan pencampuran masing-masing biomassa seperti pada lapangan. Model desain simulasi dapat dilihat pada gambar 3.19.
Gambar 3.19. Flowsheet pembakaran biomassa 3.7.1 Skenario Simulasi
Penelitian ini dilakukan dengan mensimulasikan 3 jenis pembakaran bahan bakar yaitu: TKKS, serat kelapa sawit, dan cangkang kelapa sawit. Lalu untuk melihat hasil yang efektif maka akan dilakukan pembakaran dengan campuran ketiga bahan bakar dengan perbandingan TKKS 52%, serat kelapa sawit 36%, dan cangkang 12% lalu pembakaran masing-masing bahan bakar serta variasi temperatur dimulai dari 600°C, 700°C, 800°C, 900°C, 1000°C, 1100°C, dan 1200°C.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
4.1 Sifat Biomassa
Setelah dilakukan beberapa percobaan pada bahan bakar biomassa TKKS, serat, dan cangkang kelapa sawit maka diketahui properties dari bahan bakar tersebut, hal ini sangat dibutuhkan untuk proses pembakaran pada ketel uap yang ada di lapangan maupun penelitian selanjutnya, properties bahan bakar biomasa dapat dilihat pada Tabel 4.1:
Tabel 4.1 Sifat Biomassa
Ultimat TKKS Serat Cangkang Sawit
Karbon (%) 55,52 55,65 56,11
Hidrogen (%) 7,83 9,47 7,27
Nitrogen (%) 1,57 2,08 1,35
Potassium (%) 0,30 0,26 0,04
Sulfur (%) 0,08 0,04 0,02
Abu (%) 2,97 3,24 2,94
Oxygen (%) 31,73 29,26 32,27
Proksimat
Abu (%) 2,97 3,24 2.94
Volatile Matter (%) 8,60 9,58 8.29
Fixed Carbon (%) 78,43 74,18 79,81
Kadar Air (%) 10 13 8,96
LHV (kj/kg) 22246 23735 23196
4.2 Analisa Nilai Kandungan Bahan Bakar
Beberapa analisa sangat dibutuhkan untuk mengetahui karakteristik dari tiap bahan bakar yang akan dibakar agar dapat diketahui fenomena yang akan terjadi setelah pembakaran dilakukan.
4.2.1 Analisa Bom Kalorimeter
Setelah dilakukan percobaan bom kalorimeter akan didapat temperatur air pendingin sebelum penyalaan dan setelah penyalaan maka nilai ini yang kemudian akan dihitung menggunakan rumus dan akan di dapatkan nilai pembakaran atas (HHV) dan nilai pembakaran bawah (LHV). Perhitungan ini mengacu ke persamaan 2.1 dan 2.2 lalu dihitung menggunakan data temperatur air pendingin yang didapat dari pengujian bom kalorimeter manual yang dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Temperatur air pendingin Bom Kalorimeter
Temperatur air pendingin
TKKS Serat (fibre) Cangkang
T1 ºC
Untuk perhitungan nilai kalor atas (HHV) dan nilai kalor bawah (LHV) akan diambil nilai rata-rata dari temperatur air pendingin:
- Perhitungan nilai kalor TKKS:
T1 = 27,68 ºC T2 = 28 ºC
HHV = (28 ºC − 27,68ºC − 0,005 )𝑥 73259,6
= 23076,774 𝑘𝑗/𝑘𝑔 (5515,48 𝑘𝑐𝑎𝑙/𝑘𝑔)
LHV = 23076,774 − 3240
= 19836,774 𝑘𝑗/𝑘𝑔 (4741,10 𝑘𝑐𝑎𝑙/𝑘𝑔)
- Perhitungan nilai kalor serat:
T1 = 28,09 ºC
- Perhitungan nilai kalor cangkang:
T1 = 27,18 ºC dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Nilai kalor dengan Bom Kalorimeter IKAC6000
Sumber sampel Jenis Sampel Nilai kalor
Sampel PKS Sarimas Group
TKKS 5317 kcal/kg (22246,32 kj/kg) Serat 5673 kcal/kg (23735,83 kj/kg) Cangkang 5544 kcal/kg (23196,1 kj/kg) Sampel PKS Kebun
Adolina
TKKS 5247 kcal/kg (21953,45 kj/kg) Serat 5123 kcal/kg (21434,63 kj/kg) Cangkang 5787 kcal/kg (24212,81 kj/kg)
4.2.2 Analisa Ultimat (Ultimate Analysis)
Pengujian analisa ultimat dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang berada di Jl. Brigjen Katamso No.51, Kp. Baru, Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Setelah dilakukan pengujian maka di dapat unsur yang terdapat pada Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), Cangkang sawit, dan serat. Akan tetapi untuk unsur Hidrogen dan Oksigen di dapat dari perhitungan rumus 2.4 dan 2.5. Hasil pengujian di laboratorium PPKS dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil analisa ultimat TKKS, Cangkang sawit, dan serat
TKKS
4.2.3 Analisa Proksimat (Proximate Analysis)
Pengujian analisa proksimat juga dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian kelapa Sawit (PPKS), pada analisa proksimat akan di dapat unsur-unsur seperti Volatile Matter, Moisture, dan Ash. Untuk kandungan Fixed carbon akan dihitung menggunakan rumus 2.3. Hasil pengujian analisa proksimat dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil analisa proksimat TKKS, Cangkang sawit, dan serat.
Lalu untuk mencari nilai fixed carbon menggunakan rumus sebagai berikut:
- Nilai fixed carbon Tandan Kosong Kelapa sawit FC = 100 – (moisture + ash + volatile matter)
- Nilai fixed carbon cangkang
FC = 100 – (moisture + ash + volatile matter) = 100 – ( 8.96 + 2.94 + 8.29 )
= 79,81 %
Kemudian untuk mendapatkan unsur Hidrogen serta Oksigen akan dihitung dengan rumus 2.4 dan 2.5 sebagai berikut:
- Perhitungan unsur hidrogen dan oksigen TKKS
H = 55,3678 – (0,4830Volatille Matter) – (0,5319Fixed Carbon) – (0,5600Ash)
= 55,3678 – (0,4830 x 8.6) – (0,5319 x 78,43) – (0,5600 x 2.97) = 7,83 %
O = 100 – (Carbon + Hydrogen + Nitrogen + Potassium + Sulfur + Ash) = 100 – (55.52+ 7,83 + 1.57+ 0.3 + 0.08 + 2.97)
= 31,73 %
- Perhitungan unsur hidrogen dan oksigen serat
H = 55,3678 – (0,4830Volatille Matter) – (0,5319Fixed Carbon) –
- Perhitungan unsur hidrogen dan oksigen cangkang
H = 55,3678 – (0,4830Volatille Matter) – (0,5319Fixed Carbon) –
4.3 Analisa Hasil Pembakaran
Pada penelitian ini, simulasi ruang bakar memakai software Aspen Plus®.
Variasi temperatur akan dilakukan guna mengetahui reaksi nilai ultimat dan proksimat bahan bakar pada tiap kenaikan temperatur, temperatur akan di variasikan dari 600°C s/d 1200°C juga diberikan udara berlebih sebanyak 20% dari kebutuhan udara teoritis. Terdapat 3 jenis bahan bakar yang akan dibakar dengan nilai ultimat dan proksimat berbeda seperti yang telah di jelaskan, yaitu Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), serat dan cangkang, masing-masing bahan bakar ini akan dibakar dan juga dicampur ketiganya untuk mengetahui hasil pembakaran yang dihasilkan yang dijelaskan pada grafik berikut:
1. Hasil Pembakaran TKKS
Pada simulasi pembakaran pertama dilakukan dengan menggunakan 100%
Tandan Kosong Kelapa Sawit menghasilkan komponen-komponen gas yang sangat berpengaruh terhadap kenaikan temperatur dan simulasi ini menghasilkan gas KO2 yang paling tinggi dibandingkan simulasi yang lainnya dan gas ini terus bertambah apabila temperatur naik, dapat dilihat pada Gambar 4.1.
(a)
(b)
Gambar 4.1. Komponen-komponen gas hasil pembakaran TKKS (trend kenaikan terhadap temperatur)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran ( Kg / jam)
Hasil Pembakaran ( Kg / jam)
Temperature °C
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg/ jam)
Temperature °C
SO2 NO2 CO H2
Gambar 4.2. Komponen gas hasil pembakaran TKKS (trend penurunan terhadap temperatur)
Pada simulasi ini dengan bahan bakar 100% tandan kosong kelapa sawit terdapat komponen-komponen hasil pembakaran dengan jumlah dari beberapa unsur sedikit lebih banyak seperti pada unsur N2 dengan trend stabil dan menurun pada unsur yang lain akibat variasi kenaikan temperatur seperti yang dijelaskan pada Gambar 4.2.
2. Hasil Pembakaran serat
Pada simulasi pembakaran kedua dilakukan dengan menggunakan 100%
serat kelapa sawit dan pada simulasi ini juga menghasilkan komponen-komponen gas yang berpengaruh terhadap kenaikan temperatur, terdapat juga gas KO2 tetapi jumlahnya lebih sedikit yang hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4.3.
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (kg / jam)
Hasil Pembakaran (kg / jam)
Temperature °C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
HCL S NO KO2
(b)
Gambar 4.3. Komponen-komponen gas hasil pembakaran serat (trend kenaikan terhadap temperatur)
Gambar 4.4 Komponen-komponen gas hasil pembakaran serat (trend penurunan terhadap temperatur)
Seperti percobaan sebelumnya pada percobaan ini dengan bahan bakar 100% terdapat juga komponen gas yang tetap stabil dan juga menurun seperti pada hasil simulasi yang lain tetapi jumlahnya yang berbeda akibat adanya variasi kenaikan temperatur dan komposisi bahan bakar pada simulasi, yang di jelaskan pada Gambar 4.4.
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
SO3 H2O O2 N2 CO2 CL2
3. Hasil Pembakaran Cangkang
Pada simulasi pembakaran ketiga dilakukan dengan menggunakan 100%
cangkang kelapa sawit dan juga menghasilkan komponen gas yang berpengaruh pada kenaikan temperatur dan pada simulasi ini juga menghasilkan gas KO2 yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar TKKS tetapi lebih banyak dari simulasi bahan bakar serat kelapa sawit dan hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4.5.
(a)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
HCL S NO KO2
Gambar 4.5. Komponen-komponen gas hasil pembakaran cangkang (trend kenaikan terhadap temperatur)
Gambar 4.6 Komponen-komponen gas hasil pembakaran cangkang (trend penurunan terhadap temperatur)
Sama halnya pada simulasi ini dengan bahan bakar 100% cangkang juga terdapat juga komponen-komponen hasil pembakaran dengan trend penurunan tetapi jumlahnya yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar yang lain akibat perbedaan komposisi dari bahan bakar seperti pada Gambar 4.6.
4. Hasil Pembakaran Campuran
Pada simulasi pembakaran terakhir dilakukan dengan mencampurkan ketiga bahan bakar dengan perbandingan 52% TKKS, 36% serat, dan 12%
cangkang, jumlah perbandingan campuran ini didapat dari data ketel uap pada PT. Meskom Agro Sarimas. Pada simulasi ini juga menghasilkan gas yang jumlahnya mengalami kenaikan terhadap variasi kenaikan temperatur dan juga jumlah gas KO2 yang lebih rendah dibandingkan simulasi 100%
TKKS dikarenakan adanya pencampuran bahan bakar yang dapat dilihat pada Gambar 4.7.
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
SO3 H2O O2 N2 CO2 CL2
(a)
(b)
Gambar 4.7 Komponen-komponen gas hasil pembakaran campuran (trend kenaikan terhadap temperatur)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
SO2 NO2 H2 CO
Gambar 4.8 Komponen-komponen gas hasil pembakaran cangkang (trend penurunan terhadap temperatur)
Sementara itu pada simulasi dengan perbandingan campuran bahan bakar juga menghasilkan komponen-komponen hasil pembakaran dengan trend penurunan yang jumlahnya lebih sedikit ketimbang pembakaran bahan bakar 100%
TKKS yang dijelaskan pada Gambar 4.8.
0
600°C 700°C 800°C 900°C 1000°C 1100°C 1200°C
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Hasil Pembakaran (Kg / jam)
Temperatur (°C)
SO3 H2O O2 N2 CO2 CL2
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan analisis dan simulasi yang dibahas pada Bab IV, maka kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan maka didapat nilai proksimat dari bahan bakar biomassa yaitu:
a. Tandan Kosong Kelapa sawit (TKKS)
- Moisture = 10 %
- Ash = 2.97 % - Volatile Matter = 8.6 % - Fixed carbon = 78,43%
b. Serat kelapa sawit
- Moisture = 13 %
- Ash = 3.24 % - Volatile Matter = 9.58 % - Fixed carbon = 74,18%
c. Cangkang kelapa sawit
- Moisture = 8.96 % - Ash = 2.94 % - Volatile Matter = 8.29 % - Fixed carbon = 79,81%
2. Begitu juga dengan analisa ultimat dari bahan bakar biomassa dan didapatkan nilai ultimat bahan bakar biomassa yaitu:
a. Tandan Kosong Kelapa sawit (TKKS) - Karbon = 55.52 %
- Nitrogen = 1.57 % - Potassium = 0.3 %
- Sulfur = 0.08 % c. Cangkang kelapa sawit
- Karbon = 56.11 % kelapa sawit, dan cangkang kelapa sawit dengan moisture masing-masing 10%, 13%, dan 8,96% yaitu; 22246,32 kj/kg(TKKS), 23735,83 kj/kg(serat buah), dan 23196,1 kj/kg(cangkang).
4. Setelah dilakukan simulasi pembakaran dengan variasi temperatur maka menghasilkan komponen-komponen gas yang jumlahnya berbanding lurus seperti gas KO2 terhadap kenaikan temperatur dan diikuti gas yang lain seperti H2, NO2, NO, CO, S, HCL, dan SO2, lalu terdapat juga komponen gas yang hasilnya cenderung stabil dan menurun seperti gas SO3 yang mengalami penurunan terhadap kenaikan temperatur dan diikuti dengan beberapa jenis gas yang lain yaitu H2O, O2, N2, CO2, dan CL2.
5.1 Saran
Untuk penelitian selanjutnya adapun saran yang dapat diberikan antara lain:
1. Perlu dilakukan penelitian untuk mencegah terjadinya fenomena deposit.
2. Perlu dilakukan penelitian terhadap komposisi abu deposit.
3. Perlu dilakukan penelitian eksperimental, sehingga didapat detail karakteristik sebelum pembakaran dan sesudah pembakaran.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sugiyono, Agus. 2016. “Outlook Energi Indonesia 2016”. Jakarta: Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BPPT.
[2] Perpres 22 Tahun 2017, “Rencana Umum Energi Nasional”. Jakarta [3] Sujiman. 1985, “Ketel Uap Untuk Pabrik Pengolahan Buah Kelapa Sawit
(Kapasitas 20 Ton TBS/jam)” (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
[4] https://id.pinterest.com/pin/374502525234881799/?lp=true
[5] Muin, Syamsir A. 1986. “Pesawat-pesawat Konversi Energi I (Ketel Uap)”.
Jakarta. CV.Rajawali.
[6] http://www.industrialboiler.com/Boilers/Firetube-Boilers
[7] http://steamofboiler.blogspot.com/2011/07/water-tube-boiler.html [8]
http://belajarsawit.blogspot.com/2012/12/ketel-uap-boiler-di-pabrik-kelapa-sawit.html
[9] Gaol, Dosma Putra Lumban. 2016. “Analisa Efisiensi Water Tube Boiler Berbahan Bakar Fiber, Cangkang Sawit Dan Kulit Kayu Menggunakan Metode Langsung” (skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
[10] Suharto. 2017. “Bioteknologi Dalam Bahan Bakar Nonfosil”. Yogyakarta.
CV.Andi Offset.
[11] Ditjen PPHP. 2006. “Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit”. Jakarta. Departemen Pertanian.
[12] Sukarta, Nyoman. Dan Luh Putu Ayu Lakshemini Oka. 2017. “Analisis Proksimat Pada Pelet Bahan Bakar Dari Kotoran Babi Yang Dikombinasikan Dengan Limbah Kayu”. Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.
[13] Anonim, “Bab II Tandan Kosong Kelapa Sawit” (skripsi).
http://repository.uin-suska.ac.id. Diakses pada 4 Maret 2018
[14] https://www.rumahmesin.com/pemanfaatan-tandan-kosong-kelapa-sawit/
[15] http://idijember.6te.net/minyak_sawit_ganggu_kesehatan.htm
[16] Nhuchhen, Daya Ram. 2016. “Prediction of carbon, hydrogen, and oxygen compositions of raw and torrefied biomass using proximate analysis”.
Canada: Dalhousie University.
[17] Thayab, Awaluddin. 2003. “Buku Panduan Praktikum Bom Kalorimeter”.
Universitas Sumatera Utara.
[18] Cengel, Yunus A. dan Michael A. Boles. 2006. “Thermodynamics: An Engineering Approach 5th Edition”. McGraw-Hill.
[19] Anonim, 2012. “Praktikum Instrumentasi Teknik Pengukuran. Palembang:
Politeknik Negeri Sriwijaya.
[20] Anonim, 2018. “Menghitung Nilai Kalor Bahan Bakar”.
www.teknikmesinzone.blogspot.co.id. Diakses pada 6 Februari 2018.
[21] Ependi, Safrul. 2017. “Desain dan Analisis Termodinamika Sistem Siklus Rankine Organik Berbahan bakar Biomassa” (skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
[22] Mulud, Teguh Harijono. dan Wahyono. 2015. “Pengaruh Excess Air Terhadap Flue Gas di PLTU Tanjung Jati B Unit 2”. Semarang: Politeknik Negeri Semarang.
[23] Anonim, Bab II Tinjauan Pustaka. http://eprints.polsri.ac.id/. Diakses pada 27 mei 2018.
[24] Mariana. Mulana, Farid. Satriyo, Purwana. 2013. “Penjerapan Gas Co Hasil Pembakaran Sampah Menggunakan Sorbent Termodifikasi Dalam Reaktor Fixed Bed”. Banda Aceh; Universitas Syiah Kuala.
[25] Onny. “Polutan-polutan Hasil Pembakaran Batubara Pada Boiler”.
https://artikel-teknologi.com/polutan-polutan-hasil-pembakaran-batubara pada-boiler/. Diakses 27 Mei 2018.
[26] Stam A.F. Livingston W.R. Cremers M.F.G. Brem G. 2009. “Review Of Models and Tools For Slagging and Fouling Prediction For Biomass Co-combustion”. Netherlands. University of Twente.
[27] Prameswari, Ayu Windha. 2017. “Analisa Pembentukan Slagging Dan Fouling Pembakaran Batubara Pada Boiler B0201B Pabrik 3 Unit UBB di PT. Petrokimia Gresik” (skripsi). Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
[28] http://biomassproject.blogspot.com/2014/01/focus-on-biomass-ash.html
LAMPIRAN 1
Langkah Simulasi Pembakaran Dengan Aspen Plus®
Adapun langkah-langkah simulasi yang dilakukan pada penelitian dengan menggunakan perangkat lunak Aspen Plus adalah sebagai berikut:
1. Menjalankan Program Aspen Plus: Dekstop > Program > Aspen Plus 2. Memulai Simulisi: Klik File > New > Blank Simulation > Create
3. Selanjut adalah menentukan material component yang dibutuhkan pada saat simulasi: Ketik nama material pada Componen Id > Enter (Misalkan H2O untuk air).
4. Pemilihan Metode Properti. Klik Methods > input metode property pilihan
di kolom Base Methods > Run
5. Selanjutnya dilakukan tahapan pembuatan flowsheet pada lembar kerja. Klik Simulation hingga muncul lembar kerja dan set model palette yang dibutuhkah (Klik and Drag)
6. Selanjutnya input data material komponen
a. Input data Biomassa : Double Klik Biomassa > Input Data Specifications >
Composition > Component Attribute ( ULTANAL / PROXANAL / SULFANAL ) > Particle Size Distribution
b. Input Data Udara: Double Klik Udara > Input data specifications >
Compositions
c. Set model kalkulasi Kompresor: Double Klik Kompresor > Model (Compressor) > Type (Insentropic) > Discharge Pressure
d. Input Data Temperatur pembakaran: Double Klik Kompresor > Calculation option (Calculate phase equilibrium and chemical equilibrium) > Pressure >
Temperature
7. Lalu klik Run
LAMPIRAN 2
Data Komponen Gas Hasil Simulasi Pembakaran
A. Data hasil simulasi pembakaran 100% Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
Temperatur 600°C Temperatur 700°C
Input
Temperatur 800°C Temperatur 900°C
Input
Temperatur 1000°C Temperatur 1100°C
B. Data hasil simulasi pembakaran 100% Serat kelapa sawit.
Temperatur 600°C Temperatur 700°C
Input
Serat 17000 SO2 5.985554 Serat 17000 SO2 10.28641
Temperatur 800°C Temperatur 900°C
Input
Temperatur 1000°C Temperatur 1100°C
Input
CO2 34520.55 CO2 34520.41
C. Data hasil simulasi pembakaran 100% Cangkang kelapa sawit.
Temperatur 600°C Temperatur 700°C
Input
Temperatur 800°C Temperatur 900°C
Temperatur 1000°C Temperatur 1100°C
Input
CL2 0.0013
D. Data hasil simulasi pembakaran 52% TKKS, 36% Serat kelapa sawit, dan 12% Cangkang kelapa sawit.
Temperatur 600°C Temperatur 700°C
Input
Temperatur 800°C Temperatur 900°C
Input
N2 128952 N2 128947
Temperatur 1000°C Temperatur 1100°C
Input