• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Penelitian

Dalam dokumen STUDI KORELATIF ANTARA TINGKAT PENDIDIKA (Halaman 31-37)

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Analisa Penelitian

Selanjutnya data yang telah terkumpul dilakukan uji regresi, product-moment, dan koefisien determinasi. Uji regresi dilakukan dengan menguji dua variabel, tingkat pendidikan sebagai variabel 1 (X1), dan kebudayaan sebagai variabel 2 (X2), yang dicari pengaruhnya terhadap pemahaman mengenai Pancasila para pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang (Y). Dari uji regresi tersebut dihasilkan persamaan:

Yc = 0,48 + 0,27X1 + 1,24X212

Dari persamaan garis regresi di atas dapat dilihat bahwa X1 mempunyai nilai 0,27 dan X2 mempunyai nilai 1,24 yang berarti bahwa X1 < X2. Hal ini berarti kebudayaan memberikan pengaruh lebih besar terhadap tingkat pengetahuan dan pemahaman

12

23 pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang mengenai Pancasila, dibandingkan dengan tingkat pendidikannya.

Setelah itu penulis melakukan perhitungan product-moment untuk mengetahui seberapa kuat korelasi antara tingkat pendidikan dan kebudayaan terhadap pengetahuan dan pemahaman para pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang mengenai Pancasila. Dan diperoleh hasil bahwa tingkat pendidikan memberikan nilai r sebesar 0,63 dan kebudayaan menghasilkan nilai r sebesar 0,73.

0,63 merupakan angka yang didapat dari menghitung variabel 1 (X1)yaitu data yang didapat mengenai tingkat pendidikan terhadap pengetahuan dan pemahaman mengenai Pancasila menggunakan perhitungan product-moment dengan rumus hitung seperti yang tertera pada analisis data di bab sebelumnya.13

0,73 merupakan angka yang didapat dari menghitung variabel 2 (X2) yaitu data yang di dapat mengenai kebudayaan, dalam hal ini penggunaan bahasa, terhadap pengetahuan dan pemahaman mengenai Pancasila menggunakan perhitungan product-moment dengan rumus hitung seperti yang sudah tertera pula pada analisis data di bab sebelumnya.14

Lalu hasil tersebut diketahui tingkat korelasinya dengan mengacu pada tabel di bawah ini.

13 Rincian perhitungan dapat dilihat pada lampiran 3

14

24 Tabel 2. Interpretasi Nilai r

Besarnya nilai r Hasil Interpretasi

Antara 0,800 sampai dengan 1,00 Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Antara 0,000 sampai dengan 0,200

0,63 & 0,73 Tinggi Cukup Agak rendah Rendah Sangat rendah (Tak berkorelasi)

Keterangan : 0,73 Pengaruh yang diberikan kebudayaan

0,63 Pengaruh yang diberikan tingkat pendidikan

Kemudian penulis menggunakan perhitungan koefisien determinasi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan. Hasilnya adalah pengaruh yang diberikan tingkat pendidikan terhadap pengetahuan dan pemahaman para pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang mengenai Pancasila sebesar 39,69%, sedangkan pengaruh yang bersumber dari kebudayaan sebesar 53,29%.15 Ini berarti terdapat kontribusi pengaruh faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman para pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang mengenai Pancasila, yaitu sebesar 46,71% sampai 60,31%. Faktor-faktor lain tersebut tentunya dapat berupa profesi, pergaulan, akses terhadap informasi, dan lain-lain, dari masing-masing individu yang berbeda satu dengan lainnya.

Penulis menemukan bahwa ternyata pendidikan bukanlah suatu faktor mutlak yang menyebabkan tinggi rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman para pedagang di Pasar Badak mengenai Pancasila. Bahkan secara umum pendidikan juga

15

25 mungkin saja bukan merupakan faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Pancasila sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Ternyata justru aspek kebudayaan yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap pengetahuan dan pemahaman akan Pancasila. Penulis melihat, pada hakikatnya masyarakat yang telah mengenyam pendidikan tinggi justru bisa saja semakin melupakan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana pendidikan di perguruan tinggi pada umumnya akan memberikan fokus kepada bidang studi yang mereka ambil. Memang pada dasarnya setiap perguruan tinggi di Indonesia telah memberikan pembelajaran mengenai Pancasila dan pilar-pilar kehidupan berbangsa lainnya, namun pembelajaran yang diberikan dirasa kurang dan terlalu sedikit, justru pendidikan akan Pancasila lebih banyak didapat di bangku pendidikan dasar. Di perguruan tinggi, pembelajaran mengenai Pancasila pada umumnya hanya diberikan di semester awal atau akhir masa kuliah, itu pun dengan Satuan Kredit Semester (SKS) yang lebih sedikit dibandingkan matakuliah lainnya. Sehingga memang tidak heran jika ternyata tingkat pendidikan kurang mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan Pancasila. Meskipun memberikan pengaruh, tetapi pengaruh yang diberikan tidak sebesar aspek kebudayaan. Dengan kata lain, masyarakat yang berpendidikan tinggi belum tentu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih mengenai Pancasila dibandingkan masyarakat berpendidikan rendah. Karena pada intinya yang membedakan ialah akses mereka terhadap informasi dan sosialisasi yang diberikan oleh pemerintah.

Terkait aspek kebudayaan, penulis menemukan sebuah fakta dari penelitian yang dilakukan bahwa ternyata kebudayaan dan Pancasila sebagai pilar bernegara memiliki hubungan yang saling

26 mempengaruhi. Maksudnya ialah kebudayaan dan Pancasila memiliki kaitan satu sama lain. Memang benar teori yang selama ini kita ketahui bahwa kebudayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia merupakan salah satu akar dari Pancasila sebagai pilar bernegara yang bersumber dari falsafah dan nilai-nilai luhur bangsa. Namun, di sisi lain ternyata sebuah kebudayaan kuat yang dimiliki oleh suatu bangsa, dapat menutup akses informasi-informasi yang positif salah satunya ialah mengenai Pancasila itu sendiri. Mengacu pada teori DeFleur dan Ball-Rokeach yang telah dikemukakan sebelumnya dapat dilihat bahwa suatu masyarakat dalam menstimulasi informasi yang diterimanya melalui tiga kerangka teoritis: perspektif perbedaan individual, perspektif kategori sosial, dan perspektif hubungan sosial. Dengan melihat perspektif perbedaan individual, para pedagang di Pasar Badak Pandeglang mungkin saja cenderung kurang respon terhadap informasi-informasi mengenai Pancasila. Adapun selama ini yang mereka ketahui hanyalah sebatas dari bangku sekolah saja.

Dengan melihat perspektif kategori sosial, para pedagang di Pasar Badak Pandeglang juga mungkin lebih cenderung kurang peduli untuk menggali informasi dan terus belajar mengenai Pancasila sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini mungkin saja berkaitan dengan aspek profesi yang mereka jalani. Mereka sebagai seorang pedagang akan lebih memilih untuk fokus dalam hal perdagangan, serta memiliki kesadaran yang rendah untuk lebih memahami Pancasila. Sehingga kesadaran merupakan aspek penting yang perlu ditonjolkan disini. Pemerintah harus sebisa mungkin meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat untuk lebih memahami Pancasila sebagai ideologi negara. Terakhir, dilihat dari perspektif hubungan sosial ternyata masyarakat Pandeglang cenderung menggunakan sistem two step flow of communication.

27 Yaitu, memperoleh informasi dari personal yang dianggap relatif lebih tahu. Hal ini disebabkan karena mereka mengira bahwa untuk mengakses dan memperoleh pengetahuan mengenai Pancasila tidaklah mudah dan memerlukan media yang sebagian besar tidak mereka miliki seperti komputer ataupun internet. Personal ini

merupakan seorang yang dianggap lebih pintar dan

berpengalaman. Oleh sebab itu, dapat kita jadikan pertimbangan bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan Pancasila melalui kader-kader daerah. Pemerintah dapat mencari kader-kader daerah yang nantinya dapat membantu masyarakat setempat untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman mengenai Pancasila. Hal ini dirasa efektif jika kita mengkaji fenomena two step flow of communication yang terjadi dalam masyarakat pedesaan.

Disamping itu, dengan melihat bahwa pengaruh yang diberikan tingkat pendidikan sebesar 39,69% dan kebudayaan 53,29%, maka terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman para pedagang di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang mengenai Pancasila sebesar 46,71% sampai dengan 60,31%. Faktor tersebut dapat berupa profesi yang dijalani disamping sebagai pedagang, pola pergaulan dan sosialisasi yang mereka lakukan, tinggi rendahnya akses terhadap informasi, termasuk di dalamnya informasi mengenai Pancasila dan pilar-pilar kehidupan bernegara lainnya, yang masing-masing individu berbeda satu dengan yang lain, serta faktor-faktor internal maupun eksternal lainnya termasuk di dalamnya sosialisasi dari pemerintah.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Tinggi rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai Pancasila sebagai salah satu pilar kehidupan berbangsa dan

28 benegara tentunya harus cepat disikapi secara cermat. Bukanlah saja Presiden, bukanlah saja Gubernur, bukanlah saja Bupati, ataupun pihak-pihak lainnya yang harus dilibatkan. Persoalan ini merupakan concern nasional yang harus diselesaikan secara bersama-sama, agar masyarakat benar-benar dapat mengetahui dan juga memahami Pancasila beserta pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya supaya dapat diimplementasikan dengan penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dalam kehidupan bernegara harus dapat memberikan sosialisasi yang efektif kepada masyarakat mengenai Pancasila, disamping melalui jalur pendidikan sebagaimana yang telah dilakukan selama ini. Masyarakat sebagai komponen yang paling besar dalam kehidupan bernegara juga harus mampu menyerap dan memberikan respon positif atas usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah.

Dalam dokumen STUDI KORELATIF ANTARA TINGKAT PENDIDIKA (Halaman 31-37)

Dokumen terkait